“Apa maksudmu untuk menjauhi Darren? Dia hanya teman satu perusahaan dan aku tidak mungkin mendekati pria milik sahabatku sendiri." Ucap Khalisa.
Arsen terkekeh mendengar pembelaan Khalisa. Tatapan begitu meremehkan. “Aku percaya jika Darren hanya menganggapmu teman, tetapi untuk wanita murah*n sepertimu sungguh tidak bisa di percaya. penuh kemunafikan!!" Lagi, Arsen menunjuk wajah istrinya.
“Cukup Mas!! cukup kamu mengatakan aku wanita munafik!!" Khalisa langsung memejamkan matanya, untuk mengendalikan emosinya. setelah beberapa saat barulah dia membuka matanya kembali.
“Aku mengatakan yang sebenarnya Khalis, kamu itu penuh kemunafikan, wanita yang memiliki ribuan wajah." Arsen menyunggingkan sudut bibirnya.
Khalisa menggelengkan kepalanya, “Terserah kamu saja mau bicara apa tentangku, aku tidak perduli." Pasrahnya, lantaran dia merasa bicara dengan pria seperti Arsen tidak ada gunanya.
“Baguslah kalau kamu sadar diri dan satu lagi, jangan pernah menyebut Alexia sebagai pelak0r" Ujar Arsen, dia membalik tubuhnya dan hendak berlalu dari hadapan istrinya.
“Memangnya ada yang salah dengan ucapanku, Mas? Nona Alexia memang kenyataannya saat ini menjadi orang ketiga di pernikahan kita." Khalisa mundur satu langkah untuk menjaga jarak pada suaminya.
Arsen mengepalkan kedua tangannya erat sampai buku-buku kukunya memutih. “Sudah aku katakan, kamulah yang merusak hubunganku dengan Alexia, Khalisa!!" Teriak Arsen tidak menerima jika kekasihnya di tuduh sebagai orang ketiga.
Khalisa tersenyum tipis. “Aku tidak merusak hubungan siapapun, kamulah yang merusak yang melakukan dengan sadar. sudah aku bilang, kamu punya pilihan, tetapi kamu lebih memilihku. bahkan kamu mengingkari janjimu pada Nona Alexia, Mas."
Meskipun sudah mendapatkan kekerasan fisik, Khalisa masih saja berani melawan Arsen, padahal lehernya masih sakit. namun bagi Khalisa selama dia tidak melakukan kesalahan, tidak perlu takut untuk melawan.
Arsen melebarkan matanya dan kepalan tangannya semakin erat, rahangnya mengeras dengan tatapan mata yang tajam.
Dia sadar sudah mengingkari janjinya pada Alexia, namun semua itu terjadi karena dia berada di bawah pengaruh Alkohol. dalam keadaan tidak sadar. Jika dalam keadaan sadar, dia tidak akan sudi menyentuh Khalisa.
“Kamu jangan merasa bangga, aku menyentuhmu karena dalam pengaruh Alkohol, jika aku tidak mabuk, jijik aku menyentuh tubuhmu, Khalisa." Meskipun menyakitkan, Khalis tetap tersenyum di balik cadarnya.
“Berhentilah menyalahkan Alkohol Mas, kamu tidak sepenuhnya dalam pengaruh minuman, bahkan kamu masih bisa membedakan antara aku dan Nona Alexia, jangan lupa, kamu juga memuji kecantikanku." Khalisa kembali mengingatkan kejadian malam kelam itu.
Meskipun menyakitkan, dia juga mengucapkan kalimat yang membuat Arsen membeku, dia memang memuji kecantikan Khalisa, dan tidak sepenuhnya mabuk.
“Kamu bisa berhenti melakukannya Mas, tetapi kamu tetap menikmatinya." Lanjut Khalisa, kedua sisi tangannya mengepal, dirinya merasa rendah dan hina jika mengingat malam itu. Namun demi menampar ucapan Arsen, dia membutuhkan keberanian.
“Omong kosong apa yang kamu ucapkan Khalisa." Khalisa mengangkat kedua bahunya acuh, dia mengatakan kenyataan yang sesungguhnya.
“Aku rasa Nona Alexia belum mengetahui hal ini kan? Menurutmu bagaimana reaksinya kalau sampai tahu, pria yang di cintainya telah mengingkari janji?"
Arsen mengeraskan rahangnya, Khalisa semakin berani menantangnya. apakah yang dia lakukan tidak cukup membut wanita itu tunduk? atau memang seperti itu sifat aslinya yang berani menantang dan tidak pantang menyerah untuk mencapai tujuannya?
“Sungguh tidak tahu malu, aku menyentuhmu bukan karena ingin, tetapi sengaja untuk menghancurkan kehidupanmu Khalisa." Arsen menyeringai merasa puas membuat Khalisa lebih hancur, namun harapan itu sirna setelah mendengar kekehan kecil dari istrinya.
Khalisa maju satu langkah, menghentikan kekehan itu dan membalas tatapan suaminya. “Kenapa aku harus malu Mas? kita menikah Sah secara Agama dan Negara, kamu suami ku, halal menyentuhku dan sudah menjadi kewajibanku memberikan hak itu padamu, lalu di mana letak kehancuran ku?" Khalisa sedikit memiringkan kepalanya. Wanita itu kembali tersenyum dan tatapnya seakan meledek.
Arsen benar-benar tidak menyangka jika Khalisa bisa membuatnya bungkam, wanita itu terlihat tenang, tatapannya begitu teduh, namun baginya tatap itu meledek dirinya.
“Yang seharusnya malu itu kamu dan Nona Alexia, tidak memiliki ikatan yang sah." Lanjut Khalisa
“Alexia kekasihku, jelas aku dan dia memiliki ikatan yang.. "
“Memangnya hubungan kalain berdua punya buku bersampul Garuda Indonesia kayak punya kita bedua? berzina kok di sebut bangga sih Mas?" Sela Khalisa menggelengkan kepalanya.
Arsen kembali terdiam, jelas tidak ada buku remsi orang pacaran, lain halnya dengan buku nikah seperti miliknya dan Khalisa.
“Jaga ucapan mu Khalisa, aku dan Alexia tidak berzina" Tegasnya, membuat Khalisa menaikan sebelah alisnya.
“Pacaran dianggap sebagai perbuatan yang mendekati zina dan hukumnya haram. sedang kalian bedua, pangku-pangkuan saling memberikan pelukan, Nauzubillahiminzalik, tobat Mas." Jawab Khalisa. Berlalu begitu saja dari hadapan suaminya.
Arsen tercengang mendengar kalimat istrinya. “Sial!! dia berani menantangku!" Meninju ke udara saking kesalnya.
“Kamu benar-benar tidak bisa di andalkan, Arsen, hanya menghadapi wanita seperti Khalisa saja tidak mampu." Tiba-tiba Tuan Adnan datang dari arah ruang tamu.
Arsen menoleh, ekspresinya masih datar dan penuh kekesalan. bukan dia yang tidak bisa di andalkan, tapi Khalisa yang terlalu berani.
“Aku menikahkan kalian untuk mendapatkan keturunan, buat wanita itu hamil dan melahirkan anakmu, setelah itu lakukan sesuai keinginanmu."
Arsen masih diam, melakukan satu kali saja sudah membuatnya menyesal, apa lagi sampai membuat Khalisa hamil.
“Aku... "
“Buat dia patuh, tetapi bukan dengan kekerasan, dapatkan hatinya dan buat dia jatuh cinta padamu, lahirkan keturunanmu, setelah itu buat dia hancur berkali-kali lipat." Sela Tuan Adnan memberikan perintah.
Arsen masih diam dan menatap tajam ayahnya, dia membenci Khalisa, lalu bagaimana caranya membuat wanita itu jatuh cinta. Tetapi ucapan Ayahnya ada benarnya. Jika Khalisa mempercayainya dan jatuh cinta padanya, sakit yang Khalisa dapatkan akan berlipat ganda.
“Aku butuh waktu."
Tuan Adnan manggut-manggut. “Jangan membuat Ayah kecewa, Arsen, lakukan demi kebahagiaan Alana." Ucap Tuan Adnan.
Arsen mengangguk, Darren terang-terangan mengatakan mencintai Khalisa di depan adiknya, dan membuat Alana menangis.
“Bukan hanya untuk Alana, tetapi juga untuk.. "
“Ayah tidak perduli untuk siapa saja kamu melakukannya, yang jelas harus ingat tujuan awalnya. Buat wanita itu sadar siapa dirinya." Sela Tuan Adnan, dia tau siapa yang akan Arsen sebut. Saking tidak setujunya dengan Alexia, sampai enggan mendengar namanya.
“Aku mengerti."
Tuan Adnan manggut-manggut pelan. “Biarkan dia kembali bekerja di kantor pusat."
Arsen menaikan sebelah alisnya. Kantor pusat adalah tempatnya bekerja. Apakah Ayahnya ingin mempublis pernikahannya dengan Khalisa?
“Jangan khawatir, Ayah tidak mengubah permintaanmu." Tuan Adnan mengerti ke khawatir putranya
Arsen menghela nafas lega, jangan sampai ada yang tahu, karena itu akan menghancurkan Alexia dan membuatnya semakin rumit.
Entah apa maksud Ayahnya meminta Khalisa kembali bekerja dan di kantor pusat, Alexia sering datang ke perusahaannya, bagaimana kalau keduanya bertemu dan beradu mulut lagi.
Sementara di dalam kamar, Khalisa mendapatkan pesan dari Tuan Adnan, yang mengatakan dirinya mulai besok kembali bekerja di kantor pusat.
Khalisa menatap layar ponselnya, dia merasa tengah berada di lingkaran keluarga aneh. Bukankah Tuan Adnan sendiri yang memintanya untuk berhenti bekerja, lalu sekarang memintanya kembali bekerja.
“Alhamdulillah, setidaknya aku mendapatkan penghasilan." Gumamnya.
Dia belum mendapatkan uang naskah dari Arsen, setidaknya uang hasil kejarnya nanti sebagian bisa dia tabung dan sebagainya bisa membantu Bunda Maura.
Entah sebagai apa dia bekerja, yang penting halal dan mendapatkan bayaran, tentunya jika di kantor pusat, gajinya lumayan tinggi.
Drttt
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk, setelah melihat siapa yang menelponnya, Khalisa segera mengangkatnya.
Alana: Assalamualaikum, Halo Khalisa.
Khalisa: Waalaikumsalam, Alana, ada apa?
Alana: Aku dengar, besok kamu mulai bekerja lagi di kantor pusat?
Tanya Alana dengan nada yang begitu riang dan penuh semangat. Khalisa mengangguk seolah-olah sahabatnya bisa melihat dirinya.
Khalisa: Alhamdulillah, Alana, Tuan Adnan masih memberikan aku kesempatan bekerja.
Alana: Hmm, besok Darren juga mulai bekerja di kantor pusat. Nanti setiap makan siang aku akan mengunjungi kalian berdua dan membawa makanan kesukaan kita.
Khalisa tersenyum, sungguh dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Alana, selalu memberikan semangat dan dukungan penuh.
Alana selalu ada untuk dirinya, membantu dirinya ketika dalam kesulitan, mendengar ceritanya ketika dia tengah bersedih. Memberikan pelukan hangat ketika dia merindukan Ibu nya.
Alana menjadi garda terdepan, setiap kali ada yang menindasnya, mengatakan dirinya anak Har*m.
Khalisa: Baiklah.
Mereka berdua mengobrol lewat sambungan telepon cukup lama, memang seperti itu, Khalisa bisa lebih terbuka dengan sahabatnya, dia tidak pernah menutupi apapun dari Alana, semua tentang dirinya, Alana mengetahui semuanya, kecuali perlakuan Arsen, Khalis tidak menceritakan hal itu.
Tanpa diceritakan Alana tentunya sudah mengetahui bagaimana perlakuan Arsen padanya. Khalisa menghela nafas panjang, dia menatap ke arah jendela kaca kamarnya.
“Untung saja aku masih punya Alana dan Bunda Maura." Gumamnya, dua wanita yang menjadi sandaran ketika dirinya sedang lelah.
Dia bangkit dari duduknya, meletakkan ponselnya di atas meja, sebelum tidur, Khalis ingin melakukan sholat malam. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang terbuka dengan cukup keras.
Braakkk