Bab 1 Angel Kritis
Di lorong sebuah rumah sakit.
"Derby, gimana keadaan Angel?" tanya Bianca, sahabat dekat Angel.
Bianca Vhanderhorse, seperti namanya, Bianca memiliki sifat yang pecicilan macam seekor kuda, ia sudah mengenal Angel saat mereka masih duduk di kelas 1 SMP.
"Angel kritis Bi, kita butuh pendonor darah buat Angel sekitar 5 kantong maybe, Hb Angel turun drasti, jika Hbnya semakim turun dan ga segera dapat pendonor nyawanya terancam" jelas Derby.
Derby Leonil adalah seorang pria tampan bertubuh tinggi dan memiliki badan yang berisi serta ideal, dirinya lolos mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran setelah berjuang selama 4 tahun dan sudah lulus menjadi koas di rumah sakit Umum Surabaya selama 2 tahun lamanya.
Derby kini sudah berprofesi sebagai dokter di rumah sakit Husada Mulya yang ada di Surabaya. Derby, Bianca, dan Angel tentu saling mengenal karena mereka bertiga dulunya kuliah di kampus yang sama, Angel dan Bianca mengambil fakultas Studi Musik dan kini mereka sukses dalam karyanya di bidang musik, Angel sebagai vokalis dan Bianca sebagai pemain gitar, mereka sudah banyak meraih prestasi di berbagai daerah.
"So, apa golongan darahnya?" tanya Bianca dengan serius.
"O+" jawab Derby singkat.
"O+ itu ga susah nyarinya, di bank darah harusnya ada dong kenapa bingung gitu sih hah?" protes Bianca.
"Stok golongan darah O+ tinggal 2 kantong, kita masih butuh 3, sekarang gue minta tolong sama lo usahain buat cari pendonor" ujar Derby dengan sedikit penekanan.
"Cari diman..."
"Ssttt, lo ga mau kan kehilangan sahabat lo?" potong Derby seraya mengangkat jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri.
"Iya tapi gue harus cari dimana, Derby?!" tanya Bianca dengan kesal.
"Lo cari ke pusat bank darah, biasanya disana sering ngadain donor darah gratis dan darahnya di bagikan ke rumah sakit juga ke orang-orang yang membutuhkan" jelas Derby.
"Sok tau lo" maki Bianca.
"Kok nyolot sih, terserah ya, disini gue sama dokter-dokter lain juga berusaha buat nyembuhin Angel, lo bantu dong kan lo sahabatnya, kita semua juga nyari kok, nanti kalo gue udah dapat gue bakal kabarin lo" terang Derby, rasanya ia sangat jengah dengan sikap Bianca yang sulit diajak kerja sama.
"Fine, gue pergi sekarang, gue mau lo janji sama gue dan diri lo sendiri" tawar Bianca.
"Apaan?"
"Siapapun di rumah sakit ini gue ga mau ada kelalaian, gue mau kalian sigap buat rawat Angel selama gue pergi cari pendonor"
"Iya gue janji" jawab Derby seraya menyunggingkan bibirnya.
"Yaudah gue pergi dulu, awas lo ya" ucap Bianca sambil menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya kemudian berganti di arahkan pada wajah sang dokter.
*
*
*
-Flashback on-
Di koridor sekolah terlihat seorang wanita berambut pirang tengah berlari.
BUG !
"Aw!" pekik Angel yang tidak sengaja menabrak sesorang di depannya.
"Why?" tanya seorang pria yang berdiri di hadapannya.
Angel yang tengah memungut buku-bukunya yang jatuh seketika kaget kerena ternyata ia menabrak seorang pria.
"Sory-sory, gue ga sengaja" ucap Angel seraya menyusun bukunya yang sudah di kumpulkan.
"Telat lo?" tanya pria itu.
"Bukan urusan lo" jawab Angel.
"Banyak banget tuh buku" ujar sang pria.
"Udah ya gue duluan, sory" cecar Angel seraya meninggalkan pria yang di tabraknya.
Dengan berlari sekuat tenaga akhirnya Angel sampai diruangan pak Bambang.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk" ucap pak Bambang setelah Angel mengetuk pintu.
"Pak.." sapanya.
"Silahkan duduk" ujar pak Bambang mempersilahkan Angel duduk.
"Ini pak tugas yang bapak kasih 3 hari lalu, 5 buku dan masing-masing 300 lembar" jelas Angel seraya menaruh 5 buku tugas yang sempat jatuh tadi di atas meja yang ada di hadapan pak Bambang.
"Sudah selesai?" tanya pak Bambang dengan dingin.
"Sudah pak tolong di cek" jawab Angel dengan berusaha ramah.
Dosen itupun dengan teliti mengecek kelima buku tugas yang dibawa oleh Angel tadi. Setelah cukup lama hening akhirnya pak Bambang berbicara "Bagus, kamu memang siswi yang patuh, lain kali jangan ada telat di jam saya, jika kamu telat hukuman yang saya berikan akan saya tambah".
"Baik pak, saya janji" ucap Angel.
3 hari yang lalu Angel sempat telat untuk masuk kuliah karena kesiangan, ia tinggal seorang diri di apartemen elite yang berada di kota Surabaya, kedua orang tuanya menjalankan bisnis di kampung halamannya yaitu Jakarta Pusat.
"Huft, selamat, untung si dosen killer itu ga ngamuk lagi" ujar Angel dengan sedikit berbisik sambil menutup pintu ruangan pak Bambang.
"Angel!" teriak Bianca yang sontak mengagetkan Angel.
"Bianca! Jangan berisik dong ada dosen killer di dalam entar ngamuk-ngamuk lagi" cecar Angel dengan cepat.
"ups,,sory Ngel gue ga tau, gimana? Aman?" tanya Bianca yang tentu saja tahu bahwa Angel mendapatkan hukuman dari dosen killer tersebut.
"Aman, udah yuk balik, mumpung hari ini kita ga ada jadwal" balas Angel.
"Eh gue lapar belum sarapan, ke kantin dulu yuk" ajak Bianca.
"Boleh deh, ayok" jawab Angel.
Sesampainya di kantin.
"Mak, Bi mau makan mia ayam ya" ucap Bianca pada Mak Ijah di kantin kampus yang berada di dekat fakultas kedokteran.
"Angel juga deh Mak, minumnya es susu coklat ya" sahut Angel.
"Bi juga Mak, es susu coklat 2 mie ayamnya 2" sambung Bianca.
Merekapun lalu pergi mencari tempat duduk.
"Enak ga sih sepi gini, banyak jadwal kosong kayanya, gue suka kalo kaya gini daripada rame" ucap Bianca seraya melihat kesekeliling kantin. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.
"Monggo di habiskan" ucap Mak Ijah.
(Silahkan dihabiskan).
"Haturnuhun Mak Ijah" ucap Bianca.
(Terimakasih Mak Ijah).
Saat mereka sedang asik menyantap sarapan sambil berbincang-bincang, Angel tidak sengaja melihat pria yang di tabraknya tadi baru saja duduk di kursi yang ada di depannya selisih 1 meja saja dan juga menghadap ke arahnya.
"Ngel, lo ngeliatin apa sih?" tanya Bianca heran.
"Tuh cowok, gue tadi ga sengaja nabrak dia" jawab Angel dan kembali memakan makanannya.
Bianca yang kepo langsung memutar badannya untuk melihat pria yang di maksud Angel, karena pria tersebut duduk di belakang Bianca membuatnya harus memutar tubuhnya.
"What! So handsome Njel, lo serius nabrak tuh cowok?" tanya Bianca dengan sedikit pujian.
"Iya gue ga sengaja nabrak dia di koridor, soalnya gue lari takut telat" jawab Angel santai.
"Lo minta nomor WhatsAppnya ga?" tanya Bianca.
"Ya engga lah buat apa?"
"Ya ampun Njel, kegantengannya ngalahin cowok gue tahu ga sih" ucap Bianca yang terkesan membandingkan kekasihnya.
"Hai sayang" terdengar seorang wanita menyapa Derby.
"Mampus, ternyata dia udah punya cewek" pekik Bianca.
"Yaudah sih, gue juga udah punya doi gini" balas Angel.
"Hai, lama banget sih kamu" balas Derby.
"Ih tuh kan mereka mersa banget ga kaya ayang gue aaaa" rengek Bianca dengan pelan sambil menggoyangkan lengan Angel.
"Bi stop Bi, gue lagi makan" protes Angel sambil menatap tajam Bianca.
"Im sorry Njel, but serously, He's handsome, cool Ngel"
"Bi gue ke kamar mandi dulu ya" sahut Angel.
"Hah, ngapain?" tanya Bianca.
"Kepala gue pusing banget nih tiba-tiba, bentar ya" jawab Angel lalu berdiri dan berjalan dengan cepat menuju kamar mandi.
Toiletnya berada dekat dengan tempat Angel dan Bianca duduk, di dalam toilet Angel menatap wajahnya sambil membasuh sedikit dengan air dari wastafel.
Ia kaget saat melihat wajahnya yang sangat pucat, sudah beberapa hari dia sering merasakan pusing apalagi setelah makan atau minum yang mengandung manis, karena rasa manis adalah kesukaanya sehingga dia tidak bisa menghindari hal itu.
Sedangkan di tempat duduknya, Bianca berpindah posisi menempati kursi yang awalnya di duduki oleh Angel agar bisa dengan mudah melihat keromantisan pria itu dengan kekasihnya. Untuk saat ini Bianca dan Angel belum mengetahui nama dan dari fakultas apa pria yang sedang bermesraan dengan pacarnya itu.
Tiba-tiba ...
BRUKK!!
Terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh dari toilet, sedangkan di kantin ini hanya ada mereka berdua, pasangan romantis itu dan Mak Ijah saja.
"Angel.." ujar Bianca lirih.
Bianca seketika bangkit dan berlari menuju toilet untuk mengecek keadaan Angel mengingat dirinya mengeluh pusing sebelum pergi ke toilet.
"Angel!! Astaga Angel, bangun Ngel lo kenapa?!" teriak Bianca, terkejut melihat Angel sudah tak sadarkan diri di lantai toilet dengan hidungnya yang mimisan.
Mendengar teriakan Bianca, Derby dengan sigap lari untuk menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Derby kaget.
"Gue ga tau, bantuin dong" jawab Bianca dengan nada yang panik.
"Sayang, ada apa?" Nathali sang kekasih Derby itupun menyusul untuk ikut melihat apa yang terjadi.
"Awas biar gua bantu" ujar Derby pada Bianca tanpa menjawab pertanyaan Nathali.
Derby dengan lembut membopong Angel dan membawanya ke klinik yang berada dekat dengan kantin, lalu membaringkan Angel di ranjang yang sudah di sediakan.
"Ngel bangun Ngel, astaga, lo kenapa?" terdengar suara Bianca yang panik, Derby mengambil selang oksigen dan memasangkannya di hidung Angel setelah membersihkannya, lalu mengecek semua keadaan Angel.
Mulai dari denyut nadi di lengannya, warna kuku dan juga telapak tangan Angel.
"Lo ga usah panik, kita tunggu dia sadar" ucap Derby.
"Kayanya dia kecapean deh, soalnya 3 hari dia bikin tugas sampe 5 buku karena di hukum dosen killer gila itu" maki Bianca.
"Oh jadi tadi pagi dia lari-lari dan bawa buku banyak karena di hukum pak Bambang?" pikir Derby sambil memutar kembali isi otaknya.
"Udah lo yang tenang, nanti kalo dia udah sadar biar gue tanya dia sakit apa" balas Derby.
"Siapa nama temen lo ini?" tanya Derby.
"Angel" jawab Bianca.
"Dan lo?"
"Bianca"
"Oke, gue Derby Leonil panggil aja Derby, gue dari fakultas kedokteran, dan ini cewek gue, Nathali" balas Derby.
"Hallo, Nathali" ucap kekasih Derby seraya mengulurkan tangannya pada Bianca yang masih duduk di kursi samping Angel.
"Heemm, Bianca" jawab Bianca lemah karena sedih melihat sahabatnya.
10 menit kemudia di tengah keheningan terdengar suara Angel.
"Akhh, kepala gue" suara Angel masih terdengar sangat lemah.
"Ngel, lo udah sadar, hey, lo gapapa kan? Lo kenapa? Lo jatuh? Cerita sama gue" pertanyan yang beruntun di lontakan begitu saja oleh Bianca.
"Gila lo, temen lo baru sadar udah di kasih soal banyak banget" maki Derby, Bianca yang hanya melengos kesal menatap wajah Derby.
"Angel, gue mau tanya sama lo, jawab jujur ya" ucap Derby pada Angel yang saat ini sudah berdiri tepat di sampingnya.
Angel mengangguk pertanda setuju.
"Lo sakit apa?"