Bab.7—Berkunjung ke Rumah Tante

1458 Words
**** Telinga Adira masih tajam, ia belum tuli saat Gama membisikkan kata panas itu di hadapannya. Ciuman yang menghanyutkan, pelukan yang terasa begitu hangat, semuanya terasa begitu nyata di indra perasa seorang Adira Zahra. Gadis itu terdiam, napasnya terasa sesak saat aura panas itu tak kunjung memutus pandangan dari wajahnya. "Aku-aku harus bersiap pergi ke rumah Tante." Adira mendorong tubuh Gama agar mundur beberapa langkah. Gadis itu memberanikan diri untuk pergi dari sang pria dewasa yang beberapa detik lalu terlibat ciuman panas lagi hebat bersamanya. Gama menarik napas, ia hanya menatap tubuh ramping itu berlalu dari hadapannya menuju ke dalam kamar mandi. Pria bertubuh tinggi itu menggeleng, ia berkacak pinggang lalu memijat pelipisnya dengan resah. Memikirkan apa yang sudah ia katakan pada Adira, Gama dilanda rasa malu yang begitu luar biasa. Apalah dirinya ini?! Seorang pengusaha tampan yang gagal dalam menyatakan keinginannya bermain di atas ranjang. "Adira, lupakan perkataanku tadi!" teriak Gama merasa frustrasi. Teriakan itu mustahil tak didengar oleh Adira yang masih mematung di balik pintu. Tak hanya Gama, Adira pun terserang rasa panas dingin yang tak biasa. Sejenak pikirannya ternoda akan bayangan ciuman panas yang baru saja ia lewati dengan pria yang ia kenal dalam hitungan hari. Parahnya lagi, Adira bahkan masih bisa merasakan betapa kerasnya benda yang menempel di perutnya barusan. Adira memejamkan mata, menggigit bibir, lalu menutup matanya perlahan. Sungguh, ia merasa sangat malu sekarang. **** Gama terdiam dengan wajah menegang, ia menunggu sosok Adira Zahra di ruang makan. Setelah hampir 30 menit berkutat dengan air mandi dan meredakan gejolaknya yang luar biasa hebat, kini Gama mulai merasa tenang dan bisa mengendalikan diri. Penantian Gama akan sosok Adira terjawab sudah, pria itu bisa melihat sang gadis turun dari tangga dan menatapnya sekilas di meja makan. Walau terasa sedikit canggung, Adira menghampiri pria itu dan duduk di hadapannya. Suasana ruang makan bagaikan kuburan mati, hanya denting suara sendok dan piring yang beradu sesekali. Mereka terkadang tertangkap basah saling memandang, membuat keduanya buru-buru mengalihkan perhatian dan kembali menikmati sarapan pagi itu. "Ehm, apakah kau akan mengambil ijazahmu sekarang?" Gama mulai berbasa-basi setelah sarapan telah usai. Adira menganggukkan kepala, ia menatap Gama sekilas. "Aku akan mengantarmu pagi ini." "Bukankah kau harus bekerja, Paman?" celetuk Adira memberanikan diri untuk menatap pria yang memakai sweater rajut warna putih s**u tersebut. "Aku akan berangkat siang," jawab Gama singkat lalu menyambar segelas air yang tersedia di dalam gelas dan meneguknya hingga tandas. "Aku tidak ingin merepotkanmu," ucap Adira pelan. Gadis itu menyingkirkan piring dari hadapannya lalu mencabut beberapa tisu yang tersedia di meja makan. "Aku tidak merasa direpotkan." Gama menjawab tegas, menatap Adira dengan tatapan tajamnya. "Aku-aku harus mencari kontrakan," imbuh Adira dengan wajah terlihat sedikit takut. Gadis itu terkejut saat Gama menggebrak meja sedikit keras di hadapannya, tatapan Adira tertuju penuh pada Gama. "Aku tidak merestuimu mencari kontrakan baru. Titik!" Gama memutuskan dengan keras. Pria itu tetap bersikeras agar Adira tinggal di villanya dan tidak meninggalkan dirinya seorang diri. "Kenapa? Apakah kau takut jika aku kabur dan tidak membayar hutangku?" timpal Adira merasa heran. Alis Gama bertaut, menambah kesan galak di wajah tampannya. "Aku tidak ingin kau bertemu dengan pria itu," jawab Gama tanpa basa-basi. Adira tercekat sesaat, ia menatap Gama dengan tatapan tak mengerti. "Kenapa? Dia hanya temanku, dia selalu mendukungku dan melindungiku. Kau seharusnya tidak boleh cemburu pada Arman," jelas Adira dengan menggenggam seluruh jarinya. "Aku tidak menerima penjelasan, apapun itu. Semua karena dia laki-laki dan kamu perempuan. Sekarang kamu tidak perlu khawatir, aku yang akan mendukung dan melindungimu mulai dari sekarang." Gama bersikeras, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya. Adira terbengong, tak tahu lagi bagaimana ia akan menjelaskan mengenai hubungannya dengan si Arman—pria sekaligus teman masa kecilnya. "Paman, tidak lucu jika kamu cemburu pada bocah bau kencur seperti Arman. Kau—" "Terserah. Aku tidak mau tahu!" Gama memutar bola matanya dengan kesal. Ia lalu meraih kunci mobil dan meninggalkan ruang makan secepat mungkin. Tak ingin berdebat dengan Adira, Gama memutuskan untuk pergi. Ya, itu lebih baik ketimbang ia berdebat dan tak ada gunanya sama sekali. **** Pagi menjelang siang, Adira telah sampai di rumah tantenya. Seperti biasa, rumah dengan bangunan permanen dan tidak terlalu mewah itu terlihat sepi dan lengang. Mungkin tantenya tengah sibuk dengan para b***k-b***k yang ia beli untuk diperah dan diambil uangnya. Sangat disayangkan, meskipun Adira besar di tempat seperti itu, ia selalu mencoba menjaga dirinya agar tak terlihat mencolok. Terlebih kadang relasi tantenya datang ke rumah, menggedor pintu hanya untuk mencari wanita yang bisa ditiduri dengan segera. Adira berjalan pelan, masih terngiang peristiwa terakhir kali yang terjadi pada dirinya malam itu. Beberapa kali hendak dijual, Adira selalu merasa ketakutan jika melihat tantenya. Gama menatap tubuh kurus itu mendekati pintu. Ada rasa iba yang menjalar dari dalam hatinya. Bergegas menyusul Adira, Gama berinisiatif untuk mengetuk pintu dan menjadi tameng untuk Adira kalau-kalau tantenya berbuat nekat dan berniat ingin menjual Adira sekali lagi. Adira terbengong saat Gama muncul di sampingnya lalu mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati ukir. Pria itu tak menjelaskan apapun, ia juga tak menatap Adira seperti biasa. Suara derit pintu terbuka, menampilkan wajah Tante Jeni yang putih pucat karena tidak memakai riasan wajah yang biasanya ia pakai. Wanita itu menatap Gama dan Adira bergantian seolah terheran-heran dengan kedatangan sang keponakan yang membawa pria penyelamat malam itu. "Ada apa kemari?" "Tante, aku—" "Aku menemaninya untuk mengambil beberapa pakaian dan ijazah keponakanmu," sahut Gama tanpa basa-basi. Wajah pria itu datar lagi dingin, siap menghancurkan hati siapa saja yang mencoba menentangnya. Tante Jeni mengangkat alisnya sebelah lalu tersenyum sinis. "Orang kaya, apa kau tidak mampu membelikan keponakanku baju baru? Kau sudah membelinya bukan? Harusnya kau juga merawatnya dengan membelikan baju." Gama terdiam, mata elangnya memindai wanita bertubuh subur itu dengan bersedekap d**a. Rasanya wanita ini memang tidak pernah memiliki sikap ramah pada siapapun. Adira menghela napas, ia merasa sungkan karena pertengkaran yang terjadi antara Gama dengan Tante Jeni. "Tante, jangan berkata seperti itu. Aku akan masuk untuk mengambil baju dan beberapa ijazahku," ucap Adira lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Tante Jeni berbalik badan, ia mengikuti langkah keponakannya menuju ke dalam kamar. Sesampainya di kamar bercat merah muda itu, Adira Zahra membuka lemari dan mengeluarkan semua dokumen penting mengenai hidupnya. Tak lupa pula koper warna hitam ia keluarkan guna diisi beberapa lembar pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari. "Sudah diapakan kau sama dia? 300 juta tidaklah murah. Kau pasti sudah ditiduri olehnya," tebak Tante Jeni diambang pintu. Adira menghentikan kegiatannya sebentar, ia teringat bagaimana Gama menciumnya beberapa waktu lalu. Menepis semua bayangan memalukan itu, Adira kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper jauh lebih cepat. "Kemarin Fahmi datang, dia menanyakanmu. Terpaksa aku memberikan nomer ponselmu," ucap Tante Jeni sekali lagi. Jantung Adira bergemuruh saat Tantenya menyebut nama ayahnya. Gadis itu sangat membenci ayahnya, ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya dalam keadaan apapun juga. Adira menarik napas panjang, mengusir rasa sesak yang kini menghimpit jantungnya. Bertatapan sejenak pada tante yang selama ini merawatnya, perasaan Adira mendadak pilu. "Terima kasih Tante sudah merawatku setidaknya selama tiga tahun ini. Maaf jika aku merepotkanmu kala itu. Saat ini aku akan pergi dan mengikuti tuanku, aku harap tante baik-baik saja sepeninggalku. Tante, semoga di lain waktu kita berjumpa lagi dengan keadaan yang jauh berbeda dari sekarang." Adira lalu melangkah keluar membawa kopernya dan meninggalkan tantenya yang terpaku di ambang pintu. Tante Jeni terbungkam, ada gelenyar aneh yang menghantam dadanya kali ini. Wanita itu—wanita itu telah tega menjual keponakannya sendiri. Ada perasaan sesal yang menyusup dalam batinnya, Tante Jeni seakan merasa kehilangan akan sosok keponakan yang selama ini menemaninya ketika ia seorang diri di rumah. Gadis berambut panjang keluar dari dalam rumah, disambut Gama yang menunggunya di luar rumah dengan wajah serius. "Apakah kau sudah siap untuk pergi?" Adira menatap Gama, mengangguk sejenak lalu melangkah kembali menuju ke arah mobil. Tante Jeni perlahan mengikuti langkah keponakannya, ia berdiri di teras rumah dengan wajah terlihat begitu tertekan. "Adira," panggil Tante Jeni sebelum keponakannya masuk ke dalam mobil. Adira menatap tantenya tanpa suara, bola matanya yang sendu kini menyorot wanita bertubuh subur itu dengan hati bergetar. "Walau tantemu ini bertabiat kurang ajar, jika kau memiliki waktu lebih, sesekali datanglah kemari. Aku mungkin tidak bisa menjamumu dengan baik tapi tante tetaplah tante, aku tantemu dan kita masih memiliki ikatan darah. Adira, jika kau rindu rumah ini maka datanglah. Rumah ini pernah menaungimu bersama ibumu. Maaf jika aku berbuat kasar padamu selama ini, aku memang bersikap gila padamu hingga berniat ingin menjualmu. Percayalah, aku juga sedang bertahan hidup di kota besar ini." Tante Jeni berkata pelan, bola matanya berair namun ia terlalu pandai menutupinya hingga tidak ada satu tetespun air mata yang jatuh. "Aku akan merindukanmu di sela-sela kesepianku, Adira. Aku akan menua dan mengering di sini. Semoga kau bahagia dengan Tuanmu, Adira. Semoga." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD