Bismillah Melihat wajah Ayah yang merah padam karena menahan amarah tentu saja Kak Yanto menjadi ciut dan terpaksa mengalah. Dengan mendengus dan mendelik padaku pria itu lantas kembali ke dalam rumahnya dengan langkah tertatih-tatih. "Lihat saja nanti," gumamnya pelan, terdengar olehku dan cukup membuatku bergidik juga. "Zahra ayo masuk," suruh Kak Aidil. "Aku harus antar jatah makanan," balasku. "Antarkan segera dan kembali ke rumah," jawab Kak Aidil. Mungkin peristiwa yang terjadi sekarang, bukan hanya tentang dendam dan rasa tersinggung, tapi, tentang sebuah kedengkian karena aku yang menantu bungsu malah disuruh untuk membagikan jatah makan semua orang. Secara teknis, harusnya Mbak devi yang akan melakukan itu, tapi karena kemarin ketiga iparku berhalangan dengan alasan masing-

