Bab 5

1022 Words
Bab 5 "Iya, ayo, Mas! Salma Mbak ganti pakaian dulu ya," ujar Mbak Rini, sambil berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya menyusul Mas Ali. Tidak berapa lama mereka berdua muncul, dengan penampilan rapi tidak seperti tadi, yang hanya menggunakan pakaian untuk tidur. "Ayo, Salma! Kita bawa anakmu berobat," ajak Mas Ali. "Iya, Mas," sahutku. Kami pun berlalu pergi meninggalkan rumah tempat tinggal Mbak Rini, menuju mobil kijang tua milik Mas Ali. Namun, walaupun mobilnya sudah tua, tetapi masih layak untuk digunakan. Kami pun masuk ke dalam mobil, Mas Ali duduk di tempat kemudi, sedangkan aku dan Mbak Rini duduk di jok belakang. Mas Ali pun segera melajukan mobilnya, ia membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, supaya segera sampai ke tempat tujuan kami. Sesampainya di Rumah sakit, kami segera meminta bantuan kepada suster untuk membantu putriku yang kejang-kejang. Mungkin dari suhu badannya yang panas berlebih, sehingga Annisa sampai kejang seperti ini. "Sus ... Suster, tolong anak saya, Sus! Anak saya kejang-kejang ini," pintaku, pada saat Suster datang untuk membantuku. "Ibu, ayo segera bawa anaknya ke IGD!" perintah Suster yang bernama Meri, aku mengetahui namanya, saat melihat label nama yang menempel di bajunya tersebut. Aku pun mengikuti Suster Meri menuju ruang IGD di susul oleh Mbak Rini dan juga Mas Ali. Sesampainya di ruang IGD, anakku segera di periksa dan diberi infus, serta obat yang dimasukan ke dalam infus. Obat apa itu aku juga tidak tahu, yang pasti Alhamdulillah, Annisaku sekarang tidak kejang-kejang lagi. Saat Dokter selesai memeriksa Annisa, aku bertanya tentang keadaan anakku tersebut. "Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" Aku bertanya kepada Dokter saat dia selesai memeriksa Annisa. "Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" Aku bertanya kepada Dokter saat dia selesai memeriksa Annisa. "Untung, Ibu segera membawa anak Ibu ke rumah sakit tepat waktu. Jika Ibu telat sedikit saja, aku tidak tau apa yang akan terjadi sama anak Ibu. Anak ibu demam hingga kejang karena dehidrasi berat. Sekarang anak Ibu sedang tidur, biarkan dia istirahat." Dokter memberitahu keadaan anakku. Pak Dokter pun merasa bersyukur, sebab aku membawa Annisa ke rumah sakit tepat waktu. Sehingga anakku bisa tertolong, aku merasa bahagia dan juga sedih saat mendengar semua itu. Aku nahagia, sebab anakku bisa tertolong. Sedangkan aku sedih, sebab darimana aku mendapatkan biaya untuk pengobatan Annisa. Sedangkan suami dan juga mertuaku tidak ada yang mau membantuku. "Ya Allah, dehidrasi, Dok? Terus bahaya tidak, Dok? Berarti anak saya harus di rawat ya, Dok? " tanyaku. Iya, Bu, harus dirawat inap, sampai si dedenya sembuh. Ya sudah, saya permisi dulu ya Bu," sahut Dokter. Ia membenarkan ucapanku, kemudian dia pamit kepadaku. Sepeninggal Pak Dokter, aku menghampiri Mbak Rini dan juga Mas Ali. Aku ingin berdiskusi dengan mereka, perihal biaya yang harus aku keluarkan. "Mas, Mbak, ternyata Annisa harus di rawat inap. Sedangkan Salma tidak punya biaya sepeserpun bagaimana ini, Mas, Mbak?" Aku bertanya kepada pasangan suami istri itu, yang kini sedang membantuku. "Salma, Mbak cuma punya pegangan dua juta. Ini kamu simpan dulu, mudah-mudahan besok suami atau mertuamu datang menengok dan memberi tambahan untuk biaya anakku berobat." Mbak Rini memberikan sejumlah uang kepadaku, ia juga berdoa semoga Bu Sari dan Mas Arya datang memberi biaya untuk anakku. "Terima kasih ya, Mbak. Semoga Salma bisa segera menggantinya," sahutku. Aku sangat berterima kasih, dengan semua bantuan pasangan suami istri ini, yang sangat baik kepadaku. Padahal mereka hanya sebatas tetangga, tidak ada ikatan saudara denganku dan juga dengan Mas Arya. Tetapi kebaikannya tidak dapat diragukan lagi, ia yang selalu membantuku selama ini. Ketika aku ada kesulitan apa pun. "Sudahlah, Salma. Sekarang kamu tidak perlu memikirkan dulu, cara mengembalikan uang itu. Kamu sekarang fokus saja dulu dengan kesehatan anakmu, semoga Annisa segera pulih kembali seperti biasanya. Biar bisa segera di bawa kembali pulang ke rumah. Mas, sama Mbakmu pasti merasa kehilangan, sebab biasanya mengasuh Annisa, kini Annisanya sedang berada di rumah sakit." Mas Ali panjang lebar memberi wejangan kepadaku. "Iya, Salma. Kamu harus kuat ada Annisa yang masih membutuhkanmu." Mbak Rini, menguatkan diriku supaya aku tidak payah semangat. "Oh iya, Salma. Mas mau memberitahu kamu, kalau Mbak Rini mau keluar kota bersama Mas Ali selama setengah bulan. Kami mau pulang kampung dan juga menengok Fahmi, yang sedang berada di pesantren. Jadi selama Annisa dirawat, kami berdua tidak akan bisa menengok dan menunggu Annisa. Kamu harus berjaga seorang diri, nggak apa 'kan?" tanya Mas Ali. Rupanya Mas Ali dan Mbak Rini mau pulang kampung, sebenarnya berat hati sekali harus berjauhan dengan orang baik seperti mereka, tetapi mesti bagaimana lagi? Aku bukanlah siapa-siapa mereka, aku tidak bisa menghalangi jalan mereka mau kemana pun dan seperti apapun juga. Fahmi, adalah anaknya Mas Ali dan Mbak Rini satu-satunya. Dia sedang memperdalam ilmu agama sekaligus bersekolah di kampung halamannya Mas Ali di jawa timur. "Iya, Mas, Mbak. Nggak apa kok, aku insya Allah bisa dan mesti bisa menjaga Annisa sendiri. Tapi bagaimana dengan uangnya, malah dikasih pinjam ke aku? Padahal, kalian sendiri sedang butuh," ujarku. "Sudah nggak apa, Salma? Untuk keperluan selama di kampung, alhamdulillah sudah cukup. Semoga kamu segera mendapatkan uang tambahan untuk biaya Annisa ya, Salma." Mbak Rini berkata sambil merangkulku. Kemudian aku pun membalasnya dengan pelukan. "Iya, Mbak. Mudah-mudahan Mas Arya dan juga Bu Sari datang menengok, sambil membawa uang buat biayanya. Silahkan, jika kalian mau pergi kekampung halaman, apalagi untuk menengok Fahmi. Kalian tidak perlu khawatir tentang keadaanku dan Annisa, insya Allah akan baik baik saja." Aku berkata, supaya mereka tidak perlu mengkhawatirkan aku dan fokus kepada anaknya. Aku sengaja berkata seperti itu, supaya mereka tidak terlalu memikirkan keadaanku dan Annisa di sini. Mereka lebih baik fokus sama anaknya Fahmi. "Iya benar, Salma. Kamu harus semangat demi Annisa," ujar Mbak Rini menimpali ucapanku. "Ya sudah, Mas, Mbak. Kalian berdua lebih baik pulang saja untuk beristirahat, apalagi besok kalian mesti keluar kota." Aku menyuruh pasangan suami istri itu untuk pulang, sebab mereka mau berangkat keluar kota. "Salma, kamu beneran nggak apa-apa sendirian di sini?" tanya Mbak Rini. Sepertinya, Mbak Rini tidak tega meninggalkan aku seorang diri di rumah sakit, dengan keadaan Annisa yang seperti sekarang ini. "Mbak, tenang saja. Aku nggak apa-apa kok, lagian aku nggak sendirian di sini, ada Dokter dan juga suster yang menemaniku. Mbak tenang saja ya," sahutku, menenangkan mereka. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD