BAB 3

1011 Words
Bab 3 "Tapi, Bu, aku dari pagi belum makan apa-apa. Kasihan Annisa, dari tadi minum asi hambar," rengekku. Aku terus meminta Bu Sari, supaya bisa memberiku makan sebelum bekerja. Memang benar apa kata Mbak Rini, kenapa aku bisa sebodoh ini masih tetap bertahan hidup di keluarga seperti ini. Mereka sama sekali tidak menghargai dan menganggapku, sebagai anggota keluarga ini. Bahkan suamiku pun kini sudah seperti orang lain, berbeda sekali saat kami baru menikah. Padahal aku ini selalu menuruti semua kemauan mereka. Rumah yang kini aku dan Mas Arya tempati juga, adalah hasil dari menjual warisanku di kampung. Semua itu aku jual, setelah kedua orang tuaku tiada, walaupun tanahnya memang milik Bu Sari. Makanya Mas Arya selalu mengakui ke semua orang, jika rumah megah itu adalah miliknya, hasil dari jerih payahnya. Padahal semua ucapannya adalah nol besar, sebab kami bisa bikin rumah itu karena hasil aku menjual warisan orang tuaku. Kini setelah semuanya aku pindahkan, aku malah seakan mau disingkirkan oleh mereka. Aku bahkan tidak oernah dianggap ada, di keluarga mereka. Memang begitu miris nasibku ini. "Sudahlah, Bu, beri saja Mbak Salma makan. Kasihan juga aku melihatnya, Bu," bela Nuri adik ipar suamiku. Ia istrinya Hasan, yang merupakan iparku juga "Terserah kamu saja lah, Nuri," sahut Bu Sari. Kemudian ia pergi meninggalkan aku dan Muri. "Mbak Salma, kamu mau makan bukan? Sini, Mbak, biar Nuri yang ambilkan," ajak Nuri. "Iya, Nur," sahutku. Aku pun mengikuti langkah Nuri dengan elimpunhan, sebab aku sudah tidak memiliki tenaga lagi. Hampir satu hari satu malam, aku tidak makan. Karena tadinya, aku akan makan saat akan mengantar Hendra menikah. Tetapi ternyata lain cerita, lain juga kenyataannya. Aku sekarang merasa sangat pusing, sebab dari semalaman Annisa minum asinya tidak mau berhenti. Karena tubuhku belum terisi makanan, kini aku merasa sangat lemas dan kepalaku sedikit limbung. Makanya, dari tadi aku meminta belas kasihan kepada mertuaku. Jika bukan karena terpaksa, tidak mungkin aku mau merendahkan harga diriku. "Nur ... Nuri, kepala Mbak limbung," kataku dan akhirnya, aku pun ambruk serta tidak sadarkan diri. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Aku tersadar, saat ada suara orang yang memanggilku. "Salma ... Salma, bangun kamu. Kenapa sih, kok kamu bisanya hanya bikin malu saja ya? Kamu malah pingsan lagi, ayo angun kamu, jangan manja jadi orang." Suara Mas Arya berkata begitu terdengar jelas. Aku pun tersadar, sebab bau minyak angin yan begitu menyengat di hidungku. "Aku kenapa, Mas?" tanyaku, sambil mata menelisik ke setiap penjuru. "Memangnya kamu nggak tau, kalau kamu itu pingsan. Kamu ini merepotkan saja bisanya," sahutnya, masih dengan nada sinis. "Jadi aku pingsan, Mas. Terus Annisa mana, kok dia nggak ada?" tanyaku lagi, menanyakan keadaan anakku. Aku menanyakan Annisa, sebab dia tidak ada di dekatku. Aku takut kalau Annisa kenapa-napa. "Ada tuh di luar, dari tadi dia diasuh sama Mbak Rini. Nih, cepetan kamu makan dulu! Inget ya, jangan sampai pingsan lagi," hardik Mas Arya, sambil menyodorkan satu piring nasi yang dicampur kuah sop. "Mas, kok cuma dikasih nasi sama kuahnya saja sih? Mana nasinya sudah mengembang lagi," protesku. "Sudah, kamu nggak usah protes, tinggal makan saja kok ribet amat sih. Karena itu adalah jatah makan, buat orang yang hanya minta gratisan sepertimu. Coba tadi mau beres-beres, sudah pasti kamu makan enak," sahutnya begitu enteng. Tega sekali Mas Arya menyuruhku untuk makan nasi yang sudah mengembang, serta lauk hanya kuah sayur doang. Padahal apa pun yang dimakan olehku, akan diserap oleh anaknya. Tapi Mas Arya hanya memberikan makanan seperti ini kepadaku. Andai aku tidak kelaparan, tidak akan mungkin aku mau menerimanya. Aku pun segera makan, dengan menahan sesak di d**a. Aku makan hanya masuk lima suap saja, sebab rasa nasinya sudah tidak karuan lagi. Aku pun membawa piring, yang nasinya masih banyak ke belakang untuk aku buang nasinya dan piring kotornya aku cuci. Aku berjalan masih dengan sempoyongan, sebab tubuhku belum begitu pulih. Setelah mencuci piring, aku mencari Mbak Rini, yang mengasuh anakku. Aku bertanya tentang keberadaan Mbak Rini dan ternyata anakku dan Mbak Rini ada di rumahnya Mbak Rini. Aku segera berjalan ke rumah Mbak Rini untuk mengambil Annisa karena takut merepotkan. *** "Mbak, mana Annisa?" tanyaku, saat sampai dapur Mbak Rini, yang pintunya terbuka lebar. "Ada kok Salma, tapi Annisa lagi tidur. Ayo masuk," ajak Mbak Rini. Aku pun masuk ke dalam rumahnya, Mbak Rini. Ternyata Mbak Rini sedang mencuci piring, aku pun duduk di bangku yang ada di dapurnya Mbak Rini tersebut. "Salma, itu di meja ada gorengan. Ayo dimakan," perintah Mbak Rini. "Nggak usah, Mbak. Aku sudah makan tadi," tolakku. "Mbak yakin, kalau kamu makan di rumah mertuamu itu nggak sampai kenyang 'kan? Lebih baik, kamu makan saja di rumah Mbak mumpung Annisa tidur. Apapun yang ada di rumah Mbak, kamu boleh makan sampai kenyang. Tetapi makanannya hanya seadanya saja ya, yang penting kamu kenyang," desak Mbak Rini. Ia memaksaku, supaya aku mau makan di rumahnya. Mbak Rini sampai mengambilkan makan untukku, sebab aku tidak mau mengambilnya sendiri. Aku pun akhirnya makan, sebab dipaksa oleh Mbak Rini. Seusai makan, Annisa bangun lalu aku pun menggendongnya serta menyusuinya. Annisa minum s**u dengab begitu lahap, tidak seperti tadi saat aku belum makan. "Tuh Salma, anak kamu saja enak banget minum susunya, kalau perut kamunya terisi. Makanya kamu jangan ngosongin perut terus, " uhar Mbak Rini, ia mengomentari Annisa, yang menyedot asiku dengan begitu lahap. "Iya, Mbak," sahutku. Annisa yang menjadi bahan perbincangan kami, hanya memperhatikan aku, sambil terus menyusu. Telapak kakinya ia pegang sambil terus dimainkan. Lucu sekali tingkah bocah ini, hingga aku tidak kuasa menahan air mata karena hatiku merasa perih. Karena aku tidak menyangka, jika anak sepolos ini harus menerima kenyataan, kalau dia mempunyai ayah seorang temperamen. Setelah Annisa selesai menyusu, aku pamit kepada Mbak Rini. Aku menggendong Annisa dan membawanya pulang ke rumahku. Tidak terasa, hari pun telah berganti malam. Tetapi Annisa rewel terus, ia menangis kejer dan badannya tiba-tiba panas. "Mas, Annisa badannya panas. Ayo kita bawa dia ke Dokter," ajakku. "Main bawa ke Dokter saja, memangnya kamu punya uang buat biayanya? Uang dari mana aku, gajian juga masih lama?" Mas Arya bertanya, tentang biaya untuk berobat Annisa. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD