Strategi

1739 Words
Aldi tidak bisa mengalihkan pandanganya dari wanita yang baru keluar dari kamar itu. Dia terus terusan menarik narik ujung kaos yang di kenakan oleh Ajid. Ajid juga belum bisa menetralkan raut muka terkejutnya dan masih bengong menatap wanita yang sedang berjalan menuju arah mereka. Anto dan Intan hanya bisa tersenyum dan saling memandang melihat tingkah ke dua jomblo bekarat di depannya ini. Seperti wajah-wajah pria yang tidak pernah melihat wanita cantik saja. "Sini sayang duduk samping Tante" suara Intan memecah keheningan. Tidak menjawab wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum lalu menarik kursi yang ditunjuk intan tadi tepat di depan kursi Aldi. Tanpa sengaja mata wanita itu melihat ke arah Ajid, dan dia juga tidak kalah terkejutnya ketika melihat Ajid. "Heeyyy... kenapa kamu bisa ada di rumah om dan Tante ku?" seketika itu juga fokus mereka semua teralih ke wanita itu. "Laaahhh... aku tinggal di sebelah" jawab Ajid yang membuat Aldi, Anto dan juga Intan bingung. "Kalian sudah saling kenal?" tanya Anto menyelidiki. "Iyaa om Ajid ini tetangga komplek ku". " Ooo jadi oom nggak jadi ngenalin kalian" senyum Anton Kik kuk. "Kenalin sama saya aja pak" sambil tersenyum lebar, Aldi tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. "Ooohhh iyaa... Jadi ini ponakan bapak namanya Naya, dia kesini itu untuk main saja palingan 2 Minggu dia nginep disini" jelas Anto mengenalkan Naya ponakannya. Naya tersenyum lalu mengulurkan tangannya di depan Aldi. "Naya...". Aldi langsung buru-buru menjabat tangan Naya. "Aldi.. aku tinggal di apartemen no 314". " Yaa... udah sekarang waktunya kita makan, ini keburu dingin makanan nya" Intan menginterupsi. Mereka berlima langsung sibuk dengan kegiatan makan mereka, sambil berbincang-bincang dan sesekali Aldi mencuri curi pandang, yaaa kalian pasti tau laa ke siapa kan. Bukan Aldi namanya kalau pantang menyerah dalam urusan wanita, dia dengan beraninya meminta no w******p Naya di depan Anto dan Intan. Naya pun tidak terlihat keberatan sama sekali, dan langsung memberikan no w******p nya ke Aldi, yaa karena Naya juga tidak memiliki pacar jadi bebas bebas saja mau dia berikan kepada siapa saja, toh Aldi juga peria yang tampan dengan kulit eksotis nya. _.,._ . . Terlihat seorang wanita sedang berbaring di spring bad queen size memainkan hp nya disebuah apartemen dengan no 202. Setelah selesai merapikan dan memindahkan pakaian yang dia bawa ke dalam lemari besar bewarna putih. Veny sedang melihat-lihat universitas dimana dia bekerja besok melalui akun media sosial. Veny sengaja memilih apartemen yang dekat dengan tempat dia bekerja, karena lebih memudahkan dia dan tidak memakan banyak waktu untuk pulang dan pergi. Veny duduk dari baringnya lalu meregangkan punggungnya yang terasa pegal karna perjalanan tadi. "Okay waktunya bergerak veny. Sekarang jam berapa?" melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Okay sudah sore, sudah waktunya cari makan. Aku nggak mau delivery, aku mau cari sendiri sekalian keliling. Sampe malem aja kali ya baru pulang?" monolognya yang hanya didengar oleh nyamuk-nyamuk dan makhluk makhluk lain. "waktunya mandiiii...." veny bersenandung senang menuju kamar mandi. Dia sudah tidak sabar untuk bekerja di tempat barunya. Selesai dengan acara mandinya veny berdiri di depan lemari bajunya, lama dia memilah dan memilih baju yang akan dia pakai untuk keluar mencari makan, biasa laa namanya juga wanita. Akhirnya pilihannya jatuh ke hoodie crop bewarna tosca dipadukan dengan celana cargo putih panjang. setelah berpakaian dia beralih ke meja rias untuk mengikat rambutnya. Dia hanya mencepol asal rambutnya, tanpa menggunakan riasan sama sekali, hanya memakai lipbalm. Veny sudah berada di pinggir jalan menunggu taksi pesanannya sampai, sebelum turun dia sudah memesan nya melalui aplikasi di hp nya. Mobil bewarna silver mendekat. Terlihat pria sekitar umur 30 an tahun membuka kaca mobilnya. "Dengan mba veny yaa?". "Aaahhh... iyaa pak" veny buru-buru membuka pintu mobil bagian belakang. Pria itu menjalankan mobilnya. "Mau kemana mba?" tanya pria itu sambil melihat veny dari spion depan. "Ini pak mau pergi cari makan, bapak ada rekomendasi tempat makan enak nggak di sini soalnya saya baru kesini". veny masukkan kembali hpnya ke kantong celananya, niat awal dia mau mencari referensi di internet. "Ooohhh ada mba tapi makanan kali lima gitu, tapi dijamin ketagihan mba. Tapi ya selalu rame jadi harus ngantri". "Yaa.. nggak papa pak kalo makanannya enak walaupun ngantri" saut veny semangat. "Mba disini lagi liburan apa pindah rumah?" tanya pria itu dengan mata fokus menyetir. "Saya baru pindah kerja ke kota ini pak?" yang di jawab dengan anggukan. Veny mengalihkan pandangannya melihat jalanan yang lumayan padat karena ini malam Minggu. Sesampainya di tempat yang dituju, veny benar-benar terkejut melihat antrian yang lumayan panjang. Padahal ini baru jam 7 tapi sudah serame ini. Veny turun dari mobil, dia tetap memilih makan di tempat ini karena pikirnya semakin rame pengunjung berarti makanan nya nggak main-main rasanya. Sampai gilirannya untuk memesan. "Makanan yang paling best seller disini apa mas?" tanya veny sambil melihat menu yang tertempel di depan gerobak dagang. "Kami ada 2 menu paling best seller kak, iga bakar sama sate cumi pedas manis" Pria itu menunjuk menu yang di maksud di dalam menu. "Okay saya pesen itu ya masing-masing 1 porsi sama es teh nya juga". "Okay kak langsung duduk aja, nanti kami antar ke meja kakak. ohhh iyaa, atas nama siapa kak?" mengambil buku dan pena untuk mencatat pesanan veny. "Veny". "Okay tunggu sebentar ya kak" kalimat itu sangat bohong, menunggu makanan datang dengan waktu sebentar itu sangat bohong. lihat saja pengunjung nya sangat banyak. Veny mencari tempat duduk yang kosong, dia melihat lihat tidak ada meja yang kosong. Dan matanya tertuju ke pria yang duduk sendiri, dia berniat untuk duduk di situ saja. "Maaf mas, boleh saya duduk disini?" veny bertanya dengan nada yang lembut sambil tersenyum. Pria yang awalnya menunduk memainkan hpnya langsung mengangkat kepalanya. "Oohhh.... boleh, boleh mba duduk aja" pria itu tersenyum dan mempersilahkan kursi didepannya. "Terimakasih" Veny duduk di kursi tepat di depan pria itu, setelah dilihat-lihat kira-kira umur pria itu masih 20 an. "Mas sudah dari tadi ya disini?" basa basi yang sangat basi, karena veny tau pria ini pria yang mengantri tepat di depannya. "Iyaa mba baru saja duduk. Btw, kenalin saya Roni" mengulurkan tangannya. "Aaaa... iyaa, saya Veny" menyambut uluran tangan Roni. "Sepertinya kamu masih umuran 20 an tahun ya?" tanya veny memastikan. "Iyaa, saya masih umur 23 tahun, mahasiswa semester akhir" jawab Roni. "Ooohhh... kuliah dimana?" "Saya kuliah di universitas internasional faculty of Education". "Waaaahhh... bisa kebetulan gitu ya. Saya baru pindah kesini, karena di pindahkan ngajar di Universitas Internasional saya jadi dosen di faculty of Education". "Waaaa jadi kita kemungkinan bisa ketemu lagi Bu" seketika Roni mengubah panggilannya. "Hahahhaha... kenapa tiba-tiba mengubah nama panggilan. santai aja saya masih muda, masih umur 27 tahun". 'Umur 27 tahun tapi masih seperti anak SMA, apa karena badannya yang kecil, sangat cantik' ujar Roni yang hanya bisa didengar olehnya. "Sudah dapat izin jadi saya panggil kakak saja yaa" Roni tertawa renyah. Tidak lama itu pesanan mereka berdua datang bersamaan. Mereka lanjut makan, dan lagi menu yang mereka dia pesan sama melihat itu mereka tambah tertawa terbahak-bahak, merasa konyol dengan kebetulan kebetulan yang absurd ini. Selesai makan Veny menunggu di pinggir jalan untuk menunggu taxi. Dia membuka aplikasi untuk memesan taxi online yang ada di hpnya, tiba-tiba mobil sport bewarna hitam berhenti tepat didepan nya. Ternyata itu mobil milik Roni. "Ayo kak bareng aku aja" ajak Roni yang menurunkan kaca mobilnya. "Apartemen ku lumayan jauh dari sini, kamu duluan saja" Veny membungkuk melihat Roni yang berada didalam mobil. "Emang kakak tinggal di apartemen mana?" "Di apartemen dekan kampus". Roni tertawa sejadi-jadinya. "Ayo masuk kak, aku juga tinggal disitu". Veny tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Baik laahhh... mari kita pulang tetangga" veny masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan. Mobil sport hitam itu melaju menuju apartemen tempat mereka tinggal. Selama di perjalanan mereka banyak berbincang masalah perkuliahan. Dan Roni mengajukan diri untuk mengajak veny buat berangkat bareng ke kampus, karena veny juga masih orang baru jadi belum terlalu paham dengan denah universitas grandika. _.,._ . . Pagi ini seperti biasa Ajid Mahendra bangun subuh untuk pergi ke masjid lalu lanjut pergi lari pagi bersama Aldi. Yang membedakan pagi ini Naya ikut Ajid dan Aldi lari pagi. Rencananya hari ini Ajid mau keluar rumah untuk menjalankan rencana besarnya, yang sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari. Setelah selesai lari pagi Ajid langsung mandi dan lanjut membuat sarapan. Hari ini dia memakai kaos oversize bewarna putih dengan tulisan FG di bagian dadanya dipadukan dengan celana pendek bewarna hitam. Untuk sarapan hari ini dia hanya memakan roti yang dioles selai srikaya dengan segelas s**u full cream. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. "Mari kita lihat kegiatan apa yang dia post" Ajid membuka akun media sosialnya. "Dimana ini? meja nya kayak nggak asing" foto iga bakar, sate cumi dan segelas es teh membuat Ajid bertanya-tanya, foto itu di up oleh veny tadi malam. "Aaaaaa.... ini bukannya di tempat yang lagi rame itu ya" gumamnya. "Okay mulai sekarang aku harus membuat strategi, tapi sepertinya aku harus minta pendapat dari orang lain, oke oke..." dia beranjak dari duduknya meletakkan piring dan gelas di wastafel dan pergi keluar rumah. Ajid memencet bel pintu apartemen Aldi, tak lama dari itu Aldi membuka pintu dengan raut keheranan melihat Ajid dengan muka ramahnya. Biasanya kalau Ajid sudah memasang wajah seperti ini pasti lagi ada maunya. "Ngapa kamu senyum-senyum gitu, bikin merinding aja" Aldi mengusap-usap rambutnya menggunakan handuk. Ajid langsung mendorong Aldi untuk masuk kerumah dan menutup pintunya. "Hari ini mau kemana?" "Nggak ada, mau rebahan aja seharian. kenapa?" Aldi berjalan menuju sofa di ruang tamunya. Ajid mendaratkan bokongnya di atas sofa. "Ikut aku yok, aku lagi ada misi rahasia". Aldi memicingkan matanya curiga. "Mau transaksi narkoba yaaa... Aku nggak mau". Ajid melempar bantal sofa tepat di kepala Aldi. "Yaaaa.. kalik, nggak laahhhh...". Ajid menggeser duduknya mendekat ke arah Aldi. "Kamu tau kan veny yang sering aku ceritain". Aldi menggeser duduknya menjauh, tetapi Ajid terus mepet. "Iyaa... temen masa kecil mu itukan, kenapa dia?". "Dia pindah kesiniiiii.... aku seneng banget. Bukan pindah sih tapi dia pindah kerja kesini. Jadi rencananya aku mau ngikutin dia hari ini. Pasti dia masih keluar-keluar untuk mengenal suasana". jelas Ajid yang di jawab dengan gelengan oleh Aldi. "Itu strategi nggak banget, mau jadi penguntit kamu? gilak yaaa... nggak ahhh nggak mau ikut aku" Aldi terus menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak mau denger ceritanya Naya dari kecil sampe besar? mantan-mantannya siapa aja? apa hobby nya? apa kebiasaanya?" Ajid mencoba untuk memancing. Aldi seketika langsung tersenyum lebar menampakkan deretan gigi yang terdapat 2 gingsul. "Sepakat... Ayok kapan mau berangkat. Sekarang, gassss.....".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD