PART. 1

1150 Words
Di rumah keluarga Mahmud, Devira sedang duduk berhadapan dengan Fahri. "Aku hari ini kembali ke Jakarta," ucap Fahri. "Ooh, terimakasih atas bantuan Mas Fahri selama ini." "Kamu akan kembali ke Jakarta, atau akan tetap tinggal di sini?" Devira menundukan kepalanya, ia sendiri masih bimbang ingin tinggal di mana. Tapi, akhirnya ia memilih menjawab dengan kalimat yang terlintas di benaknya saja. "Tergantung jodohku saja, Mas" "Maksudmu?" "Kalau dapat jodoh orang sini, ya aku akan tinggal di sini. Kalau jodohku tidak di sini, ya mungkin orang Jakarta," jawab Devira, ditatapnya Wajah Fahri, ingin tahu apa yang dipikirkan Fahri dengan jawabannya tadi. "Sudah punya calon?" "Aku sih belum, tapi aku yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh untukku." Fahri menundukkan kepala, berusaha mengusir rasa gelisah yang tiba-tiba merasuki hatinya. "Baiklah Vira, aku pamit dulu, semoga kamu segera bertemu dengan jodohmu." Fahri bangun dari duduknya, Vira mengikuti dengan perasaan kecewa yang berusaha ia sembunyikan. "Salam buat Papi, ya. Assalamuallaikum," pamit Fahri. "Walaikum salam," jawab Devira. Devira Mengantarkan Fahri sampai ke pintu depan. Dengan rasa berat, Fahri melangkah meninggalkan rumah keluarga Mahmud. Ia memang hanya berjalan kaki saja, karena rumah mereka yang jaraknya tidak seberapa. Dalam benaknya, terngiang ucapan Devira tentang jodoh tadi. 'Jangan berpikir terlalu jauh, Fahri. Devira bukan untukmu, ada dendam masa lalu antara keluargamu, dan keluarga Mahmud, yang tidak bisa kamu abaikan begitu saja, meski dendam itu sudah terurai seiring perginya Devina, untuk selamanya' Devira sendiri menatap punggung Fahri, hingga Fahri tidak terlihat lagi olehnya. Devira menarik napas kecewa, pancingannya pada Fahri tidak mengena. 'Apakah rasa ini harus aku perjuangkan, ataukah harus aku enyahkan. Apakah hati Mas Fahri masih untuk Devita, ataukah ia sudah mengikhlaskan semuanya. Ya Allah, jika Mas Fahri jodohku, dekatkan dia, permudah jalan kami untuk bersama. Tapi, jika dia tidak Kau takdirkan untukku, tolong rubah takdirku itu, jodohkan kami ya Allah, aamin. Eeh, boleh tidak ya berdoa seperti itu, aargghh tahu aah, berjodoh syukur, tidakpun ya sudahlah.' *** Beberapa minggu kemudian, di Jakarta. Fahri tidak bisa tidur, ia teringat pembicaraannya dengan Devira, beberapa minggu lalu, saat mereka masih di Banjarbaru. Sekuat apapun ia berusaha membunuh rasa yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Rasa itu masih saja bercokol, dan membuat hatinya gelisah karenanya. Ada yang mengganjal di dalam hatinya, tentang niat awalnya mendekati keluarga Mahmud. Tentang rasa dendam yang harus ia tuntaskan, namun akhirnya semua rencana itu tidak terlaksana, karena ada Roy yang mempercepat proses kehancuran Devina. Fahri merasa hatinya tidak tenang, sebelum menceritakan semuanya kepada keluarga Mahmud. Rasa bersalah tidak dapat ia hindarkan, melihat begitu baik Zulkifli Mahmud, dan kedua putrinya, kepada dirinya. Dan, rasa bersalah itu yang menuntunnya untuk menemui Zulkifli Mahmud, di ruangan kantornya. "Fahri, masuklah" Zul menyambut Fahri dengan senyum lembut yang membuat kegelisahan, dan kecemasan Fahri sedikit berkurang. Fahri meraih telapak tangan Zul, diciumnya punggung tangan pria yang menurutnya sangat baik. Sangat jauh berbeda dengan Devina, yang gila harta. "Silahkan duduk, ada angin apa nih, tiba-tiba datang menemui Papi di sini?" "Ada yang ingin aku katakan pada Papi." "Ada apa? Penting sepertinya ya, Fahri?" "Hatiku tidak tenang kalau belum mengatakannya, Pi" Fahri menatap Wajah Zul yang selalu terlihat tenang, dan teduh. "Katakanlah, Papi akan mendengarkan." "Aku harap, Papi masih mau menganggapku sebagai keluarga Papi, meski apa yang akan aku ungkapkan ini, aku rasa akan melukai hati Papi, dan mencacati kepercayaan Papi kepadaku." "Apa masalah ini sangat berat, Fahri?" Fahri menganggukan kepalanya, ia tarik dalam-dalam napasnya. Ditundukan wajahnya sejenak, memantapkan hati untuk menerima apapun yang menjadi akibat dari kejujurannya. Perlahan, ia angkat kepalanya, ditatap wajah Zul yang menunggu dengan rasa penasaran, apa yang akan diungkapkan Fahri padanya. "Pi .... " "Katakanlah, Fahri." "Saat pertama aku masuk ke dalam keluarga Mahmud, aku membawa misi bermuatan dendam kelurgaku pada Devina." Ucap Fahri dengan suara nyaris berbisik. Zul menatap wajah Fahri, ia terlihat terkejut, namun ia mampu mengatasi keterkejutannya. "Lanjutkan, Fahri" "Aku tidak tahu, apakah Papi pernah tahu soal Devina yang sudah merebut suami orang, saat dia masih duduk di bangku SMA." "Maksudmu, suami dari Fauziah?" Zul menatap Fahri, menunggu Fahri menjawab pertanyaannya. Kali ini Fahri yang tampak terkejut. Ia menganggukan kepalanya. "Papi tahu?" "Aku tahu, dan karena itulah, selepas SMA, aku dan Devina langsung menikah." "Devina sudah merebut apa yang menjadi milik tanteku, hingga tanteku akhirnya meninggal, karena tidak tahan dengan semua itu." Zul menarik napas dalam, untuk mengurai sesak di dalam dadanya. "Aku, mewakili almarhumah Devina, menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya padamu, dan seluruh keluargamu, Fahri. Aku tahu, tidak mudah memberikan maaf, atas kesalahan Devina. Tapi, Devina sudah mendapatkan balasan atas semua perbuatannya." Fahri menatap Zul dengan rasa tidak percaya, tadinya ia yang ingin minta maaf, karena sudah berusaha menghancurkan keluarga Mahmud. Tapi, pada kenyataannya, justru Zul yang meminta maaf padanya. "Papi tidak marah?" Fahri menatap wajah Zul, Zul tersenyum tipis, kepalanya menggeleng. "Kamu baru berniat Fahri, belum melakukannya. Andaipun kamu melakukannya, aku juga tidak pantas untuk marah. Perasaan dendam itu memang tidak baik, tapi aku mencoba memahami perasaan kalian" ucap Zul. Fahri menatap Zul dengan lekat, ia tidak habis mengerti kenapa pria sebaik Zul, bisa memiliki istri seburuk Devina. "Lupakan masa lalu Fahri, aku harap dendam keluargamu ikut terkubur bersama Devina. Jamgan kita perpanjang lagi apa yang mengganjal di antara kita. Aku ingin bertemu keluargamu nanti, untuk menyampaikan permintaan maaf atas nama Devina. Aku harap, keluargamu bisa menerima permohonan maaf kami." Fahri tidak mampu berkata-kata lagi, ingin sekali rasanya ia memeluk pria yang ada di hadapannya. Rasa haru membuncah di dalam dadanya, ia bersyukur bisa mengenal pria sebaik Zulkifli Mahmud. "Assalamuallaikum," seraut wajah cantik muncul di ambang pintu. "Walaikum salam. Vira, masuk Sayang," Zul bangkit dari duduknya. Devira menatap Fahri yang juga tengah menatapnya. "Ada Mas Fahri?" "Iya," Fahri menganggukan kepala. "Dalam rangka apa nih, datang ke kantor Papi? Bukan dalam rangka melamar akukan?" goda Devira, Fahri tersenyum mendengarnya. "Jangan terlalu percaya diri, Sayang. Kamu sendiri, ada apa ke sini?" "Mau minta ijin sama Papi" "Minta ijin apa?" "Vira mau pergi sama teman SMA Vira yang kuliah di sini, Pi" "Siapa?" "Yola, Bara, dan Gunawan." "Mau ke mana?" "Ke mall, makan, dan nonton, Papi" "Jangan pulang malam ya, jaga diri baik-baik" "Siap, Papi" "Pergilah" "Ehmm," Devira menadahkan tangan pada papinya. "Apa?" Zul mengernyitkan keningnya. "Minta duit, Papi. Vira belum kerja, jadi belum punya penghasilan sendiri. Belum punya suami juga, jadi belum ada yang ngasih duit" cerocos Devira. Zul tersenyum, diusap kepala putrinya. Lalu ia beranjak mendekati meja kerja, untuk mengambil dompetnya. "Vira mau kerja?" Tanya Fahri tiba-tiba" "Dia mana bisa kerja, Fahri. Kemarin mau jualan on line, nyatanya, belum terealisasi juga." Zul yang menyahut. "Kalau mau, bisa bekerja di tempatku, tapi sebagai staff saja, mau?" tawar Fahri tanpa mendengarkan ucapan Zul. Sesaat kemudian ia menyadari ucapannya, yang terasa kurang sopan karena menawarkan pekerjaan pada Devira. "Enghh, maaf, bukannya aku bermaksud lancang Pi. Tapi aku pikir, Vira lebih baik menghabiskan waktu dengan belajar bekerja, sambil menunggu saat masuk kuliah nantinya." "Usul bagus, bagaimana Sayang?" Devira menatap papinya, hatinya tengah menimbang-nimbang tawaran pekerjaan dari Fahri. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD