Bab 13

1440 Words
Khalisa menghela nafas berat, ketika melihat siapa yang membuka pintu kamarnya. “Ada apa lagi, Mas?" Tanya Khalisa. Arsen membawa langkahnya masuk ke dalam kamar istrinya, dia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Khalis. Dia mendekat ke arah ranjang dan tiba-tiba saja menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tanpa basa-basi terlebih dulu dan tanpa memperdulikan Khalisa yang terheran-heran dengan tingkahnya. “Mau sampai kapan kamu menatapku?" Ucap Arsen tanpa membuka matanya. Khalisa menggeleng kecil. “Mas Arsen mau tidur di kamar ini?" “Kamu istriku dan aku berhak untuk berada di kamar yang sama denganmu." Khalis manggut-manggut, memang tidak ada larangan Arsen berada di kamarnya, tapi masalahnya, apakah pria tersebut sudah melupakan ucapannya tadi? kenapa sekarang tiba-tiba ingin tidur bersamanya di kamar yang sama. “Tidur Khalisa, jangan sampai besok kamu terlambat dan ingat, jangan katakan pada siapapun jika aku adalah suamimu." Khalisa tersenyum tipis. “Hmm" Gumamnya, lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Arsen kembali membuka matanya setelah mendengar suara pintu kamar mandi tertutup. Pria tersebut mengeraskan rahangnya, jika bukan karena permintaan sang Ayah, sungguh tidak sudi dia berada di kamar yang sama dengan wanita seperti Khalisa. Arsen bukan orang yang pandai untuk berpura-pura, dia tidak bisa melakukan perannya, dia tetaplah dirinya sendiri yang tidak menyukai Khalisa. Hanya satu malam berada di kamar yang sama membuatnya sangat tersiksa. Pikirannya tidak tenang dan terus mengutuk dirinya sendiri. rasa bersalahnya pada Alexia semakin mendalam. Keesokan paginya, Khalisa sudah siap, begitu juga dengan Arsen. “Khalisa, kamu naik ojek atau taksi aja, aku gak mau kalau sampai orang kantor ada yang lihat kamu naik mobil yang sama denganku." Ucap Arsen Khalisa terdiam untuk sejak, lalu menganggukkan kepalanya, kemudia dia menyodorkan telapak tangannya, membuat Arsen menaikan sebelah alisnya. “Apa?" “Salim Mas." Wajah Arsen memerah karena malu, dia pikir Khalisa meminta uang padanya. Dengan sedikit kecanggungan Arsen menyodorkan tangannya. Ada getaran aneh di hatinya ketika Khalisa mencium punggung tangannya. “Aku berangkat duluan Mas, Assalamualaikum." Arsen mematung menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. “Waalaikumsalam" Jawabnya cukup pelan, dia menatap punggung tangannya. Alexia belum pernah melakukan seperti apa yang Khalisa lakukan. ada perbedaan antara keduanya, detik kemudian Arsen menggelengken kepalanya, kenapa harus membandingkan dua orang yang berbeda. ** Bukan tidak ada taksi ataupun ojek online, Khalisa lebih memilih naik angkot yang biayanya lebih murah. Dia turun tepat di depan gerbang perusahaan. Matanya menatap gedung pencakar langit yang begitu tinggi. Beberapa karyawan sudah mulai berdatangan. “Bismillahirrahmanirrahim" Gumamnya melangkah masuk mengikuti karyawan lainnya. namun sampai di pintu utama langkahnya terhenti ketika salah satu penjaga keamanan memanggil namanya. “Mbak Khalisa." Khalisa menghentikan langkahnya. “Iya Pak." Jawabnya. “Anda OG baru yang menggantikan Mbak Melda kan?" Khalisa tersentak kaget. OG? bukankah suaminya semalam mengatakan dirinya menjadi karyawan biasa di bagian pemasaran. “Apa bapak tidak salah orang? semalam suam.. " “Tidak ada yang salah, namamu Khalisa Hana Azzahra kan?" Sambung seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang Khalis. Khalisa menoleh, dia menganggukkan kepalanya, benar itu namanya. “Iya Mbak, itu nama saya." “Kalau benar itu namamu, berarti tidak ada yang salah, kamu menggantikan Mbak Melda yang baru saja cuti melahirkan." Ujar wanita cantik itu. Khalisa terdiam sejenak sampai beberapa detik kemudian dia melihat mobil suaminya memasuki gerbang perusahaan. Kedatangan Arsen membuat mereka sedikit menundukkan pandangannya. pria tersebut turun dari mobil mewahnya, sebelum berjalan dia membenarkan jas mahalnya terlebih dulu. Mata para kaum hawa tentunya menatap penuh pujaan, pria tampan dan mapan, siapa yang tidak tertarik. Arsen melangkah dengan gagah menuju pintu utama. Khalisa berdiri menatap suaminya yang semakin mendekat dan melewati dirinya begitu saja. Khalisa menoleh. “Tuan Arsen, tunggu!" Arsen menghentikan langkahnya, melirik sekilas. “Ada apa?" “Bukannya semalam anda mengatakan saya bekerja di bagian pemasaran, kenapa Mbak ini mengatakan kalau saya di bagian OG?" Arsen menaika sebelah alisnya. “Menurutmu apakah kamu layak berada di bagian pemasaran dengan pendidikanmu yang tidak setara dengan mereka?" Khalisa tidak percaya mendengar ucapan Arsen, di kantor cabang dia berada di posisi pemasaran, tidak ada masalah dan tidak pernah membuat kesalahan. Lalu untuk pendidikannya meskipun hanya sampai di S1 saja tidak membuatnya kalah dari yang lebih tinggi,kemampuannya tidak di ragukan lagi, namun saat ini dia merasa kalau Arsen sengaja sedang mempersulit dirinya dan mempermalukannya. Khalisa manggut-manggut paham. “Saya mengerti Tuan, baiklah di manapun saya ditempatkan tidak masalah." Arsen menyunggingkan sudut bibirnya, di perusahaan ini akan menjadi neraka kedua untuk Khalisa. Siapapun bisa menindasnya. Khalisa berjalan mengikuti petugas keamanan menuju ruangan khusus OG. “Khalisa!!" Suara yang tidak asing itu kembali menghentikan langkah Khalisa, tidak terkecuali Arsen yang berdiri di depan lift. Tatapannya begitu tajam, dengan kedua tangan yang mengepal erat melihat interaksi antara istri dan calon adik iparnya. “Kamu pasti belum sarapankan? ini ada titipan dari Alana." Darren menyodorkan paper bag kearah Khalisa. Khalisa melirik sekilas kearah paper bag tersebut lalu tersenyum. “Terimakasih" jika dari Alana dia pasti menerimanya, namun jika bukan dari sahabatnya dia tidak akan menerima nya. Darren mengangguk sembari tersenyum, dia merasa sangat senang bisa pindah ke perusahaan pusat milik keluarga Zionathan. Padahal dirinya juga seorang pewaris tunggal di keluarganya. Guna mendekati Khalisa, dia rela bekerja di anak perusahaan keluarga Alana. dan sekarang dia meminta bantuan tunangannya untuk pindah ke perusahaan pusat. ** “Khalisa, kamu bersihkan seluruh toilet dari lantai satu sampai 35" Khalisa melebarkan matanya tidak percaya, lantai satu sampai 35, sungguh tidak mungkin. “Mbak, bukannya sudah ada bagiannya perlantai nya?" Wanita tua mengangguk, memang sudah ada bagian masing-masing. namun semua atas perintah atasannya. Dia tidak mungkin menolak perintah. “Lalu kenapa aku.. " “Jangan banyak protes dan kamu tidak boleh istirahat sebelum semuanya selesai." Lagi-lagi ucapan itu membuat Khalisa terhenyak kaget, bagaimana bisa dia tidak boleh istirahat. Bukankah ini sudah melanggar hak karyawan. “Ini sudah melanggar UU ketenagakerjaan loh, aku bisa melaporkan ke Disnaker." Wanita Tua itu terlihat kebingungan, dia tidak tau apa yang Khalisa bicarakan. Yang dia tahu hanya kerja dan petuh pada pemilik perusahaan. “Khalisa, orang seperti kita tidak usah ribet, gak bakalan menang melawan orang besar, udah sana kerja." Wanita tua tersebut menyodorkan alat bersih-bersih pada Khalisa. Sementara itu di dalam ruangan Arsen menarik sudut bibirnya, dia mendengar jelas setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya. “Nona Khalisa sebenarnya bukan wanita yang mudah di tindas, dia cerdas dan berpemikiran luas, mengerti tentang UU ketenagakerjaan." Ucap Galen. Arsen mengakui akan hal itu, istrinya memiliki kecerdasan dan tidak mudah di tindas, terbukti selama tinggal bersamanya, Khalisa selalu menunjukkan taringnya. Namun terkadang istrinya itu terlihat sangat lemah dan pasrah. Arsen menatap layar yang menampilkan kegiatan Khalisa tanpa wanita itu ketahui. Gambar Khalisa menghilang ketika memasuki toilet di lantai satu. Dia membayangkan betapa kesalnya Khalisa ketika membersihkan tempat kotor tersebut. “Arsen, apa ini tidak berlebihan? mau bagaimanapun dia tetap istrimu." Arsen memberikan tatapan tidak suka. “Kalau kamu kasihan melihatnya, kamu bisa membantunya." Galen menghela nafas panjang. menurutnya sangat berlebihan, karyawan di perusahaan Arsen bukan hanya satu atau dua orang saja, jika semua mengikuti perintah Arsen untuk menindas Khalisa, sungguh kasihan wanita itu. “Dia pantas mendapatkannya dan ini belum seberapa, masih ada kejutan lainnya untuknya." Galen hanya menggelengkan kepalanya, dia khawatir jika suatu saat nanti Sahabatnya itu menyesali perbuatannya dan semua sudah terlambat. Galen tidak percaya begitu saja dengan cerita Arsen tentang Khalis yang menggoda Darren, dia merasa ada kesalahpahaman atau hanya fitnah dari seseorang yang membenci Khalisa. Dia pria dewasa tentunya sudah banyak pengalaman tentang wanita, mana yang memiliki tatapan menggoda dan yang tidak. Khalisa menurutnya bersih, ketika melihat kearah Darren biasa saja. Seperti tidak minat, lalu bagian mananya yang di sebut menggoda. Tok Tok Terdengar suara ketukan pintu, Galen menoleh kearah pintu. “Masuk!" Titahnya, pintu terbuka dan menampilkan seorang pria tampan. “Kak Arsen" Arsen mendongak. “Tidak usah basa-basi, ada apa?" Tanya Arsen menatap calon adik iparnya “Bolehkah aku meminta sesuatu." Arsen menaikan sebelah aslinya. “Kamu baru saja masuk belum ada satu hari, sudah neminta sesuatu, apa yang kamu inginkan?" Darren tersenyum. “Bolehkah aku meminta Khalisa di pindahkan ke bagian pemasaran." Arsen terdiam untuk sesaat, dia menatap calon adik iparnya dengan sebelah tangan yang mengepal erat. “Kamu sedang memohon untuknya?" “Anggap saja begitu, sangat di sayangkan wanita cerdas sepertinya harus membersihkan toilet." Jawab Darren. “Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang.. " “Kalau kamu mengizinkan, aku bisa membawa Khalisa ke perusahaanku." Darren menyela kalimat Arsen, membuat pria tersebut mengeraskan rahangnya. Benar-benar w*************a, sampai calon adik iparnya memohon untuk wanita itu. “Apa kau lupa kalau aku bisa dengan mudah membuat perusahaanmu bangkrut." Darren menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak pernah lupa dan juga Kekuasaan mu hanya bisa di gunakan untuk mengancam dan menekan orang lain saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD