10

1580 Words
“Seharusnya, kau mengikuti saran pemuda itu.” Begitu menjejak tanah, sang jembalang langsung berkomentar sinis, seolah Aria telah melakukan hal yang salah. Tinggi jembalang itu tidak sampai lutut Aria, namun nampaknya ukuran tidak memengaruhi sang jembalang dalam berargumen. Rasa-rasanya, jembalang itu mengingatkan Aria pada neneknya: cerewet. “Kau seharusnya mengiakan ajakan pemuda itu,” lanjut sang jembalang. “Jarang-jarang ada manusia yang muncul di tempat ini.” Aria mengerutkan dahi. Tidak setuju. “Dengar, ya. Tuan ....”  “Namaku Zeno.” “Tuan Zeno,” kata Aria. “Aku sedang dalam masalah besar.” Zeno mengangguk. “Bisa kulihat.” Benar-benar, Aria merasa bertemu duplikat Mirialiana. “Jadi, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku membutuhkan bantuan—” “Kau ingin aku menolongmu?” tebak Zeno. “Setelah apa yang kaulakukan padaku?” “Begini ...,” ucap Aria pelan. “Pertama, burung itulah yang mengejarmu, bukan aku. Kedua, aku akan sangat berterima kasih jika Anda bersedia menolong.” Sejenak, Zeno memperhatikan wajah Aria. Menimbang, akankah dia menolong gadis itu atau mengabaikannya.  “Tolong ...,” pinta Aria. “Hanya Andalah yang bisa menolongku saat ini.” Zeno menghela napas. “Baiklah,” katanya. “Memangnya kau ingin pergi ke mana?” “Reruntuhan Rea,” jawab Aria semangat. “Aku ingin ke sana.” Dahi Zeno langsung berkerut. “Apa aku tidak salah dengar?” Aria mengangguk. “Tidak, aku memang ingin ke sana.” “Nak, tempat itu ... bagaimana cara menjelaskannya padamu. Pokoknya, tempat itu, maksudku jalan menuju ke sana sangat tidak aman untukmu. Seorang diri? Kau gila.” Benar juga. Jembalang itu berkata realistis. Aria tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahaya di luar pembuas dan elixer. Bisa saja, mahluk yang menghadang jalannya dua kali lebih berbahaya daripada seekor pembuas. “Dan,” lanjut Zeno. “Apakah kau juga tahu jalan menuju Reruntuhan Rea?” “Tidak,” jawab Aria lemas. “Sebenarnya, aku tahu siapa yang bisa menolongmu. Hanya saja, dia tidak akan mengantarmu. Dia hanya akan memberikan sedikit bantuan, sementara sisanya; dia tidak peduli.” Lemas. Aria langsung bersandar ke pohon—mencoba mencari sedikit sokongan agar dia tidak tenggelam dalam keputusasaan.  “Nak, hanya saran saja. Bagaimana jika kau meminta bantuan, mungkin pemuda itu bisa membantu.” “Sepertinya itu ide yang tidak bagus.” “Lalu, kau sendiri bisa apa?” Aria menjawab, “Setidaknya aku bisa mencoba.” “Kau adalah manusia paling gila yang pernah kutemui.” Zeno mengembuskan napas dengan berat, sadar bahwa nasihat yang akan diucapkannya pada Aria tidak akan banyak berguna. “Baiklah, kau yang memaksa. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku harus menolongmu.” Kali ini Aria mengangguk. Matanya berbinar. “Aku tahu, kau adalah paman yang sangat baik.” Jembalang itu memutar mata. “Rasa-rasanya, aku telah melakukan sesuatu yang salah.” *** Sin berjalan seorang diri menyusuri selasar kastel, tidak ada hal yang menarik perhatiannya. Pelayan-pelayan mulai hilir mudik di sekitar selasar; membawa nampan, kain, atau peralatan kebersihan. Mereka menundukkan kepala setiap kali melihat kehadiran Sin. Para penjaga pun menundukkan kepala ketika sang pangeran lewat di depannya. Nampaknya, cuaca cerah yang dihantarkan matahari tak mampu menghangatkan suasana hati si pangeran. Diam dan mengamati. Itulah yang dilakukan Sin; dia tidak menyampaikan apa pun dan memilih untuk memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Rambut peraknya terlihat berkilau terkena paparan surya.  Berjalan dalam keheningan, kedua matanya menangkap kemunculan sesosok pria. Dalam balutan baju kekaisaran, Baginda Lion nampak agung dan berwibawa. Mahkota kerajaan bertengger angkuh di kepalanya. Lalu, tepat di sampingnya, berdirilah Kylian.  Tidak perlu menunggu lebih lama lagi hingga saudaranya itu pergi, Sin memilih untuk mendatangi kedua elixer itu. “Saudara,” ucap Kylian. Wajahnya menunjukkan keramahan.  Sin mengabaikan kesopanan yang diperlihatkan si pangeran. Kedua matanya tertuju pada Baginda Lion. “Ayahanda.” Sin memberikan penghormatan dengan cara membungkukkan badan. “Ananda memberi salam.” “Putraku,” kata sang raja. Suaranya terdengar begitu berat, seolah pohon pun akan bergetar jika raja ini meniupnya. “Kudengar kau mengirim pembuas ke sebuah kota, benarkah apa yang diucapkan penasihatku itu?” “Benar,” jawab Sin mengakui. Kepalanya masih tertunduk, sedangkan kedua matanya enggan menatap wajah sang baginda. Baginda Lion bisa menangkap ketidakinginan putranya untuk berbincang. Memaksa Sin untuk mengungkapkan alasan di balik keputusan yang dipilihnya, hanya akan menambah daftar masalah yang tak berkesudahan. “Baiklah,” katanya. “Kau pasti memiliki alasanmu sendiri. Aku hanya berharap, apa pun itu, tidak akan berakibat buruk bagi kekaisaran.” Setelah berucap demikian, Baginda Lion berbalik dan meninggalkan kedua putranya. Jelas, raja pun tidak ingin memperpanjang benang masalah di antara dirinya dan putranya. “Kau tahu,” ucap Kylian. “Kupikir, sikapmu itu terlalu keras.” Kedua mata Sin masih menatap lantai yang dijejaknya. “Tapi memang,” katanya. Kini Sin menegakkan badan. Siap melawan. “Kelemahlembutan hanya dimiliki oleh manusia.” “Sin, aku ini saudaramu—” “Bukan musuhku,” potong Sin. “Sejak kapan elixer bersikap lemah seperti ini?” Kontradiktif dengan sikap defensif Sin, Kylian terlihat mampu menguasai egonya. Dengan mantap dia berujar, “Sin, saudaraku. Siapa pun yang menduduki tahkta kekaisaran elixer, maka dia pastilah elixer yang diagungkan oleh kaumnya. Masalah siapa yang akan menerima mahkota kebesaran itu, biarlah menjadi keputusan Baginda Lion.” Rasanya, bara yang berkobar di hati Sin makin menjadi manakala mendengar Kylian berujar demikian. Tidak. Sin tidak ingin menunjukkan emosinya di depan Pangeran Kylian. “Kita lihat saja,” kata Sin. “Siapa yang akan menang.” *** Sudah lebih dari lima belas menit Ringga meninggalkan gadis itu di hutan sana. Kini, saatnya Ringga menjemput si gadis. Secara sukarela ataupun tidak, gadis itu harus pulang bersamanya. Ringga tidak akan memberikan kelonggaran apa pun untuk gadis itu. Harusnya dia juga memikirkan mengenai tabiat manusia yang diselamatkannya. Berdiri dengan wajah pucat, Ringga tak menemukan sosok yang dicarinya di mana pun juga; tidak di bawah pohon, di sekitar pohon, dia tidak ada di mana pun sejauh mata memandang. Ringga yang malang. Seorang gadis yang mungkin bahkan belum menginjak usia dewasa, gadis itu berhasil memperdayai Ringga. Tidak. Sebenarnya Ringga juga sadar bahwa dia telah lalai dan terlalu meremehkan niatan gadis itu. Tidak ada guna menyesali sesuatu yang telah terjadi. Menyisir sekitar, Ringga berusaha melacak jejak yang mungkin ditinggalkan gadis itu. Kebetulan tanah yang ada di hutan ini teksturnya tidak terlalu padat hingga Ringga bisa melihat jejak-jejak mungil, yang Ringga tebak milik sang jembalang, serta jejak manusia yang sudah bisa dipastikan merupakan milik gadis tersebut. Begitu Ringga menemukan gadis itu, dia sudah memutuskan untuk mengikat kedua tangan dan kakinya agar tidak kabur lagi. Tak pernah menyangka bahwa memburu pembuas dan bertarung dengan elixer terasa lebih menyenangkan daripada mengejar seorang gadis. *** Tusk akhirnya bisa bernapas lega ketika dia berada jauh dari Sin.  Berada di taman utama, Tusk berusaha mengenyahkan bayangan gadis yang sekarat di kamar Sin. Jika pangeran itu sampai meneguk habis seluruh inti sari manusia tersebut, Tusk bisa memastikan bahwa Sin sedang tidak berada dalam kondisi yang baik; setiap detik berada di dekat Sin seperti berjalan di atas hamparan es yang tipis—kapan saja bisa retak. Akhir-akhir ini, Tusk merasa kapan pun Sin siap memenggal kepala siapa pun yang ada di dekatnya. Jika keadaan seperti ini terus berlanjut, Tusk lebih baik membunuh dirinya sendiri sebelum Sin yang melakukannya.  Menghela napas, mencoba membuang seluruh tekanan yang dirasakan Tusk. Pemuda itu mulai menatap tetumbuhan yang ada di sekitarnya; mawar tengah mekar dan mulai menguarkan aroma harum, kupu-kupu dengan sayap berwarna biru gelap terbang di sekitar mawar, sedangkan langit di atas sana nampak cerah tanpa awan yang menghiasinya. Andai saja suasana hati kawannya seindah cuaca di hari ini. “Tusk,” panggil sebuah suara. “Lama tak berjumpa.” Seva, pemuda yang dikenali tusk sebagai tangan kanan Pangeran Kylian, datang menghampiri Tusk.  “Seva,” katanya.  Untuk sesaat, Seva mengamati kuntum-kuntum mawar yang ada di hadapan Tusk. “Mengamati mawar?” tanyanya. “Aku tak tahu, kau mempunyai sisi yang semacam ini.” Tidak bagus. Di saat seperti ini, Tusk bertemu dengan sosok yang tidak terlalu menyenangkan. “Aku hanya ingin menikmati pemandangan, tidak lebih.” “Tentu,” sahut Seva. “Berada di dekat pangeran yang kapan pun memberikan tantrum semacam itu, rasa-rasanya aku sendiri pun belum tentu mampu bertahan.” “Apa maumu?” Tusk tidak ingin berbasa-basi. Hari ini sudah cukup berat baginya. “Perebutan takhta,” katanya. Hening. Tusk tak mampu berkata, bibirnya tiba-tiba seperti terkunci. Sementara Seva sama sekali tidak peduli dengan perubahan air muka Tusk.  “Kau pasti paham,” lanjut Seva. “Antara Kylian dan Sin, kau pasti tahu siapa di antara mereka berdua yang lebih layak memegang tongkat kekuasaan.” “Aku memilih apa yang aku percayai, begitu pula dirimu,” ucap Tusk pada akhirnya. Seva memetik sekuntum mawar yang ada di dekatnya. Kelopak mawar itu terlihat indah ketika berada di dalam telapak tangan Seva. “Itulah yang aku lakukan. Namun kita berdua berbeda, aku memilih sosok yang memang pantas mendapatkannya, sementara kau ....” Jari-jemari Seva yang ramping langsung meremukkan kuntum mawar yang digenggamnya. Kelopak mawar berguguran di atas rumput. “Memilih sosok yang akan dihancurkan; tidak hanya oleh musuh, namun juga elixer yang ada di sekitarnya.” “Sin memiliki dukungan dari ibu suri,” sanggah Tusk. “Itu sudah lebih dari cukup.” “Kau salah. Ibu suri hanya menginginkan pemegang tahkta berasal dari garis keturunan wanita yang dipilihnya. Semua elixer tahu, bagaimana culasnya sang ibu suri. Itukah yang kaubanggakan, Tusk?” Gigilan dingin yang menjalar di tubuh Tusk semakin menjadi. Inilah yang Tusk khawatirkan: penghalang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD