39

1132 Words

Bismillah. Kupikir aku tak akan bisa memenangkan hati ibu dalam waktu dekat, mungkin jalannya tidak akan lama lagi, yang penting aku mau bersabar dan memahami sikap keras ibu mertua. Usai kusiapkan sarapan segera kuantarkan hidangan itu ke hadapan ibu dan ayah. Sebelum sampai ke ruang tengah, sejenak aku tertahan di depan pintu melihat Ayah menggendong Rima sambil membercandai cucunya, sementara ibu tersenyum-senyum melihat anakku yang tumbuh mulai gemuk dan molek. "Lihat Nyai, betapa lucunya dia," ucap Ayah yang tanpa mereka sadari sudah kudengarkan. "Iya, dia mirip Aidil ketika kecil," jawab Nyai sambil tersenyum tipis, terkesan memaksakan diri tapi tak mengapa, dari pada tidak sama sekali. "Harusnya kau mengendongnya agar dia merasakan kehangatan neneknya," usul Ayah. "Ah, ti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD