Bab.6—Rasa Kecewa

1758 Words
**** Pukul enam petang, Gama Adiyaksa keluar dari kantor dengan wajah semringah dan penuh semangat. Entahlah apa yang terjadi pada dirinya, hanya saja semenjak ia mengenal Adira lebih dekat, pria itu merasa jauh lebih enerjik dan bersemangat dalam mengarungi hari-harinya. Berjalan sedikit terburu ke area parkir kantor, ponsel canggih Gama berdering. Menghentikan langkahnya sesaat, Gama lantas merogoh saku celananya dan melihat siapa gerangan yang meneleponnya saat ini. Wajah Gama sedikit mengeras ketika tahu bahwa mama-nyalah yang sedang menelepon. "Mama, ada apa?" tanya Gama setelah menggeser layar ponselnya sembari memijit pelipis dengan keras. Firasat pria itu tidak pernah berbohong, pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga mamanya meneleponnya secara langsung. "Sayang, kamu belum pulang ya? Ada Melati di sini, dia mampir ke rumah bawakan Mama roti souffle kesukaan Mama. Bagaimana kalau kamu segera pulang dan kita makan bersama sekeluarga?!" ucap Mama terdengar penuh binar. Gama terdiam, firasat yang ia rasakan kini terjadi sudah. Melati pasti datang ke rumah, hal inilah yang membuat Mama buru-buru menyuruhnya pulang atau menemui Melati dimanapun gadis itu berada. Bukankah ini sangat menyebalkan?! "Tapi Ma, aku—" "Mama tahu kamu dalam perjalanan pulang. Tadi Mama tanya ke Sari—sekretarismu di kantor, dia bilang kalau kamu baru saja keluar dari ruangan. Gama sayang, pulang ya. Kami menunggumu di rumah." Mama lantas mematikan telepon, tak membiarkan Gama mengumbar alasan tak penting lainnya. Gama mendengkus, ia menatap ponselnya sekali lagi. Pria itu teringat akan janjinya pada Adira untuk mengantarkannya ke rumah tantenya dan sekarang mamanya justru memintanya untuk pulang dan bertemu dengan gadis bule itu. Ah, Gama mendadak merasa kesal bukan main pada Melati. Pria berjambang tipis segera melangkahkan kaki menuju ke mobil BMW putih miliknya yang terparkir paling kanan dari sisi parkir. Ia memacu mobilnya menuju ke kediaman keluarga Adiyaksa. Mungkin menghadiri acara makan malam sebentar dengan keluarga tidaklah rugi baginya. Nanti, sesaat setelah selesai ia akan pergi ke villa dan mengantar Adira ke tumah tantenya. **** Adira menggenggam erat kelima jarinya dengan menggigit bibir. Bola mata gadis itu kini tertuju pada jam dinding besar terbuat dari ukiran kayu yang tertempel cantik di dinding. Nyaris pukul sembilan dan Gama belum juga pulang padahal tadi siang dia sudah berjanji akan menemaninya mengambil ijazah ke rumah Tante Jeni. Gadis itu menarik napas. Duduk di sofa kuning di ruang santai Adira mencoba menyabarkan dirinya. Mungkin Gama sedang dalam perjalanan. Tidak ada yang tahu sesibuk apa pria itu di kantor. Lagipula Adira tidak berhak merasa kesal pada pria yang sudah menyelamatkan hidupnya dari kekejaman pelacuran. Gadis itu harus sabar dengan perintah sang tuan, menunggunya hingga pulang dari kantor jam berapapun ia tiba. Adira kembali menghela napas, ia menyandarkan punggungnya yang terasa pegal ke sofa kuning yang entah sudah berapa lama ia duduki tadi. Merasa kecapekan karena menunggu, matanya tanpa sengaja terpejam. Gadis itu terbuai dalam mimpi hingga pukul 12 malam. Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah ruang santai. Gama sudah pulang, dan ia pulang sangat-sangat terlambat. Menatap tubuh mungil yang meringkuk di atas sofa, perasaan Gama campur aduk. Acara makan malam yang ia duga hanya sekitar satu atau dua jam nyaris menjadi berjam-jam saat Melati melakukan banyak aksi drama di depan keluarganya. Ya, Melati menjadi primadona di keluarga Adiyaksa. Seburuk apapun polah gadis itu, keluarga besarnya akan tetap bertepuk tangan dan membanggakan Melati dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gama menarik napas, ia melepas jas hitam yang ia pakai lalu menyampirkannya di atas sofa. Kata Bi Darsih, Adira memasuki ruangan itu sejak senja tiba dan belum keluar sedikitpun hingga tengah malam. Gama tahu mungkin Adira tengah menunggunya pulang karena ia sudah menjanjikan sesuatu pada Adira. Pria itu melonggarkan dasi yang mengikat erat lehernya. Berjalan mendekat ke arah Adira, Gama berniat akan memindahkan tubuh Adira ke kamar tidur. Dalam sekali rengkuh, Gama membawa tubuh mungil itu menuju ke kamarnya yang terletak di lantai kedua. Bi Darsih ternganga, tak biasanya tuannya sebegitu perhatian pada teman wanitanya. Mungkinkah mereka ada hubungan? Bi Darsih mematik pertanyaan dalam benak kecilnya. Namun, meskipun pembantu itu ingin rahu, ia berusaha menepisnya dan pura-pura tidak tahu. Biarlah! Toh Tuan Adiyaksa-nya juga tidak keberatan. Mau tak mau Bi Darsih pun mengakui jika selama gadis itu berada di Villa, tuannya jadi sering pula ke villa. Dan hal itu adalah hal paling bagus sepanjang tahun ini. Tuan Adiyaksa ingat kemana ia harus pulang dan Bi Darsih cukup senang melihatnya. **** Suasana kamar yang luas dengan lampu yang dibuat temaram, membuat atmosfir udara terasa berbeda. Gama menggendong Adira tanpa mengeluh. Bocah bertubuh kecil itu tidak terasa berat di kedua sisi tangannya, ia terasa ringan seperti kapas. Ya, Gama sempat berpikir mungkinkah selama ini tante gadis itu tidak pernah memberinya makan? Kenapa gadis yang ia gendong saat ini hanya seperti kerangka hidup tanpa daging? Gama melangkah mendekat ke sisi ranjang, menurunkan tubuh Adira dengan sangat perlahan. Cahaya lampu yang berwarna kuning redup menimpa wajah ayu Adira, membuat Gama tertegun sejenak akan wajah yang tengah tertidur dalam tenang. Gama terdiam, ia duduk di sisi ranjang dan terus menatapi gadis itu hingga beberapa menit lamanya. Tanpa sadar Gama mengulurkan tangan, mengelus pipi lembut gadis itu dengan ujung jari telunjuknya yang kekar. Adira menggeliat, tak membuka matanya dan terus saja terpejam. Gama menahan napas, ia takut jika kehadirannya justru membangunkan tidur gadis itu yang nyenyak. Suara debur ombak sayup-sayup masih terdengar. Memecah kesunyian malam, menyamarkan suara jangkrik yang mengerik tengah malam tersebut. Gama menarik napas, sadar jika menatapi Adira terlalu lama membuat juniornya mendadak mengeras dan sulit dikendalikan. Gama mengusap wajahnya dengan perasaan resah, ia bangkit dari sisi ranjang lalu menyambar handuk yang tersedia di samping pintu kamar mandi. Ya, malam ini ia mungkin akan mandi air hangat dengan durasi sedikit lama. Mematikan hasrat yang sudah lama terpendam adalah sebuah tantangan yang menyakitkan dan Gama melakukannya malam ini. **** Pagi menjelang, deburan ombak menjadi nyanyian paling indah kala pagi datang menjelma. Hawa dingin yang menyapa membuat Adira merapatkan diri di bawah selimut tebal yang kini menyelimutinya. Sebuah tangan besar menghimpit tubuhnya, menawarkan kehangatan tiada tara lagi memabukkan. Adira masih terpejam, kehangatan seperti ini sudah lama tidak ia rasakan. Terakhir kali ia merasakannya saat ia tidur bersama ibunya. Dan—tunggu! A-apa? Tidur? Mata Adira mendadak terbuka, jantungnya berdebar keras saat pikirannya mulai menyimpulkan jika ia tengah tidur dengan seseorang. Adira memberanikan diri untuk meraba perutnya yang seolah terlilit oleh sebuah tangan kekar. Mungkinkah Gama pulang dan— menidurinya? Adira segera bangun, ia menoleh ke belakang dan mendapati Gama yang tengah bertelanjang d**a tidur meringkuk di belakangnya. Adira tak mengerti sekaligus kaget mendapati pemandangan seperti itu. Karena panik, Adira berteriak histeris. Gama yang masih terbuai mimpi, kaget bukan kepalang karena teriakan Adira. Pria berjambang tipis dengan hidung mancung tegak ala kaisar romawi itu segera bangun, ia lalu membungkam mulut Adira serapat mungkin. "Jangan berteriak! Aku tidak memperkosamu." Adira menarik napas, ia melepas tangan Gama yang menutup rapat mulutnya. Keduanya saling bertatapan, tak percaya jika peristiwa itu terjadi semalam. "Aku-aku tidak bermaksud untuk menidurimu. Tadi malam aku melihatmu tertidur di sofa dan aku berusaha memindahkanmu ke kamar. Aku-aku merasa dingin dan—" Wajah Adira memerah, ia tahu akhir dari penjelasan Gama tersebut. Gadis itu mencoba menepis, toh tak ada satupun kain yang tertanggal dari tubuhnya. "Jangan lanjutkan! Sekarang keluar dari kamarku, Paman. Aku tidak ingin Bi Darsih dan Pak Jul salah paham dengan hubungan kita." Wajah pria itu terlihat kecewa, ia menatap Adira sedikit lama. Gadis itu sama sekali tidak memandangnya, memberikan rasa perih yang tidak mampu terbaca. "Apa kau kecewa padaku? Maaf jika tadi malam aku tidak bisa menempati janjiku padamu." Adira menghela napas, ia tertunduk lalu menawarkan sebuah senyum. "Tidak, aku tidak kecewa padamu Paman. Kau sibuk bekerja, aku tidak akan menuntutmu ini dan itu. Aku mengerti keadaanmu, Paman." Gama terbungkam, sekian detik mengamati wajah ayu Adira yang memiliki pesonanya tersendiri. Gadis itu menarik napas, ia mencoba menetralisir perasaan aneh yang kini hinggap di dadanya. "Sebenarnya tadi malam aku ingin segera pulang tapi mamaku mengajakku malam malam bersama tunanganku jadi—" "Tidak apa-apa, Paman. Perintah ibu adalah perintah surga, kau tidak boleh mengecewakan ibumu." Adira menyahut, menyamarkan perasaannya lewat sebuah senyuman manis. Adira menyingkap selimut, ia beranjak bangun lalu membuka tirai jendela kaca yang berada di kamarnya. "Paman tidak bangun dan bersiap untuk bekerja?" Sang pria tampan menarik napas, ia bangun lalu mendekat ke arah Adira. Meski agak sungkan, Gama memberanikan diri untuk memeluk tubuh gadis itu sekali lagi. "Aku tidak ingin masuk kerja hari ini." Adira terdiam, ia melepaskan ikatan erat yang melilit perutnya. Jantungnya kembali berdebar, napasnya terasa sesak saat pria itu memeluk tubuhnya sedemikian erat. Adira tahu, ia tidak boleh memiliki perasaan lebih pada Gama terlebih pria itu sudah memiliki tunangan sekarang. "Paman, bisakah kau mengendurkan pelukanmu? Aku-aku merasa sesak." Adira mengeluh pelan, membuat Gama mengendurkan pelukannya dan membalik badan Adira. Mereka bertatapan cukup lama, tatapan yang tak bisa diartikan oleh keduanya. Bibir mereka saling terpaku, hanya debur ombak yang sesekali menyelingi indra pendengaran mereka. "Adira, apakah kau sudah pernah berpacaran sebelumnya?" Gama melontarkan pertanyaan, membuat wajah Adira mendadak merona merah. "Apakah kau sudah pernah berciuman?" Rasa panas perlahan hinggap di wajah Adira. Pantaskah jika ia menjawab pertanyaan konyol tersebut? Sebenarnya apa yang tengah di pikirkan pria ini dalam benaknya? Adira terkesiap, ia terpaku saat ibu jari Gama meraih dagunya perlahan. "Kau kekasihku sekarang, apakah tidak apa jika aku menciummu?" A-apa? Gama ingin mencium Adira? Otak gadis itu berputar-putar, tak mengerti harus meresponnya seperti apa. Adira terkesiap, tanpa sadar bibir kenyal berbentuk tipis itu kini sudah mengecup pucuk bibirnya. Gadis itu kehilangan kesadaran saat perlahan darah di jantungnya berdesir pelan, menghanyutkan dirinya saat bibir tipis milik Gama mencicipi setiap mili jarak di bibirnya. Adira tertunduk dan merasa malu saat Gama melepaskan ciumannya. Gama mengamati wajah merona Adira, ia tahu jika gadis di hadapannya ini sama sekali tak memiliki pengalaman dalam berciuman. Mungkinkah ini bagus untuknya? Gama tak mengatakan apapun, ia kembali mendekatkan wajahnya dan mencium perlahan pipi sang perawan. Wajah Adira semakin memanas, ia hanya terpejam saat bibir Gama kembali menyusuri sudut bibirnya yang bergetar hebat. Pria itu memperdalam ciumannya, napas mulai menderu dan menyerbu titik saraf di otak Gama. Pria itu gelisah, siksaan di bawah sana kembali menyerang. Napas Gama terengah, ciumannya yang dalam lagi liar membuat Adira tak bisa berkutik dan merapat ke jendela kaca. Adira terkesiap saat bagian bawah milik Gama yang begitu keras dan besar mengenai perutnya, ia mendorong Gama—menyudahi ciuman panasnya dengan perasaan tidak karuan. "Aku-aku sangat berhasrat pagi ini. Aku sudah lama tidak berciuman dengan wanita jadi— apakah kita bisa berhubungan lebih dari ini suatu hari nanti, Adira?" *** Jangan lupa tap love-nya ya. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD