Berjalan melewati kumpulan pohon ara dan waru hitam, Aria memandang lurus puncak kepala Zeno. Jembalang itu nampak sedikit kesal karena harus membuang jamur-jamur hutan yang sudah dikumpulkannya. Rencana memasak makan malam yang nikmat pun harus disampingkan demi menolong seorang anak manusia yang dari wajahnya saja tidak bisa dipercaya. Setidaknya, begitulah pendapat Zeno mengenai Aria; gadis ceroboh yang tidak memiliki masa depan cerah.
“Tuan,” panggil Aria. “Apakah kita berdua akan pergi ke rumahmu?”
“Rumahku?” cibir Zeno, “Tidak. Kita akan pergi mengunjungi seseorang. Ah, dia bahkan bukan manusia, jadi mana bisa aku menyebutnya dengan kata ‘seseorang’?”
“Jadi.” Susah payah Aria menelan ludah untuk melegakan tenggorokkannya. “Siapakah gerangan yang Tuan maksud ini?”
“Tenang saja. Sosok yang akan kita datangi ini tidak berbahaya. Dia bahkan lebih ramah daripada kukuk yang kaubawa untukku.”
“Sekedar informasi. Aku tidak membawa kukuk itu untukmu.”
“Ya, ya,” sela Zeno. “Kau dikejar, sementara aku sial karena bertemu seorang anak manusia.”
Detik itu juga, Aria memilih bungkam—tidak berani mengungkit apa pun mengenai kejadian sebelumnya.
***
Ringga memutuskan untuk meninggalkan kudanya. Lagi pula, dia hanya membutuhkan pedangnya saja. Jejak yang diikuti Ringga membawa pemuda itu melewati daerah hutan dengan vegetasi yang lebih rapat; kumpulan semak ivy dan berry liar menghalangi langkahnya, pepohonan ara dan waru hitam nampak menjulang, lalu pepohonan dengan daun selebar kepala kerbau tumbuh subur di sana-sini. Tempat yang sangat nyaman untuk kediaman jembalang.
Bicara mengenai jembalang, Ringga ingat melihat salah satu di antara mereka dahulu. Sudah lama sekali dari kali terakhir Ringga bertemu dengan jembalang. Dahulu, ketika Ringga hidup bersama ibunya, setidaknya dia akan menemukan jembalang bertopi merah yang selalu memberinya umbi-umbian. Apakah jembalang yang pergi bersama gadis itu juga bersidat sama arifnya dengan jembalang yang bersahabat dengan Ringga dulu, hingga jembalang itu bersedia melakukan permintaan si manusia.
Jejak yang diikuti Ringga akhirnya berakhir. Kini, dia bisa melihat gadis yang dicarinya itu tengah berdiri di depan mulut gua.
Sigap. Ringga berlari dan sebelum target yang diincarnya sadar, dia sudah mencengkeram pergelangan tangan si gadis. “Kena kau!” serunya.
Wajah si gadis nampak pucat. Terkejut. “Apa yang kaulakukan di sini?”
“Apa yang kulakukan? Aku menolongmu.”
“Kau menggangguku,” salak si gadis.
“Kau? Sadarkah apa yang tengah kaulakukan?”
“Aku sadar dan paham sekali. Sekarang,” katanya sembari berusaha menepis cengkeraman Ringga. “Lepaskan aku.”
Benar-benar. Ringga merasa ada yang salah dengan si gadis. “Tidak,” tolak Ringga. “Kita harus pergi. Sekarang.”
“Aku tidak mau. Tidak setelah apa yang harus kulewati. Aku tidak peduli siapa kau, satu-satunya yang kuinginkan adalah masuk ke dalam sana,” tunjuknya pada mulut gua. “Menyelesaikan seluruh perkara.”
“Ehem,” sela suara lain.
Ringga menatap sengit jembalang yang ada di samping si gadis.
“Nak,” katanya. “Bagaimana kalau kau membiarkan gadis ini. Setidaknya bocah itu bisa merasa damai setelah melakukan apa yang diinginkannya, sementara kau, lebih baik jika kau ikut serta bersama kami berdua. Adil, bukan?”
“Apa? Mengajaknya? Yang benar saja!”
“Bagaimana?” tanya si jembalang mengabaikan makian si gadis.
“Aku ikut,” jawab Ringga.
***
Aria sudah memutuskan, apa pun yang terjadi, dia tidak akan ikut ke kota utama. Aria ingin mengungkap rahasia yang disembunyikan oleh sang pustakawan. Kematian yang terus menari di benak Aria; saat di mana Aran mengembuskan napas dan meninggalkan Aria untuk selamanya. Dia berpendapat bahwa semua petaka itu disebabkan oleh kalung yang dibawanya. Semoga saja, mahluk apa pun yang nantinya akan dijumpai Aria di dalam sana, bisa menolongnya menemukan jalan menuju Reruntuhan Rea.
“Nak,” panggil si jembalang. “Apa kau seorang Penjelajah?”
“Namaku Ringga,” katanya. “Seperti yang kaulihat, aku seorang Penjelajah.”
Perjalanan menyusuri lorong gua—yang Aria pastikan tidak akan dilakukannya lagi—terasa begitu menjengahkan. Dinding gua yang seperti tulang keropos membuat Aria waswas. Takut, jika ada sesuatu yang bersembunyi di dalam cekungan gua. Meskipun jalan yang mereka bertiga lalui tidaklah sempit, bahkan mereka bertiga bisa berjalan tanpa saling mengganggu satu sama lain, tetap saja Aria merasa ada yang tidak beres dengan aroma tempat ini.
Semakin dalam mereka bertiga masuk, maka Aria bisa melihat bahwa pada dinding-dinding gua terdapat sejenis lumut yang memendarkan cahaya berwarna biru. Udara basah pun mulai menyergap pernapasan Aria.
Berhenti. Mereka bertiga bisa melihat sosok yang bersembunyi di antara kegelapan; membaur bersama pekat dan berkata, “Akhirnya, aku mendapatkan sebuah kunjungan.”
Aria membeku. Kedua kakinya seolah tersihir dan tidak mau mendengarkan perintah Aria. Kedua matanya menatap lurus sesosok wanita. Dia duduk di dekat mata air yang terdapat di dalam gua. Mungkin itulah yang menyebabkan udara terasa lembab. Ditambah lagi, Aria merasa kesan angker setiap kali menatap sosok wanita itu; gaunnya berwarna gelap, tangan dan kakinya dilingkari rantai, rambutnya bergelombang; panjang mengikal hingga menyentuh tanah, wajah dan kulitnya sepucat rembulan, dan pengelihatannya ditutup oleh secarik kain berwarna hitam.
“Nyonya,” kata Zeno. “Ada seseorang yang ingin menemuimu.”
“Ya,” jawabnya. “Aku memang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.”
Aria tidak mengerti. Jika saja wanita itu berkata menunggu kedatangan salah seorang di antara mereka, Aria bisa memahami itu, namun dua orang? Mungkinkah pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Ringga ini juga .... Tidak. Dia tidak boleh menyimpulkan sesuatu secara tergesa-gesa.
“Jadi,” ucap Aria memecah keheningan. “Anda sudah mengetahui kedatangan kami berdua?”
“Tentu,” jawabnya. “Jauh sebelum kau dilahirkan ke dunia, aku sudah menunggu begitu lama. Di sini ... dalam ketiadaan ini. Seorang diri. Kau tak tahu, betapa berdukanya aku dihukum ... tanpa cahaya.”
“Kau dihukum?” tanya Ringga.
“Ya,” ucap si wanita membenarkan. “Kepedihan yang kurasakan berkalilipat lebih menyakitkan daripada lara yang kaurasakan, anak lelaki yang terlahir dalam kegelapan.”
Sontak, bulu kuduk Aria meremang. Ada apa ini? Aria tidak mengerti.
“Terpenjara,” lanjut si wanita dengan suara parau. “Hatiku terus mendamba, namun pemilik hati ... dia tak akan pernah kembali padaku. Aku menangis.” Wanita itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Merana, tersisihkan. Sungguh kejam dia yang telah melakukan ini.”
“Siapa?” tanya Aria.
Perlahan-lahan, wanita itu memperlihatkan wajahnya. “Oh ... apakah kau benar-benar ingin mengetahuinya? Siapa yang membuatku menderita? Tidakkah ada hal lain yang ingin kautanyakan?”
Aria tidak menjawab. Dia hanya mengangguk.
“Jika kalian berdua ingin mengetahui rahasia dan pertanyaan yang ada di dalam hati kalian. Kemarilah.” Wanita itu merentangkan kedua lengannya. “Minumlah dari mata air ini. Jika kalian berani, namun sebelum itu. Aku menginginkan sebuah hadiah.”
Jembalang itu menyikut kaki Aria. “Berikan sesuatu. Kau pasti punya, kan?”
Pasrah. Aria merogoh sesuatu dari sakunya. Dikeluarkannya beberapa berry yang didapatnya dari Seilah. Pelan-pelan Aria mengulurkan berry tersebut ke telapak tangan si wanita. Lalu, wanita itu langsung menelan berry yang Aria sodorkan.
“Ini ...,” ucap si wanita terbata. “Buah sihir. Gadis malang, kau terlalu baik.”
Tak paham dengan racauan sang wanita, Aria hanya diam memandang gelagat aneh si wanita. Wanita itu duduk bersimpuh di atas lantai gua, menangis, tertawa, sementara kedua tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri.
Kini, Aria sadar apa yang dimaksud wanita itu dengan buah sihir.
Kain yang menutupi kedua mata si wanita itu pun perlahan-lahan mulai menipis; memudar menjadi udara tipis kemudian lenyap. Nampaklah kedua mata berwarna ungu pekat yang menatap Aria. “Nah,” katanya. “Beranikah kalian meminum air dari mata air ini?”
“Ya,” jawab Aria. Tidak ada keraguan. Dia tidak perlu takut. Kalaupun nantinya air itu beracun, Aria akan mengutuk wanita itu dalam wujud astralnya.
“Dan kau?” tanya si wanita pada Ringga. “Telah dinubuatkan dalam takdirmu, wahai bocah pengelana. Sudikah kau meneguk tetes kebenaran dari mata air ini?”
Tak menjawab. Ringga melangkah di samping Aria. Dia langsung duduk bersimpuh dan mulai mereguk air yang ditawarkan padanya. Aria pun melakukan hal serupa, mengambil setangkup air yang terasa dingin di telapak tangannya, menenggak air dan merasakan aliran dingin yang menerjang tenggorokkannya. Awalnya dia merasakan sensasi manis di ujung lidahnya, namun kemudian rasa itu berganti dengan sesuatu yang pahit. Tenggorokkan Aria seperti tercekik. Terhuyung-huyung, Aria berusaha menjauh dari mata air; kedua tangannya berusaha mengeluarkan apa pun yang telah Aria teguk. Pelan tetapi pasti, kedua mata Aria kehilangan kemampuannya, benaknya melemah, dan dia bisa merasakan dinginnya lantai gua.
***
Ruthven, pangeran elixer itu masih saja memikirkan gadis yang dijumpainya di hutan sana. Rasanya, dia ingin merasakan hangatnya darah yang dimiliki oleh fana tersebut. Kedua tangannya ingin mendekap sosok yang tercipta dalam kerapuhan itu. Andai saja Ruthven tahu, siapa gerangan gadis itu.
Dan kini, pangeran itu memberanikan diri untuk menyelinap; pergi keluar dari kastel elixer dan menyamarkan diri dalam balutan jubah berwarna kelabu.
Sempurna. Kini tak seorang pun mampu mengenali sosok yang bersembunyi di balik jubah kelabu tersebut.
Beruntung. Ruthven menyempatkan diri membuntuti gadis yang dijumpainya itu. Mengejutkannya, gadis itu tinggal bersama para biarawati. Ruthven menebak, mereka semua adalah nun; wanita yang mendedikasikan diri kepada Yang Kuasa.
Perjalanan menuju biara yang ditempati gadis itu tidaklah sulit. Bagi Ruthven, jarak sejauh apa pun tidak akan melemahkannya. Elixer murni, tak akan terpengaruh pada apa pun.
Berada di antara para manusia; Ruthven bisa mendengar suara jantung yang berdegub di antara tulang-tulang rusuk, mendengar celoteh anak-anak yang bermain riang, dan mencium aroma roti manis yang dipanggang oleh para istri. Desa mungil, tempat yang jauh dari peradaban. Namun anehnya, tempat ini justru lebih hidup.
Inikah tempat yang ditinggali oleh gadis yang dicarinya?
Pangeran itu mencoba menikmati setiap panorama yang ada di sekitarnya. Inilah jenis kehidupan fana. Inilah yang dilakukan para fana. Inilah .... Ruthven mencoba memusatkan pikirannya, dia harus segera menemukan gadis itu.
Setelah melewati keramaian, Ruthven akhirnya sampai ke sebuah biara.
Bangunan itu berdiri di atas bukit—jauh dari pemukiman desa yang ada di bawahnya. Kisi-kisi jendela di hias dengan ukiran elok, cerobong asap di salah satu bangunan mengepulkan asap putih, sementara di sekitarnya bebungaan tengah mekar-mekarnya.
Ruthven bisa merasakannya. Gadis itu ada di sini.
Tapi tidak. Ruthven tidak boleh memperlihatkan keberadaannya. Karena itu, dia memilih untuk menyembunyikan diri di antara belukar mawar liar—melihat dari jauh tanpa ikut andil dalam kegiatan.
Menyesakkan, sudah sampai sejauh ini namun tak kunjung jua mampu menyentuhnya. Haruskah Ruthven masuk ke dalam sana? Mencari setiap ruang yang ada, lalu membawa pergi si gadis saat itu juga?
Tidak boleh .... Apa jadinya jika saudara-saudara Ruthven yang culas itu mengetahui perbuatan Ruthven? Mereka pasti akan menertawakan kebodohannya.
Tak lama kemudian, Ruthven melihat seorang nun yang keluar.
Jantung Ruthven berdegub kencang. Euforia mulai memenuhi benak Ruthven.
Gadis itu .... Tidak salah lagi, dialah yang Ruthven cari.
Kain yang menutup rambut si gadis melambai-lambai ketika angin meniupnya. Ruthven bisa melihat bahwa gadis itu tengah membawa sesuatu dalam dekapannya. Gadis itu berjalan menjauh meninggalakan biara. Diam-diam, tanpa suara, Ruthven pun mengikuti si gadis.
Gadis itu melangkah ringan, seolah tak ada tekanan yang mengejarnya, dia bebas dan mampu melakukan apa pun yang diinginkannya. Lalu, sesampainya di sebuah tempat yang dipenuhi dengan peony, gadis itu menghentikan langkahnya. Segera ia duduk di bawah pohon persik yang tengah berbunga; membuka buku yang dibawanya dan mulai membaca.
Jadi itulah yang dibawa sang gadis; sebuah buku.
Ruthven mengamati bagaimana gadis itu menatap tiap barisan kalimat yang terlukis di lembaran kertas. Khusuk dalam dunianya sendiri—tak menyadari keberadaan elixer yang ada di dekatnya.
Inilah yang selama ini menghantui mimpi-mimpi Ruthven: seorang anak manusia.
***
Ringga tak merasakan apa pun; air yang diteguknya itu terasa hambar.
Lalu dia mendengar suara rubuh. Segera Ringga menoleh ke samping dan mendapati Aria memegang lehernya seolah udara yang ada dalam tubuhnya tertarik keluar—meninggalkan tubuhnya. Mengabaikan sekitar, Ringga segera menarik tubuh Aria dan mulai menepuk pipi si gadis.
“Sadarlah!” teriaknya. “Hei, apa yang terjadi dengannya?”
Ringga menatap sumber dari segala perkara yang menimpa Aria. Namun, wanita itu hanya berkata, “Dia baik-baik saja.”
“Apanya yang baik-baik saja?” bentak Ringga. “Air itu. Beracun.”
“Maka kau pun akan mengalami hal serupa,” tandas si wanita. “Jika air itu beracun.”
Diam. Ringga mendekap Aria yang kini terbaring lemah dalam pelukannya.
“Gadis itu baik-baik saja,” sela Zeno. “Percayalah.”
“Anak yang lahir dalam kegelapan,” lanjut si wanita. “Air itu tak akan memberikan pengetahuan kepadamu. Kau bertanya, ‘Mengapa aku harus meminumnya?’ Maka aku jelaskan padamu, aku hanya ingin membuktikan kepadamu sisi yang ingin kaujauhi itu.”
Ringga berusaha menahan amarah. Kedua matanya menatap nyalang wanita bergaun gelap.
“Aku menjaganya. Mata air ini ... karena aku merana. Wahai pemuda yang senang mengabaikan takdir yang dinubuatkan padamu. Sudah tertulis, di sana bahwa kau akan diberikan sebuah pilihan. Perlahan tetapi pasti, darah fana yang ada pada tubuhmu akan memudar. Sementara itu, akankah engkau menerima apa yang ada dalam dirimu?”
“Aku tidak mengerti,” kata Ringga. “Apa maksudmu?”
“Air ini tidak akan berefek pada seorang elixer. Tidakkah kau merasakannya? Hambar. Pergilah bersama anak manusia ini. Percayalah pada apa yang dipilihnya. Itulah saranku.”
Setelah berkata demikian, wanita itu mulai melangkah mundur. Sulur-sulur tanaman rambat mulai menutupi tubuh sang wanita; membelit seluruh anggota tubuhnya. Dan ketika tanaman itu menutupi tubuh sang wanita secara sempurna, seluruh tangkai tanaman meluruh—berjatuhan di atas lantai gua. Hingga hanya menyisakan sekuntum lotus berwarna hitam. Satu per satu kelopak lotus berguguran, tangkainya menguning dan akhirnya layu dalam ketiadaan.