Willy mengepalkan kedua tangannya. Di sisi kemejanya yang tidak lagi terlihat baik dan rapi. Kedua matanya tampak rapuh. Bibirnya bergetar dan gigi-giginya bergemeletuk. Dia ingin marah, ingin meluapkan seluruh isi hatinya. Menyakitkan. Semua terasa menyakitkan. Kedua matanya terpejam. Selain hembusan napas panjang yang bisa dia keluarkan. Willy tidak bisa lakukan apa pun. Ketika dia akhirnya memilih untuk pergi dalam diam. Seperti semilir angin malam yang menusuk tulang. Challista terengah. Begitu pula Ethan yang semula spontan kebingungan, dibuat heran, sebelum akhirnya dia sendiri luruh. Larut dalam ciuman tanpa makna dari Challista. Semua berawal dari ketidaksengajaan, semua kalimat yang menusuk hati, segala makian yang pernah Ethan lontarkan pada Challista terkumpul menjadi satu di

