Part 5

1160 Words
Xi Juan dan Lien terlihat bersantai di gazebo sembari menikmati teh dan kue kering. Suasana tenang dan damai membuat mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Tersenyum kecil merasakan cuaca yang bersahabat hari ini. Larut dalam keheningan nan menenangkan tanpa mempedulikan dayang yang sedari tadi menemani mereka dari jauh karena tidak diperbolehkan mendekat oleh mereka. Setelah beberapa saat terlarut dalam suasana yang tercipta, baru lah Xi Juan membuka suara. "Hidup kita di sini sangat tenang ya." Lien mengangguk, membenarkan. "Biasanya hari kita selalu dikelilingi bahaya. Lengah, maka kita akan terluka atau bahkan mati." "Tapi kehidupan sebelumnya terasa lebih menantang daripada sekarang. Menyebalkan!" Lien terlihat mengerling nakal. "Menyebalkan karena ada Pangeran Zhen, 'kan?" "Iya. Demi apa pun, dia adalah pria termenyebalkan yang pernah kutemui selama hidup." Genggamannya di cangkir semakin kuat mengingat betapa menyebalkan pria yang berstatus sebagai suaminya itu. "Buat saja dia luluh dan menjadi bucin seperti Kaisar Chun." kekeh Lien. "Asal kau tahu, Kaisar Chun dulu juga sangat menyebalkan. Apalagi dia dulu juga mengidap mysophobia. Dia menganggapku kuman." "Lalu, bagaimana caramu meluluhkannya dan membuatnya tidak phobia lagi?" tanya Xi Juan kepo akibat belum mendengar cerita kehidupan sahabatnya selama di sini. "Aku selalu mendatangi kamarnya. Membawa cacing ke dalam kamarnya sampai dia pingsan. Memaksanya menerima sentuhanku, seperti pelukan dan ciuman." "Kau sangat agresif." cibir Xi Juan. "Kalau cowoknya seperti Kaisar Chun memang harus diagresifkan sedikit. Bodo amat di katakan murahan sama dia. Toh, dia suamiku." "Tidak kusangka kau seperti itu. Padahal dikehidupan sebelumnya kau tidak dekat dengan pria. Darimana kau belajar bisa senekat itu?" Lien menyengir. "Aku memang tidak dekat dengan pria sebelumnya tapi aku sering melihat dan mengagumi bentuk tubuh pria di majalah atau pun di hp. Akibat melihat tubuh Kaisar Chun, aku jadi khilaf." Xi Juan berdecak sembari geleng-geleng kepala mendengar jawaban sahabatnya. "Dulu, sewaktu dia phobia aku sering menggodanya loh sampai dia mengusirku keluar dari kediamannya tapi sekarang tanpa kugoda pun dia sudah tergoda duluan. Sewaktu aku telanjangin saja, dia tidak menerkamku sama sekali." Xi Juan tersedak salivanya sendiri mendengar perkataan Lien. "Apa pun aku lakukan agar dia jatuh cinta padaku dan menyesal telah memperlakukan Lien yang dulu dengan tidak baik. Aku juga berniat untuk mencampakkannya setelah dia jatuh cinta. Akan tetapi, dia mengetahui niat dan rencanaku dengan Xiaruihan sehingga dia keluar dari zona nyamannya dan menjebakku dengan obat perangsang." "Kau tidak marah telah di beri obat perangsang?" "Marah tentunya. Tapi di waktu bersamaan aku juga merasa senang telah membuatnya terjatuh dalam pesonaku. Ah, lelaki memang sama saja. Awalnya saja yang menolak tapi saat kita sudah menyerah mereka malah berjuang dan tidak mau melepaskan." Lien menyeruput tehnya. "Kusarankan kau untuk melakukan hal yang sama denganku. Bertingkah lah seakan-akan kau mencintainya dan mecampakkannya setelah dia setelah cinta mati padamu. Pria itu harus di beri pelajaran karena telah berani melukaimu." Xi Juan tersenyum miring. "Sekarang, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan pada pangeran sialan itu. Enak saja dia bilang mencintaiku tapi tingkahnya tidak sinkron dengan perlakuannya. Membuatku muak saja. Ak--" Mulut Xi Juan tertutup rapat ketika melihat seseorang menghampirinya. "Kenapa diam?" Xi Juan memberikan isyarat lewat matanya ke arah orang itu. "Cih, dia lagi." desis Lien sebal melihat Shu Ji. "Dia siapa? Aku lupa." "Shu Ji, sahabat baik Xi Juan sebelumnya." "Ohh." Shu Ji tersenyum lebar ke arah keduanya. "Boleh aku bergabung dengan permaisuri?" tanyanya manis. "Tentu saja boleh." Shu Ji langsung duduk. Keduanya mengamati gerak gerik wanita itu. "Aku ingin mengatakan sesuatu, permaisuri." Raut wajah Shu Ji membuat Xi Juan mencibir dalam hati. Kau tidak akan bisa menipu, ratu drama, Shu Ji. "Katakanlah." Lien kembali menyeruput tehnya pelan. Shu Ji terlihat menunduk dalam dengan wajah yang terlihat sedih dan bersalah. Tapi, Xi Juan tahu bahwa Shu Ji hanya sedang drama. "Aku sadar, selama ini aku telah memperlakukan permaisuri dengan tidak baik. Maafkan aku, permaisuri. Aku tidak akan mengulangi kesalahan besarku lagi." Shu Ji mendongak, menatap Lien dengan mata berairnya. "Syukur lah kalau kau menyadari kesalahanmu. Tidak perlu meminta maaf, tanpa kau minta maaf sekali pun, aku sudah memaafkanmu." Xi Juan diam-diam menahan mual mendengar ucapan sahabatnya yang terdengar sangat lebay di pendengarannya. "Terimakasih, permaisuri. Maafkan kebodohanku selama ini." Shu Ji menatap Xi Juan. "Aku juga minta maaf, Xi Juan. Maukah kau bersahabat denganku lagi?" "Tidak mau." jawab Xi Juan ketus sehingga membuat Shu Ji mengepalkan tangan kesal. Sementara Lien menahan tawa melihat interaksi keduanya. "Selir Shu Ji, minum lah. Kau pasti haus 'kan telah berjalan jauh ke sini?" Shu Ji mengangguk seraya mengulas senyum. Setelah minum, Shu Ji kembali beraksi. "Bagaimana kandunganmu, permaisuri? Apakah baik-baik saja?" "Baik, meski pun aku sering mengalami morning sickness." "Hah?" Shu Ji melongo tak paham. "Ah, lupakan." "Ngomong-ngomong, selamat atas kehamilan, permaisuri. Tidak kusangka setelah sekian lama permaisuri baru punya anak sekarang." Terdengar mencemooh. "Bagaimana anaknya cepat jadi kalau suamiku saja dulu mengidap penyakit. Dan bagaimana denganmu, Selir Shu Ji? Sampai sekarang belum hamil kah?" Shu Ji tak berkutik mendengar pertanyaan itu. Lien dan Xi Juan terkekeh geli melihat wajah merah padam Shu Ji. "Kupikir, kau memerlukan obat herbal agar rahimmu semakin subur. Mau kubelikan, Selir Shu Ji?" "Tidak perlu!" sinis Shu Ji. "Kenapa sesinis itu padaku? Padahal tadi aku hanya menawarkan." desah Lien dengan raut wajah sok sedihnya. "Ah, aku tidak sinis, permaisuri." "Tapi kenapa ekspresimu seperti itu?" "Aku hanya lelah." "Lelah kenapa?" "Tidak apa-apa." "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi jika kau tidak ingin menjawab." Mereka bertiga saling terdiam. Dalam hati, Lien dan Xi Juan mendoakan agar Shu Ji cepat pergi agar mereka bisa bercerita lagi. "Tumben sekali kalian bertiga berkumpul di sini?" tanya Pangeran Chen yang tak sengaja lewat bersama Kaisar Chun dan Pangeran Zhen. "Mau gabung?" tawar Lien. Tentu saja Pangeran Chen langsung mengiyakan. Kaisar Chun langsung duduk di belakang Lien dan mengangkat sang istri dengan mudah ke atas pangkuannya. Memeluk dengan begitu posesif dari belakang hingga membuat semuanya cengo. Tersenyum kecut, Pangeran Chen duduk di samping Shu Ji. Pangeran Zhen duduk di sebrang Xi Juan. Mengamati setiap lekukan wajah datar istrinya itu. Entah kenapa, debaran itu semakin terasa dari yang biasanya. Xi Juan menyadari tatapan itu dan membuang pandangan ke arah lain. "Pangeran Chen, apakah kau bisa menyanyi?" tanya Lien tiba-tiba memecah keheningan. "Tentu saja bisa, Lien." jawab Pangeran Chen begitu lembut sehingga menambah kekesalan Shu Ji. "Kalau kau Pangeran Zhen, apakah kau bisa memainkan alat musik?" "Bisa." Kali ini, Pangeran Zhen tidak lagi menatap Lien dengan tatapan penuh minat seperti dulu. Karena sekarang tatapan itu hanya tertuju pada istrinya seorang. "Kalau kau Shu Ji, apakah kau bisa menari?" Shu Ji mengangguk kalem karena adanya sang kaisar. "Bagus! Bagus!" Lien bertepuk tangan girang. "Memangnya kenapa?" tanya Kaisar Chun heran. "Aku ingin mereka semua menampilkan sebuah pertunjukan untukku." cetus Lien senang. Kaisar Chun mengangguk mengerti dan menatap ketiganya. "Cepat tentukan apa yang akan kalian tampilkan untuk istriku." titahnya. Ketiga orang itu mengangguk pasrah. "Xi Juan harus menari berpasangan dengan Shu Ji." Xi Juan yang sedari tadi menyumpah serapah tentang Pangeran Zhen langsung terpekik histeris dan menatap sahabatnya dengan tatapan horor. "What?!!" -Tbc-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD