Sembilan.

1728 Words
Gadis berbola mata cokelat itu masih berseragam putih abu hingga larut malam begini, ia masih sibuk mencari jaket milik lelaki menyebalkan itu. Gebi sudah membongkar isi lemarinya, namun jaket itu masih belum ketemu juga. Sampai ia lupa jika ia masih mengenakan baju seragamnya, sampai ia lupa mandi, sampai ia lupa makan, sampai ia lupa bahwa hari sudah gelap. Untung saja Gebi sedang menjalankan masa menstruasi, jadi ia tidak lupa kalau ternyata dia belum sholat. Gadis itu masih terus berkutat didalam kamarnya. Sungguh ia tidak lupa, seingatnya ia sudah menyimpan jaket itu kedalam tas ranselnya. Masa ada yang mencuri jaket itu dari dalam tas ransel miliknya? Kemungkinan yang nggak mungkin banget sih itu, asli. "Gue inget banget tuh jaket udah gue taruh dalem tas! Ah, kemana sih larinya?" ujar Gebi sambil berjongkok memeriksa kolong kasurnya. "Ya kali dicolong tuyul, mana mau tuyul juga." "Lagian jaket gak seberapa, mana ada sih yang mau nyolong. Iya kan? Dikiloin juga gak laku, yakin gue." Kini Gebi seperti manusia setengah waras, pakaian kumel, rambutnya sudah kusut tak teratur, wajahnya pun suram tak jelas. Hanya karena perkara jaket jeans milik Pandu, dasar menyusahkan sekali! "Ah, kemana sih..." Ponselnya yang berada diatas nakas berdering, ia segera berdiri dari jongkoknya untuk kemudian berjalan mendekati nakas. Gebi mengambil ponselnya lalu melihat layar, dahinya berkerut saat ia dapati nomor tak dikenal tertera dilayarnya. "Siapa sih? Gak tau orang lagi sibuk apa nyari jaket." gerutunya, lalu perlahan jari ibunya menggeser tanda berwarna hijau. Gebi menempelkan benda pipih miliknya itu ketelinga kananya, sambil memutar bola matanya jengah ia berucap; "Hallo, siapa?" ujarnya to the point. "Gue mau ambil jaket." Deg. Ini serius, jantung Gebi langsung berdegup seketika mendengar suara dari speaker ponselnya. Tidak salah? Itu suara Pandu? Ah, yang benar... "Ambil ja- jaket?" "Sekarang." "Tapi--" "Tapi apa?" "Lo dapet nomer gue dari mana?" ah s**l, Gebi malah bertanya seperti orang salah tingkah. "Gak penting itu, yang penting jaket gue. Gue mau ambil jaket gue, sekarang." Gebi menepuk dahinya frustasi. "Harus banget malem ini, ya?" "Ya. Gue ada urusan." "Tapi, gue lagi gak dirumah." ujar Gebi sambil berdoa agar Pandu percaya ucapannya. "Gak peduli, mau lo dimanapun. Gue cuma butuh jaket gue, udah itu aja." "Ya gue lagi diluar, dan jaket lo dirumah, gue gak bawa." "Gue ambil kerumah lo." Gebi membelalakan matanya, "Dirumah gue gak ada orang." ujarnya, tubuhnya mulai menegang. "Ya gue gak mau tau, gue cuma mau jaket gue." "Ih, lo itu keras kepala banget sih dibilangin. Gue lagi gak dirumah, jaket lo dirumah gue dan rumah gue kosong, gak ada siapa-siapa." "Santai, gue punya bakat ngebobol pintu rumah." "Lo mau abis digebukin masa karena dikira maling?" "Gak peduli." Gebi menelan salivanya susah payah. "Besok aja deh, gue bawain kesekolah." "Gue butuh sekarang, kalo gak lagi butuh juga gue biarin jaket itu setahun sama lo." ujar Pandu dari seberang sana, nada bicaranya mulai meninggi. "Iya tapi sumpah gue gak bisa pulang sekarang cuma untuk ngambil jaket lo, gue janji akan bawa dan kasih ke lo besok. Plis, ya?" "Oke, kali ini ada toleransi. Gue tunggu besok, dan stop- gak ada acara minjem-minjem lagi. Udah cukup jaket gue berada ditangan lo, dia udah meronta-ronta, gak betah." "Dih, siapa juga yang--" Tuttt... Tuttt... Sambungan telepon terputus, Gebi merutuki dirinya untuk kemudian menghela napas legas sambil reflek menjatuhkan tubuhnya kekasur. Gebi memejamkan matanya sejenak lalu kembali menghela napasnya panjang. "Sumpah- jaket s****n, lo nyusahin gue banget!" *** Gadis berseragam putih abu-abu itu berjalan dengan santai menuju kelasnya yang berada dilantai 2. Ia menginjakkan kakinya menuju anak tangga pertama, tetapi langkahnya diberhentikan karena kemunculan seseorang dari atas yang membuat Gebi membelalakan matanya. "Mampus gue." gumamnya sambil memundurkan langkahnya. Orang itu mendekat kearah Gebi, kemudian tangannya ia julurkan. "Mana, sini," ujarnya masih dengan wajah datarnya. Gebi terdiam tak berkutik, ia menelan salivanya susah payah sambil matanya menatap cowok dihadapannya dengan penuh misteri. "Gue gak ada waktu ngomong lama-lama sama lo, sini mana jaket gue!" Pandu mulai bersuara dengan nada tinggi. Kesal tidak dapat jawaban dari Gebi, Pandu segera menarik paksa tas ransel yang Gebi kenakan. "Ah," Gebi mengaduh dengan pasrah. Detik berikutnya Pandu membuka resleting tas ransel Gebi dengan begitu grasak grusuk. Tatapan tajamnya mulai ia lemprkan kearah Gebi. "Mana jaket gue? Gak usah becanda!" ujar Pandu. Gebi kebingungan. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. "Gue- gue- lupa bawa." ujar Gebi langsung disambut dengan tatapan Pandu yang semakin menajam. Pandu langsung menarik tangan Gebi dengan paksa, "Gue mau jaket itu sekarang!" ujarnya masih sambil menarik paksa tangan Gebi. "Pandu, mau kemana?" ujar Gebi seraya berusaha melepaskan cengkraman Pandu. "Kerumah lo." "Pandu, ah, sakit- lepasin!" ujar Gebi memohon. "Pandu, Pan!" seru seseorang dari arah belakang mereka membuat Pandu terpaksa memberhentikan langkahnya. "Pan, gawat, Satters mau nyerang sekolah kita!" ujar Habib dengan begitu gelagapan. Dengan reflek Pandu melepaskan tangan Gebi dan menjatuhkan tas ransel Gebi. Kini seluruh perhatiannya beralih kepada Habib. "Killer gak pernah bikin masalah sama Satters. Apa alasan mereka nyerang sekolah kita?" tutur Pandu. Sedangkan Gebi masih berkutat dengan pergelangan tangannya yang memerah dan terasa sakit. "Semalem Jeri sama Ciko lewat markas Satters dan mereka gak sengaja nabrak motor Radit. Jeri sama Ciko diserang abis-abisan dan Satters anggap kejadian semalem itu adalah bendera peperangan dari Killer untuk Satters. Gua gak ngerti kenapa mereka sesensi itu setelah Killer dan Satters damai satu tahun lalu." jelas Habib. Rahang Pandu mengeras, jarinya tergepal sempurna. "Sialan." "Killer! Killer anjing, keluar lo!!!!" "KELUAR!!!" Teriakan heboh itu berasal dari arah gerbang sekolah. Pandu dan Habib seketika saling menatap, sedangkan Gebi menautkan alisnya sambil menatap kearah Pandu dan Habib. Pandu dan Habib segera berlari kearah gerbang bersamaan dengan para murid yang kini kucar-kacir berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing. Gebi mengambil tas ranselnya yang hampir saja diinjak oleh orang-orang yang berlalu lalang dengan gelagapan. "Ih, apaan sih ni sekolah aneh banget." Gebi mulai berjalan menuju halaman depan sekolah, melihat apa yang sebanarnya terjadi hari ini. Kini mata gadis itu terbelalak melihat kejadian dihadapannya itu, dimana para siswa pentolan GIS sedang berkelahi dengan anak sekolah lain tepat didepan halaman GIS. Banyak yang melerai mereka, termasuk para Satpam GIS, namun tak sedikit juga yang berlari masuk kedalam sekolah untuk menyelamatkan diri dari perkelahian itu. "Cukup! Berhenti!" teriak Bapak Frans, Kepala Sekolah GIS. Perkelahian s***s itupun masih terus berlanjut dengan semakin membabi buta. Bahkan sebagian rombongan sekolah lain itu melempari batu kearah gedung GIS yang bangunannya didominasi oleh kaca. Gebi menghindar. Hampir saja ia terkena pecahan kaca yang mental kearahnya. "Semuanya, masuk kedalam GSG!" pekik Babeh Dirno yang bantu mengamani murid-murid lainnya yang tidak terlibat dalam perkelahian itu. Namun Gebi masih tetap berada disana, tidak mendengarkan intruksi Babeh Dirno agar semuanya diharapkan untuk masuk kedalam Gedung Serba Guna. Perkelahian s***s itu akhirnya berhenti saat suara srine mobil Polisi terdengar. Pandu berteriak, "Kalo ada masalah sama Killer, selesaiin ke markas Killer, jangan malah nyerang sekolah gue! Pengecut lo semua!" Segerombolan anak dari luar sekolah itu mulai pergi dari sana untuk kemudian suasana berubah menjadi menegangkan saat Polisi mulai memasuki halaman depan sekolah elite itu. Polisi mengamankan beberapa pentolan GIS yang ikut dalam perkelahian itu, dan beberapa Polisi lainnya menghampiri Bapak Kepsek yang berdiri didekat koridor. Pandu, Gibran, Ciko, Habib, Jeri, dan beberapa siswa lagi berhasil diamankan Polisi untuk diminta keterangan saat nanti disidang diruang Kepala Sekolah. Gebi menelan salivanya saat ia lihat Pandu hampir saja menghajar salah satu Pak Polisi saat kerah bajunya ditarik dengan paksa. "Saya bukan binatang! Saya bisa jalan sendiri!" ujar Pandu kemudian ia melangkahkan kaki menuju ruang Kepsek. Mata tajam milik Pandu bertemu dengan manik mata milik Gebi yang sedang berdiri dipinggir koridor itu. Gebi langsung menunduk saat Pandu mulai lewat dihadapannya dengan wajah yang sangat sangar. Kemudian setelah Pandu, semua siswa yang terlibat perkelahian tadi mulai menyusul dengan diiringi oleh Polisi. Gebi memandangi mereka semua dengan ngeri. "Galak." gumam Gebi. "Hey, kamu ngapain disini? Tidak masuk GSG?" Gebi terkejut sambil menatap kearah suara. Itu suara Bapak Kepsek yang kini telah berdiri sempurna dihadapan Gebi. "Eh, Pak, a- anu- saya- sa-" "Masuk sekarang!" ujar Bapak Kepsek dengan tegas. "Iy- iya Pak." Gebi segera berjalan dengan cepat menuju GSG. *** Sekolah sudah dinyatakan dalam kondisi aman. Semua murid dipersilakan melakukan aktivitas seperti biasa lagi, namun jam belajar ditiadakan untuk menuntaskan kasus tadi. Pandu CS keluar dari ruang Kepsek dengan begitu beringas. Mereka berjalan dengan tatapan lurus kedepan, wajah mereka babak belur persis seperti pereman habis dikeroyok. Tatapan-tatapan penuh arti tak henti memperhatikan kemana kaki mereka melangkah. Namun jika dikondisi seperti ini, semua siswi enggan menaburkan siulan manja mereka karena takut Killer murka. "Lo pada duluan aja kerooftop, gue mau ketoilet." ujar Pandu lalu melangkahkan kaki kearah toilet. Sedangkan keempat temannya berjalan menuju koridor. Pandu berjalan dengan cepat menuju toilet, tapi langkahnya berhenti sekejap saat matanya menatap gadis diujung sana menundukkan kepalanya saat mendapati Pandu yang berjalan lawan arah dengannya. Pandu menghampiri gadis itu lalu menatapnya tajam. Gadis itu berusaha menegakkan kepalanya kembali, memberanikan diri untuk menatap mata tajam milik Pandu. Namun ketika gadis itu menatap wajahnya, ia justru mengernyitnya dahinya. "Pandu, muka lo..." tangannya terangkat untuk memegang lebam-lebam diwajah Pandu. Pandu menepis tangan itu, "Jaket!" Gebi tidak menggubris. Ia masih menatap lekat lebam-lebam diwajah Pandu, kemudian tangannya beralih menarik pergelangan tangan Pandu. Pandu sempat menolak namun Gebi tetap kekeuh. "Kalo nggak diobatin bisa infeksi, bahaya." Gebi menarik Pandu ke UKS, ia mengeluarkan rivanol, kapas, dan betadine dari kotak P3K. Ia mulai mengobati luka yang ada diwajah Pandu. "Tahan ya kalo sakit sedikit." ujarnya serius. Pandu tidak merespon, ia hanya memandangi wajah Gebi yang tepat berada dihadapannya. "Cowok tuh biasa kayak gini, jadi udah gak kerasa." "Sekuat-kuatnya cowok, juga bisa infeksi kalo luka. Lo mau infeksi karena gak diobatin?" tanya Gebi menyekak tapi masih serius berkutat dengan luka diwajah Pandu. Jujur Pandu sedikit ingin meringis saat Gebi menyecapkan betadine ke luka yang lebar dipelipisnya. Setelah selesai, Gebi kembali merapikan rivanol, kapas, dan betadine ketempat semula. "Hobi lo itu berantem ya?" tanya Gebi dengan polos. "Apaan sih," Pandu membuang tatapannya. "Gue serius nanya," "Oh iya, jaket gue?" Pandu malah mengalihkan pembicaraan. Matilah, Gebi kembali mati kutu. "Geb?" Pandu menyenggol lengan Gebi. "Pan, plis kalo gue jujur lo jangan marah." ujar Gebi memohon. "Kenapa?" "Gue- gak tau jaket lo ada dimana." Pernyataan barusan sontak membuat Pandu terkejut, ia langsung menegapkan badannya, matanya melotot. "Maksud lo?!" "Kemarin gue udah bawa kesekolah, tapi--" "Gue gak mau tau, cari!" "Gue udah cari kemana-mana tapi nggak ada." Gebi menatap Pandu dengan takut, sebelum mulut Pandu berketup Gebi langsung bersuara lagi, "Tapi sumpah gue bakalan ganti, yang sama persis kayak gitu." "Gak bakal bisa. Gak akan ada." tukas Pandu. "Pasti gue--" "Nyesel gue bantuin lo kemarin, kalo tau jaket gue bakalan ilang gini. Teledor banget lo!" Pandu beranjak dari duduknya. "Maaf," Gebi berucap lirih. Sebenarnya hatinya sedikit tercabik akibat ucapan Pandu barusan, tapi mau bagaimanapun tetap Gebi yang salah. "Gue gak mau jaket lain, gue cuma mau jaket gue." ujar Pandu tegas. "Seberarti itu?" Bukannya menjawab, Pandu malah melangkah pergi meninggalkan Gebi. Gebi menahan dirinya agar tidak melayangkan jotosan kepada cowok dingin menyebalkan itu. Kemudian ia kembali merutuki dirinya sendiri, "Salah gue! Bener-bener salah gue udah berurusan sama cowok kayak Pandu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD