Flashback Arsen duduk gelisah menunggu kedatangan seseorang, sesekali dia melihat jam di pergelangan tangannya, bukan karena meleset dari waktu yang di sepakati, tetapi dialah yang datang lebih awal. Beberapa kali juga dia memastikan penampilannya, dia tidak ingin terlihat memalukan dihadapan orang yang mengajaknya bertemu. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. senyum manis yang dia tujukan menandakan ketidaksabarannya. Sedangkan Tuan Adnan merasakan sakit yang luar biasa, melihat putranya yang sangat antusias, dia khawatir jika pertemuan ini akan membawa luka seumur hidup. Tidak berselang kemudian. “Kalian sudah lama menunggu?" Arsen dan Tuan Adnan tersentak, lantaran orang tersebut tiba-tiba berdiri di belakang mereka, kedatangannya bukan dari arah pintu utama cafe. Ars

