Waktu makan malam telah tiba. Mau tak mau, Xi Juan harus pergi ke ruang makan dan bertemu dengan Pangeran Zhen menyebalkan itu lagi.
Di perjalanan menuju ke sana, dia bertemu dengan pria itu. Sudut bibir pria tersebut tampak terluka hingga membuatnya menahan tawa.
"Puas membuatku terluka, huh?"
"Salah siapa juga berteriak di telingaku." sahutnya tak mau disalahkan.
"Aish, bibirku terasa sangat perih. Kau harus bertanggungjawab!" Meringis ketika menyentuh pelan sudut bibirnya.
"Dasar lemah. Itu saja sudah mengeluh."
Xi Juan berjalan cepat agar cepat sampai di ruang makan. Di tempat tujuan, ia sudah melihat semuanya berkumpul terkecuali Kaisar Chun dan Lien.
Xi Juan duduk di tempat biasa. Diikuti oleh Pangeran Zhen.
"Kenapa sudut bibirmu terluka?" tanya Liu Hua tiba-tiba ke Pangeran Zhen.
Pangeran Zhen melirik Xi Juan, kemudian tersenyum miring. "Istriku terlalu bersemangat menciumku hingga jadi seperti ini."
Xi Juan melotot tidak terima sedangkan yang lainnya geleng-geleng maklum. Kecuali si polos Pangeran Xiumin.
"Memangnya mencium seseorang bisa sampai terluka seperti itu ya, kak? Sewaktu Xiu mencium Li An ketika kecil, Li An tidak terluka sama sekali."
Semuanya memutar bola mata malas dan tidak ada yang berniat menjawab. Pangeran Xiumin mengerutkan kening bingung melihat reaksi keluarganya. Dia hendak bertanya kembali, akan tetapi diurungkan niatnya tersebut ketika melihat Lien.
Pangeran Xiumin tersenyum lebar ke arah Lien, dibalas oleh wanita itu tapi tidak berlangsung lama karena Kaisar Chun memaksa Lien menatapnya. "Jangan tersenyum ke pria lain," katanya.
"Kenapa ti--"
"Diam! Istriku butuh asupan sekarang!" titah Kaisar Chun, berhasil mengunci mulut Pangeran Xiumin.
Xi Juan yang mengamati interaksi mereka seketika mengalihkan pandangan ke arah Pangeran Zhen yang mencengkram erat tangannya.
Lewat tatapan mata, Xi Juan menyuruh Pangeran Zhen untuk melepas cengkramannya. Namun, sayangnya pria itu hanya menyeringai tanpa mau melepaskan.
Dasar pria menyebalkan, batinnya mengumpat.
Kekesalannya semakin memuncak ketika Pangeran Zhen mengelus pahanya. Berulang kali ia menepis tangan nakal pria itu, tapi tetap saja diulangi.
"Jangan memasang ekspresi kesal begitu, aku jadi ingin memakanmu sekarang juga." bisik Pangeran Xhen v****r di telinganya.
"Dasar gila!" Xi Juan menginjak kaki Pangeran Zhen kuat dibawah sana. Ia menghela nafas lega kala Pangeran Zhen menjauhkan tangan nakalnya.
Xi Juan melahap makanannya dengan perasaan dongkol karena Pangeran Zhen selalu menatapnya dengan tatapan m***m.
Moment menyebalkan itu akhirnya terlewati. Xi Juan segera kabur dari ruang makan untuk menghindari Pangeran Zhen. Ia tidak yakin bisa menahan diri sendiri untuk tidak meninju wajah pria itu.
"XI JUAN! TUNGGU AKU!!"
Teriakan yang sangat dikenalinya itu membuatnya menghela nafas.
Oh ayolah, dia tidak ingin menghadapi pangeran menyebalkan itu untuk sekarang.
Matanya terpejam ketika merasakan rambutnya ditarik dari belakang. "Akhirnya kau dapat juga haha. Sampai kapan pun kau tidak akan bisa lari dariku, Xi Juan."
Wanita cantik itu meringis kesal. "Kau benar-benar kasar, Pangeran Zhen! Bagaimana mungkin kau menarik rambut seorang wanita seperti ini!"
Pangeran Zhen melepaskan jambakannya cepat. "Yang terpenting aku mendapatkanmu."
Xi Juan berbalik dengan cepat dan menjambak balik rambut Pangeran Zhen.
"Lepaskan rambutku!" ringis Pangeran Zhen.
"Seperti ini lah yang kurasakan ketika kau menjambak rambutku. Makanya jangan menjambak rambutku kalau tidak ingin merasakan sakit ini." geramnya.
"Lepaskan tanganmu sekarang juga atau kau akan menyesal." ancam Pangeran Zhen.
"Cih, aku tidak akan menyesal sama sekali." Menguatkan jambakannya hingga Pangeran Zhen kelepasan berteriak. Jambakan Xi Juan memang tidak main-main.
"Ini kau yang memintanya, Xi Juan. Jadi, jangan salahkan aku."
Pangeran Zhen menjambak balik rambut Xi Juan tanpa segan.
"YAK! KAU INI LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN SIH?!" teriak Xi Juan yang terlampau kesal.
"TENTU SAJA AKU LAKI-LAKI, BUKTINYA SAJA AKU BISA MEMBUATMU HAMIL!!"
"LAKI-LAKI KOK MAINNYA JAMBAK-JAMBAKAN?! GAK ELIT BANGET, WOY!"
"TIDAK ADA LARANGAN LAKI-LAKI MENJAMBAK RAMBUT SESEORANG!"
"ARGHH!! MAMPUS KAU!! MATI KAUU!! RASAKAN INI!!" Xi Juan menguatkan jambakannya hingga Pangeran Zhen berteriak kesakitan.
"Astaga, tuan putri. Berhenti!! Jangan menjambak rambut Pangeran Zhen lagi!!" kata Mo Xie panik seraya berlari mengelilingi keduanya.
"Kau diam saja, Mo Xie. Ini urusanku dengannya!!" titah Xi Juan.
Mo Xie semakin bergerak tidak karuan. Dia berlari mengelilingi keduanya seraya meneriakkan kata berhenti dengan nada yang bergetar takut.
Acara jambak-jambakan ala keduanya berhenti ketika mendengar suara orang terjatuh. Mereka kompak menoleh ke asal suara meski tangan mereka masih berada di rambut satu sama lain.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak ketika melihat Mo Xie terjatuh ke lantai.
Mo Xie yang ditertawakan menangis haru. Akhirnya sepasangan suami istri itu tidak berbuat kekerasan lagi.
Tak lama setelah puas menertetawakan Mo Xie, sepasang suami istri itu pergi dengan sendirinya. Meninggalkan Mo Xie yang merenungi tingkah aneh keduanya.
"Kau lelaki teraneh yang kutemui di dunia ini. Kuharap kita tidak akan bertemu lagi setelah ini," kata Xi Juan dingin.
"Apa kau bodoh?! Tidak akan bertemu lagi katamu?! Kita ini suami istri! Bagaimana mungkin kita tidak akan bertemu."
"Mungkin saja."
"Sangat tidak mungkin!"
"Setelah cerai nanti kita tidak akan bertemu lagi! Aku akan pergi yang jauh dari kekaisaran ini hanya untuk menghindari manusia tidak tahu diri sepertimu."
"Kau yang tidak tahu diri! Padahal hanya seorang gadis yang kubawa dari desa dan tidak punya latar belakang yang bagus. Harusnya kau bersyukur bisa menjadi istri seorang pangeran."
"Bersyukur? Haha. Kau bercanda, ya?"
"Dasar wanita tidak tahu diri!"
"Ya, ya, wanita tidak tahu diri ini akan meninggalkanmu secepatnya. Kau cari saja wanita yang tahu diri dan mau saja kau injak-injak."
"Aku tidak akan mencari wanita lain! Hanya kau yang aku inginkan!"
"Halah, bullshit."
"Hanya kau yang akan menjadi istriku mulai sekarang! Makanya jadi orang tahu diri lah sedikit."
Pangeran Zhen malah memancing pertengkaran semakin menjadi.
"Bodo amat!! Berbicara dengan orang bodoh sepertimu hanya akan membuatku darah tinggi. Aku tidak ingin mati sia-sia karena meladeni orang sepertimu."
Xi Juan sungguh lelah dengan tingkah Pangeran Zhen. Ia ingin istirahat dan tidak bertemu lagi dengan Pangeran Zhen ke depannya.
-Tbc-