****
Seperti instruksi Gama Adiyaksa, Adira memilih tinggal di rumah seharian. Selain tidak memiliki alasan untuk keluar, Adira tidak ingin membuat Gama kecewa padanya. Pria itu telah berbaik hati memberinya tempat untuk berteduh dan makan, mana mungkin ia akan bersikap kurang ajar pada pria tersebut.
Membaca majalah remaja yang tertinggal di kamar milik Gama, Adira dengan leluasa menikmati waktu siangnya dengan tenang. Selama ia hidup, baru kali ini Adira merasakan ketenangan yang luar biasa. Bersama Jeni, meskipun dia adalah tantenya, Adira tidak pernah diperlakukan dengan baik. Wanita ular itu terus memerasnya siang malam diluar usahanya untuk menjual Adira pada hidung belang.
Duduk di pinggir jendela kaca besar, sesekali Adira melempar pandangan ke arah pantai yang begitu luas dan ramai oleh pengunjung. Diantara mereka ada beberapa yang bermain pasir putih, membangun istana, dan berjemur di teriknya matahari siang. Merasakan atmosfir yang begitu tenang, jiwa Adira sejenak merasa tenang.
Suara pintu berderit pelan, membuyarkan keasyikan Adira dalam menikmati aktifitas seseorang di luar sana. Pandangan mereka bertemu sejenak, Adira tak menyangka jika Gama akan pulang sesiang itu dari kantornya. Ah, Adira sadar, ia kembali teringat hutangnya yang 300 juta pada pria tersebut.
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Gama diambang pintu, tak beranjak sama sekali dari sisi pintu yang terbuat dari kayu jati kualitas tinggi.
Adira menggeleng, ia tak mengeluarkan suara sedikitpun dengan bola mata masih tertuju penuh pada pria yang masih memakai jas kebesarannya berwarna hitam pekat. Gama menghela napas, tatapannya masih tertuju gadis yang belum beranjak dari sofa pinggir jendela kaca tersebut. "Turunlah ke ruang makan. Kita makan siang sama-sama."
Gama menginstruksi pada Adira untuk turut makan siang bersamanya di ruang tamu. Pria itu lalu menutup pintu, bergegas pergi ke ruang tamu lebih dulu. Adira menarik napas, ia lalu menutup majalah yang masih terbuka di pangkuannya dengan segera. Mengembalikan majalah itu dalam deretan buku yang terpajang, Adira lantas menyusul Gama ke ruang makan.
Suasana ruang makan terlihat begitu lengang. Beberapa deret makanan tersaji dengan dengan mewah, ada Bi Darsih yang melempar senyum ke arah Adira ketika gadis bertubuh mungil itu turun dari tangga menuju ke arah ruang dapur. Gama tak terlalu peduli, ia masih sibuk memainkan ponsel mewah di tangan kanannya.
Adira berjalan pelan mendekati meja, duduk di hadapan Gama dengan tenang. Gadis itu membiarkan Gama asyik dengan privasinya lalu—
"Apakah tadi pagi kau sarapan dengan baik?" tanya Gama pelan sambil terus terfokus pada ponselnya.
"Ya, terima kasih Paman. Aku mendapatkan sarapan yang istimewa dan obat yang mujarab." Adira menjawab enteng, mengalihkan bola mata dari ponsel ke wajah Adira yang masih menunjukkan muka lebam akibat pukulan yang diberikan antek-antek tantenya di club malam tadi malam.
Gama meletakkan ponsel, menghirup udara melalui hidungnya sedikit kasar. Ah, lagi-lagi Adira memanggilnya paman. Hal yang sangat-sangat memuakkan bagi Gama. Pria itu berusaha mengabaikan panggilan yang tersemat padanya, meraih sendok dan pura-pura mengambil hidangan yang tersaji di atas meja makan.
"Kau harus minum obat dengan teratur agar lebam di wajahmu segera sembuh." Gama mencoba menasehati seraya mengambil nasi putih ke dalam piring lebarnya. Adira hanya mengangguk lalu melempar senyum tulus pada Gama Adiyaksa.
"Terima kasih untuk kebaikanmu, Paman. Jika tidak bertemu denganmu, aku tidak tahu bagaimana nasibku kala itu." Adira berkata pelan, menatap lekat pada sosok pria berusia 35 tahun itu dengan tatapan begitu tulus.
Gama membalas tatapan itu. Hanya saja tatapan yang Gama berikan kali ini terlihat begitu berbeda. "Pria selalu memberikan hal baik pada wanita. Aku membantumu karena memang aku sudah berniat akan menjadikanmu kekasihku. Apa kau paham? Sebaiknya jangan terlalu berterima kasih padaku karena aku tidak sebaik itu padamu."
Adira terdiam sejenak, ia menghela napas lalu tersenyum tipis. Menatap ke arah piring yang masih kosong, Adira tahu apa maksud ucapan Gama barusan. "Paman Gama, aku ingat kok kalau aku punya hutang padamu. Jadi jangan khawatir, setelah sembuh aku akan mencari pekerjaan dan mulai menyicil hutangku."
Gama melirik Adira sekilas, tak ada ucapan yang bisa ucapkan saat ini. Membahas soal hutang piutang, Gama justru merasa canggung berada di hadapan Adira Zahra. "Sudah jangan bahas hutang lagi. Aku pulang karena aku ingin makan siang denganmu di rumah."
Gama lalu meraih centong nasi, mengambil nasi lalu menaruhnya di piring Adira. Cukup banyak membuat Adira terbelalak kaget karena nasi yang terlalu banyak di di piringnya. "Paman, nasinya kebanyakan. Mana mungkin aku bisa menghabiskannya?!"
"Itu tidak banyak, habiskan! Bentuk tubuhmu menyiksa pandanganku," ujar Gama tanpa menatap Adira. Pria itu kini mengambil gulai ikan, menaruhnya di atas piring Adira. Tak lupa pula ada telur ceplok, Gama kembali menambahkannya ke dalam piring Adira.
"Paman, sudah! Aku bukan kerbau, makanku tidak banyak." Adira mencoba menolak saat melihat piringnya penuh dengan lauk pauk hingga nasinya tidak terlihat sama sekali.
"Tubuhmu itu terlalu kurus, tantemu pasti mengurangi jatah makanmu, iya 'kan? Mumpung kekasih gelapmu ini baik hati, makanlah yang kenyang. Setidaknya kau bisa menikmati makanan yang layak lagi gratis di sini." Gama berkilah, pria itu melirik sejenak pada Adira lalu perhatiannya tertuju lagi pada piringnya.
"Apa kau marah padaku?" tanya Adira pelan, dahinya berkerut. Gama menghentikan aksinya menyendok nasi, kini tatapannya tertuju pada Adira.
"Kenapa aku harus marah? Jika aku marah, aku tidak akan mengambilkanmu nasi dan memenuhi piringmu dengan lauk," dengkus Gama merasa aneh dengan pertanyaan Adira.
"Justru itu Paman, kau memenuhi piringku dan itu terlihat kau seperti sedang marah denganku." Adira berkilah, merasa apa yang dilakukan Gama adalah wujud kemarahan pria itu padanya.
Gama menaikkan alisnya sebelah lalu mengembuskan napas dalam-dalam. "Ya, aku marah padamu. Apa kau puas sekarang?"
"Paman—"
"Jangan panggil aku paman, aku tidak suka." Gama menolak cepat, ia menyendok nasi lalu memenuhi mulutnya dengan makanan. Adira terdiam, ia menatap Gama cukup lama. Pria itu benar-benar terlihat begitu kesal padanya.
"Jadi aku harus memanggilmu apa, Paman?"
"Sayang? Baby? Cinta—terserah kau mau memanggilku apa." Gama berkata ketus membuat Adira terdiam lagi.
Gama melirik ke arah Adira. Gadis itu belum juga memulai makan siangnya, membuat Gama merasa kebakaran jenggot. Pria itu lalu menyendok nasi beserta lauknya dan menyodorkannya ke arah Adira. "Makanlah! Kapan kau akan memulai makan siangmu?"
Adira terbengong, ia lalu menggeleng pelan. "Aku bisa makan sendiri."
"Dasar bocah!" dengkus Gama kesal ketika sodoran sendoknya ditolak mentah-mentah. Gama kemudian memakannya dengan ekspresi kesal bukan main.
"Bagaimana jika aku memanggilmu—abang?" Adira berkata pelan lalu mulai menyendok nasi yang masih tersedia utuh di atas piringnya.
"Tidak. Aku bukang tukang ojek. Panggil aku Sayang!" Gama menitahkan, terdengar memaksa dan mendominasi.
"Tidak. Aku tidak berani memanggilmu seperti itu. Bagaimana jika aku memanggilmu—"
"Aku tidak suka semua panggilan kecuali sayang. Kau paham?! Segera habiskan makanmu atau aku akan menyuapkannya ke mulutmu." Gama merasa kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun. Menutup mulut Adira adalah jalan satu-satunya agar gadis itu segera menyelesaikan makan siangnya.
Adira menurut, ia tak bicara apapun hingga acara makan siang selesai. Gadis itu lalu beranjak bangun dari kursinya, mengumpulkan semua piring kotor dan membawanya ke wastafel.
"Kau mau apa?" Gama menautkan alis, merasa aneh dengan tingkah Adira. Gadis itu tak menatapnya, dengan cekatan ia mulai menghidupkan kran air dan mencucinya.
"Sehabis makan kita harus mencuci piring kita. Itu yang selalu ibuku ajarkan padaku," ucap Adira pelan seraya meraih sabun cuci piring yang tergeletak di pinggir wastafel.
Gama beranjak bangun dari duduknya, berjalan ke arah Adira lalu menarik lengannya cukup keras. "Jangan lakukan itu! Ada Bi Darsih yang akan melakukan tugasnya dengan baik."
Adira terkesiap, ia berdiri cukup dekat dengan pria tampan berwajah rupawan itu di dekat wastafel. Wajahnya terlihat bingung, apa salahnya dengan mencuci piring?
"Jangan lakukan itu karena aku tidak memintamu untuk bekerja di rumahku." Gama menatap Adira dengan tatapan serius, hal membuat Adira mendadak merasa takut.
"Kenapa? Aku cuma mencuci piring, apa-apa itu salah?" Adira mencoba bertanya. Gama masih terdiam, ia lalu mematikan kran air yang masih mengucur deras di atas wastafel.
"Aku tidak pernah menyetting kekasihku untuk menjadi pembantu di rumahku. Apa kau mengerti, Nona Adira? Jadi stop! Jangan lakukan apapun tanpa perintah dariku. Tugasmu di sini hanyalah—menungguku pulang kerja dan makan bersama-sama."
*****
Dukung cerita ini dengan Tap Lovemu, terima kasih.