25

1051 Words

Kedua iparku terkejut, tertegun dan langsung bangun dari tempat duduk mereka. Mbak Devi segera memanggil sang suami sedang kak Tania segera mengambilkan air. "Sudah saya bilang gasnya bocor," ucapku lirih. "Iya, itu bukan salahmu," jawab Kak Tania yang sibuk mewadahkan air di gelas. Mbak Devi mencoba menyadarkan ibu sementara Kak Yanto dan Aidil langsung panik melihat wajah ibu yang merah dan perlahan melepuh bengkak. "Kenapa bisa begitu?" "Kelihatannya gasnya bocor," jawab Kak Tania. "Astaghfirullah untung tidak meledak dan tidak memakan korban lain," ujar Kak Aidil. "Aku masih syok, Kak, aku benar benar tegang," balasku. "Bawa ke rumah sakit atau panggilkan bidan desa," ujar suamiku pada kakaknya. "Panggil bidan saja, aku khawatir ibu malah tidak betah di rumah sakit." "Tapi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD