Para manusia; muda dan mudi, renta dan bugar, ada satu kesamaan yang tak lekang dari wajah mereka: kehilangan. Itulah yang bisa dilihat oleh sebagian orang yang ada di kamp pengungsian. Semua manusia terlihat sama lesunya, anak kecil terus bersembunyi di samping rok ibunya; berharap, dengan melakukan itu mereka bisa sedikit lebih terlindungi.
Andai saja mereka tahu bahwa para manusia yang ada di sekitar mereka ini tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka. Sebagian duduk di dekat bekas api unggun, yang lain duduk termangu sembari menatap ke suatu titik kosong, ada sebagian yang menekuk lutut dan membenamkan wajah mereka, beberapa bahkan tak sanggup menyembunyikan luapan emosi yang mereka curahkan melalui air mata.
Beberapa Penjelajah yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka pun sama loyonya. Di sisi lain, mereka harus merawat dan membimbing para pengungsi ini menuju kota utama; tempat di mana mereka bisa tinggal dan memulai kehidupan baru, meninggalkan kenangan pahit di belakang. Sementara di satu saat, para Penjelajah ini, mereka harus menelan pil pahit. Rekan mereka hampir bisa dipastikan tidak ada yang selamat. Cukup mencengangkan, Penjelajah dari resimen ular berkepala tiga yang berada di Savana berhasil dibabat habis oleh para pembuas.
Para Penjelajah ini ditakdirkan bersanding dengan kematian. Dan, itulah harga yang harus mereka pertaruhkan demi keselamatan segelintir manusia yang berlindung di balik tabir perlindungan.
Itu pulalah yang kini tengah diresapi oleh Ringga.
Pemuda itu duduk di atas gerobak yang memuat bahan pangan. Jubah hitamnya yang berhias sulaman kepala serigala putih nampak mengilat terkena paparan matahari. Dia terus berada di sana, mengamati pemandangan muram yang tersaji di hadapannya.
Tidak ada niatan untuk bergabung dengan rekan lainnya. Ringga tak yakin bahwasannya mereka—para rekan Penjelajah lainnya—akan menerima kehadiran Ringga. Penjelajah itu pasti memandang sinis ke arah Ringga; jenis tatapan yang tidak mengharapkan kehadiran Ringga.
Ringga kemudian mendongakkan kepala, menatap ke langit.
Benar, hanya karena dia berbeda. Karena dia tidak sama dengan manusia lainnya. Karena ada darah mahluk itu di dalam dirinya.
Bangkit. Ringga meninggalkan gerobak dan mulai berjalan ke mana pun kakinya ingin melangkah. Beberapa Penjelajah yang melihat kehadiran Ringga, mereka hanya memandang Ringga dengan sorot menuduh. Menyedihkan, mereka beranggapan bahwa segala kehancuran yang dirasakan manusia-manusia itu disebabkan langsung oleh Ringga sendiri.
Betapa picik cara pikir mereka ini.
Ringga, pemuda itu sudah terbiasa dengan cara pandang masyarakat kepadanya. Entah itu baik, atau sebaliknya. Itu semua tidak ada bedanya baginya.
“Kumohon, tolonglah cucuku.”
Suara ratapan seorang perempuan tua menarik perhatian Ringga.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ringga melihat seorang wanita yang tengah memohon. Kedua matanya terlihat sembab, hidungnya merah, dan suara sang wanita pun terdengar serak.
Merasa kasihan, Ringga memilih mengambil risiko untuk bertanya kepada Penjelajah dan wanita itu.
“Maaf,” ucap Ringga menyela. “Ada apa ini?”
Penjelajah itu nampak terkejut dengan kehadiran Ringga. Sejenak, pemuda itu terdiam sebelum akhirnya berkata, “Wanita ini. Kukuh berpendapat bahwa cucunya masih hidup. Dia ingin meminta izin keluar dari kamp.”
“Cucuku memang masih hidup,” jelas si wanita, “aku tidak berdusta. Kumohon, izinkan aku keluar dari sini. Dia berada di luar sana, bersama pembuas yang mungkin akan menelannya. Kumohon, biarkan aku pergi.”
“Nyonya,” ujar si Penjelajah muda, “Anda tidak boleh seperti ini. Tidak seorang pun diperbolehkan keluar dari kamp.”
“Lalu, bagaimana dengan cucuku sendiri?”
Si Penjelajah muda menggeleng. “Maaf, kami tidak bisa berbuat lebih jauh lagi. Semua orang di sini membutuhkan perlindungan. Dan, mengirim Anda keluar sama saja dengan tindakan bunuh diri.”
“Kalau begitu,” ucap si wanita, “kirimkan salah seorang dari kalian untuk menjemput cucuku.”
“Itu tidak mung—”
“Biar aku saja,” potong Ringga.
“Jangan kau juga,” keluh si Penjelajah. “Di luar berbahaya.”
“Bukankah masuk ke dalam resimen ini memang harus berhadapan dengan sang maut?”
Si penjelajah terdiam. Tidak mampu melawan ucapan Ringga.
“Nah,” kata Ringga. “Siapa cucu Anda?”
Sedetik. Dua detik. Wanita itu menatap Ringga dengan rasa syukur yang tak terkira. Bahkan, Ringga bisa melihat genangan air mata di pelupuk mata wanita tua itu. “Aria,” katanya. “Nama cucuku adalah Aria.”
***
Tidak ada yang pernah berkata pada Aria bahwa terbangun dari mimpi itu akan terasa begitu menyakitkan.
Kini, Aria berbaring di atas bebungaan dengan posisi telentang; kedua matanya menatap langit yang kini berwarna biru. Aria bisa mencium aroma segar pagi, merasakan dinginya pucuk rerumputan yang berada di bawah telapak tangannya, dan mendengar kicauan burung yang hinggap di antara cabang pepohonan.
Tidak ada bunga berwarna putih dengan harum memikat, semua keajaiban di malam itu telah sirna bersama cahaya surya. Yang tersisa kini hanyalah Aria—hanya dia seorang.
Berapa lama dia berada dalam ketidaksadaran?
Rasa-rasanya, tidur tidak pernah semenyakitkan dan membingungkan seperti sekarang ini.
Aria kembali memejamkan mata, berharap dia mendapatkan sesuatu yang bisa menyegarkan ingatannya.
Serigala putih. Bunga rembulan. Seorang dewi. Bentangan dimensi bening. Misi .... Aduh, apa yang harus Aria lakukan sekarang?
“Nak, kau kelihatan begitu berantakan.”
Suara Seilah memecah lamunan Aria. Wanita tua itu sudah berada di samping Aria—memandangnya dengan tatapan bingung.
“Aku merasa ... sakit.”
“Tentu saja,” sahut Seilah, “kau baru saja melewati gerbang itu.”
Entah mengapa, Aria merasa gerbang yang dimaksud Seilah itu bukanlah gerbang yang terbuat dari kayu. Lagi pula, Aria tidak ingin mencari tahu arti dari kata gerbang yang dimaksudkan Seilah.
“Pergilah,” kata Seilah. “Tugasku sudah selesai sampai di sini. Selanjutnya, kau harus melakukannya seorang diri. Aku terlalu tua untuk mengantarmu bertualang.”
Sontak, seperti mendapat tenaga tambahan, Aria bangkit dan berkata, “Tunggu sebentar! Aku tidak mengerti. Maksudku, tugas apa? Kewajiban apa? Lalu, yang lebih penting dari semua itu, bagaimana caraku keluar dari sini? Kau bahkan tidak mengajarkanku sihir apa pun. Tolong jelaskan padaku!”
Berbeda dari Aria yang nampak akan menelan Seilah bulat-bulat karena merasa dicampakkan ke dunia hitam, Seilah terlihat tenang dan mengacungkan telunjukknya—menununjuk Aria. “Nak,” katanya. “Memangnya sihir itu harus seperti apa?” tekan Seilah, “Bentuknya?”
Aria hanya mengerutkan dahi. Tidak mengerti.
Seilah kemudian menurunkan telunjuknya, kedua tangannya memegang tongkat, seolah dia akan jatuh ke dalam pelukan bumi. “Kau sudah memilikinya, Nak. Sihir itu. Untuk saat ini, kau tidak akan mengerti hakekat sihir yang kumaksudkan. Sihir itu tidak terlihat; seperti udara yang kau hirup, air yang bergemerisik, dan cahaya yang membasuhmu. Aria, dengarkanlah alam, maka kau akan mengerti sihir yang kubicarakan.”
Gadis itu hanya bisa menatap pongah ke arah Seilah, dia sama sekali tidak mengerti pada apa yang tengah Seilah ungkapkan.
“Untuk saat ini,” lanjut Seilah, “ikutilah setiap pertanda yang kaudapatkan. Dengarkanlah alam. Nah, sekarang saatnya kau meninggalkan wanita tua ini. Aku tidak bisa memberikan banyak hal, lalu sihir, kau sudah memilikinya, jauh di dalam dirimu. Nak, bersiaplah untuk setiap kemungkinan terburuk yang mendatangimu.”