2022

2101 Words
Jam beker yang menunjukkan pukul 05.00 berbunyi sangat nyaring, yaaa itu sengaja supaya yang mendengarnya terbangun dari mimpi indah atau mungkin tidak hanya yang punya jam saja yang terbangun tetapi tetangga sebelah apartemen nya pun ikut terbangun, karena sangking nyaringnya suara beker. Seorang lelaki bertelanjang d**a terbangun dan menggeliat, sepertinya jam beker sangat bisa diandalkan. Lelaki itu menyibakkan selimut yang menutupi tubuh nya lalu berdiri berjalan menuju kamar mandi dengan tangan yang sibuk mengacak-acak rambut cepaknya dan terlihatlah celana bokser berwarna kuning dengan gambar duck besar tepat di bagian bokongnya. Bangun sepagi itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, karena dia harus melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid dekat apartemen nya. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah dia keluar dari masjid hendak pulang ke apartemen untuk melakukan kegiatan lain. Tiba-tiba ada suara bapak-bapak memanggil namanya. "Nak Ajid....." panggil Anto pria berusia 52 tahun tetangga apartemen lelaki itu dengan sedikit berlari mengejar lelaki yang di panggilnya karena jaraknya sudah lumayan agak jauh. Lelaki yang mengenakan baju koko lengan pendek berwarna maroon dengan sarung hitam bergaris putih vertikal di bagian belakangnya itu pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang mencari sumber suara. "Oohh pak Anto, ada apa pak?". Benar sekali lelaki ini adalah Ajid, Ajid Mahendra. "Ahhh.. nggak, hanya ingin bertanya saja. Ini kan hari Sabtu jadi nak Ajid libur kerja kan?" Anto sudah mensejajarkan jalannya dengan Ajid. Ajid menoleh ke sebelah kanan yang terdapat orang yang menjadi lawan bicaranya. "Iyaa pak saya libur kalo hari Sabtu. Ada perlu apa ya pak?". "Apa nak Ajid sudah punya pacar?" bukannya menjawab Anto malah memberi pertanyaan balik. Ajid terlihat sedikit tertawa ringan. "Kalo pacar saya tidak punya pak, yang ada calon istri". 'Tapi sampe sekarang belum ketemu'. Sambungnya yang tentu tidak bisa didengar oleh Anto, kan ngomongnya dalam hati. Anto mendadak tampak tidak sesemangat tadi. "Yaahh... kirain masih single, tadinya mau ngenalin kamu sama ponakan bapak dia baru datang kesini. Nanti siang kalo ada waktu main ya ke apartemen bapak kita makan bersama". "Iyaa pak insha Allah saya tidak bisa janji". "Yaaa... nggak papa kalo nanti ada waktu luang ya main-main, dan lagi kan nak Ajid baru setengah bulan tinggal di apartemen baru jadi kita belum pernah makan bersama" Anto menepuk-nepuk pundak Ajid. Ajid mengangguk tersenyum " Iyaa pak nanti saya usahakan". _.,._ Dilain tempat tampak seorang wanita cantik berusia 27 tahun dengan rambut ikal hitam sepinggang, sebenarnya rambut dia lurus tapi karna hasil karya catokan yang membuat rambutnya menjadi ikal itu sedang sibuk memasuk-masukkan baju kedalam koper besar bewarna hijau sage. Wanita itu adalah Veny Hermawan, dia mengemasi pakaiannya bukan karena ingin kabur lalu kawin lari yaa, tapi dia di pindahkan tugas mengajarnya di universitas ternama. Universitas yang tidak asing lagi dikalangan masyarakat, yang isinya adalah anak-anak dari keluarga yang ekonomi nya di atas rata-rata. "Sayang.... nanti kalo sudah sampe apartemen baru kamu, jangan lupa kabarin mama ya" Iris yang tiba-tiba muncul dan duduk di tepi ranjang. "Iyaa maa... pasti veny bakalan kangen deh kalo sudah disana. Yaa walaupun tidak terlalu jauh kalau pulang kesini, tapi apa veny bakalan ada waktu buat pulang kesini. Memikirkan nya saja sudah mustahil sekali" rengek veny sembari memeluk pinggang iris. "Namanya juga bekerja, hitung-hitung kamu cari pengalaman kerja dan jauh dari orang tua. Ini juga jadi simulasi kalau kamu sudah punya suami, bakalan jauh dari orang tua" Iris memberikan tepukan kecil di pundak veny. "Kenapa harus jauh dari orang tua kalo sudah nikah, yaa veny sama suami besok tinggalnya di sini laa..." menengadah melihat Iris yang masih setia dengan tepukan kecil pada pundak veny. "Kita kan nggak ada yang tau kedepannya itu seperti apa . Iyaa kalau suami kamu orang sini atau kerjanya disini, kalau orang jauh gimana?". Veny mengguncang-gunjangkan tubuh Iris. "Hmmmmm.....mamaaaaaa...". Iris melepas tangan veny dari pinggangnya dan bangkit dari ranjang. "Sudah-sudah cepat dibereskan, jangan sampai ada barang yang tertinggal. langsung kebawah sarapan, lihatlah jam sudah jam berapa ini, nanti ketinggalan pesawat kamu". "Hmmmm iyaa, mama duluan aja ke bawah nanti veny nyusul". Iris melangkahkan kaki keluar dari kamar bernuansa putih cream itu. Sedangkan veny melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda. Selesai dengan kopernya, sekarang dia beralih ke tas ransel kecil yang akan dia isi dengan per skincare an nya. Dirasa sudah semua tidak ada yang tertinggal, dia bergegas berganti baju dan merapikan rambutnya, lalu memoles wajahnya dengan makeup senatural mungkin. Veny menuruni anak tangga dengan menggotong koper besar dan menggendong ransel kecil. Dia melihat Iris dan Hermawan sudah duduk di meja makan sedang menunggu nya untuk sarapan bersama. Karena hari ini hari Sabtu jadi Hermawan maupun Iris tidak pergi bekerja. Fyi, Hermawan berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta, sedangkan Iris berprofesi sama seperti veny yaitu dosen tetapi Iris menjadi Dekan di fakultas keguruan. Jangan tanyakan kemana kedua kakak perempuan veny, mereka sudah di boyong oleh suami mereka masing-masing. "Kelamaan ya pa?" veny menarik kursi di depan Iris. "Iyaa kamu sangat lama, lihatlah cacing-cacing di perut papa sudah berdemo minta makanan" Hermawan menyauti pertanyaan veny dengan nada bicara yang dibuat-buat. "Iiiiiii..... yaa maap, namanya juga perempuan banyak yang harus di bawa" tangannya sibuk menyendok nasi goreng ke dalam piringnya. "Sudah-sudah, makan yang banyak sayang biar nanti di perjalanan nggak sibuk nyari tempat makan lagi" Iris menengahi pembicaraan ayah dan putrinya itu. "Veny bawa Snack kok maa kalo sekiranya lapar di jalan nanti" menyuap makanan ke dalam mulutnya. "Kamu itu harus di kurangi makanan kebanyakan micin seperti itu. kamu mau perut jadi buncit seperti ini" Hermawan memperagakan seolah-olah dia memiliki perut yang sangat buncit. "Emang snack bisa buat perut buncit yaa, veny baru tau" Veny mendekatkan wajahnya ke hadapan Hermawan dengan mata menyelidik. Tangan Hermawan menyentil kening veny, sang empunya merintih kesakitan mengusap-usap keningnya."Pantas saja susah dibilangin, ternyata kepalanya sangat keras". "Sudah laa cepat makannya jangan kebanyakan ngobrol" Iris sudah tidak heran dengan suasana meja makan yang tidak pernah sepi, karena bising dengan celotehan ayah dan putrinya itu. Selesai makan Veny menarik kopernya ke arah pintu keluar yang di antar orang tuanya. Veny pergi ke bandara diantar oleh Hermawan. Karena keluarga nya tidak mempekerjakan supir hanya Art, satpam dan tukang kebun, mereka lebih suka menyetir sendiri karena lebih leluasa aja gitu. "Maaa... Veny pamit dulu ya Assalamualaikum" Veny mencium punggung tangan Iris. "Iyaa sayang hati-hati yaa, jangan lupa baca doa" Iris mencium pipi kanan kiri dan tak lupa kening veny. "Iyaa, mama sehat-sehat di rumah yaa. Bye..bye.. maaa..." dijawab dengan anggukan oleh Iris. Hermawan meletakkan koper veny di bagasi mobil. Veny dan Hermawan masuk ke dalam mobil berwarna putih dan melaju keluar pekarangan rumah dua lantai bernuansa putih itu. _.,._ . . Ajid keluar apartemen nya dengan menggunakan pakaian olahraga bewarna abu, dia berencana buat lari pagi di sekitaran apartemen nya, itu sudah menjadi rutinitasnya. Dan juga dengan itu dia bisa kenal banyak dengan tetangga tetangganya. Fyi, dia tinggal di apartemen lantai 30 no 313. "Hey jid..." Panggil seorang pria yang juga ikut lari pagi. Ajid menoleh ke belakang, ternyata yang memanggilnya adalah Aldi yang merupakan tetangga pas sebelah apartemennya yaitu no 314 sedangkan di no 312 itu milik pak Anto. Ajid meninju lengan Aldi yang sudah berada di samping kanan nya. "Wuuuu...tumben bet lari pagi kesambet apa, biasanya kalo hari libur biasanya molor sampe siang". "Mulai hari ini harus hidup sehat, lihatlah roti sobek ku mulai meleleh" Aldi membuka setengah kaos nya bermaksud memperlihat kan perut nya yang rata, tidak buncit tidak juga sixpack. "Ciihhh... bukan meleleh lagi itu mah" melirik sekilas ke perut Aldi. "Ehhh katanya pak Anto punya ponakan gadis umur 27 tahun yang mau datang kesini" Aldi mengalihkan pembicaraan. "Iyaa.. tadi habis sholat subuh pak Anto juga bilang sama aku dan ngundang aku untuk makan siang di rumahnya". "Waaaahhh... sepertinya kamu mau di jodohin sama ponakannya jid. Gaass laahh jid kalo cakep mah" dengan cengiran andalannya. "Aku mah sudah ada inceran" Ajid menambah laju larinya meninggalkan Aldi. "Nggak asyik kamu jid, kalo kamu nggak mau biar aku aja yang makan siang di rumah pak Anto, hitung-hitung gratis" berusaha mengejar Ajid walaupun sedikit kewalahan. "Emang kamu diundang?" mendadak berhenti mengatur pernapasannya. Aldi ikutan berhenti dan perjalan menuju kursi dekat nya. "Yaaa nggak sih, tapi kan bisa pura-pura pinjam sesuatu siapa tau di tawarin" di lanjuti dengan tawa di akhirnya. Ajid mendudukkan pantatnya di samping Aldi yang sedang meminum air mineral. "Bisa di coba itu ide mu, siapa tau kamu langsung di kenalin sama ponakannya". "Iyaa juga yaa, sudah jomblo bekarat gini siapa tau kali ini jodoh Ya Allah" tangan dan mukanya menengadah keatas. "Aku bantu doa yaa, itu pun kalo dikabulin" berdiri melanjutkan larinya. "Perasaan bukan cuma aku yang bekarat tapi dia lebih lebih bekarat" menatap punggung Ajid yang mulai menjauh. "Tapi tadi dia bilang sudah punya incaran. Hemmm patut dicurigai anak ini" monolognya. Ajid sudah sampai di depan pintu apartemen nya, dia merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci pintunya yang berbentuk kartu. pip pintu pun terbuka, dia masuk melepaskan sepatu dan menggantungkan handuk kecil yang tadi di bawanya lari pagi untuk menyeka keringat. Dia pergi ke kamar mandi untuk mandi dan selanjutnya dia belum kepikiran buat melakukan apa, mungkin dia akan memasak untuk makan siangnya, aku pun tidak tau. Selesai dengan acara mandinya, Ajid langsung mengenakan handuk bewarna putih di pinggangnya dan berjalan keluar menuju lemari pakaian. Hari ini dia memakai pakaian santai, kaos pendek bewarna putih dipadukan dengan celana cargo pendek bewarna cream. Selesai berpakaian lanjut dia mengeringkan rambut menggunakan hairdryer di depan meja rias. Ajid keluar dari kamar menuju sofa depan tipi yang ada di ruang tamunya. dia merebahkan badannya di sofa dan membuka sosial media di hp nya. Dia mengetik nama akun di pencarian, kalian tau siapa yang dia cari?... Yaaa itu akun childhood friend nya alias Veny Hermawan. Sebenarnya sudah dari lama dia memantau akun Veny, tetapi dia malu buat ngefollow takut veny sudah melupakannya. "Definisi makin tua makin cantik" senyuman diwajahnya seperti orang m***m. "Loohhh... dia mau kemana kok postingan terbarunya di bandara?" dia bertanya dengan setan yang ada di pojok ruangan. "Nggak mungkin kan kalo liburan, ini kan belum waktunya libur semester" Ajid tau kalo veny bekerja sebagai dosen, yaa karna dari hasil stalking nya dong. "Mari kita buka komentar nya siapa tau dapat petunjuk" kita? Lo aja kalik. Ajid terkejut langsung melompat kegirangan, jantungnya berdebar kencang. "Ternyata veny dipindahkan tugas ke kota ini. Huuffffffff tenang..tenang.. aaaaaaaaa pokoknya aku harus tau dimana dia tinggal, pokoknya kali ini harus ketemu tidak akan ku biarkan kamu pergi veny". Ajid melihat jam dinding yang berada di atas TV. "Sekarang sudah jam 11 dia posting jam 9, pasti dia sudah sampai. Semoga dia ada posting dimana tempat tinggalnya, kemungkinan besar dia tinggal di dekat universitas tempatnya ngajar ya". Terdengar suara bel pintu membuat senyuman di wajahnya memudar. Ajid sudah yakin pasti ini pak Anto yang menyuruhnya buat makan bersama. Dan benar saja setelah Ajid melihat dari lubang pintu, ia pun segera membuka pintunya. "Ayo nak Ajid kita makan bersama, ibu sudah masak banyak. Jangan lupa ajak juga nak Aldi buat makan bersama" . 'Alhamdulillah.. Aldi juga ikut jadi nggak terlalu canggung banget' ucapnya dalam hati. "Iyaa pak, nanti saya kesana bareng Aldi, biar sekalian saya panggilan orangnya" Ajid mengangguk dan tersenyum. "Yaa sudah, ditunggu di rumah yaa. Kalo nggak buru-buru nanti makanannya keburu dingin" menepuk pundak Ajid dan berlalu pergi meninggalkannya. Ajid langsung menutup pintu menuju apartemen Aldi. Dia menekan tombol beberapa kali, seperti tidak ada orang. Dia tau pasti yang punya rumah lagi tidur, kebiasaannya di hari libur. Ajid tidak putus asa, dipencet lagi tombolnya kali ini dia memencet dengan sangat cepat. Dan berhasil, pintu terbuka dengan menampakkan Aldi dengan muka bantalnya. "Berisik anjir..." menggaruk-garuk kepalanya. "Ayo tempat pak Anto, kita disuruh makan dirumahnya". Aldi langsung menyambar tangan Ajid buat masuk ke dalam dan menutup pintu. "Tunggu sebentar aku cuci muka dulu". Mereka sudah sampai di apartemen milik pak Anto, mereka langsung di panggil buat duduk di meja makan yang sudah penuh dengan bermacam-macam hidangan yang menggugah selesa. "Banyak sekali makanan nya buk?" bukan melihat orang yang di ajak bicara, tetapi Aldi malam sibuk menelisik setiap makanan yang ada di meja makan. "Iyaa, ini karena ada ponakan yang datang jadi sengaja masak banyak juga buat ngundang kalian sekali kali makan disini" jawab Intan istri pak Anto sambil meletakkan piring di meja makan. "Oohhh iyaa, sudah sampe ya pak ponakannya?" tanya Aldi sangat kepo. "Iyaa sudah, itu dikamar lagi ganti baju nanti juga ikut gabung kesini". Tak lama dari itu terdengar suara pintu terbuka. Cklek terlihat lah seorang wanita mengenakan kaos berwarna hitam dengan gambar Teddy dan celana panjang bewarna hitam juga. seketika mereka semua menoleh ke arah suara itu. Ajid tampak terkejut melihat wanita yang baru keluar dari kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD