PART. 2

940 Words
Devira menatap Fahri, ia tidak bisa membaca apa alasan Fahri sehingga tiba-tiba menawarkan pekerjaan kepadanya. Tapi ia tidak menemukan jawaban, di dalam hitamnya Mata Fahri. "Aku pikir-pikir dulu, aku pergi dulu ya Pi, mari Mas Fahri, assalamuallaikum." Devira meraih tangan papinya, lalu ia cium punggung tangan Zul, sebelum ia ke luar dari dalam ruangan papinya itu. Zul tersenyum menatap putrinya, ia senang karena Devira tidak larut dalam kesedihan setelah kepergian Devina. "Pi, aku ingin pamit pulang, terimakasih banyak karena Papi tidak marah. Aku bangga bisa mengenal Papi, kesabaran, dan ketabahan Papi sungguh luar biasa." "Nanti aku kabari kalau aku ingin bertemu orang tuamu, Fahri. Semoga mereka mau memaafkan Devina, agar Devina tenang di alam sana." Zul menepuk lengan Fahri lembut. "Iya, Pi. Aku permisi, assalamuallaikum," Fahri mencium punggung tangan Zul. "Walaikum salam." Zul menatap kepergian Fahri, lalu ia tengadahkan kepalanya, ditarik napas sebanyaknya, lalu ia hembuskan dengan perlahan saja. Sementara Fahri melangkah cepat, ia bermaksud menyusul Devira, tapi sesaat kemudian langkahnya surut. Ia berhenti, untuk meneliti hatinya, dan bertanya pada dirinya sendiri, untuk apa ia berusaha menyusul Devira. 'Jangan membangun harapan semu, yang akan menyakiti dirimu, Fahri. Orang tuamu tidak akan setuju jika cintamu, kamu berikan pada Devira, putri dari Devina, orang yang sudah merusak rumah tangga tantemu. Bunuh segera rasa itu, hapus harapanmu.' Fahri tertunduk dalam, lalu ia melangkah dengan pelan, kegelisahan yang ia rasakan, sungguh menyiksa batinnya. Karena ia tidak mampu mengungkapkan perasaannya. *** Fahri menatap jam di dinding kamarnya, pukul sembilan malam, hatinya bertanya-tanya, apakah Devira sudah pulang dari jalan-jalan dengan teman-temannya Rasa penasaran itu yang mendorong Fahri untuk mengambil ponselnya. Ponsel sudah di dalam genggaman tangannya, namun rasa ragu membuatnya tergugu sejenak. Ia duduk di tepi ranjang. 'Jika aku menelponnya, itu sama artinya dengan aku memupuk rasa yang tidak boleh aku miliki pada Devira. Hhhh, bodohnya aku, bukankah dengan menawarkannya pekerjaan di kantorku, itu justru akan menyiksaku. Dia akan berada dekat denganku, namun tak bisa aku miliki.' Fahri menatap ponsel di tangannya. Dulu, ia pernah mencintai Devita, sangat mencintai, meskipun ia tidak pernah sekalipun melihat wajah Devita. Tapi, sikap dan pembawaan Devita yang kalem, dan tenang sudah membuatnya benar-benar jatuh cinta. Sehingga ia sudah mempersiapkan diri jika keluarganya menentang pilihannya. Tapi sayang, Devita ternyata bukan jodohnya, itu cukup mengguncangkan perasaannya. Namun, sekarang ia sudah ikhlas menerima semuanya, saat melihat, betapa bahagianya Devita. Fahri merasa, apa yang ia rasakan pada Devira sedikit berbeda. Semua, dimulai dari rasa bencinya, ia benci Devira yang selalu berusaha membuat Devita menderita. Ia ingin membalas dendam pada Devina, dengan cara menghancurkan Devira, putri kesayangan Devina. Tapi, semua itu justru menjadi senjata makan tuan bagi dirinya. Perasaan benci itu berubah menjadi simpati, saat melihat Devira yang jauh berubah kini. Sekali lagi, Fahri menatap ponsel di tangannya, kebimbangan melanda perasaannya. *** Devira berbaring telentang di atas ranjangnya, ungkapan cinta Bara saat mereka pergi tadi, masih terngiang di telinganya. Namun anehnya, bukan wajah Bara yang bermain di pelupuk matanya, tapi wajah pria lain, yang tadi siang menawarinya pekerjaan. "Husst... hust... hust, pergi, aku tidak butuh mimpi. Aku butuh cinta yang pasti. Tapi, Bara masih kuliah, belum bekerja, masih lama dong nikahnya. Ummm, padahal, akukan ingin seperti Devita. Makan ada yang menyuapi, minta ini itu ada yang memenuhi, tidur ada yang meragapi, handak guring, bangun guring, ada yang menciumi (tidur ada yang memeluk, mau tidur, bangun tidur, ada yang menciumi). Ya Allah, tolong segerakan jodohku, jomblo sungguh menyiksa lahir dan batinku, aku mohoh, kabulkan pintaku, aamiin." Devira tersentak, saat mendengar suara ponselnya. Diambil ponsel yang ada di sampingnya. "Mas Fahri," gumamnya. "Assalamuallaikum, Mas." "Walaikum salam." "Ada apa, Mas?" "Ehmmm, aku ingin menanyakan tawaran pekerjaan tadi, apa kamu berminat?" Devira terdiam sesaat, lalu senyum mengembang di bibirnya. "Aduuh, maaf ya Mas, aku belum sempat memikirkan, soalnya aku juga sedang memikirkan jawaban yang lain." "Jawaban apa?" "Itu, Bara bilang cinta, dia ingin aku jadi pacarnya, tapi aku bilang pikir-pikir dulu," jawab Devira, dengan senyum di bibirnya, namun debar jantung yang berdegup keras, menantikan reaksi Fahri. "Ooh, begitu ya. Kenapa harus pikir-pikir dulu, kalau kamu suka bisa diterimakan?" jawaban Fahri, sungguh jawaban yang tidak Devira harapkan. "Aku malas pacaran, maunya langsung nikah saja seperti Vita. Sepertinya enak punya suami." Devira membuang rasa kecewanya, dan mulai berusaha memancing Fahri lagi dengan perkataannya. "Kalau begitu, minta Bara melamarmu saja" kata Fahri, dan ini menghianati apa yang tengah bergejolak di dalam hatinya sendiri. Dan, membuat Devira harus menelan rasa kecewa sekali lagi. "Bara masih kuliah, belum kerja. Bukannya aku matre seperti almarhumah mami, tapi aku cuma berpikir realistis saja, setidaknya aku tidak ingin setelah menikah masih bergantung pada orang tua." Devira berusaha bicara biasa saja, meski hatinya ingin sekali berteriak agar Fahri sedikit peka akan maksudnya. "Ooh, begitu ya." "Hmmm, eeh di kantor Mas Fahri banyak staff cowok tidak, kalau kerja di tempat Mas Fahri, mungkin aku bisa dapat jodoh di sana ya. Ya sudah, aku terima tawaran Mas Fahri, ungkapan cinta Bara, biar aku pikir belakangan saja. Sudah ya Mas, aku ingin tidur, selamat malam, Mas. Assalamuallaikum." Cericit Devira, tidak memberi kesempatan Fahri untuk bicara. "Walaikum salam." Fahri menjawab dengan nada menggumam. Niatnya menelpon Devira untuk menenangkan hatinya, yang ia dapat justru sebaliknya. Hatinya semakin gelisah saja, kebimbangan membuat pikirannya tidak menentu. Fahri menarik napasnya dalam, lalu ia hempaskan perlahan. 'Ya Allah, beri aku petunjuk-Mu. Apakah aku harus lari, ataukah harus membiarkan rasa ini semakin menjadi' Fahri meletakan ponsel di atas meja, lalu menghempaskan punggung di atas ranjang, ia berusaha mengusir nama Devira dari lubuk hatinya. 'Apa itu mungkin? Sedangkan, aku akan bertemu setiap hari dengannya, betapa bodohnya aku!' Fahri memaki dirinya sendiri, yang tidak berpikir panjang dulu saat menawari Devira pekerjaan. BERSAMBUNG 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD