Bab.3— Perasaan Gama

1597 Words
**** Setelah semalaman tidur di villa Gama, Adira bangun dengan segar di pagi hari. Meski rasa kaku dan nyeri masih menyerang bibirnya akibat bogeman mentah antek-antek tantenya, Adira bersyukur karena Gama telah menolongnya. Setidaknya, ia masih bertemu orang baik dan memiliki sedikit hati untuk mengulurkan tangannya pada Adira yang akan dijual oleh keluarganya sendiri. Menggeliat pelan, Adira beringsut bangun dari tidurnya. Gadis itu menatap ke arah jendela kaca yang luas di samping ranjang. Jendela kaca itu menghubungkan mata dengan pemandangan pantai berombak yang indah. Warna biru khas laut kini menyapa bola matanya, membuat Adira kembali bersyukur dengan keajaiban Tuhan kali ini. Tirai jendela itu sudah terbuka dan itu tandanya sudah ada seseorang yang masuk ke dalam kamar dan membuka jendela. Apa mungkin Gama melakukannya? Dimana ia sekarang? Pintu terdengar berderit, Adira menoleh ke arah pintu dan melihat sosok perempuan setengah baya memakai celemek warna putih masuk ke dalam kamar. Wanita itu tersenyum ramah, sembari membawa sebuah nampan berisi sarapan pagi, segelas s**u, dan juga beberapa obat-obatan untuk luka Adira. "Selamat pagi, Nona. Apa tidurmu pulas tadi malam?" tanya Bi Darsih dengan ramah. Wanita yang menggelung rambutnya itu membawa nampan lalu mendekat. Meletakkannya di atas meja, ekspresi Bi Darsih terlihat bersahabat. "Iya, Bi. Terima kasih sudah memberiku tumpangan tidur di sini. Oh ya, dimana Paman Gama sekarang?" tanya Adira pelan membuat Bi Darsih tercengang untuk sesaat. Wanita paruh baya itu terbengong sambil menatap Adira. Pasalnya, dari sekian banyak gadis yang dibawa secara rahasia oleh tuannya kemari, hanya satu gadis ini saja yang memanggil Gama dengan nama Gama. Tuannya itu sering disapa Tuan Adiyaksa dan bukan Tuan Gama. Terlebih, gadis ini kenapa memanggilnya Paman? Apakah Tuan Adiyaksanya terlihat begitu tua? Daripada menyebutnya tua, bukankah jauh lebih menarik jika memanggilnya sebagai pria dewasa? " Bi," panggil Adira membuyarkan lamunan Bi Darsih. Wanita itu terkesiap, ia lalu menguasai dirinya kembali. Melempar senyum Bi Darsih sedikit membungkukkan badan ke arah Adira. Ya, tuannya sudah berpesan agar turut memberi hormat pada Adira walau ia tahu ia tidak pantas mengetahuj alasan kenapa Tuan Adiyaksa-nya memberi pengarahan spesial padanya. "Tuan Adiyaksa sudah kembali dini hari tadi. Ada beberapa meeting klien yang harus ia hadiri subuh tadi," jelas Bi Darsih lalu kembali melempar senyum. Wanita paruh baya itu lalu menatap sarapan yang ia bawa. "Nona, aku sudah membawakan sarapan bubur ayam untukmu dan segelas s**u hangat. Tuan Adiyaksa berpesan agar kau memakai obat-obatan ini untuk lukamu. Beliau juga berpesan, sebaiknya jangan pergi kemana-mana dulu sebelum Anda sembuh. Jika ada keperluan mendesak, minta tolong saja pada Pak Jul untuk mengantar." Adira terdiam sejenak, jadi pria itu telah pergi dini hari tadi?! Kenapa ia tidak membangunkannya? Eh, siapa juga Adira Zahra?! Ia hanya gadis temuan di club malam yang nasibnya jauh lebih buruk dari kucing buangan di jalan. "Kalau begitu Nona Adira segera membersihkan diri saja. Bibi sudah siapkan air panas di bath up," ucap Bi Darsih dengan ramah. Adira mencoba tersenyum, ia mengangguk lalu menyingkap selimut yang masih membuntal tubuhnya separuh. Gadis itu beranjak bangun, menggelung rambut panjangnya agar terlihat rapi sebelum akhirnya ia beranjak ke dalam kamar mandi. "Non, jika mau ganti di lemari sudah tersedia beberapa helai pakaian wanita. Tuan Adiyaksa sengaja membeli pakaian baru