“Namanya Aria,” jelas Mirialiana. “Aku tak tahu di mana dia berada sekarang. Saat itu, keadaan benar-benar kacau. Aria menolak pergi bersamaku. Anak itu, benar-benar susah untuk dipahami. Dia terus berkata tentang menyelamatkan pustakawan tua itu.”
Sampai detik ini, Ringga masih berdiri di hadapan sang wanita tua—mencoba memahami kepingan informasi yang didapatnya.
“Lalu,” lanjut Mirialiana, “sesampainya di sini, aku tidak menemukan cucuku. Kumohon, selamatkanlah dia. Antarkan dia padaku. Aku tidak memiliki siapa pun lagi.”
Ringga meletakkan kedua tangannya di atas bahu si wanita, berharap sang wanita tua akan merasa sedikit lebih tenang. “Aku akan berusaha menemukan Aria.”
Selaput bening mulai muncul di kedua mata Mirialiana, bibirnya bergetar seolah sebuah keajaiban telah muncul. “Terima kasih,” katanya. “Semoga tak ada rintangan yang menghadangmu.”
***
Berkuda menjauh dari kamp pengungsian, Ringga merasakan sejuknya angin yang membelai wajahnya. Sesaat, pikirannya mengelana ke percakapan antara dirinya dan Mirialiana. Wanita itu benar-benar rapuh. Pantas saja tak ada seorang pun dari Penjelajah bersedia mengutarakan kebenaran bahwa mungkin cucu sang wanita itu sudah ... tidak ada di dunia lagi.
Tapi itu tidak benar, begitulah yang wanita tua itu percayai.
Ringga pun tak tahu mengapa ia bersedia mencari sanak keluarga si wanita tua. Satu-satunya yang ada di kepala Ringga hanyalah keinginan untuk menolong. Sekedar itu, tidak lebih.
Ringga mengerti, bahkan sangat paham, perasaan memercayai bahwa orang terkasih masih ada di dunia, serta kemungkinan membawanya kembali. Hal seperti itu, kehangatan akibat rasa yang tumbuh dalam d**a.
Kuda yang Ringga tunggangi tiba-tiba meringkik, mahluk itu tidak mau meneruskan langkahnya; bergerak-gerak gelisah. Lalu, Ringga pun sadar pada apa yang ditakutkan: pemandangan terakhir dari sisa-sisa Savana. Kota itu sudah hancur. Tidak ada apa pun yang bisa disebut sebagai pemukiman manusia. Ringga menatap sendu puing-puing bangunan yang kini ditempati oleh gagak.
Turun dari punggung kuda, Ringga berjalan sembari menuntun si kuda agar mengikuti majikannya. Inilah yang Ringga saksikan; sisa asap hitam yang membumbung ke angkasa, mayat manusia yang bercampur dengan bangkai pembuas, sobekan jubah dari Penjelajah, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
“Apa yang diinginkan mahluk-mahluk itu dari kota sekecil ini?” tanya Ringga dalam hati.
Terdengar koakan gagak, Ringga mendongak ke arah kerumunan burung berwarna hitam yang mulai berkumpul di sebuah tempat. Seolah para gagak itu tengah melakukan sebuah tarian; membaur dan saling memaparkan cercah abu yang menempel di bulu-bulu mereka yang sehitam jelaga.
Tanpa ragu, Ringga mengikatkan kekang kudanya ke sebuah pohon dan meninggalkan sang kuda mendengus jengkel. Ringga berjalan melewati sisa kehidupan yang ada di kota itu, pandangannya tertuju pada kerumunan gagak. Dia bisa merasakan hawa dingin yang menekan d**a dan nyanyian kematian yang disampaikan gagak. Tentu saja, Ringga tahu.
Langkah Ringga terhenti, dia menatap kumpulan gagak yang kini bertengger di atas puing-puing bangunan. Para gagak itu membentuk siluet hitam, beberapa menatap curiga ke arah Ringga.
Hal yang perlu dikhawatirkan bukanlah keberadaan puluhan gagak yang ada di sana, satu-satunya yang perlu Ringga waspadai adalah kehadiran sosok yang bediri di antara kawanan gagak tersebut.
Dalam wujud seorang wanita jelita, sosok itu terlihat sangat rupawan; bibirnya penuh dan berwarna merah delima, kedua matanya berwarna hijau, dan rambut hitamnya dihias dengan muitara hitam. Sungguh, wanita itu merupakan bentuk keelokan yang beracun. “Oh,” katanya, “kukira sudah tidak ada yang bernapas lagi di sini.”
Ringga tidak menyahut komentar yang diajukan sosok tersebut, pemuda itu memilih berdiam diri; menunggu tanda-tanda bahwa si pendatang ini tidak akan membahayakan nyawanya.
“Bocah malang, apa kau begitu takut padaku?” tanya si wanita. Salah seekor gagak mulai hinggap di atas bahu sang wanita, menatap tajam ke arah Ringga.
“Aku tidak menyangka akan berjumpa denganmu,” ungkap Ringga. “Kenapa aku harus takut padamu? Kau hanya akan menyentuh jiwa yang sudah meninggalkan huniannya, sementara aku masih menjejak tanah kehidupan. Artinya, kau tidak berhak atas apa yang kumiliki.”
Wanita itu tersenyum, dia mulai mengelus puncak kepala gagak yang bertengger di dekatnya. “Tentu saja, aku tidak berhak atas apa yang masih dimiliki olehmu. Benar sekali, Nak. Aku hanya memanen roh yang ada di sini, kau tahu sendiri, bagaimana ganasnya kerabat dekatmu itu.”
“Mereka bukan kerabatku,” desis Ringga.
“Oh, tentu saja begitulah yang kauharapkan; tidak menjadi bagian dari apa yang sebenarnya ada dalam dirimu.” Gagak kembali mengoak, seolah menyetujui pendapat wanita itu. “Ibumu tidak mengajarimu bersikap lancang seperti ini, bukan? Atau mungkin, ayahmu yang mengajarimu berperilaku bengal?”
“Jaga ucapanmu.” Ringga mulai memegang gagang pedang yang terselip di sabuknya. “Jangan pernah kau berani menyebut kedua orangtuaku, tidak satu kali pun.”
“Bocah keras kepala, sama seperti yang satunya. Harusnya kau menjumpai saudaramu yang ada di kastel sana. Dialah yang melakukan semua ini.” Wanita itu menunjuk kehancuran yang ada di sekitar mereka. “Lucu sekali, kalian ini. Tapi, tak masalah bagiku, aku cukup menikmati bagianku; memanen jiwa-jiwa malang ini.”
Ringga tak ingin menanggapi pembicaraan antara dirinya dan sesuatu yang ingin dijauhinya.
“Ringga,” katanya kemudian. “Apa yang kaucari di sini? Tak cukupkah dukacita yang sengaja kauciptakan untuk dirimu sendiri? Atau kau ingin menambah daftar kesedihan yang ingin kauratapi?”
“Apakah jika aku mengatakan sesuatu yang tengah kucari, maka kau akan menjawab pertanyaanku tanpa sejumput dusta?”
“Tentu,” jawabnya. “Kaumku tidak pernah berdusta, dan kau tahu kebenarannya.”
Tentu saja, Ringga tahu para mahluk yang oleh fana disebut sebagai pemanen roh; mahluk yang mengambil roh-roh tersesat yang kemudian merubahnya menjadi wujud lain sebagai pelayan, Ringga tidak akan meragukan kejujuran mahluk semacam ini. “Aku mencari seorang gadis,” katanya.
“Ada begitu banyak gadis di sini,” tunjuk sang pemanen jiwa pada kumpulan gagak. “Gadis mana yang kaumaksud?”
“Aria. Aku hanya tahu namanya Aria.”
Wanita itu menatap masygul, segaris senyum muncul di wajahnya. “Gadis itu tidak ada di sini, saudaramu mengejarnya sampai ke hutan seberang. Tahukah kau, gadis itu nekat terjun ke dasar sungai.”
Ada tikaman tajam yang dirasakan Ringga. Entah, bagaimana cara Ringga mengungkapkan kebenaran ini kepada Mirialiana.
“Tapi jangan khawatir,” kata si wanita. “Dia masih hidup, kau bisa mencarinya ke utara. Jika beruntung, kau akan berjumpa dengannya.”
Para gagak berkoak nyaring, terbang ke sepenjuru arah mengelilingi sang wanita, hingga pada akhirnya yang tersisa hanyalah kumpulan bulu sehitam jelaga.
***
Mengesalkan, Sin tidak bisa menghapus bayangan gadis yang dijumpainya di Savana, ada sesuatu yang menggelitik ego Sin; cara gadis itu menantangnya, sorot mata berwarna hijau, dan .... Entahlah, rasanya sulit untuk tidak memikirkan gadis itu walau hanya sedetik.
Dia tidak bisa menjernihkan kekacauan yang ada di kepalanya, Sin harus segera mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya: sebuah perjamuan. Bangsawan Clay mengundang Sin untuk menikmati sebuah perjamuan, kini Sin berdiri di antara hadirat yang menikmati alunan harpa dan cello. Dalam balutan pakaian kebesarannya, Sin terlihat memukau. Kain sutra berwarna safir membungkus tubuhnya, sementara rambut peraknya diikat hiasan dari batu mirah. Pangeran itu terlihat bisa menaklukkan hati setiap wanita yang ada dalam Perjamuan.
Sesekali kedua mata Sin menyapu ruangan megah yang berhiaskan permata aneka rupa. Sudah bukan rahasia lagi jika Clay, sang tuan rumah, memiliki ketertarikan berlebih terhadap sesuatu yang rupawan; tidak peduli sesuatu yang indah itu berupa benda, tumbuhan, ataupun seorang fana. Sin bisa melihat gadis-gadis fana yang mengenakan gaun indah, di leher mereka terdapat luka berbentuk dua titik lubang. Dari sana saja Sin sudah bisa menebak jenis jamuan yang Clay sajikan pada tamunya.
“Tuanku, sebuah kejutan melihatmu ada di antara kami.”
Tanpa perlu menoleh, Sin sudah tahu, siapa pemilik suara itu.
“Eva,” kata Sin.
Eva, gadis itu terlihat cantik dalam balutan gaun berwarna hitam, rambut merahnya ditata apik dengan hiasan mutiara putih. “Sejak kapan Tuanku tertarik pada jamuan mewah? Kukira, Tuan tengah merencanakan sesuatu.”
Menjengkelkan, dari sekian wanita yang ada di sini, entah mengapa Sin berjumpa dengan Eva. “Benarkah?” katanya singkat.
Gadis itu mulai mencondongkan badannya, samar-samar Sin bisa mencium aroma lilac. “Bukan bermaksud lancang. Sedari tadi Tuan terlihat begitu resah. Adakah hal penting yang tengah dirisaukan?”
“Tidak,” sanggahnya, “kau hanya menduga saja.”
“Apa berbincang dengan Tusk terasa lebih menyenangkan daripada berkumpul dengan kami?”
“Ev, aku rasa kau mabuk.”
Eva tertawa, jemari lentiknya mulai menelusuri lengan Sin. “Aku hanya merasa sedikit iri dengannya. Tuan terlalu sering menghabiskan waktu dengannya. Tidakkah itu aneh? Oh, atau aku kurang menarik?”
Sin bersumpah melihat seringaian licik di bibir merah milik Eva. “Bukankah kau tertarik dengan Kylian?”
“Tentu,” ucapnya mengakui, “wanita mana yang bisa menolak pesona kedua pangeran?”
“Wow, pemandangan apa ini?” Seruan Clay berhasil menyelamatkan Sin, bangsawan itu nampak tertegun mendapati sang pangeran tengah bercengkerama dengan Eva. “Aku tak tahu jika ada sesuatu di antara kalian.”
Di antara mereka berdua, Eva-lah yang paling siap melontarkan komentar, “Clay, sungguh kejam nian ucapanmu. Kau tahu, Pangeran Sin adalah pria yang paling susah untuk ditaklukkan.”
“Tentu saja,” sahut Clay. Rambut hitamnya terlihat mengilap terkena sapuan cahaya yang berasal dari lampu kristal. “Aku sudah pernah mencoba mengirimkan salah seorang gadis yang kumiliki. Namun, nampaknya Pangeran lebih senang keluar untuk berburu.”
“Benarkah?” ucap Eve dengan nada genit. “Aku tidak keberatan menjadi salah seorang buruan.”
“Sayang,” ucap Clay menengahi, “rasa-rasanya itu tidak mungkin. Bagaimana jika kau pergi ke arah sana,” tunjuk Clay pada kerumunan pemuda dan pemudi yang tengah menikmati cairan berwarna merah di gelas kristal mereka. “Kurasa di sanalah tempat yang sesuai untukmu.”
Eve bisa menangkap nada mengusir yang diutarakan Clay. “Tentu, jika itu maumu.”
Akhirnya Eve bersedia melepaskan Sin. Gadis itu melenggok gemulai ke arah kerumunan yang ditunjuk Clay—memberikan ruang aman untuk sang pangeran.
“Fiuh,” desah Clay. “Dia benar-benar keras kepala.”
Sin hanya diam, dia tidak tertarik berada lebih lama dalam jamuan ini.
“Pangeran, kenapa kau terlihat begitu ... garang?”
Sin hanya tersenyum samar, jelas-jelas dia ingin meremukkan leher fana yang pertama kali dijumpainya. “Aku tidak paham, hobimu ini, fana-fana itu. Akan lebih baik jika mereka segera dilenyapkan, sementara kau? Clay, apa menariknya mengikat gadis-gadis itu sebagai b***k?”
Clay menggeleng pelan sebelum menjawab, “Pangeran, fana-fana yang kumiliki ini berwajah rupawan, sayang sekali kalau disia-siakan.”
“Dan mereka memiliki rentan waktu,” tegas Sin. “Mereka akan mati cepat atau lambat.”
“Tapi, sesuatu yang tak abadi itu memiliki keindahannya sendiri. Pangeran, tidakkah kau pernah jatuh hati pada sesuatu?”
Jikalau ada sesuatu yang membuat Sin tertarik, maka itu sudah pasti singgasana, kekuasaan, dan ... mungkin sesuatu yang lain. Sin tidak tahu dan dia harus memastikannya sendiri.
“Karena singkat,” lanjut Clay, “maka mereka terlalu indah untuk diabaikan. Bahkan dengan keabadian yang kumiliki ini, terkadang aku merasa iri dengan sedikitnya waktu yang dimiliki manusia-manusia ini. Tiada yang pernah tahu, kapan kita akan merasa bahwa selamanya itu terasa begitu menjenuhkan.”