Aria menatap pongah pemuda yang telah menyelamatkannya. Dari cara berpakaian yang dikenakan sang pemuda, Aria sudah bisa menebak siapa gerangan yang telah menolongnya: seorang Penjelajah.
“Kenapa?” tanya si pemuda. “Turunlah, burung itu sudah pergi.”
Ragu. Ada sesuatu yang aneh dengan pemuda itu. Tidak seperti kebanyakan manusia yang memiliki rambut berwarna hitam, merah, ataupun cokelat, rambut milik pemuda itu berwarna pirang cenderung pucat. Dan kini, ketika helaian rambut itu terkena paparan sinar matahari, warna rambut itu semakin terlihat mendekati perak. Gigilan dingin langsung menjalari tulang belakang Aria. Dia teringat dengan sosok yang dijumpainya di Savana, sosok yang telah menghancurkan kotanya.
Melirik ke samping, sang jembalang ternyata juga tidak ingin meninggalkan batang kayu yang didekapnya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya sang jembalang. Dahinya berkerut, kedua matanya nampak keruh karena jengkel, dan tangan mungilnya memeluk erat batang kayu.
Melihat rekan sependeritaan memilih berdiam di pohon, Aria pun berkata kepada sang penolong, “Maaf, aku tak mengenalmu.”
Pemuda itu hanya tersenyum simpul, jelas-jelas menganggap komentar Aria itu sangatlah konyol. “Memangnya ada peraturan yang menyatakan bahwa hanya orang yang kita kenal saja yang boleh menolong?”
“Tidak,” ucap Aria membenarkan.
“Aku mencarimu,” kata sang penjelajah.
Mendengar kata “mencarimu” sudah cukup membuat Aria berpikir negatif. Pasalnya, akhir-akhir ini Aria merasa diincar oleh sejumlah mahluk yang Aria bisa pastikan bahwa tak satu pun dari mereka memiliki niatan baik. “Ada perlu apa kau mencariku?”
“Nenekmu,” jelas si pemuda, “dia sangat mengkhawatirkanmu.”
Mirialiana selamat! Aria merasa beban berat yang ada di kedua bahunya perlahan-lahan mulai terangkat. Syukurlah, setidaknya orang yang disayanginya masih hidup. Tapi tunggu! Bisa saja pemuda ini menipunya.
“Dari mana kau tahu kalau orang yang mengutusmu itu adalah nenekku? Bisa saja kau menipuku.”
Untung saja pemuda itu memiliki kesabaran yang cukup besar untuk menghadapi Aria. Dengan nada sopan dia berkata, “Aku tak tahu nama wanita itu, tapi aku yakin, dia sangat mengkhawatirkanmu.”
Masih belum puas, Aria bertanya, “Katakan padaku, seperti apa dia?”
Astaga, Aria benar-benar menguji kesabaran penolongnya. “Dia wanita yang kelihatan sangat rapuh.”
Aria sedikit memiringkan kepalanya. Berpikir. “Kelihatan rapuh?” katanya. “Wah, itu jelas bukan nenekku. Nenekku wanita yang garang dan keras kepala. Kau salah orang.”
Sang jembalang hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa anehnya anak manusia yang dijumpainya ini.
“Sudahlah,” ucap pemuda itu dengan nada jengkel. “Kau harus pulang. Apa yang ingin kaulakukan di luar sini? Berburu? Belajar? Tidakkah kau ingin berjumpa dengan keluargamu?”
Bagaimana mungkin Aria menceritakan kejadian yang dialaminya selama dua hari ini, rasanya itu tidaklah benar. “Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku tidak bisa ikut denganmu.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak bisa.”
“Maaf, aku berkewajiban membawamu pulang ke kota. Di luar berbahaya, tidakkah kau takut kepada pembuas yang mungkin kaujumpai?”
“Apa yang dikatakan pemuda itu ada benarnya,” timpal sang jembalang. “Kau harus berhenti membuat masalah.”
Seandainya Aria diperbolehkan, dia ingin mendorong jembalang yang bertengger di dekatnya. “Aku harus pergi ke suatu tempat,” katanya. “Aku tidak bisa ikut bersamamu.”
“Baiklah, mungkin kau merasa curiga kepadaku, wajar saja. Kau boleh memikirkannya. Saranku, jangan tinggalkan pohon ini. Akan kubiarkan kau sejenak untuk berpikir. Lalu, setelah kau merasa agak tenang, aku akan menjemputmu.”
Setelah berkata demikian, pemuda itu mengarahkan kudanya menjauh, meninggalkan Aria tercenung bersama sang jembalang.
***
Benar-benar, Ringga tidak bisa memahami jalan pikiran gadis yang ditolongnya. Bukannya menerima saran darinya untuk pergi ke kota, gadis itu malah berceloteh tak jelas mengenai sesuatu.
Tak apa. Ringga akan kembali menjemput gadis itu. Dan setelah itu, dia bisa mengantarkan gadis itu kembali bersama neneknya.
Semoga saja semua berjalan sesuai dengan harapan Ringga.
Sebuah keajaiban gadis itu bisa bertahan sampai sejauh ini, mengingat apa yang dilihat Ringga di Savana. Kota itu hancur dan tidak menyisakan apa pun kecuali puing dan abu. Siapa pun yang mengirim pembuas ke kota kecil tersebut, Ringga bisa pastikan bahwa mahluk tersebut sama sekali tidak memiliki nurani. Dan memang, para elixer itu mengincar sesuatu.
Memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada manusia yang diburunya membuat Ringga gemetar. Masih jelas dalam benaknya, apa yang menimpa ibunya.
Jika saja boleh memilih, Ringga ingin menjadi manusia seutuhnya.
***
Kastel megah berdiri di puncak kejayaan, langit Rea yang menaungi para penghuni kastel, lalu aliran sungai yang membentengi kastel tersebut. Di dalam sana, elixer hidup dan meneguk habis tetes darah para fana yang dibawanya. Adalah sebuah keberuntungan jika manusia yang diserang elixer itu mati di tempat asalnya daripada dibawa serta oleh kawanan elixer sebagai b***k darah.
Tusk hanya bisa memandang miris ke arah mayat yang terbaring di dekat Sin. Gadis itu terlihat begitu belia, gaun merah yang membungkus tubuhnya terlihat menyatu dengan aliran darah yang menggenang di sekitarnya. “Sin, ada apa ini?”
“Aku hanya menikmati hadiah yang kudapat dari Clay,” jawabnya dengan nada dingin.
Ada kalanya Tusk merasa bahwa Sin sangat mengerikan. Dari warna kulit si gadis yang pucat pasi, Tusk bisa memastikan tak ada darah yang tersisa di tubuh malang itu. Tusk melangkah pelan. Kemudian, ketika dia hendak membawa pergi mayat sang gadis, Sin menyela, “Apa yang hendak kaulakukan?”
“Menguburkannya,” jawab Tusk.
“Biarkan saja. Ada pelayan yang bisa membereskan mayat itu.”
Horor. Tusk tidak bisa membayangkan detik-detik ketika Sin mengambil seluruh inti kehidupan sang gadis. Akhir-akhir ini, Sin terlihat seperti ingin melenyapkan apa pun yang ada di dekatnya. Karena itu, Tusk hanya bisa berdiam diri menghadapi Sin.
“Kau sudah mendapatkan sesuatu mengenai gadis itu?” tanya Sin yang kini duduk di dekat jendela. Kedua matanya menyisir elixer yang berlalu-lalang di bawahnya; menundukkan kepala, saling menyapa, kemudian menghilang di balik dinding kastel.
“Aku belum mendapatkan hal apa pun mengenai gadis itu.”
Seekor burung gereja hinggap di ujung jendela. Kedua mata hitamnya menatap Sin. “Begitukah?” Secepat kilat jemari Sin menggenggam burung gereja itu. Burung itu meronta dalam cengkeraman tangan Sin, paruhnya mengeluarkan suara cicitan. “Aku kira mahluk semacam itu akan mudah ditemukan,” katanya. “Namun lihatlah, pandai benar gadis itu menyembunyikan diri.”
“Sin ....” Tenggorokan Tusk tercekat, menyaksikan sang burung berusaha membebaskan diri semakin menambah rasa ngeri dalam diri Tusk. “Tidakkah sebaiknya kita meminta pertolongan dari kaum tertentu?”
Seulas senyum tersungging di bibir Sin. “Benar juga,” ucapnya. “Tentu saja, kita harus meminta pertolongan darinya.” Sin kembali membuka tangannya dan membiarkan burung malang itu terbang.
Tusk menatap iba mayat yang tak seberuntung burung gereja.
Andai saja Tusk datang lebih awal, mungkin gadis itu masih bernapas hingga saat ini.
***
Kylian, sang pangeran hanya bisa terdiam menatap mayat manusia yang dibawa pergi oleh kedua pelayan. Awalnya, Kylian ingin mengunjungi Baginda Lion; bertegur sapa dengan sang ayah dan meminta saran untuk beberapa hal. Namun kini, berdiri di selasar, Kylian tak mampu berucap perihal perbuatan saudaranya.
“Pangeran,” ucap Seva. Pemuda elixer berambut merah dengan sorot mata berwarna hijau. “Rasa-rasanya gadis itu hadiah dari seorang bangsawan bernama Clay.”
Kedua mata Kylian masih menatap kedua pelayan yang membawa pergi mayat sang gadis. Para pelayan itu lenyap dan hanya menyisakan tanda tanya dalam benak Kylian. “Aku tak tahu kalau Sin berkunjung ke kediaman bangsawan itu.”
“Memang tidak,” ucap Seva mengakui. “Clay memang sedikit eksentrik. Terakhir kali aku berkunjung ke pestanya, dia menawariku seorang fana.”
Kylian menoleh ke arah elixer berambut merah itu. “Kau pernah ke sana?”
Seva mengangguk. “Tidak terlalu menarik. Aku sendiri lebih senang memburu mangsaku.”
“Dan ini semakin membuatku bertanya-tanya. Bukankah Sin jarang membawa pulang buruannya ke kastel, namun kini? Pasti ada sesuatu yang membuatnya sedikit merasa resah.”
“Pangeran,” kata Seva. “Ada baiknya Anda tidak meributkan kebiasaan kecil Pangeran Sin. Salah-salah, dia menganggap Anda ingin merendahkan wibawa pangeran itu di depan Baginda Lion.”
Kylian hanya bisa tersenyum mendengar komentar rekannya mengenai adiknya. Tidak diragukan lagi, Sin pasti akan menganggap Kylian berusaha menarik simpati dari sang ayah. “Andai saja kau tahu, rasanya menjadi saudara Sin.”
“Lebih baik,” kata Seva. “Aku tidak mengetahuinya.”