13

1374 Words

Pagi datang membentangkan semburat jingga di ufuk sana. Burung-burung berterbangan, embun menyelimuti dedaunan, sementara para tupai mulai keluar dari sarang dan saling berkejaran.  Aria pun terbangun dari tidur. Kedua matanya masih terasa berat, namun setidaknya rasa sakit yang ada di kepala sedikit berkurang. Berada tak jauh darinya, Ringga mulai merapikan pelana kuda; bersiap meninggalkan hutan. Aria bisa melihat sisa api unggun yang kini hanya berwujud abu dan arang. Perlahan-lahan gadis itu berusaha untuk bangkit. Sadarlah Aria kepada sesuatu yang menutupi tubuhnya—mantel milik Ringga. “Ini,” katanya. “Aku tidak memiliki selimut,” ucap Ringga menyahut. Pemuda itu berjalan mendekat, memastikan keadaan Aria. “Kau baik-baik saja?” Berdiri menjulang di hadapan Aria. Ringga, pemuda itu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD