Belakangan ini, Xi Juan selalu bersembunyi dari Pangeran Zhen karena pria itu sangat-sangat menyebalkan. Lebih menyebalkan daripada mantannya dulu.
Jika mantannya hanya meninggalkannya setelah berhasil merenggut hal berarti dalam hidupnya, maka beda cerita dengan Pangeran Zhen yang sangat egois dan kasar.
Pria itu ingin semua didapatnya tapi tidak pandai memperjuangkan. Pria itu ingin yang instan. Padahal di dunia ini tidak ada yang namanya instan. Segala sesuatu butuh perjuangan.
Untung saja dia mengalami keguguran. Jadi, dia tidak terlalu terikat dengan Pangeran Zhen yang tidak tahu diri itu.
Demi menghindari Pangeran Zhen menyebalkan itu, Xi Juan sampai nongkrong di atas pohon mangga belakang istana. Kawasan yang jarang dikunjungi orang-orang.
Xi Juan tak bergerak ketika melihat seorang dayang duduk di bawah pohon yang tak jauh dari tempatnya nongkrong.
Dayang itu terlihat misuh-misuh tidak jelas. Xi Juan meringis melihat dayang tersebut menendang batang pohon dan berteriak kesakitan setelahnya.
"Dasar bodoh." umpatnya pelan.
Dayang itu terlihat meremas rambutnya frustasi. "Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan anak itu lahir ke dunia dengan selamat."
Anak siapa maksudnya? Lien, ya? Batin Xi Juan.
"Aku tidak rela dia hamil anak kaisar. Dengan adanya anak itu pasti kaisar akan lebih menyayanginya dan kesempatanku untuk menghancurkannya lebih sedikit. Argh!! Sialan!!"
Xi Juan tersenyum sinis. Turun dengan hati-hati dan mendekati dayang yang tak lain Qui Fu, dayang pribadi Lien dulu.
"Lihat saja!! Akan kubunuh anakmu itu dan kau akan kehilangan kasih sayang dari Kaisar Chun." bisiknya penuh dendam.
Prok prok prok!!
Tepuk tangan meriah Xi Juan membuat Qui Fu menegang kaku. Ia tidak berani berbalik untuk melihat orang yang telah menangkap basah dirinya. Dalam hati ia merutuki dirinya yang tidak bisa menahan emosi hingga berakhir melampiaskan emosinya ke permukaan dan di dengar orang lain.
"Santai saja."
Kekehan Xi Juan membuat Qui Fu berbalik. "Putri Xi Juan." gumamnya takut.
"Ya. Ini aku."
Qui Fu menjelaskan dengan gelagapan. "Yang Anda dengar tadi hanya sebuah kekeliruan, Putri Xi Juan."
Xi Juan terkekeh manis. "Santai saja. Kita punya rencana yang sama."
Mata Qui Fu membulat tidak percaya. "Benarkah?"
Xi Juan mengangguk. "Ah ya, siapa namamu?"
"Qui Fu, tuan putri."
"Baiklah, Qui Fu. Berhubung kita memiliki niat yang sama, bagaimana kalau kita berdiskusi di tempat yang lebih aman dan jauh dari jangkauan orang lain?"
Qui Fu gugup. "Tapi, bukan kah Anda berteman baik dengan Lien sekarang?"
Xi Juan tertawa sinis. "Berteman baik? Haha! Itu hanya sebuah kepalsuan. Sedikit pun aku tidak menganggap kami berteman baik. Aku hanya memanfaatkannya."
Perlahan, senyuman Qui Fu mengembang. Tubuh tegangnya perlahan terlihat rileks.
"Aku punya misi yang sama denganmu. Jadi, bagaimana dengan usulku tadi?"
Qui Fu semakin menghela nafas lega. Ternyata Xi Juan juga mempunyai niat yang sama dengannya.
"Baiklah. Aku setuju."
Mereka berdua pergi ke tempat yang sepi dan jauh dari jangkauan orang banyak.
Qui Fu terkejut ketika Xi Juan menjambak rambutnya kuat dan menghantukkan kepalanya ke batang pohon dengan kuat.
"Apa yang kau lakukan?!" jeritnya seraya menahan sakit di kepala.
Kepalanya terasa remuk sekarang juga.
"Tentu saja aku memberikan pelajaran ke dayang yang tidak tahu diri." jawab Xi Juan santai.
Qui Fu menegang. "Bukan kah tadi ki--"
Xi Juan mendorong Qui Fu kuat hingga terduduk di tanah. Lagi-lagi gadis itu menjerit kesakitan ketika bokongnya mendarat keras di tanah yang gersang.
Semakin menjerit kesakitan ketika pergelangan kaki kanannya di injak kuat oleh Xi Juan.
"Jangan injak kakiku!" teriak Qui Fu menahan sakit.
"Ini belum seberapa untuk orang yang bermimpi menghancurkan sahabatku." Injakannya semakin kuat hingga air mata Qui Fu menetes.
"Sampai kapan pun, mimpimu itu tidak akan pernah terwujud karena sebelum kau menghancurkannya, aku yang akan lebih dulu menghancurkanmu!"
Krakk!!
Bunyi patahan tulang terdengar begitu jelas.
Injakan Xi Juan yang terlampau kuat membuat tulang Qui Fu patah.
"BERANINYA KAU, WANITA SIALAN!!"
Qui Fu benar-benar marah kakinya di injak sampai patah. Gadis itu sampai memegang kaki Xi Juan dan berusaha menjatuhkannya, akan tetapi Xi Juan dengan mudahnya menendangnya hingga dia kembali tersungkur.
"Ini lah akibatnya berani memimpikan kehancuran sahabatku!" desis Xi Juan.
Qui Fu mendongak. Wajahnya terlihat menahan sakit. "Sahabat? Bukan kah selama ini kau yang sering menyakitinya?" cemoohnya.
"Itu dulu. Sekarang aku akan berbalik melindunginya untuk menebus semua kesalahanku."
"Cih! Jika ku ceritakan perlakuanmu selama ini ke Kaisar Chun, pasti kau akan di hukum mati."
Xi Juan terkekeh. Meletakkan kaki kanannya di kaki kiri Qui Fu. "Wah, kau mengancamku ya?"
"Ternyata kau pintar juga." Tak gentar, dayang satu itu tetap menunjukkan taringnya dan berusaha duduk.
"Sayangnya, ancamanmu tak mempan padaku." Xi Juan tersenyum miring. Menginjak kuat pergelangan kaki kiri Qui Fu.
"Ber--"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Xi Juan lebih dulu menendang dadanya hingga dia terjungkal dan terbatuk-batuk hebat sembari memuntahkan darah. Tendangan Xi Juan tidak main-main.
"Akan kubunuh orang yang berani mengusik hidup sahabatku!" desis Xi Juan. Berjongkok dan memaksa Qui Fu untuk kembali duduk. Wanita cantik itu membuka paksa mulut Qui Fu.
"Apa yang kau lakukan padaku, wanita sialan?! Lepaskan aku!!" ronta Qui Fu.
Xi Juan mengulas senyum manis yang terlihat sangat mengerikan. "Membuatmu tertidur untuk selamanya."
Wanita itu memaksa Qui Fu untuk menelan racun yang dipegangnya. Tanpa mempedulikan rontaan wanita tersebut, Xi Juan terus memaksanya untuk menelan semuanya tanpa sisa.
Xi Juan melepaskan cengkramannya dan sedikit menjauh dari Qui Fu sembari menonton Qui Fu yang tengah meregang nyawa. Busa putih keluar dari mulut gadis itu sementara matanya melotot hingga tidak terlihat bola mata hitamnya.
Xi Juan tersenyum sinis dan membakar jasad Qui Fu karena tidak sengaja melihat persediaan minyak tanah dan korek api.
Setelah memastikan korbannya hangus, Xi Juan kembali ke kerajaan.
Alangkah kesalnya wanita itu ketika bertemu dengan Pangeran Zhen yang sangat dihindarinya.
"Darimana saja kau?! Aku lelah mencarimu seharian ini!" Pangeran Zhen melototinya dengan raut wajah marah.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mencariku?" Xi Juan bertanya malas.
Pangeran Zhen terlihat diam tak berkutik mendapati pertanyaan istrinya.
"Jawab aku! Siapa yang menyuruhmu untuk mencariku sampai memarahiku!"
Pangeran Zhen menatap Xi Juan dalam sehingga wanita itu mengangkat alisnya tidak mengerti.
Xi Juan hendak menepis tangan Pangeran Zhen yang menyentuh lengannya, akan tetapi terhenti ketika mendengar ucapan Pangeran Zhen selanjutnya.
"Hatiku yang menyuruh untuk mencarimu. Aku takut kau pergi meninggalkanku atas semua hal buruk yang kulakukan padamu. Aku tidak ingin kau meninggalkanku, Xi Juan."
"Bacot!" sentak Xi Juan.
"Bacot itu apa?" tanya Pangeran Zhen polos.
Xi Juan memutar bola mata malas, tidak berniat menjawab ucapan Pangeran Zhen.
-Tbc-