Part 6

921 Words
Xi Juan pucat pasi memikirkan apa yang terjadi beberapa waktu ke depan padanya. Ia akan menari berpasangan dengan Shu Ji! B-E-R-P-A-S-A-N-G-A-N. Catat itu baik-baik. Wanita cantik itu bahkan sampai berpikir otak sahabatnya sudah geser semenjak hamil. Mungkin saat membuatnya dulu mereka terlalu bersemangat hingga kepala Lien menghantuk dinding dengan kuat. Akibatnya, otaknya geser dan menjadi seperti sekarang. Oke, abaikan. Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya ketika melihat orang-orang semakin berdatangan ke tempat mereka bersantai tadi. Para ibu dan dayang berdiri di sana dengan wajah berbinar hanya untuk melihat pertunjukan para pangeran dan istrinya. Waktu berlalu begitu cepat. Tiba lah waktu mereka untuk menampilkan. Xi Juan mendesah pasrah dan mengambil tempat, begitu pun dengan Shu Ji. Keduanya saling bertatapan sebelum membuang pandangan ke arah lain. Pangeran Zhen mulai memainkan alat musiknya. Pangeran Chen menyanyi. Xi Juan dan Shu Ji menari dengan lincah. Kedua wanita itu terlihat bersaing dalam menampilkan yang terbaik di hadapan semua orang. Tentu saja, mana mungkin Xi Juan akan mempermalukan dirinya sendiri. Meski jijik menari berpasangan dengan Shu Ji, Xi Juan tetap melanjutkan tarinya. Ketika ada adegan peluk pinggang, Xi Juan diam-diam menahan mual. Baru bisa menghela nafas lega ketika adegan itu selesai. Pertunjukan akhirnya selesai. Xi Juan semakin merasa lega. Tepuk tangan terdengar begitu meriah. Diam-diam Xi Juan menyeka keringatnya dengan punggung tangannya. Kaisar Chun tiba-tiba berdiri. "Perhatian semuanya. Istriku ingin diadakan lomba makan kerupuk, futsal, memasukkan paku ke dalam botol, tarik tambang, dan pacu karung. Setiap orang di sini harus berpatisipasi dalam salah satu perlombaan. Yang menang akan diberikan sekantong tael emas." Suasana ricuh mendengar perkataan Kaisar Chun. Hadiahnya sangat menggoda. Akan tetapi, mereka tidak tahu bentuk perlombaannya. Lien terkekeh melihat semuanya keheranan. Permaisuri itu terlihat berbicara dengan Kaisar Chun. Kaisar Chun mengangguk. "Aku paham kalian semua bingung. Tidak usah khawatir dengan jenis perlombaannya, Xi Juan lah yang akan mencontohkan semuanya." Xi Juan yang baru melepas lelah memasang tampang cengonya. Mempraktekkan semuanya? Hikss. Kenapa nasibku malang sekali? Batin Xi Juan tersiksa. Lien ikut berdiri. "Perlombaannya kita adakan saja di halaman kerajaan. Di sana lebih luas." Jadilah perlombaan diadakan di tempat yang dikatakan sang permaisuri. Di halaman kerajaan, tali-tali dipasang untuk menggantung kerupuk. Botol-botol di bawa ke lapangan disertai dengan paku. Tali tambang di onggok di sana. Begitu pun dengan karung-karung. Tak luput dari bola ala zaman dulu dan gawang jadi-jadian. Sekarang, tinggal melakukan perlombaan. Tapi sebelum itu, Xi Juan menjelaskan jenis perlombaan itu satu persatu dengan setengah hati. "Lomba makan kerupuk ini sangat mudah. Kalian cukup memakan kerupuk yang tergantung ini tapi tidak boleh menyentuhnya. Siapa yang bisa menghabiskan kerupuk yang tergantung ini sebelum waktu habis, maka dia lah pemenangnya." jelas Xi Juan. "Berapa waktu permainan, tuan putri?" "Jangka waktu permainan hanya sampai hitungan ke 50." "Apa itu tidak terlalu cepat, tuan putri?" "Di sini lah tantangannya." balasnya sambil tersenyum. Semuanya mengangguk mengerti. Xi Juan berpindah ke arena lain, yaitu memasukkan paku ke dalam botol. Yang mana pemainnya laki-laki. Menjelaskan dengan detail tapi mereka yang ikut tetap tidak mengerti. Terpaksa Xi Juan menjelaskan dan menahan malu ketika melakukan itu. Ini demi sahabatmu, Xi Juan... Batinnya berbisik. Lomba pacu karung pun dipraktekkannya langsung. Dia hampir saja terjatuh karena tidak siap. Untung saja Pangeran Zhen menarik tubuhnya hingga ia tidak jadi terjatuh di hadapan semua orang. "Terimakasih." Berhubung ini di dekat orang banyak, jadi, Xi Juan menunjukkan kesopanannya pada sang suami. Xi Juan kembali menjelaskan permainan lainnya. Dia menghela nafas panjang ketika sudah duduk dan menikmati perlombaan. "Ayoo!! Ayo!!" Xi Juan berteriak kesenangan melihat para pria melompat-lompat menggunakan karung. Begitu pun dengan Lien. Ketika salah satunya terjatuh ke tanah saking terburunya, maka mereka akan tertawa. Para penonton pun ikut tertawa dengan hal itu karena lucu saja melihat seorang pria tertelungkup ke tanah dengan posisi yang mengenaskan. Peserta pacu karung selanjutnya adalah Pangeran Xiumin, Pangeran Zhen, dan Pangeran Chen. "Kau pasti bisa Xiumin!!" sorak Lien memberi semangat. Berhasil memunculkan senyuman lucu Pangeran Xiumin. "Ayo Pangeran Zhen!! Jangan mau kalah dengan Pangeran Xiumin." sorak Xi Juan kencang hingga pria yang disoraki menatap ke arahnya dengan tatapan tercengang. "Semangat, suamiku." Xi Juan terkekeh sinis melihat Pangeran Zhen salah tingkah. "Suamiku!! Semangatt!!" sorak Shu Ji tak mau kalah. Ketiga wanita itu koar-koar menyemangati jagoan masing-masing. Membuat semangat ketiga pria tersebut membara. Para dayang mengamati dengan antusias. Jarang-jarang mereka melihat ketiga pangeran itu berdekatan. Meski pun Pangeran Xiumin kekanakan, tidak dapat dipungkiri, Pangeran Xiumin lebih tampan dari keduanya. Sayangnya, mereka ilfeel duluan dengan tingkah Pangeran Xiumin dan hanya bisa mencemooh dalam hati. Putri Li An mulai menghitung mundur. "Bersiap. 3 ... 2 ... 1 ...." Ketiga pria itu langsung melompat-lompat dengan lompatan besar mereka. "Semangat, Xiu!!" teriak Lien heboh. "Ayo! Ayo!! Zezen!!" Bukannya melompat-lompat lebih cepat, Pangeran Zhen malah tersungkur mendengar panggilan baru Xi Juan. Para penonton meringis melihat Pangeran Zhen jatuh. Tidak berani tertawa seperti tadi. Xi Juan terbahak-bahak dalam hati. Rasain lo, Zen! Mampus lo!! Malu dong jatuh dihadapan orang banyak!! Pangeran Zhen kembali bangkit dan segera keluar dari arena tanpa melanjutkan lomba. Pria tampan itu pergi ke tempat Xi Juan seraya menyengir seperti orang gila. Membuat yang melihatnya bergidik ngeri. Termasuk Xi Juan sendiri. "Apa terjatuh membuat otakmu geser?" Pertanyaan datar Xi Juan membuat ekspresi Pangeran Zhen kembali seperti semula. Pria itu duduk dengan kasar di samping Xi Juan. Wanita cantik berambut hitam legam itu mengendikkan bahu tak peduli dan kembali menonton. Dasar istri tidak punya hati! Umpat Pangeran Zhen seraya menatap Xi Juan penuh permusuhan. -Tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD