Bab.9—Melamar Pekerjaan

1330 Words
**** Langit Jakarta masih terasa sama ketika pagi hari menjelang. Awan putih terlihat berarak menuju ke sisi timur, warna biru sebagai warna dasar langit terlihat sangat indah ketika bertemu dengan warna emas milik sang mentari. Pagi itu kira-kira pukul delapan pagi Adira Zahra, gadis yang baru saja menamatkan masa SMA dengan semangat membara dan luar biasa menyusuri setiap toko atau pun bangunan beruko hanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Dengan diantar Pak Jul, Adira Zahra meminta pada pembantu pria milik Gama Adiyaksa itu untuk mengantar pada satu tujuan lalu bergegas kembali pulang. Ya, Adira cukup tahu diri. Dia tidak ingin merepotkan Pak Jul berkali-kali terlebih tugas Pak Jul tidak hanya mengantar ia berkeliling jakarta hanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Bola mata Adira Zahra berbinar penuh bahagia saat tulisan yang menyatakan membutuhkan karyawan tertempel pada salah satu pintu kaca pada sebuah butik besar nan ramai. Sejenak harapan Adira bertumpu pada butik itu, ia memiliki mimpi dan berharap bisa merajutnya dengan bantuan bekerja di butik tersebut. Menarik napas dalam-dalam, Adira melafalkan niat di dalam hati lalu memasuki butik bernama 'Smith 2 Smith' itu dengan langkah penuh harapan. Kedatangannya dengan membawa berkas-berkas disambut dengan rasa antusias yang begitu tinggi. Tidak seperti tempat lain yang selalu bersikap ketus pada sang pelamar kerja, tempat ini justru bersikap ramah dan luar biasa nyaman. Salah satu pegawai butik yang memakai kerudung warna merah muda tersenyum padanya. Menanyakan beberapa kelengkapan berkas lamaran, gadis yang memiliki papan nama 'Adiba' yang tertera di d**a kirinya terlihat begitu sopan dan sangat ramah. "Kalau begitu mari saya antar ke ruang interview Kakak," ajak Adiba dengan wajah berseri. Adira tersenyum lalu mengangguk. Gadis berkuncir tinggi itu mengikuti langkah Adiba menuju ke ruangan yang cukup besar di dalam area butik. Setelah mengetuk pintu, Adiba bersama Adira masuk ke dalam ruangan yang terasa begitu nyaman dan luas. Hawa dingin dari AC lantas menyapa kulitnya, memberikan rasa sejuk dan sensasi dingin yang menyegarkan. Ruangan itu terlihat luas, rapi, dan bersih. Seorang wanita berambut pirang tengah menatap layar laptop di hadapannya dengan wajah antusias. "Nona, hari ini ada pelamar kerja. Saya ajak kemari agar Anda bisa bebas untuk meng-interview pelamar," ucap Adiba menaruh rasa hormat pada sang pimpinan butik. Wanita muda itu mengalihkan tatap ke arah Adira, ia melempar senyum dengan wajah terlihat begitu bersahabat. "Oh, hai, silakan duduk. Adira, terima kasih untuk bantuannya." Adira membalas senyum, ia lalu membungkukkan badan sejenak dan pergi dari ruangan sang pemilik butik. Wanita itu kembali tersenyum saat melihat Adira bersikap canggung dan duduk di hadapan Melati. "Hai, aku Melati Smith. Aku pemilik butik dan aku membutuhkan beberapa karyawan lagi untuk kuajak mengembangkan bisnis butikku. Bisakah kau menceritakan siapa dirimu? Tidak usah canggung, anggap saja aku adalah teman barumu di sini." Melati menyapa Adira dengan wajah bersahabat, tak ada wajah ketus ataupun kesal yang tergambar di wajah wanita tersebut. "Aku-aku Adira Zahra, aku baru saja lulus SMA. Kedatanganku kemari karena aku ingin mencari pengalaman dengan bekerja giat," ucap Adira mulai memperkenalkan diri. Melati menganggukkan kepala, antusias dengan apa yang diceritakan oleh calon karyawannya. "Kau masih muda, kenapa kau tidak kuliah saja? Orang tuamu pasti bangga jika kau memiliki nilai bagus di mata kuliahmu nanti," ucap Melati sambil menyipitkan mata, mencoba mencari titik kepastian pada diri Adira. Adira tersenyum kecil, ia menunduk sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Melati. "Ya, ibuku akan bahagia dan tersenyum di surga jika melihatku mendapat nilai bagus di mata kuliah. Hanya saja, aku perlu banyak berjuang untuk bisa berkuliah. Jadi, daripada aku kuliah maka lebih baik bagiku untuk hidup dan bekerja." Melati terdiam sejenak, ia menatap Adira dengan tatapan sedikit berubah. "Oh, aku minta maaf karena aku membahas orangtua di depanmu. Baiklah, tinggalkan berkasmu di sini. Aku akan mempertimbangkanmu dan menghubungimu jika pekerjaan ini benar-benar cocok untukmu." Adira mengulas senyum, merasa bahagia karena tanggapan sang pemilik butik yang begitu bersahabat dan mudah sekali akrab. Umur mereka tidak terlalu jauh, mungkin hanya terpaut tiga atau empat tahun lebih tua dari Adira. "Terima kasih Nona, aku akan menunggu kabar baiknya." Melati membalas senyuman itu seramah mungkin, ia menganggukkan kepala lalu berdiri dari tempat duduk saat Adira beranjak dari kursi yang ia duduki sedari tadi. Adira lantas mohon pamit dari hadapan Melati, tak lupa pula berkas yang ia bawa kini ia tinggal di dalam butik tersebut. Melangkah keluar dari butik, Adira menggantungkan harapannya pada butik berkelas itu supaya ia bisa masuk dan menjadi karyawan dengan penghasilan diatas rata-rata. **** Langkah kaki lelah Adira menuntun tubuh itu sampai di sebuah taman bunga krisan dimana di sana sangat sepi kecuali beberapa orang dewasa dan anak-anak yang tengah duduk menikmati pemandangan bunga yang sedang mekar. Penjual es krim terlihat berdagang keliling mencari pembeli di kala terik tersebut. Tanpa lelah, ia menyalakan musik khas dari es krim yang ia jual dengan hati riang dan gembira. Tak terasa siang sudah datang membayang, rasa lapar kini mendera perut tipis milik Adira. Seharusnya bisa saja Adira mencegat angkot dan kembali pulang ke villa Gama, hanya saja ia masih ingin jalan-jalan walau sekadar menikmati suasana di cuaca panas di taman kota. "Adira," sapa seseorang di belakang Adira. Gadis itu menoleh ke belakang, wajahnya sontak terkejut saat mendapati Arman berada di taman itu juga. "Arman—" Adira beranjak dari duduknya di kursi taman. Ia melempar senyum pada pria yang menjadi teman masa kecil hingga masa SMAcnya tersebut. Arman membalasnya, ia menghampiri gadis itu dengan perasaan tak terbaca. "Sedang apa kamu di sini?" tanya Arman tak terduga saat menjumpai Adira yang tengah duduk di kursi taman seorang diri. Adira tersenyum, ia kembali duduk di kursi dan diikuti oleh Arman. "Aku sedang mencari pekerjaan, rasanya aku harus mencoba beberapa tantangan di hidup ini." Adira menjawab dengan enteng, membuat Arman kembali tersenyum senang. "Rasanya tak percaya aku bisa menjumpaimu di sini. Sama sepertimu, aku tengah mencari pekerjaan juga. Terakhir aku mendengar kabar bahwa kau—ah, sudahlah! Melihatmu baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup buatku." Arman memulai percakapannya dengan panjang lebar. Satu hal yang disukai Adira dari Arman ini adalah, meskipun Arman terlahir sebagai seorang pria, ia tetap bersikap baik pada lawan jenisnya dan selalu menghargai. Selain murah senyum, enak diajak berbincang, Arman juga pandai berempati dengan orang lain. Adira tidak pernah menyesal mengenal Arman sedari kecil. Lama mereka terdiam, suara khas musik es krim walls kini kembali terngiang di siang yang terik itu. Arman menoleh ke arah Adira, wajahnya terlihat penuh minat sesaat setelah mendengarkan musik khas es krim tersebut. "Mau es krim? Aku yang traktir." "Boleh," jawab Adira sambil mengangguk. Arman segera sigap, ia beranjak bangun dari kursi lalu menghampiri sang pedagang es krim guna memesan dua buah stick es krim rasa coklat. Tak lama kemudian dua batang es krim sudah berada di dalam genggaman. Arman menawarkan es krim tersebut lalu kembali duduk di samping Adira. "Kau sangat menyukai cokelat, jadi aku membelikanmu yang rasa cokelat. Dulu saat kecil kau sangat takut makan cokelat banyak-banyak, sekarang—makanlah cokelat sebanyak apapun yang kau mau." Adira terkekeh, merasa terhibur dengan ucapan Arman barusan. Tak ada kata sangkalan, memang benar adanya jika sewaktu kecil Adira memang khawatir dengan gigi-giginya jika ia makan cokelat terlalu banyak. Adira mencoba membuka bungkus es krim tapi Arman dengan sigap lantas meraih es krim tersebut lalu membukakan bungkusnya untuk Adira. Wajah Adira memerah, ia merasa tersipu dengan perlakuan Arman kendati ini bukan yang pertama kalinya Arman membukakan bungkus plastik es krim milik Adira. "Terima kasih, wahai penyelamat." Arman terkekeh saat Adira menyebutnya penyelamat, tanpa sadar ia mengacak pucuk rambut Adira dengan perasaan gemas. Adira turut terkekeh, ia memakan es krimnya dengan tenang dan sesekali bercanda dengan Arman. Tanpa mereka sadari, sebuah mobil BMW putih terlihat berhenti tak jauh dari lokasi taman dimana Adira dan Arman tengah bercakap-cakap. Tampak seorang pria mengamati mereka, rahangnya mengetat seperti singa yang mengincar mangsa. Pria itu terus mengamati, memindai setiap gerak-gerik tanpa satupun yang terlewati. "Oh, mencari kerja rupanya?! Tunggu saja sampai di rumah, jangan sebut namaku lagi. Dasar Jalang cilik tak berperasaan!" **** Jangan lupa tap lovenya ya. Makasih banyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD