Challista menatap pantulan dirinya sendiri pada layar komputer di atas meja ruang kerja dengan tatapan datar. Pagi ini, suasana tidak terlalu bagus. Mendung sejak pagi buta menggayut, menciptakan udara sejuk dan angin yang membawa kandungan air menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun dalam waktu sampai lima menit ke depan. Hanya ada awan hitam yang merangkul satu sama lain, lalu menciptakan gemuruh kecil yang terdengar samar. Napas Challista berubah berat. Menatap tubuhnya sendiri dan seketika dia merasa jijik. Terlebih, perlakuan Willy kembali terulang senalam membuatnya tidak bisa tidur dan lagi-lagi merasa marah pada diri sendiri karena tidak bisa lakukan apa pun selain diam, berteriak, dan menjerit. Namun, dalam hati. Challista memejamkan mata.

