****
Seperti tersengat aliran listrik dengan tegangan teramat tinggi, Adira merasa kesal luar biasa saat dengan entengnya Gama menaikkan hutangnya dua kali lipat. Jika ia bisa memilih dan protes pada Tuhan, maka ia akan memilih bukan Gama yang menolongnya kala itu. Seperti keluar dari kandang singa dan masuk lagi ke kandang buaya, Adira seolah merasa tengah dipermainkan oleh nasib.
Memasuki kamar dengan wajah ditekuk, Adira menatap hamparan pasir putih dan deburan ombak dari kejauhan. Ia berdiri di depan jendela, merenung sesaat mengenai langkah apa yang akan ia lakukan setelah ini. Adira menggenggam jemarinya kuat-kuat, ia sudah telanjur menyanggupi untuk membayar hutang itu dengan dicicil dan sekarang—apa yang harus ia perbuat?
Gadis bertubuh mungil itu lalu menuju ke lemari, menarik koper hitam miliknya lalu mengisinya dengan berbagai macam baju miliknya. Sepertinya ia harus pergi dari villa ini, ia tidak bisa hidup serumah dengan seseorang yang hobi sekali mengajaknya ribut. Kebetulan di kantongnya masih ada beberapa recehan yang bisa ia gunakan untuk membayar taksi online.
Adira menghentikan aksinya mengemasi pakaian ketika dering ponselnya kembali berbunyi. Ia meraih ponselnya, mengamati siapa yang menelponnya sore ini. Kebetulan sekali Arman kembali menghubunginya, ia bisa meminta tolong pria itu untuk menampungnya barang sehari dan mencarikan kontrakan kecil-kecilan.
"Arman—"
"Sudah makan? Ada penjual siomay lewat depan rumah nih. Aku jadi teringat sama kamu," ucapnya sambil terkekeh. Adira tersenyum kecut, ia meremas baju yang tengah ia kemasi ke dalam koper.
"Arman, bisakah kau membantuku?" tanya Adira pelan, ia menggigit bibir dan memberanikan diri untuk meminta bantuan pada pria masa kecilnya tersebut.
"Bantuan apa? Katakan saja," ucap Arman terdengar begitu serius. Pria itu menunggu Adira mengatakan keinginannya, dengan setia ia mendengarkan Adira bicara.
"Bisakah aku menumpang di rumahmu semalam saja? Aku juga butuh kontrakan kecil, bisakah kau mencarikan aku sebuah kontrakan?" pinta Adira dengan nada teramat lirih, gadis itu takut jika Arman akan menolak untuk membantunya.
Arman terdiam sejenak, seakan turut berpikir mencarikan Adira jalan keluar. "Memangnya selama ini kau tinggal dimana?"
"Aku tinggal di rumah—seorang teman. Hanya saja aku tidak ingin merepotkannya terus menerus jadi aku—"
"Baiklah, aku akan menjemputmu. Katakan dimana alamatnya, mumpung ada motor nganggur di rumah." Arman mengiyakan, ia terdengar sedang mengunyah makanan.
"Ti-tidak usah," tolak Adira buru-buru. Adira menelan ludah, mendadak resah saat mendengar Arman akan menjemputnya. Adira tahu kepribadian Arman seperti apa, pria itu tidak akan menyerah dengan keputusannya.
"Loh, terus bagaimana?" Arman terdengar bingung, pria itu mengusap pelipisnya dengan dahi berkerut.
"Kita bertemu di taman Panca saja. Aku akan kesana," jawab Adira memutuskan seraya kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Sudah mau petang, apa kau yakin?" Arman terdengar ragu, bagaimanapun tidak baik untuk seorang gadis keluar dari rumah di saat petang hari.
"Ya, kamu tunggu saja di sana." Adira menjawab dengan mantap. Arman hanya berdeham, mencoba memahami kesulitan Adira tanpa banyak pertanyaan lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera ke sana setelah selesai makan siomay. Bye," ucap Arman lalu mematikan sambungan telepon.
Adira menghela napas, ia lalu menutup koper dan membawanya keluar dari kamar. Kebetulan saat itu Bi Darsih terlihat tengah membersihkan ruang tamu dengan kemoceng kebanggaannya. Melihat Adira membawa koper, sang pembantu tersebut terlihat bingung dan panik.
"Nona mau kemana? Kenapa membawa koper?" tanya Bi Darsih seraya menghentikan aktifitasnya membersihkan ruang tamu.
Adira mengulas senyum pada Bibi Darsih, membuang semua rasa suntuk yang kini mengganjal dalam hati sang gadis muda belia. "Aku akan menginap di rumah temanku, Bibi. Aku tidak bisa tinggal di sini berlama-lama."
"Tapi Nona, Tuan sudah—"
"Mau kemana kamu?" Sebuah suara yang sudah familiar di telinga Adira terdengar menyapa, membuat jantung Adira berhasil melompat karena kaget. Pria berjambang tipis menuruni tangga, mendekat ke arah Adira dengan tatapan tak suka.
Bi Darsih yang melihat ekspresi tuannya tak biasa perlahan membungkukkan badan lalu meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Adira tak lekas menjawab pertanyaan Gama, gadis itu justru membuang pandangan ke luar pintu yang mulai meremang karena senja telah tiba.
"Mau kemana?" Gama kembali menekankan suaranya. Pria itu menarik koper Adira, tatapan elangnya kini tertuju penuh pada gadis pendek di hadapannya.
"Aku mau pindah dari sini, Paman. Tapi jangan khawatir aku akan tetap membayar hutangku padamu," ujar Adira pelan sembari menarik koper yang kini berada di tangan Gama.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" Gama kembali bertanya, tangannya kali ini menggeser koper sedikit jauh dari jangkauan Adira.
"Tidak ada," jawab Adira singkat. Gadis itu berusaha meraih kopernya namun kali ini Gama tidak mengijinkannya.
"Aku yang punya rumah ini, aku tidak mengijinkan kamu keluar dari villa ini. Apa kamu paham?" Gama menekankan intonasi nada suaranya. Pria itu memerintah bak seorang raja membuat Adira memutar bola matanya dengan kesal.
"Aku tidak paham. Jadi biarkan aku pergi sekarang," ucap Adira bersikeras. Gadis itu mendorong tubuh kekar Gama lalu meraih kopernya. Tanpa memperdulikan Gama, Adira melangkah keluar dari pintu rumah.
"Tunggu! Aku tidak mengijinkanmu pergi. Apa kau dengar?" Gama tak mau kalah, ia mengikuti langkah Adira seraya menarik tangan Adira. "Kenapa? Apa kau marah padaku karena hutangmu naik dua kali lipat, iya?"
Adira menghentikan langkah, ia menatap pria jangkung yang kini menghadang jalannya dengan wajah terlihat angkuh. "Ya."
"Baiklah, aku mengaku salah. Aku salah karena telah menaikkan hutangmu dua kali lipat, untuk itu aku minta maaf padamu. Tapi kumohon jangan pergi dari sini," ucap Gama dengan mimik wajah serius. Adira menelisik tatapan itu, benar adanya jika pria itu berkata jujur mengenai perasaannya.
"Jika aku tetap pergi bagaimana? Bukankah aku sudah menyanggupi untuk membayar 600 juta padamu?! Lalu kenapa kau masih menahanku?" ucap Adira tak habis pikir.
Pria di hadapannya berkacak pinggang, keresahan di wajahnya terlihat begitu jelas. Ia mengusap pelipisnya yang berdenyut sesekali menatap ke arah Adira. Seakan tidak mampu menjelaskan, Adira mulai kesal dengan sikap Gama yang terkesan tengah mengulur waktunya.
"Aku akan pergi dari sini, Paman. Kumohon jangan menghalangiku," ucap Adira lalu menarik kembali kopernya. Wajah gadis itu terlihat sendu dan murung namun Gama dengan sigap menahan kopernya.
"Karena kau kekasihku! Jadi—kau tidak punya alasan untuk pergi dari villa ini. Apa kau paham?" Gama berkata setengah berteriak membuat Bi Darsih yang membereskan dapur sedikit terkejut dengan ungkapan sang tuan. Pembantu itu sontak menutup mulutnya rapat-rapat, tak percaya jika tamu wanitanya adalah simpanan dari sang tuan.
Adira menatap Gama cukup lama, mendadak rasa dongkol menyelinap ke dalam dadanya. "Kekasih? Kau merasa bangga karena sudah membuatku menjadi kekasih gelapmu? Iya, Paman? Jawab aku! Mana ada wanita yang mau seperti itu."
Gama menggigit bibir, sepenuhnya ia merasa bersalah karena sudah mematik api diantara mereka. "Jadi, apa maumu sekarang?"
"Aku hanya ingin pergi," jawab Adira singkat. Kali ini gadis itu benar-benar pergi, melangkah meninggalkan Gama seorang diri di teras rumah.
Gama menyipitkan mata, ia mendengkus kesal lalu mengikuti langkah Adira. "Tidak akan. Kamu tidak boleh pergi dari sini."
Pria bernetra indah itu menahan tangan Adira, tanpa persetujuan Adira, Gama lantas memanggul tubuh Adira masuk ke dalam villa. Sang gadis berteriak-teriak, memukul punggung Gama sekeras mungkin. "Paman, lepaskan aku! Paman, kau membuat perutku sakit. Hey, lepaskan aku, kataku!"
Teriakan Adira membuat seisi rumah heboh, Bi Darsih hanya melongo dari balik pintu dapur ketika menyaksikan majikannya memanggul tubuh Adira mirip memanggul sekarung beras berbobot 50 Kg. Begitupun Pak Jul, pria itu sampai berlari ke depan pintu ruang tamu hanya untuk menyaksikan pagelaran aneh yang kini sedang ditunjukkan majikan besarnya.
Gama tak peduli dengan teriakan minta tolong Adira, meski gadis itu terus berontak, Gama berhasil membawanya kembali ke kamar dan mengunci pintu kamar. Karena kesal, Gama lantas melempar tubuh mungil itu ke atas ranjang.
"Apa maumu sekarang?" tanya Adira berusaha bangun dari ranjang dengan rambut sudah acak-acakan. Gama tak menjawab, ia mendekat ke arah Adira dengan membuka beberapa kancing kemejanya.
Sontak saja pemandangan seperti itu membuat kaki Adira melemas. Apa yang akan dilakukan Gama padanya sekarang?
Adira berteriak saat Gama menyergapnya, membuatnya rebah di atas ranjang dengan kedua tangan terkunci. Pria itu tanpa berperasaan menguasai tubuhnya. "Aku bisa melakukan apapun di rumahku, ingat Adira bahwa kau adalah milikku."
"Lepaskan aku!" tegas Adira dengan ketakutan yang membayang. Gama mengembuskan napas, ia melepaskan kuncian tangannya di tangan Adira.
"Aku bisa menghapus seluruh hutangmu asal kau mau tinggal di sini dan membantuku," ucap Gama dengan mimik wajah berubah serius. Adira tak menjawab, bibir mungilnya bergetar karena tak bisa mentolerir rasa ketakutan yang bersarang di hatinya. Gadis itu bangun dari rebahannya, tertunduk kesal karena amarah yang hanya bisa ia pendam dalam pikiran.
"Jika kau mau membantuku berpisah dari tunanganku maka hutangmu akan kuanggap lunas. Apakah kau bersedia untuk membantuku?" Gama menatap Adira, menarik dagunya dengan perlahan.
"Apa kau gila? Aku bukan perusak hubungan orang lain," tegas Adira menepis tangan Gama lalu mengusap-usap kedua pergelangan tangannya yang memerah. Gadis itu terkesiap saat Gama menarik tangannya kembali, kedua mata itu saling bertatapan dengan tatapan tak biasa.
"Kalau begitu kau bisa puaskan aku tiap malam untuk menghapus hutangmu dan kau bisa pergi dari tempat ini. Bagaimana? Semua pilihan berada di hadapanmu, Adira."
Adira tertegun, tak percaya jika Gama yang ia anggap baik mulai menampakkan wujud aslinya. "Aku-aku tidak menyangka jika kau memiliki wujud yang sangat mengerikan, Paman."
Gama tersenyum miring, ia kembali menarik dagu Adira dan mendekatkan wajahnya. "Karena aku sudah terobsesi padamu, Nona Adira. Jadi, pilihan mana yang akan kau tentukan?"
****