1. Rahasia yang Terungkap

2046 Words
Di kediaman keluarga Admaja, tepatnya di rumah mewah kawasan Jakarta pusat. Pagi-pagi sudah terdengar suara teriakan dari nyonya sang pemilik rumah, bukan tanpa alasan sang wanita cantik itu berteriak. Mengingat wanita cantik itu, amat sangat mengkhawatirkan apa yang di lakukan putri kecilnya saat ini. "Sayang! Jangan lari-lari, Nak. Nanti kamu jatuh, Sayang?" terdengar suara teriakan dari seorang wanita cantik, yang tidak lain adalah Bu Silia Admaja. Bu Silia adalah mama dari gadis kecil, yang tengah berlari menghampiri Pak Baron Admaja dimana Pak Baron sedang membaca koran di meja makan. "Yasmin ... tidak apa-apa, Ma," balas gadis kecil itu sambil meneruskan larinya menuruni anak tangga. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mulai memegangi d**a kirinya yang mulai terasa sakit. Pak Baron yang berada tidak jauh dari tangga, mulai peka ketika ia tidak mendengar suara langkah kecil putrinya lagi, ia pun menolehkan kepalanya melihat keadaan sang putri. Betapa terkejutnya ketika, Pak Baron melihat putri kecilnya memegangi dadanya. Meskipun sudah sering kali ia melihat itu, tetap saja Pak Baron merasa khawatir. Pak Baron langsung berlari menghampiri putri kecilnya, yang mulai merintih kesakitan. Begitu pula dengan sang istri ikut merasa khawatir, Bu Silia berlari menuruni tangga menghampiri sang putri. "Yasmin, Sayang. Kamu tidak apa-apa, Nak," ucap Pak Baron dan Bu Silia berbarengan. "d**a Yasmin sakit, Pa." "Sayang, ambilkan obat Yasmin sekarang. Cepat!" perintah Pak Baron pada istrinya, yang langsung di lakukan tanpa protes. Karena Bu Silia tahu, hanya dengan obat itu putrinya akan mulai membaik. "Bibi! Telepon Dokter Hari sekarang, cepat!" ucap Pak Baron memerintahkan pembantunya menelepon dokter yang biasa menangani Yasmin. Pembantu Pak Baron dengan cepat berlari menuju meja yang terdapat perangkat telepon, sesaat pembantu Pak Baron melihat nomer Dokter Hari yang ada di notes nomer telepon penting di meja. Setelah mendapatkan, ia langsung memencet nomer Dokter Hari. Pak Baron membopong Yasmin ke kamarnya yang berada dan di lantai satu, dan kamar itu penuhi warna pink. Dengan hati-hati Pak Baron membaringkan Yasmin di kasur, meskipun wajahnya terlihat menyunggingkan senyuman. Namun, dalam hati ia begitu takut akan keadaan putri kecilnya. "Pa, sakit sekali." "Sabar, ya, Sayang. Sebentar lagi pasti hilang kok sakitnya. Mama masih, mengambilkan obat buat Yasmin, jadi Yasmin harus kuat, ya, Sayang," Pak Baron mencoba menenangkan, sambil membelai d**a Yasmin pelan. 'Silia ... kenapa kamu lama sekali, anak kita kesakitan. Cepat datang.' batin Pak Baron pilu. Tap, tap! Bu Silia berlari sambil membawa obat, suntikan untuk di berikan pada Yasmin. "Pa! Ini cepat lakukan, tanganku gemataran aku tidak bisa melakukannya pada Yasmin. Cepat Pa, suntikannya juga sudah aku isiin obat. Lakukan sekarang, jangan membuang waktu lagi," bisik Bu Silia pelan. Pak Baron yang mengerti langsung mengubah ekspresinya, dengan berpura-pura tersenyum pada Yasmin. "Sayang, ini Papa mau kasih obat. Yasmin tahan sebentar, ya, Sayang. Mungkin akan terasa di gigit semut," izin Pak Baron sebelum menyuntikkan obat pada Yasmin di lengannya. "Lakukan, Pa. Yasmin, sudah terbiasa di gigit semut kok. 'Kan Mama sering melakukannya, jika Yasmin mulai kambuh sakitnya," jawab Yasmin dengan nada polos, membuat Bu Silia tidak bisa membendung lagi air matanya seketika itu juga tumpah. "Aww ...," rintih Yasmin. Pak Baron pun mulai menyuntikkan obat ke lengan putrinya, meskipun suntikan itu menyakitkan bagi seorang anak berumur 6 tahun. Yasmin tidak menangis ia hanya merintih, karena ia tahu papa dan mamanya akan lebih khawatir kalau ia menangis. "Anak Papa hebat, tidak menangis kalau di suntik," ucap Pak Baron sambil mencubit gemas hidung Yasmin. "Iya, dong. Yasmin 'kan kuat, seperti Papa." "Apa masih sakit, Sayang?" tanya Bu Silia yang masih khawatir akan keadaan putrinya. "Sudah tidak sakit lagi, Mama." "Ma, Yasmin mau sekolah," jawab Yasmin, menenangkan sekaligus meminta izin. "Kamu lagi sakit, Sayang. Besok saja, ya, sekolahnya," bujuk Bu Silia. "Tidak mau, Yasmin maunya pergi ke sekolah." "Benar kata Mama, Sayang. Kamu barusan sakit lagi, nanti kalau di sekolah kamu kecapean gimana?" sambung Pak Baron. "Hiks, Yasmin mau ke sekolah pokoknya. Kalau Papa dan Mama tidak mengizinkan Yasmin sekolah, Yasmin tidak mau makan," rajuk Yasmin. "Gimana ini, Pa? Yasmin keras kepala begini, dia mau ke sekolah," binggung Bu Silia. "Kalau Yasmin tidak di turuti, pasti seharian ini dia tidak akan mau makan. Lebih baik ikutin saja kemauannya, tapi ingat pastikan dia tidak capek dan tepat waktu minum obatnya," pasrah Pak Baron, mengikuti kemauan putrinya. Saat Pak Baron dan Bu Silia sedang berbicara, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Tok, tok! "Selamat pagi," sapa Dokter Hari, sambil memasuki kamar Yasmin. "Pagi juga, Har" jawab Pak Baron dan Bu Silia, karena ketiganya adalah sahabat makanya Pak Baron dan Bu Silia tidak manggil dengan panggilan formal. "Cepat periksa keadaan putriku, pastikan dia dalam keadaan baik. Karena dia memaksa, ingin pergi ke sekolah," ucap Pak Baron, dengan nada cepat. Tanpa menjawab Dokter Hari langsung menghampiri ranjang Yasmin, dengan senyuman seperti biasa Dokter Hari menyapa Yasmin.dengan nada ramah. "Hallo princes, gimana kabar kamu Sayang. Apa yang kamu rasakan tadi, coba ceritakan sama Om," ramah Dokter Hari, sambil melakukan tugasnya. Memeriksa keadaan Yasmin. "Tadi d**a kiri Yasmin sakit sekali, Om," jawab polos Yasmin. "Sekarang gimana Sayang, apa masih sakit?" "Sudah tidak lagi. Tadi Papa sudah kasih Yasmin obat, sekarang sudah sehat dan sebentar lagi Yasmin akan pergi ke sekolah," ucap Yasmin dengan nada ceririanya, seolah ia lupa kalau tadi ia merasakan kesakitan pada dadanya. "Wah, hebat kalau sudah sehat." "Pesan Om, Yasmin tidak boleh banyak berlarian agar tidak cepat lelah atau melakukan hal berat, ya, Sayang. Makan yang bergizi dan jangan melewatkan minum obat kamu juga," pesan Dokter Hari. "Ya sudah kamu istirahat dulu, Sayang. Karena ini masih jam setengah enam pagi, jadi cukup waktu buat istirahat sebelum masuk ke sekolah." "Iya, Om." Setelah membereskan beberapa barang ke dalam tas, Dokter Hari meminta waktu untuk bicara serius pada Pak Baron dan Bu Silia. "Bar, Sil. Bisa kita bicara sebentar, di depan saja biar Yasmin bisa istirahat sebentar sebelum dia pergi ke sekolah," ajak Dokter Hari, setelah mengatakan itu ia pun melangkah keluar dulu baru di susul Pak Baron dan Bu Silia tentunya selesai berpamitan pada putrinya. "Sayang! Papa sama Mama ke depan sebentar, ya. Yasmin istirahat dulu, nanti Mama kasih bangun kalau mau berangkat ke sekolah," tutur lembut Bu Silia, setelah itu mencium kening putrinya. "Papa ke depan sebentar, ya, Sayang. Bibi akan menemanimu," bisik lembut Pak Baron sambil membelai puncak kepala Yasmin dengan sayang. "Iya ... Pa, Ma." *** Di ruang tamu Dokter Hari sedang menunggu kedua sahabatnya, terlihat ia sangat cemas setelah memeriksa keadaan Yasmin tadi. "Katakan!" ucap Pak Baron to the poin, setelah sampai di ruang tamu. Pak Baron dan Bu Silia langsung mengambil tempat duduk di depan Dokter Hari. "Aku tidak akan menutupinya, jika penyakit Yasmin akan semakin memburuk ketika bertambah usianya," jawab Dokter Hari dengan raut wajah seriusnya mulai menerangkan keadaan Yasmin. "Semakin tumbuh kembang Yasmin akan cepat mudah merasakan lelah, karena dia akan mulai aktif. Meskipun saat ini dia juga sudah aktif, penyakit Ventracular Septal Defect. Atau yang biasa di sebut VSD atau sekat bilik belubang." "Ini penyakit jantung turunan atau kelainan jantung bawaan dari lahir, dan kalian sudah tahu itu bukan? Penyakit ini sudah memakan banyak korban, tapi aku berharap Yasmin bisa kuat dan bisa melawan penyakit yang dia derita." "Yang harus kalian lakukan adalah, selalu memperhatikan keadaannya. Karena Yasmin akan mudah lelah, sakit dadanya akan sering kambuh. Berat badannya mungkin akan sulit untuk naik, jadi kalian harus memperhatikan gizi makanannya. Satu lagi Yasmin tiba-tiba akan merasakan sesak napas, bila penyakitnya kambuh." "Jadi kalian jangan sampai lupa, atau pun lalai memberikan obat pada Yasmin sesuai takaran dan waktu yang sudah kuanjurkan," ucap Dokter Hari panjang, menerangkan keadaan Yasmin. Pak Baron dan Bu Silia, hanya diam mendengar perkataan Dokter Hari. Karena keduanya telah faham, sebab Dokter Hari setiap memeriksa Yasmin pasti akan mengatakan hal yang sama. "Aku tahu kalian pasti khawatir, tapi jangan sampai rasa khawatir kalian membuat Yasmin jadi tertekan karena kalian membatasi ruang geraknya. Biarkan dia tumbuh secara normal seperti anak kecil di luaran sana, hanya saja selalu awasi dan jangan sampai lenggah saat menjaga Yasmin." "Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungiku," pamit Dokter Hari. "Terima kasih, dan hati-hati," ucap Baron. Setelah mengantar Dokter Hari keluar, Silia kembali menghampiri suaminya yang tengah melamun. "Pa ... jangan sedih, kalau Papa rapuh bagaimana dengan Mama. Papa harus kuat, agar Mama juga kuat." "Aku ketakutan tiap hari, Sayang. Tapi aku berharap selalu ada keajaiban, di mana putri kita akan selalu kuat ketika penyakitnya kambuh," ucap Pak Baron dengan nada bergetar. Bu Silia yang melihat suaminya mulai rapuh, langsung memeluk suaminya. Ia pun tidak bisa membendung air matanya, bohong bila ia tidak takut. Ia juga sama ketakutan. "Mama juga takut, Pa. Sama seperti Papa, tapi kita tidak boleh lemah karena kita punya Allah yang akan menjaga putri kita," ucap Bu Silia, sambil terisak. Saat keduanya tengah menangis. Di sudut ruangan, Yasmin mendengar semua ucapan percakapan tadi. Mulai Dokter Hari memberitahu perihal penyakit yang ia derita, gadis kecil itu mulai menyadari jika dirinya saat ini mempunyai penyakit. Penyakit itu pula yang membuat kedua orang tuanya menangis dan bersedih seperti sekarang ini. Yasmin yang mulai sedikit paham perkataan orang dewasa, mulai menghampiri kedua orang tuanya. "Papa dan Mama tidak boleh menangis lagi, karena Yasmin tidak apa-apa. Yasmin sudah sehat bahkan kuat, jadi kumohon jangan menangis karena Yasmin tidak suka melihat kalian menangis," Yasmin dengan nada polosnya berkata, dan saat itu juga membuat kedua orang yang tengah berpelukan kaget. Sesaat Pak Baron dan Bu Silia saling memandang, takut jika Yasmin akan mengetahui perihal penyakitnya. "Sayang, kenapa ada di sini? Bukannya tadi kamu sedang istirahat di temani Bibi?" tanya Bu Silia lembut. "Yasmin tidak mau istirahat, makanya Yasmin kemari. Yasmin juga sudah mendengar perkataan Om Hari, kalau saat ini Yasmin sedang sakit jantung. Jadi selama ini Yasmin sakit jantung, ya. Makanya di sini sering sakit," jawab Yasmin dengan nada polosnya. Degh! Pak Baron dan Bu Silia yang mendengar penuturan polos Yasmin, langsung saling memandang dengan pandangan penuh arti. Keduanya tidak percaya, jika putri kecilnya akan mengetahui perihal rahasia yang selama ini keduanya simpan. Bukannya Pak Baron dan Bu Silia tidak mau memberitahu, tapi melihat umur Yasmin yang masih terlalu kecil membuat keduanya mengurungkan niat mereka memberitahu keadaan Yasmin sampai kiranya putrinya mulai tumbuh besar. Tapi kenyataan yang ada, Yasmin malah mengetahuinya sendiri dengan begitu cepat." ''Jadi kamu sudah tahu, Sayang. Tentang penyakit yang kamu derita saat ini?" tanya Pak Baron lembut, sambil berlutut menyamakan tinggi dengan putri kecilnya. Yasmin yang mendengar itu langsung mengganggukkan kepala cepat. "Iya." "Maafkan kami, Nak. Jadi kamu mengetahui rahasia yang kami simpan, bukannya Papa dan Mama ingin menutupinya. Tapi Papa dan Mama melihat Yasmin yang masih terlalu kecil, belum sepatutnya mengetahui penyakit yang kamu derita, Nak," ucap Pak Baron, sambil membelai rambut putrinya dengan sayang. "Papa dan Mama tidak mau kamu bersedih, atau patah semangat karena penyakit yang kamu derita itu, Sayang," sambung Bu Silia. "Yasmin mengerti. Pa, Ma." "Bagus, Sayang. Kalau sekarang kamu mengerti, pesan Papa dan Mama kamu harus menjaga diri. Agar kamu tidak mudah lelah. Meskipun di sekolah nanti, Papa berharap Yasmin tidak harus berlarian kalau saat bermain, ya, Sayang. Karena Papa sama Mama tidak mau penyakit kamu kambuh karena kelelahan, apa kamu paham, Sayang," tutur Pak Baron, dengan nada lembut sambil membelai pipi putri kecilnya dengan sayang. "Yasmin paham, Pa," jawab Yasmin, dengan nada semangat. Melihat tingkah polos putri semata wayangnya, membuat Pak Baron dan Bu Silia gemas. Keduanya langsung memberikan kecupan sayang pada putri kecilnya di pipi kanan dan kirinya. Senyuman merekah di bibir kedua orang tua itu, begitu pula dengan sang putri. Mereka seolah lupa bahwa tadi mereka sedang membahas sesuatu yang amat penting. "Lebih baik kita mulai sarapan, setelah itu Papa akan mengantar kalian pergi kesekolah," ucap Pak Baron, langsung menggendong putrinya ala koala. "Yeee ... Papa yang mengantar, Yasmin senang sekali," jawab Yasmin dengan binar ceria, sambil memberikan kecupan sayang pada pipi kiri Pak Baron. "Benarkah, Yasmin senang kalau Papa yang mengantar ke sekolah?" tanya Pak Baron ingin mengetahui reaksi putrinya. "Tentu saja Pa, karena tiap hari hanya supir dan Mama yang mengantar ke sekolah. Yasmin 'kan jadi bosan, pengennya Papa yang selalu mengantar Yasmin," Yasmin, menjawab dengan nada polosnya. "Baiklah, mulai sekarang Papa akan menyempatkan untuk mengantar Yasmin tiap hari. Apa kamu senang, Sayang," ucap Pak Baron, sambil tersenyum hangat. "Horee ... Yasmin sangat senang, Pa." Bu Silia yang mendengar percakapan antara putri dan ayah, tidak bisa menahan senyumannya. Ia berharap rumahnya akan selalu di hiasi canda tawa seperti saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD