Challista mengerang. Menatap kedua kakinya yang berpijak pada karpet lekat-lekat. Matanya tidak lagi sanggup menatap dunia dari sisi lain dirinya. Selain rasa sakit yang menari-nari dan kepala yang berdenyut. Memaksa kesadarannya untuk hilang dan dia harus segera tidur untuk memulihkan tenaga serta isi kepalanya. "Kau tidak apa?" Challista memejamkan mata. Mendengar sapaan yang amat sangat dia rindukan menyapa telinganya, dia seperti kapal yang dihantam ombak lautan, goyah. "Aku tidak apa," Challista ingin berdusta. Ingin berbohong agar Ethan paham apa yang dia rasakan. "Aku tahu kau berbohong." Challista tahu, dia sudah mendapatkannya. Kepala itu menengadah. Saat Ethan yang kacau terlihat jelas di hadapannya. Di depan Challista yang duduk di tepi ranjang, menatapnya dalam gamang. "

