**** Tamparan itu tiba-tiba saja mennyambar pipi halus Gama Adiyaksa. Hati Adira benar-benar terluka oleh ucap pria yang ia anggap sebagai sosok penyelamat—dulu. Ia tidak mengerti kenapa Gama bisa seperti ini, mungkinkah luka akibat perlawanan Adira yang membuat pria itu berubah 180 derajat? Gama tak bereaksi, ia pun tak marah saat gadis berpostur mungil itu menampar wajahnya dengan cukup keras. Ia bahkan tidak memundurkan wajahnya sedikitpun dari hadapan Adira. Gama tersenyum, ia lalu menjitak dahi Adira sedikit keras. "Jangan menyusahkanku jika kamu tidak ingin kesusahan di lain hari. Aku hanya ingin kau tetap tinggal di sini meski sekesal apapun kau terhadap kelakuanku." Keduanya saling tatap hingga dering ponsel milik Adira memecahkan suasana yang beberapa menit lalu hening dan begi