untuk Nona tadi malam." Lagi-lagi Adira kembali tertegun, ada perasaan sungkan yang kini mendera di pikirannya. Apakah pantas ia mendapatkan semua fasilitas ini dengan mudah? Ia dengan Gama baru sehari berkenalan dan Gama dengan mudahnya memberi seluruh fasilitas di villanya secara percuma. Apakah pantas baginya yang seorang—kekasih gelap mendapatkan semua ini? "Non, ada yang dibutuhkan lagi?" Bibi Darsih mencoba menyadarkan lamunan Adira. Gadis itu buru-buru menggeleng lalu tersenyum tipis, ia beranjak membawa tubuhnya menuju ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Bi Darsih masih tertegun di tempatnya, ia menatap pintu kamar mandi itu mulai tertutup. Wanita paruh baya yang memiliki tubuh sedikit subur itu mendengkus, merasa prihatin saat mendengar kisah pilu yang dialami Adira melalui bibir tuannya. Gama Adiyaksa bercerita jika gadis itu nyaris dijual tantenya di club malam. Luka yang diderita sang gadis adalah wujud penolakannya. Walau terlihat lemah, Gama merasa tersentuh akan penolakan yang dilontarkan Adira dan hal itulah yang menyebabkan seorang Gama Adiyaksa rela merogoh koceknya dalam-dalam hanya untuk menebus sang gadis. Ya, ketika kamu berbuat baik pada seseorang, hukum alam mulai berlaku. Siapa yang menabur, maka ia juga yang menuai. Yang berbuat baik akan mendapat baik, yang buruk akan mendapatkan sebaliknya. **** Gama Adiyaksa baru saja menyelesaikan rapat pentingnya. Di usia yang tergolong masih muda, Gama sudah memiliki kantor cabang yang tersebar luas di beberapa daerah. Kesuksesannya ia dapat secara turun temurun dari keluarga Adiyaksa, keluarga terbesar yang memiliki saham modal hampir 70% di pasar saham dunia. Pria itu menarik napas saat panggilan telepon menyeruak diantara aktifitasnya yang padat. Nama Melati Smith terpampang jelas di ponsel Iphone seri terbaru miliknya. Pria itu memutar bola mata, mengabaikan lalu kembali menekuni proposal yang baru saja datang ke meja kerjanya. Panggilan kedua dari Melati kali ini benar-benar mengganggu, terpaksa Gama harus mengangkatnya dengan perasaan malas yang mendera. "Sayang, kamu udah sarapan belum? Ohya kamu baru saja meeting di kantor 'kan? Yuk, keluar sebentar. Temani aku sarapan." Melati lantas berbicara tanpa titik koma pada Gama sesaat setelah panggilan itu diangkat. "Aku tidak ada waktu," jawab Gama malas. Pria itu memperhatikan proposalnya dengan seksama, membaca setiap laporan hingga akhirnya abai pada Melati—tunangannya. "Jangan seperti itu. Aku sudah ada di depan kantormu, turunlah dari kursi kebesaranmu dan lihatlah ke arah putri cantik ini. Apa kau ingin mengabaikanku lagi?" dengkus Melati terdengar sedang kesal. Gama turut mendengkus, merasa muak dengan segala kemanjaan gadis itu padanya. "Baiklah, tunggu aku beberapa menit. Aku akan membereskan laporanku dulu." Gama menginstruksi lalu menutup ponselnya. Gama kembali menarik napas, ia mengusap wajahnya dengan ekspresi tak bisa dibaca. Pria itu lalu membereskan proposal, berdiri sejenak lalu melongok dari arah jendela kaca di lantai 15 ke arah area parkir. Benar saja, Mobil BMW warna merah milik Melati sudah terparkir dengan rapi dan tengah menunggunya untuk turun. Mau tak mau Gama harus turun dan menemui gadis itu. Kerajaan bisnis yang maju pesat membuat Gama Adiyaksa tak memiliki cara untuk berkelit dari keluarganya. Ayah dan ibunya adalah orang yang gigih dan pantang menyerah. Masa muda mereka habis di dunia bisnis, pertemuan mereka pun karena mereka dijodohkan. Dan itu akan terjadi juga pada Gama Adiyaksa saat ini. "Hai Sayang," sapa Melati semringah saat melihat Gama mendekat ke arahnya. Wanita itu membuka jendela kaca, melambaikan tangannya dengan manja dan penuh riang. Gama tak berekspresi, ia masuk saja ke dalam mobil. Pria itu melirik ke arah jam tangan mahal yang terpampang di tangan kirinya. Pukul tujuh pagi, memang sudah waktunya untuk sarapan. Apakah Adira sudah sarapan sekarang? Apakah ia akan meminum obat yang ia berikan dan mematuhi perintah yang sudah ia sampaikan lewat Bi Darsih? Eh, kenapa Gama justru memikirkan kekasih gelapnya?! "Sayang, mau sarapan apa? Kok melamun sih? Pekerjaan aman-aman saja 'kan?" Melati mencoba bertanya pada pria yang duduk di sampingnya lalu terbengong untuk sesaat. Gama kembali tersadar, ia menoleh lalu menatap gadis bertubuh ramping dan memiliki rambut pirang tersebut dengan tatapan datar. "Sarapan apa saja, aku harus segera kembali ke kantor sebelum pukul delapan." Gama berkata seraya memakai seat belt. Melati tersenyum tipis, ia menghidupkan mesin mobil lalu melenggang keluar dari area kantor. Gadis berambut pirang dengan hidung mancung itu adalah gadis keturunan Indo-Jerman. Dia satu-satunya putri keluarga Smith yang bekerja lama dan tinggal di Indonesia. Keluarga Smith bergelut di dunia perdagangan, perhotelan, dan kini mulai merambah di dunia bisnis batu bara. Hubungan kedua keluarga sama baik, hal inilah yang mendasari adanya perjodohan. Melati adalah gadis baik, ia lulusan S1 di luar negeri, selain pintar ia juga bekerja di salah satu butik miliknya sebagai seorang designer muda. Karya-karyanya banyak dipakai kalangan atas, beberapa diantaranya khusus dipesan oleh pejabat luar negeri. Memiliki gadis secantik dan sepintar Melati adalah sebuah kebanggaan namun tidak bagi Gama Adiyaksa. Dari hidupnya yang mewah, ia merindukan sebuah kesederhanaan. Dari kerasnya hidup, ia merindukan arti dari sebuah kedamaian. Ia tidak tahu kenapa ia bisa hidup dalam lingkungan ketat seperti ini. Hanya saja mungkin Tuhan terlalu baik sehingga ia dilahirkan dalam keluarga yang tidak perlu bekerja keras namun uang selalu mengalir ke dalam pundi-pundi harta di rumahnya. "Bagimana dengan menu omellet udang? Aku rasa kita belum pernah mencobanya," ucap Melati pelan seraya fokus pada jalanan yang ada di depan. Gama tak menjawab, lagi-lagi ia kepikiran dengan Adira. Ia pergi dari Villa pukul tiga dini hari, membuat Bi Darsih harus terbangun hanya untuk menyampaikan beberapa pesan yang terkait dengan Adira. Mulai dari menu sarapan Adira, Gama menolak Adira mengonsumsi omellet. Pria itu menyarankan makanan lunak agar bibir Adira segera sembuh dan tidak terluka karena makanan keras. Gama tahu, luka sedikit saja di wajah wanita akan membuat wanita itu minder setengah mati. Maka dari itu Gama meminta Bi Darsih membuatkannya bubur ayam yang lunak. Tak ketinggalan juga ia meminta resep obat luka pada dokter pribadinya, membuat Pak Jul harus bangun pagi-pagi untuk pergi ke apotik terdekat guna menebus resep. Duh, apa yang sudah Gama perbuat hari ini? Hanya demi seorang Adira Zahra, ia repot sekali mengatur ini itu untuk gadis itu. Ia bahkan harus merepotkan siapa saja demi menyediakan semua kebutuhan Adira. Hello, Gama apakah kamu sehat? Ingat dia itu siapa? Dia hanya kekasih gelapmu, kekasih yang kau pungut secara tidak sengaja karena kau takut uangmu tidak kembali. Gama menghela napas, ia memikirkan Adira disaat ia pergi bersama Melati—tunangan yang tidak ia cintai. Pria itu mendadak tersenyum kecil, merasa begitu bodoh dengan apa yang ia perbuat. Gama, hello sadarlah! **** Tap love-nya ditunggu ya. Terima kasih banyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD