“Bangun.” Perlahan-lahan, Aria mencoba membuka kedua matanya. Serta-merta cahaya menyilaukan pengelihatannya. Butuh beberapa detik bagi Aria untuk menyesuaikan diri. Dan ketika dia sudah mampu untuk melihat, wajah Ringga nampak cemas. “Kau,” tanyanya, “baik-baik saja?” Terbaring lemas. Aria merasa sengatan di belakang kepalanya. “Ada apa ini?” ucapnya lemah. “Kenapa kita ada di luar? Ke mana Tuan Zeno? Lalu wanita itu?” Sebenarnya, ketika wanita itu menghilang, gua serta segala hal yang ada di sekitar mereka tiba-tiba saja berubah menjadi ketiadaaan—lenyap. Tentu saja, Ringga tahu sosok sejati wanita tersebut: nymph yang dikutuk. Entahlah, apa pun yang menyebabkan nymph itu berakhir di dalam sana, Ringga bisa pastikan bahwa perbuatan yang dilakukan nymph itu pastilah tak termaafkan. “

