5

2000 Words
Geram. Sin membanting seluruh perabotan yang bisa dicengkeramnya. Gelas kristal, cermin, apa pun. Melemparnya hingga remuk; meninggalkan kepingan kaca yang berserakan. Hanya tinggal selangkah lagi ... maka dia akan menemukan rahasia yang selama ini tertutup rapat; menyingkapnya dan menunjukkan kepada para Tetua itu arti eksistensinya pada para putra malam. “Ada apa ini?” Tusk menatap ngeri ruangan yang kini dipenuhi dengan pecahan kaca. Beberapa kali dia menggeleng, merasa miris dengan apa yang terjadi. “Sin, jangan seperti ini.” Sin menatap murka Tusk yang berdiri di ambang pintu. “Menurutmu? Kau tahu sendiri. Hanya tinggal sedikit lagi, maka. Gadis itu, aku yakin dia mengetahui sesuatu.” Tusk mulai berjalan mendekat. “Tapi dia sudah mati. Mayatnya tidak ditemukan di mana pun. Aku sudah memerintahkan pengawal untuk menyusuri aliran sungai. Dan, dia tidak ada di mana pun.” “Justru itu,” seru Sin. Dia mulai mengacak rambut peraknya yang terurai. “Karena kita tidak menemukan mayatnya, bukan berarti dia mati. Aku yakin dia masih hidup.” “Dengan kedalaman semacam itu?” Tusk menggeleng. “Sin, tulangnya pasti hancur menghantam palung dasar, bahkan mungkin akar pepohonan mengoyak daging gadis itu. Aku tidak yakin—” “Apa kau tidak merasakannya? Ada sesuatu yang keluar dari gadis itu.” Sejenak, Tusk mencoba mengingat getaran yang dia rasakan ketika berjumpa dengan gadis itu. Ada sesuatu mengenai gadis itu ... sesuatu yang tua.  “Ya,” aku Tusk. “Aku memang merasakan sesuatu. Hanya saja, aku tidak terlalu yakin.” “Dia, gadis itu mungkin adalah kunci yang kita cari. Aku tidak akan membiarkan elixer lain mendapatkannya. Akulah yang pantas menduduki tahkta Rea.” Kedua mata Sin dipenuhi dengan amarah. Kedua bola matanya untuk sekejap berubah warna menjadi merah, sebelum akhirnya kembali ke warna asalnya. Tekanan kekuatan yang memenuhi ruangan ini membuat Tusk tercekat. Ada baiknya jika dia segera menyingkir dari Sin. *** Sungguh tidak bisa dimengerti.  Untuk apa Aria harus keluar di tengah malam ketika para penghuni hutan mungkin berencana melakukan pencarian makan malam mereka?  Seilah berjalan di depan Aria, sebelah tangannya membawa lampu minyak, sementara yang satunya memegang tongkat. Diam, Aria mengikuti Seilah tanpa banyak berucap. Terlalu banyak pertanyaan yang mungkin tidak akan dijawab oleh Seilah. Aria bisa memastikan itu. Jika dipikir-pikir, ini merupakan pengalaman pertama Aria berjalan di tengah hutan saat purnama bersinar terang di langit sana. Terdengar suara tonggerek dan mashluk lainnya mulai sahut menyahut. Udara malam pun mulai merajai; menebarkan rasa dingin. Melewati dedaunan berjari lima, Aria dan Seilah mulai berjalan ke bagian rimbun hutan. Astaga, dari sekian tempat yang mungkin bisa dikunjungi oleh mereka, mengapa mereka berdua harus tertatih-tatih ke bagian dalam hutan? Bisa saja sesuatu yang menyeramkan tengah bersembunyi di dalam sana. Apa pun itu, Aira tebak mahluk yang bersemanyam di sana akan sama mengerikannya dengan para pembuas. Jika, dahulu Aria pernah bercita-cita ingin menjadi seorang Penjelajah, maka kini dia akan mundur teratur dari impiannya. Semakin lama, pepohonan dan tumbuhan yang mereka lewati mulai berubah bentuk; tanaman bertangkai spiral dengan daun dan bunga berwarna perak, pepohonan rimbun dengan batang perak. Segalanya yang ada di sekitar mereka berwarna sepucat rembulan. “Asing dengan pemandangan sekitar?” tanya Seilah tanpa menoleh ke belakang. “Kenapa ....” “Semua tanaman yang ada di sini berubah menjadi perak?” lanjut Seilah. “Sang dewi menerima kedatanganmu, lihatlah sekitar. Apa kau bisa mendengar senandung malam?” Jujur. Aria tidak yakin dengan apa yang disebut dengan senandung malam, jelasnya, Aria hanya merasa mendengar suara serangga dan denggung angin. Tidak ada yang istimewa. Seilah membawa Aria ke sebuah tempat. Butuh beberapa detik bagi Aria untuk menyesuaikan pandangan matanya. Dan, ketika kedua matanya terbuka secara sempurna, rasa takjub langsung melandanya. “Aria,” ucap Seilah, “selamat datang di taman rembulan.” Tepat di depan Aria, terhampar puluhan bahkan mungkin ratusan bunga berwarna putih. Aria mengenali nama bunga itu. Tidak salah lagi ... itulah yang disebut dengan bunga rembulan. Tanaman yang hanya akan mekar di tengah malam. Jenis langka. Dan kini, dia bisa melihat hamparan bunga bulan yang mekar secara sempurna. samar-samar, Aria seperti melihat kerlip cahaya berwarna putih tengah mengambang di atas sana. Sangat indah. Taman itu seperti memanggil Aria; mengajaknya menari di tengah siraman cahaya rembulan. Berucap mengenai keindahan malam, dan bersenandung mengenai kecantikan bintang. Hawa ini .... Perasaan ini .... Apa yang dirasakan Aria ini? Sesuatu seperti meluap; kegembiraan, kesenangan, dan ... entahlah, Aria merasa begitu mabuk. Harus ada seseorang yang menyadarkannya. “Nak,” ucap Seilah membangunkan lamunan Aria. “Apa kau mendengar panggilan itu?” Aria mengangguk. “Masukklah ke tengah sana. Biarkan rembulan menuntun jalanmu.” Begitu Aria melangkahkan kakinya ke dalam taman bunga rembulan, tiba-tiba saja angin berembus; menerbangkan kelopak bunga berwarna putih. Ada sesuatu tak kasat mata yang mulai menyelubungi Aria; hangat dan menenangkan.  Melayang, Aria membiarkan angin membawanya; seolah angin mengajaknya menari bersama. Dia bisa melihat hamparan bunga bulan yang ada di bawahnya; bergerak-gerak, siap menuntun setiap langkah Aria. Kedua tangannya mulai diselimuti oleh kelopak bunga bulan, lalu kaki, wajah, hingga semuanya secara sempurna terbungkus oleh kelopak bunga bulan. Malam panjang .... Dan, Aria terlelap dalam kepompong rembulan. *** Hening. Aria mencoba membuka kedua kelopak matanya. Dan, tepat di hadapannya berdirilah seorang wanita cantik. Wanita itu mengenakan gaun berwarna putih. Rambut pucatnya terurai hingga menyentuh lantai bening. Dan tepat di sampingnya, seekor serigala putih tengah memandang lurus ke arah Aria. “Selamat datang,” katanya. “Anakku.” Napas Aria tercekat. Suara wanita itu benar-benar jernih, nyaris sempurna. tak pernah Aria berjumpa dengan seseorang yang memiliki suara seiindah itu.  “Tidak perlu takut.” Diam. Aria berusaha memahami keadaan sekitar. Ruangan, bukan, Aria tidak yakin dia berada di mana, yang jelas tempat yang didatanginya hanya berisi ... tunggu sebentar? Aria baru menyadari bahwa dia tengah mengambang di atas permukaan air. “Aku tahu,” lanjut si wanita. “Kau baru saja mengalami hal yang sangat buruk.” “Ya,” ucap Aria membenarkan. “Aku melihat orang yang kukasihi meregang nyawa.” “Karena itu kau bersedih.” Wanita itu berjalan mendekat ke arah Aria. Permukaan air mulai beriak; membentuk cincin-cincin yang saling beresidu. Serigala putih itu pun berjalan mengikuti majikannya, tatapannya anggun dan dipenuhi dengan pengetahuan. “Karena itu kau bersedih,” ulang si wanita. Kini dia berdiri sejajar dengan Aria. “Kau merasa lemah dan tak berdaya. Berpikir bahwa apa yang menimpa rekanmu itu murni kesalahanmu.” Aria hanya diam; menatap sepasang manik berwarna hitam. “Lepaskanlah seluruh beban yang ada,” katanya. “Aku akan memberikan berkatku padamu. Pergunakanlah dengan bijak.” Wanita itu mengecup kening Aria. Sontak. Aria merasa semesta berada bersamanya; dia bisa merasakan sejuknya air, lembutnya belaian angin, wanginya pepohonan hijau, riangnya kicauan burung, kehangatan mentari—semuanya .... Aria bisa merasakan seluruh sensasi itu dalam dirinya. “Kini, kau bisa menggunakan berkatku. Aria.” Dan secepat kedatangannya, sensai itu pun pergi meninggalkan Aria. Hawa dingin mengantikan seluruh sensasi yang awalnya Aria rasakan. Membekap seluruh indranya, dan menariknya menjauh dari realita.  Untuk kedua kalinya, Aria merasakan kegelapan mendatanginya. *** Merenung di antara kekosongan yang tercipta dalam kastel, Tusk masih tak kunjung menemukan potongan penting yang dicarinya. Seharusnya, dia sudah menyadari bahwa ada hal penting yang terlewat. Kini, dia hanya bisa berjalan di selasar kastel dengan perasaan pengap. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran, dan Tusk tidak menyukai kegelisahan yang dirasakannya. Horor. Tusk tidak pernah melihat Sin bersikap sedemikian rupa; tidak terkendali, seolah sedikit dorongan saja bisa membuat pemuda itu meledak. Tentu saja, Tusk tidak akan meragukan Sin untuk yang satu itu. Pemuda itu bisa mengerahkan ribuan pembuas untuk membinasakan sebuah desa terpencil; melenyapkan dari peta Rea dan membinasakan seluruh penghuni tak berdosa itu hanya dalam satu sapuan saja. Oh, manusia-manusia yang malang itu. Keji. Sungguh, Tusk sendiri tidak tahu mengapa dirinya bisa bersabar sekian lama berada di samping sosok seliar Sin. Terlahir di antara bangsawan berdarah murni, Tusk, pemuda itu sudah terbiasa mengatur sikap dan ucapannya ketika berada di antara kaumnya. Posisinya berada jauh dari garis pewaris sah; Tusk ditakdirkan menjadi tangan kanan sang penguasa; mengungkapkan pemikirannya, menilai kinerja orang yang ada di sekitar sang calon penguasa nanti, dan memberikan nasihat yang diperlukan oleh si calon penguasa. Setidaknya, itulah yang seharusnya dilakukan oleh Tusk. Namun Sin, pemuda itu sulit ditebak. Tak ada satu pun yang sanggup membaca jalan pikiran seorang Sin. Alih-alih berperangai halus seperti Baginda Lion, Sin, putranya memiliki watak seperti badai—tak pernah terpuaskan. Tusk bisa gila jika tidak segera menemukan jalan keluar, Sin pasti akan merongrong Tusk untuk melakukan berbagai hal, yang Tusk sendiri yakini tidak akan sukai. Tusk tidak berharap banyak, mungkin dia bahkan tidak akan pernah memikirkan sahabatnya akan berubah.  Gadis itu mungkin adalah kunci yang kita cari. Jika dipikir lebih jauh, apa yang dikatakan Sin itu tidak sepenuhnya salah. Ada sesuatu yang tak asing, Tusk bisa merasakannya. Gadis itu ... ya, bisa saja kemungkinan yang dibicarakan Sin itu ada benarnya. Di dunia ini tidak ada hal yang pasti, semua bisa terjadi. Tusk menghentikan langkah. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.  Tak jauh dari tempatnya berdiri, Tusk bisa melihat sesosok pemuda yang tengah bercakap dengan salah seorang pengawal. Tentu saja Tusk mengenal pemuda itu dengan nama Kylian—salah satu calon putra mahkota—yang akan menyaingi Sin dalam perebutan takhta. Menyadari keberadaan Tusk, Kylian mengangguk singkat kepada sang pengawal; sebuah isyarat agar pengawal itu meninggalkan sang pangeran.  “Tusk,” katanya. “Aku tak tahu kau ada di sini.” Meski enggan, Tusk memilih untuk berjalan mendekat ke arah Kylian. “Aku hanya mampir.” “Ah, begitukah?” Berbeda dari Sin, Kylian memiliki perangai yang lebih halus. Rambut peraknya, walau tak sepanjang milik Sin, namun itu sudah cukup membuktikan bahwa dia adalah keturunan murni dari garis elixer kuno; para tetua yang membentuk awal kerajaan di Rea. Dalam balutan jubah bangsawan berwarna hijau, Kylian terlihat rupawan. “Kudengar,” ucap Kylian melanjutkan, “dia mengirim pembuas ke sebuah kota. Sangat disayangkan, pekerjaan sebesar itu dilakukan secara rahasia. Tidakkah, dia menganggapku sebagai saudaranya?” “Tidak, Pangeran,” sanggah Tusk, “Pangeran Sin hanya tidak ingin merepotkan Anda saja. Lagi pula, para pembuas itu sudah lebih dari cukup untuk membereskan para Penjelajah yang menjaga kota tersebut. Kiranya, Pangeran tidak terlalu membesar-besarkan masalah tersebut.” Untuk sedetik yang rasanya seperti selamanya, Tusk merasa Kylian bisa mencium kebohongan yang disampaikan Tusk. Sungguh, Tusk merasa dirinya begitu kerdil di hadapan pangeran itu. “Tentu saja,” kata Kylian. “Pasti, saudaraku itu memiliki alasannya sendiri. Dan, kuharap apa pun itu—alasan di balik tindakannya—tidak berhubungan dengan keadaan kami berdua; saudara seayah beda ibu.” Tusk diam. Tidak berani mengungkapkan apa pun. “Aku tahu, kau dan Sin berteman dekat. Pasti dia lebih banyak mengungkapkan sebagian dari dukacitanya kepadamu.” “Pangeran terlalu melebih-lebihkan,” ucap Tusk dengan kerendahan hati. “Andai saja kau memahami satu hal dari Sin. Berada dekat dengannya benar-benar membutuhkan kebesaran hati. Dan kau, mungkin salah satu di antara sekian mahluk yang sanggup bertahan di sampingnya.” Untuk yang satu itu, Tusk hanya bisa mengangguk setuju di dalam hati. “Andai saja,” lanjut Kylian, “aku mendapatkan orang-orang baik sepertimu di sekitarku.” “Tidak, Pangeran. Engkau terlalu melebih-lebihkan kemampuanku yang tak seberapa ini. Sungguh.” Kylian tersenyum samar. “Aku tahu,” katanya, “kau keturunan langsung dari Raja Tua. Meski di luar, kau menampakkan ciri khas seorang Flanders, namun jauh di dalam sana, aku bisa melihat kemiripanmu dengan garis dari ayahku. Entah mengapa, dia, si Raja Tua tidak mengizinkan keturunannya menduduki tahkta. Tidakkah kau menginginkan sedikit perubahan di sini?” “Tidak,” jawab Tusk. “Hal seperti itu, singgasana, terlalu berat untukku. Aku lebih menyukai kehidupan tanpa tekanan.” “Jadi,” ucap Kylian menyimpulkan, “menurutmu sang kaisar hidup di bawah tekanan pendukungnya?” Tusk menggeleng. “Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja, menjadi seorang pemimpin bukan hanya sekedar kekuasaan. Ada hal lain yang harus dipertanggungjawabkan. Sementara aku tidak memiliki kekuatan semacam itu.” “Tusk.” Kylian menepuk pelan bahu Tusk. “Kau tidak pernah tahu, mahluk macam apa yang menguasai Rea ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD