****
Dalam sebuah perjalanan yang jauh, Adira terus merenung akan ucapan sang tante. Sangat menyedihkan saat ia mendengar tantenya berkata demikian. Seakan pergi jauh dan tak pernah kembali, tantenya bahkan mampu menyentuh langit hatinya yang paling tinggi. Ya, ia sendiri sudah mengenal tabiat tantenya jauh-jauh hari. Adira sendiri tidak pernah mempermasalahkan jika tantenya pernah berniat menjualnya pada orang lain kendati ia adalah keponakannya sendiri.
Gama melirik ke arah Adira, suasana canggung yang terjadi di dalam mobil membuat hatinya resah. Raut wajah Adira menyiratkan perasaan sedang tidak baik-baik saja, Gama takut jika ucapan tantenya itu membuat Adira kembali ke rumah itu dan kembali menerima nasib dijual tantenya sendiri—lagi.
"Apa kau masih memikirkan ucapan Tantemu?" tebak Gama menoleh sekilas ke arah Adira. Tanpa mengurangi kewaspadaannya dalam mengemudikan mobil, Gama penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis di sampingnya itu.
"Tentu saja, ia tidak selamanya muda dan usianya mulai menanjak tua. Tante Jeni tidak memiliki siapapun di dunia ini, aku hanya merasa sedih bagaimana ia akan menjalani masa tuanya sedangkan ia tidak memiliki keluarga." Adira menjawab tanpa menatap wajah Gama, terlihat jelas bagaimana gadis itu menerawang kehidupan sang tante dahulu kala.
"Kenapa kau begitu perhatian padanya? Apa kau tidak ingat bagaimana ia menyeretmu ke club malam dan menjualmu pada p****************g malam itu?" Gama memancing Adira, mematik rasa dalam diri Adira untuk mengingat kembali kejahatan tantenya yang tidak bisa ditolerir.
Adira mengulas senyum, ia tertunduk sejenak lalu kembali menatap mobil yang sama-sama melaju di depan mobil mereka. "Tentu saja ingat, luka seseorang tidak bisa dihapus walau sudah melalui fase tidur beberapa hari bahkan bulan. Hanya saja ikatan darah diantara kami membuat kami saling mengerti dan mudah untuk memaafkan. Tanteku terlihat jahat di mata orang lain tapi bagiku tidak. Ia hanya terjerat masalah finansial, ia bingung menghadapi krisis dalam hidupnya hingga ia lupa, ia telah berusaha menjual keponakannya sendiri."
"Apa kau tidak dendam padanya?" telisik Gama, kali ini ia menoleh sejenak. Pria berjambang tipis menatap tak mengerti pada Adira, kenapa bisa gadis di sampingnya ini memiliki perasaan seluas itu pada tantenya padahal ia sendiri nyaris dijual beberapa kali oleh tantenya.
"Tidak. Seperti yang aku katakan sebelumnya, dia hanya terjerat masalah finansial dan aku telah memaafkannya. Paman, di dunia ini ada hubungan yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Kau mungkin menganggap tanteku jahat tapi bagiku sama sekali tidak. Jika dia jahat, dia tak mungkin menggendongku tengah malam menuju ke rumah sakit tiga tahun yang lalu." Adira terkekeh, ia mengingat kembali kejadian itu dengan perasaan mulai menghangat.
"Menggendongmu?" Gama merasa heran, ia menyipitkan mata seolah tak percaya dengan cerita Adira barusan.
"Aku hanya memiliki ibu tiga tahun yang lalu. Kematiannya adalah pukulan terberat bagiku. Aku sangat kehilangan dan hal itu membuatku jatuh sakit dalam hitungan jam. Kau tidak akan percaya jika orang jahat terkadang memiliki hati juga. Tanteku, menggendongku dari rumah menuju ke rumah sakit dengan berjalan kaki. Waktu itu hidup kami sangat miskin, tidak ada tetangga yang peduli dengan kami. Tapi tanteku, dia bahkan rela menggendongku berjam-jam menuju ke rumah sakit. Sampai saat ini hal ini masih teringat jelas dalam hidupku. Itulah kenapa, meskipun Tante Jeni berusaha menjualku, aku tidak pernah dendam padanya." Adira bercerita panjang lebar, mematik rasa kagum dalam diri Gama. Di dunia ini jarang sekali ditemui orang yang bisa tulus setulus Adira pada tantenya. Orang akan mudah dibutakan terlebih ia pernah disakiti.
Adira menarik napas, ia menaut jarinya satu sama lain. "Aku akan segera mencari kerja, mungkin beberapa hari ini aku akan meminta jasa Pak Jul untuk mengantarku mencari pekerjaan."
Gama menoleh sesaat, ia tak menjawab. Pria itu menepikan mobilnya di sebuah area taman yang penuh dengan pengunjung dewasa dan anak-anak. Adira terheran, ia menatap Gama dengan tatapan seolah penuh tanya 'kenapa'.
"Kenapa tidak meminta jasaku saja? Aku bisa mengantarmu melamar pekerjaan kemana saja yang kamu mau," ucap Gama pelan, ia menoleh ke arah Adira yang kini menyorotnya dengan tatapan tak mengerti.
"Kantormu membutuhkanmu, Paman. Aku tidak berani menyita waktumu," jawab Adira pelan lalu mengulas senyum tipis. Gama mengangkat alisnya sebelah lalu memukul-mukul kemudi dengan wajah sedikit kesal.
"Bagaimana jika kau kerja di kantorku saja? Kita bisa berangkat bersama dan pulang bersama, itu pun kalau kau mau." Gama berkata pelan, pria itu melayangkan tatapannya ke seberang jalan dimana di sana berderet beberapa kedai makanan bergaya sederhana.
"Aku hanya lulusan SMA, tidak cocok bekerja di kantor. Bukannya menolak tawaranmu, hanya saja aku merasa tidak pantas bekerja di kantoran." Adira tertunduk sejenak, ia menatap jarinya yang bertaut satu sama lain dengan perasaan yang susah sekali untuk diceritakan.
"Kantor itu milikku, walau tidak cocok asal kau mau, aku bisa memasukkanmu kesana. Aku juga bisa menambah gajimu kapan saja atau membantumu dalam kesulitan," tawar Gama bersikeras, pria itu menatap tajam ke arah Adira.
Gadis berambut panjang tersenyum tipis, ia menggeleng pelan. "Sepertinya aku tidak bisa. Maafkan aku Paman. Aku akan mencari pekerjaan sesuai dengan minatku saja."
Gama mencengkeram kemudi dengan kesal, pria itu mencuramkan alis seakan mengekspresikan bagaimana perasaannya sekarang. "Kenapa sih kamu selalu menolak tawaran baikku? Aku jarang bersikap baik terhadap orang lain tapi kenapa kamu—kamu yang mendapat kebaikan itu selalu menolakku? Lagipula jika kau bekerja di tempat lain, apa gajimu cukup untuk melunasi hutangmu yang 300 juta itu?"
Adira terdiam sejenak, ia tersenyum lalu menatap Gama yang terlihat begitu frustrasi dengan jawabannya. "Gajiku mungkin tidak bisa melunasi hutangku dalam sekejap atau bahkan seumur hidup, hanya saja kau terlalu baik untukku. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi, Paman."
"Bohong!" tandas Gama dengan wajah sangat kesal. Pria itu melempar pandangan, menetralisir perasaan yang kini berkecamuk dalam batinnya.
"Lagipula jika kita sekantor, apa orang lain tidak akan curiga pada kita? Aku tidak ingin orang-orang akan berpikir buruk tentangmu," imbuh Adira pelan. Ucapan gadis itu perlahan mengikis rasa kesal yang tertanam dalam hati pria berjambang tipis tersebut.
Gama menatap Adira dengan tatapan berbeda. Keduanya kini saling menatap cukup lama hingga akhirnya Adira kembali tersenyum. "Kali ini beri aku kepercayaan. Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Kau sudah banyak membantu jadi—terima kasih untuk kebaikanmu selama ini."
Gama tertegun, ia tidak habis pikir jika Adira lebih keras kepala dibandingkan Melati. Setidaknya Adira tahu bagaimana ia meminta maaf sekaligus menenangkan hatinya dalam sekejap. Gama mengembuskan napas dengan resah, ia angkat tangan mengenai kebebalan Adira saat ini. "Terserah kamu sajalah! Awas ya kalau kamu mendapat kesulitan, jangan sebut namaku!"
Gama terlihat frustrasi, ia lalu menyalakan mesin mobil dan bergegas pergi dari area taman tersebut. Rasanya sia-sia saja membujuk Adira saat ini. Gadis itu bertahan dengan keputusannya dan Gama hanya bisa menahan rasa kesal dengan sesekali ancaman keluar dari bibirnya.
Pria itu tak pernah mengerti dengan perasaannya. Ia hanya ingin Adira menurut padanya tapi Adira selalu bersikeras. Gama kembali menarik napas, sepertinya ia harus mengendurkan pegangannya pada Adira, ia takut jika ia terlalu mengekang Adira, gadis itu akan melepaskan diri darinya.
****
"Nona, butik kita akhir-akhir ini sangat ramai sedangkan kita kekurangan pekerja. Apakah Nona punya solusi?" tanya Adiba pada Melati yang sibuk dengan laporan keuangan di meja kerjanya.
Melati mendongak, meninggalkan laporannya dan menatap serius pada Adiba yang duduk di hadapannya. Gadis berkerudung merah itu menatapnya serius, seolah meminta saran dari sang pemilik butik.
"Kalau begitu kita buka lowongan pekerjaan saja. Aku rasa tidak masalah jika kita ambil satu atau dua pekerja baru," ucap Melati pelan, mempertimbangkan keputusannya dengan hati-hati. Adiba mengangguk, wajahnya mendadak cerah seperti langit pagi.
"Baik, Nona. Jika begitu aku akan menyiapkan bannernya," ucap Adiba lalu bangkit dari duduknya. Melati mengangguk lalu melempar senyum, ia menatap kepergian Adiba hingga bayang gadis berkerudung itu lenyap dibalik pintu.
Melati menyandarkan punggungnya di kursi, ia melirik ke arah ponsel. Sudah setengah hari dan ia belum menghubungi Gama. Sedang apakah pria itu? Apakah ia tengah berkutat dengan setumpuk laporan di meja kerjanya? Melati tersenyum tipis, ia lalu meraih ponselnya dan menekan kontak yang ia namai dengan nama 'Kesayangan'.
Melati dengan sabar menunggu panggilannya dijawab, disaat penat seperti ini, mengobrol dengan Gama adalah obat manjur bagi Melati. Gadis itu tahu jika Gama mungkin akan merasa terusik akan teleponnya, hanya saja Melati cukup tak acuh dengan keadaan itu.
Alis Melati terangkat saat panggilannya tidak terjawab. Mungkinkah Gama sesibuk itu hingga ia tidak bisa mengangkat teleponnya?
Melati kembali menekan nomer ponsel Gama, mengharapkan kali ini teleponnya diangkat oleh sang pujaan hati. Lagi-lagi nihil. Melati merasa kesal hingga akhirnya ia menelepon Sari, sekretaris pribadi Gama.
"Hallo, Adiyaksa Company, ada yang bisa dibantu?" Suara khas perempuan terdengar dari balik ponsel membuat perhatian Melati segera teralih pada sang wanita.
"Iya, Saya Melati. Apakah Tuan Gama Adiyaksa bekerja hari ini? Apakah dia sedang rapat jam ini?" tanya Melati dengan wajah penasaran.
"Hari ini Tuan Gama Adiyaksa tidak masuk kerja, Bu. Apakah ada hal yang penting untuk disampaikan?" tanyanya dengan nada sopan. Melati tertegun sejenak, ia terdiam cukup lama membuat sang sekretaris terheran-heran.
"Hallo Bu,"
"I-iya. Apakah Anda tahu kemana perginya Tuan Gama?" Melati mencoba bertanya, menuntaskan rasa keingintahuannya mengenai ketidakhadirannya Gama di kantor.
"Oh, untuk itu saya tidak tahu, Bu. Biasanya Pak Gama memang seperti itu, beliau akan masuk kerja jika merasa perlu dan ada rapat saja." Sari menjelaskan dengan hati-hati.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih untuk informasinya," ucap Melati pelan lalu menutup ponselnya. Hati gadis itu bertanya-tanya kemana gerangan perginya Gama saat ini?
Melati menghela napas, ia mencoba berpikir akan perginya Gama kali ini. Tidak biasanya Gama seperti itu, walau ia sibuk ia tidak pernah mengabaikan teleponnya. Haruskah ia menelepon Gama sekali lagi? Apakah itu justru tidak mengganggunya? Bagaimana jika saat ini Gama berada di jalanan dan mengemudikan mobil? Mungkin Gama masih sibuk sehingga tidak bisa mengangkat teleponnya.
Gadis berambut pirang menggelengkan kepala, ia menepis segala pikiran buruk yang kini mendera otaknya. Mungkin setengah jam lagi ia akan menelepon Gama, bisa saja pria itu dalam sebuah perjalanan. Melati menegakkan tubuh, menekuni kembali laporannya meskipun saat ini ia benar-benar tidak konsentrasi.
Gama, kemana pergimu? Kenapa tidak angkat telepon? Gama, aku memikirkanmu.
****