Bab 4

1045 Words
Bab 4 "Mas, uang gaji Mas'kan selalu dikasihkan ke Ibu. Kenapa Mas nggak minta dulu buat biaya berobat Annisa? Ayo Mas ini urgent, badan Annisa makin panas. Aku takut jika terjadi apa-apa sama Anisa, Mas," desakku. Aku mendesak suamiku, supaya meminta uang gajinya kepada Ibunya untuk berobat Annisa. Aku terus menerus memohon kepada Mas Arya, supaya ia mau meminta tolong kepada Ibunya. Tetapi Mas Arya tidak merespon ucapanku, malah terlihat begitu santai. Keadaan cuaca juga sedang tidak bersahabat, dari siang tadi hingga malam begini hujan terus menerus tidak berhenti. Aku pun berinisiatif sendiri untuk pergi ke rumah mertuaku. Aku mengambil payung dan berjalan menuju rumah Bu Sari, aku akan meminta bantuan kepada mertuaku itu. "Bu ... Ibu, buka pintunya Bu. Ibu tolongin Salma, Bu." Aku berteriak-teriak, meminta tolong kepada mertuaku, saat itu baru sekitar jam sembilan malam. "Ada apa sih, Salma. Kamu menganggu orang istirahat saja," sahut Bu Sari. "Bu, Annisa badannya panas. Aku ingin membawanya ke Dokter atau rumah sakit, Bu. Salma datang ke sini mau meminta uang gaji Mas Arya untuk berobat Anisa. Ibu tolongin Salma ya," pintaku. Aku sangat berharap mertuaku itu akan memberikan uang untuk berobat Annisa. Lagian uang yang aku minta juga uang hasil kerjanya Mas Arya, bukan daruang Bu Sari sendiri "Apa aku nggak salah denger, Salma? Kamu mau minta uang gajinya Arya?" tanya Bu Sari. "Iya, Bu. Aku mau bawa Annisa ke rumah sakit, kasihan badannya panas banget, Bu." Aku memelas meminta belas kasihan kepada Bu Sari. "Nggak ada, uang Arya sudah habis. Kamu itu lagian jangan blagu, main bawa rumah sakit saja. Jika anak badannya panas, kamu tinggal kompres saja, nanti juga sembuh," ujar Bu Sari. Bu Sari berkata, kalau dia tidak memiliki uang dan uang Mas Arya sudah habis. Bu Sari juga malah memberi saran, supaya aku hanya mengompres Annisa. "Tapi, Bu," "Aku bilang nggak ada uang, Salma. Karena uang Arya sudah habis dipakai biaya pernikahannya Hendra. Kamu tinggal kompres saja anakmu itu, nanti juga sembuh," sarannya lagi. Bu Sari berkata, kalau dia tidak memiliki uang dan uang Mas Arya sudah habis dipakai biaya pernikahannya Hendra. Aku pun bingung, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Annisa. Aku juga tidak mau mendengar perkataan Bu Sari, yang menyuruhku untuk mengompres Annisa, tanpa dikasih obat terlebih dulu. Karena sebelum aku meminta untuk membawa Anisa ke Dokter, aku juga sudah mengompresnya. Namun, Annisa tetap saja demam dan panasnya tidak turun hingga saat ini. Baik Bu Sari maupun Mas Arya, mereka sama-sama seperti orang yang tidak mau peduli terhadap anakku. "Ya ampun, Bu, dari tadi juga salma sudah mengompres Annisa. Tetapi tidak ada perubahan, malah panasnya makin menjadi. Bu tolonglah, Bu. Tolong Salma, kalau memang uang Mas Arya sudah habis. Salma mau pinjam uang Ibu, atau uang siapa saja, yang penting bisa buat bawa Annisa berobat. Karena Salma takut, jika nanti Annisa malah akan semakin parah sakitnya." Aku memohon kepada Bu Sari, bahkan aku sampai bersujud di kakinya. "Sudah aku bilang, aku nggak ada uang, Salma. Kamu itu ngeyel banget sih jadi orang. Sudah sana kamu pergi, jangan mengganggu istirahatku!" usir Bu Sari. Bu Sari malah mengusirku, bahkan ia sampai menendang tanganku, yang sedang memegang kakinya. Kemudian Bu Sari menutup pintu rumahnya, bahkan menguncinya. Aku yang sedang kebingungan, akhirnya segera kembali ke rumah. Sesampainya di dalam rumah, aku berlari masuk ke kamar karena mendengar suara tangisan anakku. Aku menghampiri Annisa, yang tadi aku titipkan kepada Mas Arya. Ia aku letakan di kasur, tidur bersama dengan Mas Arya. Namun, pada saat aku masuk ke dalam kamar, Mas Arya menghilang. Ia sudah tidak ada lagi di dalam kamar, hanya ada Annisa seorang diri yang sedang menangis leher. 'Tega sekali sih kamu, Mas. Meninggalkan anakmu sendirian, disaat aku sedang berusaha mencari uang untuk pengobatan anakmu," lirihku. Aku pun segera menggendongnya, serta menyusuinya. Namun, Annisa menolak dan terus menangis kejer. Aku yang sedang kalap, langsung menggendong Annisa, dengan menggunakan kain, kemudian aku menyelimuti tubuhnya. Setelah itu aku pergi dari rumah menuju rumah Mbak Rini, yang jaraknya tidak jauh dari rumahku, yaitu berada di belakang rumah. Aku tidak perduli lagi, kemana Mas Arya pergi sekarang. Kini aku hanya ingin segera membawa Annisa berobat, bagaimana pun caranya. Hingga aku tekadkan hati ingin meminta tolong kepada Mbak Rini dan juga suaminya. Sesampainya di halaman depan Mbak Rini, aku menggedor pintu dan meminta tolong kepada pemilik rumah tersebut. "Mbak ... Mbak Rini, tolongin Salma dong Mbak," teriakku. Aku terus memanggil-manggil Mbak Rini, sambil mengetuk pintu rumahnya. "Ya ampun, Salma, kamu kenapa?" Mbak Rini langsung bertanya, ketika pintu terbuka. "Mbak, Annisa panas. Aku ingin membawa dia berobat, tatapi aku tidak punya uang. Aku sudah meminta kepada Mas Arya dan mertuaku, tetapi mereka tidak memberinya. Salma mohon sama Mbak Rini, tolong bantu Salma, ya Mbak." Aku meminta bantuan kepada Mbak Rini, sambil menangis dan terus memohon kepadanya. Aku bahkan mau berlutut di kaki Mbak Rini, supaya Mbak Rini mau membantuku. Namun, Mbak Rini menahan tubuhku, supaya aku tidak bertekuk lutut di kakinya. "Apa-apaan kamu ini, Salma? Kamu ngapain sampai mau berlutut segala? Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam, sambil mencari jalan keluarnya!" Mbak Rini merangkul pundakku, kemudian mengajakku masuk. "Kenapa, Bu? Ada apa dengan Salma, sampai menangis begini? Apa si Arya berbuat kasar lagi sama dia?" tanya Mas Ali suaminya Mbak Rini. "Bukan, Mas, bukan karena dikasari Arya. Tapi Salma menangis karena Annisa badannya panas, Salma mau bawa Annisa berobat. Cuma Salma tidak punya uang, buat biayanya. Dia sudah meminta sama suami dan juga mertuanya, tetapi mereka tidak memberinya. Dia datang ke rumah kita untuk meminta bantuan kepada kita, Mas," tutur Mbak Rini. Ia menjelaskan, tentang semua masalahku kepada suaminya. Mbak Rini juga memberitahu Mas Ali, maksud kedatanganku malam-malam begini ke rumahnya. Aku berharap, semoga Mbak Rini dan Mas Ali mau membantuku. Aku juga tidak tahu lagi mesti kemana dan mesti meminta bantuan kepada siapa lagi, jika Mbak Rini dan suaminya tidak dapat membantuku. Karena Selama aku tinggal di tempat suamiku ini, aku hanya berani meminta tolong kepada keluarga Mbak Rini saja. Tetapi untuk kepada keluarga yang lain aku segan. "Ya ampun, kok panas banget badan anakmu, Salma. Ayo kita bawa ke rumah sakit! Dek, cepet kamu ganti pakaian, kita harus segera bawa Annisa ke rumah sakit." Mas Ali memerintahkan kepada Mbak Rini, supaya segera berganti pakaian untuk mengantarkan Annisa ke rumah sakit. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD