42

1173 Words

Mendengar penghinaannya aku ingin sekali menjawab dengan jawaban yang lebih pedas. Aku benar-benar tidak terima pria itu menyebut nenekku dengan sebutan tua bangka yang merepotkan. Sesungguhnya orang yang sering merepotkan orang tuanya dan seluruh keluarga adalah dirinya. "Hanya satu ... Sepuluh tua bangka pun bukan urusanmu, yang repot dan sibuk memberi mereka makan adalah aku, bukan kamu!" "Tapi, uangnya dari uang ibuku!" Aku hanya tertawa sinis mendengarnya. "Kau pikir suamiku tidak punya upah selama bekerja di kebun, dari upah itulah kami menyambung hidup dan makan." Aku melengos pergi meninggalkan pria yang terus menggangguku itu. "Dasar mental miskin," ucapnya. Mendengar hinaan itu, emosiku langsung membuncah, ingin kubalikkan badan untuk menampar dirinya dan mempermalukanny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD