Bab 6

1006 Words
Bab 6 "Baiklah, Salma, kalau begitu Mas sama Mbak mau pulang dulu ya. Kamu jaga baik-baik kondisimu dan juga Annisa, jangan lupa hubungi kami jika ada apa-apa assalamualaikum," pamit Mbak Rini sambil mengurai pelukan kami. "Waalaikumsalam," sahutku, sambil mengantar kepergian mereka keluar ruang IGD. Setelah tidak lagi terlihat Mbak Rini dan Mas Ali, aku kembali ke dalam ruang IGD bersama dua orang Suster, yang akan memindahkan anakku ke ruang perawatan. Aku menenteng tas dan kain bekas menggendong Annisa, sedangkan Annisa di dorong oleh kedua suster menggunakan brankar, yang sedang di tidurinya. Aku mengekori kedua Suster tersebut ke ruangan perawatan PICU, sebab para Suster di perintahkan Dokter membawa Annisa ke ruang PICU untuk mendapatkan perawatan secara intensif. "Salma! Benar kan, kamu benar Salma?" tanya seorang Dokter, yang berada di ruang PICU tersebut. "Lho, kok Dokter tau namaku. Memangnya Dokter siapa?" tanyaku. "Salma, apa kamu tidak ingat padaku? Aku ini Rian, Salma. Aku Kakak kelasmu sewaktu SMA, kamu inget nggak?" tanya Dokter yang mengaku bernama Rian. Ia memberitahuku siapa dirinya, yang ternyata adalah Mas Rian kakak kelasku. Kami dulu satu sekolah, saat kami masih SMA. Dulu semenjak aku masuk ke sekolahnya, Mas Rian selalu usil kepadaku. Tiap hari dia datang ke kelasku, hanya untuk sekedar menggangguku. Mas Rian merupakan ketua OSIS dan juga kapten tim basket di sekolahku. Banyak perempuan yang tergila-gila padanya, bahkan mengejarnya untuk mendapatkan cinta Mas Rian. Namun, Mas Rian tidak pernah memperdulikan perasaan mereka, tetapi ia malah bertambah sering menggangguku. Bahkan, Mas Rian pernah mengatakan cinta padaku, saat acara perpisahan di sekolah waktu itu. Pada saat itu ia kelas tiga SMA, sedangkan aku baru kelas satu SMA. Aku menolak cintanya, dengan alasan aku ingin fokus belajar. Namun, setelah acara perpisahan itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Mas Rian. Menurut temanku, yang rumahnya dekat dengan Mas Rian. Mas Rian pergi kuliah keluar negri, serta tinggal di sana bersama Om dan Tantenya, yang memiliki bisnis kuliner di sana. Tapi ternyata kini kami bertemu di sini dan dia telah menjadi Dokter spesialis anak. "Apa benar kalau Dokter ini adalah Mas Rian kakak kelasku?" tanyaku lagi merasa tidak percaya, dengan apa yang aku dengar barusan. "Iya, Salma. Aku ini Rian, yang dulu pernah mengatakan cinta padamu. Namun, waktu itu kamu menolakku. Wajah kamu ternyata tidak berubah dari dulu, padahal kita tidak bertemu sudah belasan tahun," katanya. Ia berkata dengan lirih, mungkin dia malu, jika kedua suster yang sedang memasang brankar anakku mendengarnya. Mas Rian rupanya malu, kalau seorang Dokter seperti dirinya pernah ditolak cintanya. Mas Rian kini berubah menjadi pria yang sangat dewasa, baik itu pisik maupun perkataannya. Berbeda dengan Mas Rian yang dulu, yang suka sembrono dalam segala hal. Saat Mas Rian berada dekat denganku, aroma parfum maskulin begitu menguar tercium dari tubuhnya. "Salma, kamu kenapa ada di sini? Apa bayi cantik itu anakmu?" tanya Mas Rian. "Iya, Pak Dokter," sahutku. Aku menjawab pertanyaan Mas Rian, tidak lupa menyematkan gelar kedokteran untuknya. Karena Mas Rian yang sekarang, bukanlah Mas Rian yang dulu. Ia kini telah menjadi seorang Dokter anak. "Pak Dokter, permisi! Itu pasiennya sudah siap, silahkan jika mau diperiksa," ucap Perawat mempersilahkan Mas Rian untuk memeriksa anakku. Panggilan si Perawat pun mampu mengalihkan pembicaraan kami. "Iya, Suster, terima kasih." Mas Rian berterima kasih kepada perawat tersebut. Setelah itu dia memeriksa keadaan anakku, dengan begitu teliti. Anakku yang sedang di periksa begitu anteng, dia tidak terbangun sama sekali. Mungkin dia masih terpengaruh dengan obat tidur, yang di suntikan ke dalam infusannya. "Bagaimana, Dokter? Apa anakku baik-baik saja?" tanyaku. "Alhamdulillah, Salma. Putrimu kondisinya sudah stabil, dia hanya tinggal melakukan proses pemulihan," terang Mas Rian. "Alhamdulillah, kalau begitu," sahutku. Aku begitu bahagia, saat mendengar perkataan Mas Rian yang membetitahuku, kalau keadaan Annisa baik-baik saja. Salma, anak kamu masih asi eksklusif, atau sudah di beri makanan pendamping asi?" tanya Mas Rian, ia menanyakan tentang pemberian asupan makanan, serta minuman Annisa kepadaku. "Aku masih memberikan asi eksklusif, Dok. Sebab usianya masih kurang enam bulan, nanti akhir bulan ia baru genap enam bulan. Memangnya kenapa ya, Dok? Apa ada yang salah, dengan pola pemberian asi saya?" tanyaku. Aku bertanya tentang pola pemberian asi, barangkali ada yang salah dengan apa yang aku pahami selama ini. Biar aku tahu cara yang tepat, langsung dari ahlinya. "Caramu tidak salah, Salma, malah tepat. Kamu akan memberikan makanan pendamping asi, pada saat usia anakmu tepat enam bulan. Tapi mungkin ada yang salah dengan pola makanmu, sebab anakmu hanya mengandalkan asi darimu. Kamu seharusnya makan yang banyak, dengan sayuran dan lauk pauk yang seimbang. Kamu harus memakan-makanan empat sehat lima sempurna," ungkap Mas Rian. "Oh, begitu ya, Dok," "Iya, Salma, kamu harus banyak makan-makanan sehat. Kamu jangan memikirkan kondisi tubuhmu, yang mungkin akan berubah, tapi kamu harus memikirkan gizi, yang akan anakmu terima biar anakmu tidak mengalami dehidrasi seperti ini." Mas Rian panjang lebar memberitahuku, kenapa anakku sampai dehidrasi. Rupanya karena aku kekurangan asupan makanan yang sehat, sehingga anakku mengalami dehidrasi seperti ini. Aku mendengarkan penuturan Mas Rian dengan seksama, aku mengakui kesalahanku. Karena selama ini aku memang tidak memperhatikan gizi yang ada di dalam makananku. Aku makan seadanya, yang penting aku kenyang. Terkadang juga aku kekurangan makan, akibat kekejaman keluarga suamiku. "Oh, jadi ternyata seperti itu ya penyebabnya. Makanya Annisa sakit sekarang," tabyaku "Iya seperti itu, Salma. Makanya kamu jaga kesehatanmu ya, biar anakmu juga ikutan sehat. Terus kemana suamimu? Kok, kamu nungguin di rumah sakitnya sendirian?" tanya Mas Arya menanyakan tentang keberadaan suamiku. "Ada kok, Mas. Dia sedang sibuk dengan masalah kerjaan, jadinya dia nggak bisa menunggu anaknya di rumah sakit." Aku berbohong kepada Mas Rian, tentang keberadaan Mas Arya. Aku jiga tidak mungkin berkata jujur, kepada Mas Rian tentang keberadaan Mas Arya. Bisa malu banget aku kepadanya, sebab dulu aku pernah menolaknya. Tapi ternyata sekarang, aku malah mendapat seorang suami yang seperti itu. Bisa-bisa Mas Rian menertawakan aku nanti karena aku memiliki suami dzolim macam Mas Arya. "Kok bisa ya, suamimu lebih mementingkan pekerjaan, dibandingkan dengan nyawa anaknya sendiri. Dia seorang Ayah yang aneh," ujar Mas Rian, ia merasa heran dengan alasan yang aku buat tentang suamiku tersebut.. "Iya, Dok," kataku pendek. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD