Aria akan mencatat ini. Satu, kalung yang dibawanya bukanlah jimat. Ini hanyalah peta yang disembunyikan Aran dan secara tidak sengaja atau sengaja diberikan Aran pada Aria agar diselamatkan. Dua, ilmu sihir itu tidak bisa dimengerti. Seilah hanya menjelaskan untuk mengikuti pertanda dari alam. Masalahnya, pertanda macam apa yang dimaksud Seilah? Gempa? Banjir? Gunung meletus? Tiga, Aria tidak memiliki senjata untuk melindungi dirinya sendiri. Barang yang diberikan Seilah sebelum mereka berpisah hanyalah beberapa butir berry kering. Itu saja katanya sudah cukup untuk melindungi Aria. Tentu saja, Aria yakin buah-buahan kering itu akan melindunginya dari serangan ular berbisa, pembuas liar, dan mungkin bisa menjauhkan Aria dari para elixer. Empat, Seilah hanya berkata bahwa Aria hanya perlu berjalan mengikuti jejak babybreath yang bermekaran di hutan.
Dan kini, Aria berjalan dengan napas tersengal mengikuti jejak babybreath yang diinstruksikan Seilah padanya. Aria bersumpah, setelah ia memecahkan teka-teki kalung Aran, dia akan pergi ke kota terdekat dan memulai hidup sebagai pedagang. Itulah yang Aria rencanakan: menjadi pedagang sukses.
Namun, sebelum itu, dia harus memastikan bahwa hidupnya tidak terancam bahaya.
Menyelesaikan potongan peta yang ada dalam kalung pemberian Aran, sialnya, Seilah berkata agar Aria pergi ke sebuah tempat yang disebut dengan Reruntuhan Rea. Tempat yang menjadi sejarah terbentuknya Rea, tempat di mana seluruh sisa Rea masih tersimpan rapi, dan tempat yang tidak mudah untuk dijangkau.
Memastikan kondisi; Aria tidak memiliki kuda, tidak ada uang, tidak ada senjata, tidak ada benda berguna, dan hanya memiliki beberapa berry yang kegunaannya masih diragukan.
Kesimpulan: Aria terjebak!
Malang nian nasib Aria, sejelek-jeleknya hidup seorang Aria, dia tidak pernah menyangka akan mengalami hal-hal yang tidak pernah terjamah pikiran sempitnya. Tapi itu tidak penting, sekarang yang perlu dilakukan Aria hanyalah berusaha menyelamatkan diri dari elixer dan pembuas yang mungkin berkeliaran di sini. Semoga saja Aria tidak perlu berjumpa dengan hal-hal yang dikhawatirkannya itu.
Jejak babybreath mengantarkan Aria ke sebuah jalan setapak. Berbeda dengan vegetasi sebelumnya yang didominasi dengan waru hitam dan tanaman berdaun meruncing, kini Aria bisa mencium aroma pinus. Pencahayaannya tidak terlalu buruk, Aria melihat beberapa ekor burung berwarna kuning cerah tengah bertengger di salah satu cabang; bersenandung sembari memperhatikan pepohonan sekitar.
Suasana yang cukup kondusif, Aria aman ... semoga saja dia memang berada di tempat yang benar. Kini dia hanya perlu berjalan. Tidak, Aria tidak mungkin kuat berjalan kaki sejauh itu. Apa yang harus dilakukannya?
Sejenak Aria terdiam di tempatnya berdiri. Bingun.
“Dasar pelit!” umpatnya. “Memangnya dia tidak bisa melakukan sesuatu dengan meminjamkan tunggangan atau apa pun yang mungkin bisa mengantarku?”
Terdiam. Aria tahu bahwa dia bersikap kekanak-kanakan. Menghina seseorang tidak akan merubah fakta mengenai keadaannya sekarang. Terbersit pemikiran untuk tidak melakukan pencarian Nirvana, mungkin Aria bisa ke kota manusia terdekat, dan menyerahkan kalung tersebut ke orang lain.
Aria menggeleng. Ini tidak benar. Bagaimanapun juga, ini adalah tanggung jawab Aria. Dia tidak bisa begitu saja lepas tangan dan membebaskan diri dari sesuatu yang menjadi kewajibannya.
Benar. Yang perlu Aria lakukan hanyalah menjalaninya saja. Maka kini, dia mulai melangkah menuju arah yang ditunjukkan Seilah.
***
Tidak diragukan lagi, Ringga berkuda menuju utara, mengikuti arahan pemanen jiwa yang dijumpainya di Savana. Untunglah, Ringga belum menjumpai elixer mana pun. Jika tidak, mungkin dia harus bersusah payah menyingkirkan mahluk tersebut.
Suara angin yang berdesing di telinganya, membuat Ringga merasa tengah diperingatkan. Tak tahu, mungkin ini hanyalah firasatnya saja; ada sesuatu yang tidak beres dengan anak perempuan yang dicarinya. Keanehan itu; tentang bagaimana sang pemanen jiwa menatap pilu arah yang dituju si gadis, elixer yang mengejar gadis itu, dan entah bagaimana semesta menyelamatkan gadis itu dari maut.
Siapakah dia? Aria ini.
Ketika berbagai macam pikiran mulai memenuhi benak Ringga, kuda yang Ringga tunggangi membawanya semakin dalam menuju hutan.
Andai Ringga tahu, pilihan yang diambilnya akan mengikatnya bersama Aria ke dalam masalah yang harusnya dijauhinya. Sayang, Ringga tidak tahu.
***
Tersembunyi di antara sesemakan, sesosok jembalang tengah mencari jamur untuk makan malamnya. Jembalang itu nampak asik dengan kumpulan jamur yang didapatnya; merah, hijau bertotol, hitam dengan sedikit bulu-bulu kasar, dan hijau menyala. Semua jamur itu—yang kemungkinan besar beracun jika sampai dikonsumsi manusia—dia masukan ke dalam keranjangnya.
“Wah,” katanya senang, “aku bisa memasak sepanci penuh sup jamur.”
Begitulah, dia tidak peduli dengan apa pun selain jamur dan sup. Jembalang itu sesekali bersenandung riang mengenai burung nuri, musim semi yang dipenuhi dengan bunga mawar, atau sekedar bergumam tak jelas. Benar-benar jembalang yang periang.
Yah, namanya juga jembalang. Kaum seperti mereka dikenal lebih pemilih daripada kurcaci penghuni gunung seberang.
Jembalang itu melirik kumpulan jamur yang tumbuh di bawah pohon pinus hitam; berjejer belasan jamur aneka rupa, yang membuat si jembalang menitihkan air liur.
Tergoda, jembalang itu pun segera berlari dan mulai memetik satu per satu jamur yang ada.
Harusnya ini menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk sang jembalang, namun kegiatan itu terhenti ketika dia mendengar suara melengking yang diiringi dengan derap kaki.
Jembalang itu menoleh ke arah suara. Kedua matanya melotot, badannya kaku, dan mulutnya berkata, “Apa itu?”
***
Tidak bisa dipercaya, Aria kini berlari sambil berteriak meminta pertolongan. Sungguh sial! Awalnya dia hanya berusaha mencari sesuatu untuk dimakan, namun bukan makanan yang didapatnya, malah bencana yang kini mengejarnya.
Awal bencana dimulai ketika Aria berjalan di sekitar kumpulan semak berry liar, ketika dia sedang asik memetik beberapa buah untuk mengganjal perutnya, Aria secara tidak sengaja mencabut bulu seekor kukuk. Kukuk merupakan sejenis burung setinggi dua meter yang tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Bulunya berwarna hijau lumut; digunakan untuk bersembunyi dari pemangsa. Paruhnya tajam seperti elang dan kukuk memiliki dua kaki yang sangat kuat. Jika merasa terancam, seeekor kukuk akan memilih untuk berlari menghindar dan menyembunyikan diri di antara tumbuhan, atau ... jika tidak, si kukuk akan melawan dan mengejar musuhnya sampai mati.
Dan yup, Aria kini mengalaminya; dikejar kukuk, dan nampaknya mahluk itu tidak ingin memaafkan Aria begitu saja.
Gadis itu bahkan tidak berani menoleh ke belakang. Dia takut, melihat wajah murka sang burung malah akan melunturkan kekuatan lari Aria. Maka, dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, Aria berlari melintasi tumbuhan bersemak, sesekali ranting pohon menggores pipinya.
“Tolong!” teriaknya. “Ya ampun, apa tidak ada sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkanku?”
Tentu saja, jika Aria masih bisa berkomentar pedas, itu berarti semangat hidupnya masih belum pudar. Aria ingin keluar dari hutan dengan keadaan hidup!
Ketika dia berhasil keluar dari sesemakan, aria melihat sesuatu yang tengah asik memetik tanaman. Sosok itu sama pucatnya dengan Aria—dia pun juga mengalami kekagetan yang sama.
Mau tidak mau, sosok kerdil itu pun melempar keranjangnya. Dia berlari menjauh dari marabahaya yang mendatanginya. Kini posisi yang terjadi adalah, kukuk mengejar Aria, Aria mengejar sosok kerdil, dan si kerdil berusaha sekuat tenaga tidak memaki gadis pembawa petaka.
“Dasar bodoh!” maki si jembalang. “Kenapa kau mengejarku?”
“Aku panik! Memangnya kau ini apa? Bukan, maksudku apa yang harus kita lakukan?”
“Kita? Apa kau tidak sadar dengan apa yang kaubawa? Kukuk? Dan mahluk itu dua kali lebih besar dariku, apa kau berniat mengantarku ke dunia bawah lebih awal?”
Aria memutar mata. Jengkel.
Lalu Aria mempercepat larinya, dia menyambar kedua lengan mungil milik jembalang, membawanya lari.
“Dasar kurang ajar!”
“Diamlah,” sengit Aria. “Aku menolongmu.”
Diam. Jembalang itu akhirnya menerima saja perlakukan Aria.
Napas Aria mulai tersengal, dia tidak mungkin berlari terus. Tapi, kukuk itu juga tak mau melepaskan Aria. Hanya ada satu pilihan: menghindar.
“Naik,” kata Aria. “Cepatlah, pohon ini sepertinya cukup untuk kita berdua.”
Aria dan jembalang itu memanjat pohon secepat mungkin, bahkan seekor kera pun masih kalah cepat dibanding mereka berdua. Setelah merasa aman, Aria menengok ke bawah. Burung itu mengepak-ngepakkan sayapnya, jengkel, berusaha mendaki namun dia tersungkur jatuh. Selalu seperti itu. Salah satu kakinya menendang-nendang pohon, mengira dengan begitu kedua mahluk yang bertengger di atasnya akan turun.
“Dia marah,” kata si jembalang. “Apa yang kaulakukan?”
Aria menggigit bibir bawahnya. “Mana kutahu?”
“Lalu sekarang apa? Kita akan terus di sini sampai burung t***l itu lupa pada kita?”
Melihat apa yang dilakukan kukuk, Aria ragu mahluk itu akan segera lupa dan melakukan hal lain.
“Tolong!” teriak Aria. “Tolong!”
Mulut jembalang membentuk huruf O. Kaget.
“Siapa saja!” teriak Aria, “selamatkan kami!”
Jembalang mendesah, “Tahu begini, lebih baik aku mengurung diri di rumah. Lagi pula, siapa yang akan menolong?”
Tak peduli dengan komentar sinis si jembalang, Aria terus berteriak, “Tolong! Selamatkan kami dari mahluk ini!”
Tak lama kemudian kukuk itu memekik ngeri. Burung itu merasa terancam ketika melihat kedatangan seekor kuda berikut penunggangnya. Kuda itu mengangkat kedua kaki depannya; siap adu nyali.
Kukuk merasa terancam, burung itu akhirnya memilih meninggalkan Aria dan sang jembalang. Kini, Aria dan jembalang bisa bernapas dengan lega.
“Turun,” kata si penunggang. “Dia sudah pergi.”