Sepuluh.

1773 Words
Kini Gebi gelisah, bingung harus berbuat apa. Mulutnya tak henti komat-kamit dari tadi, mengomel tak jelas dengan wajah merahnya. "Padahal kan tinggal gue beli baru aja, selesai! Ini malah tetep mau jaket gak jelas itu. Ah, perkara jaket aja bikin pala gue pusing!" gerutu Gebi. Entah sudah yang keberapa kali. Hanin dan Citra baru saja pulang dari kantin membawa beberapa cemilan. "Nih Geb, makan dulu, dari pagi lo belum makan." ujar Hanin menaruh cemilan yang ia bawa keatas meja Gebi. Namun Gebi tidak menggubris, ia masih terus berkutat dengan pikirannya mengenai jaket s****n itu. "Geb, lu ngapa sih?" Hanin yang baru saja duduk disamping Gebi memandang Gebi heran. "Geb?" Gebi menoleh, ia baru sadar bahwa kedua temannya kini berada didekatnya. "Eh, iya." "Lo kenapa?" tanya Hanin lagi. "Nggak, gue gak apa-apa." jawab Gebi berlagak santai. Beberapa detik kemudian terdengar hentakan kaki gadis cantik yang masuk kelas mereka, membuat ketiga sejoli itu langsung menoleh kearah gadis itu. "Geb, di taman belakang aku liat Nadine," ujarnya sambil menetralkan napasnya. "Apaan sih," ujar Gebi geram. "Apaan?!" ketusnya lagi. "Aku liat Nadine pake jaket yang kamu cari kemarin," ujar gadis cantik itu sambil memegang dadanya, "Barangkali yang Nadine pake memang bener jaket yang kamu cari, soalnya jaketnya sama persis sama yang kamu omongin ke aku kemarin." jelas Elsa lagi. Gebi berdiri, "Dimana?" "Taman belakang." jawab Elsa. Gebi segera berlari keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Geb!" Hanin dan Citra berseru keheranan. Tatapan mereka berdua beralih ke Elsa, meminta kejelasan. Elsa menatap kedua teman Gebi itu sebentar, lalu beberapa saat kemudian berlari menyusul Gebi ke taman balakang sekolah. Tak mau ambil pusing, Citra dan Hanin ikut menyusul ke taman belakang. Gebi menarik jaket yang sedang dikenakan oleh Nadine yang saat itu sedang berselfie ria bersama kedua temannya. "Lepas jaketnya!" ujar Gebi hampir teriak. Nadine sangat terkejut. Ia menatap Gebi dengan tatapan marah, namun juga ada sorot mata yang beda. "Apa apaan?!" ujar Nadine tak mau kalah. "Gak mampu beli apa gimana? Jaket beginian aja lo colong dari tas gue!" ketus Gebi. "Gue tuh udah nyariin dari kemarin, kemana-mana! Tapi ternyata lo yang ambil!" ujar Gebi begitu geram, hampir saja ia menjambak rambut Nadine kalau Elsa tak segera menahan tangannya. Nadine mati kutu. Ia menggigit bibir bawahnya, "Ya terserah gue sih, kan ini jaket pacar gue." ujar Nadine percaya diri, namun ia berbicara sambil menunduk. "Sejak kapan gue jadi pacar lo?" Tiba-tiba Pandu datang dari arah belakang Gebi, bersamaan dengan sampainya Hanin dan Citra. "Siniin jaket gue!" ujar Pandu tegas. Mantaplah, Nadine semakin mati kutu. Tangannya perlahan mulai melepaskan jaket yang ia kenakan, wajahnya terus menunduk bahkan enggan menatap sekitar yang kini sedang mempertontonkan mereka. Nadine memberi jaket itu dengan gerakan lambat. Pandu menarik jaket itu dengan cepat serta menatap Nadine dengan tatapan tak menyangka. "Hiperbola!" ketus Pandu. "Aku tuh cuma heran aja kenapa jaket kamu ada ditas anak baru ini!" ujar Nadine menunjuk Gebi dengan tak senang. "Gue lebih heran kenapa lo bisa buka-buka tas orang tanpa izin, gak ada akhlak lu!" balas Pandu. Nadine menggempalkan tangannya, giginya beradu kasar. Ia benar-benar kesal. Biasanya ia yang menjadi bahan tontonan sebagai yang menindas, kini justru ia yang ditindas. Gadis itu segera berlari bersama kedua temannya yang rupanya masih setia berada disisi kanan dan kiri Nadine. Fantastic. Pandu menatap Gebi, tetapi masih dengan wajah datarnya. "Maaf ya, udah marah-marah sama lo, taunya Nadine biangnya." ujarnya. Gebi hanya melengos, kemudian ia menatap Elsa. "Makasih ya udah kasih tau gue." ujar Gebi kemudian pergi dari sana diikuti oleh Hanin dan Citra yang sudah pasti ingin menguak kejadian ini lebih dalam lagi. Pandu melirik gadis disampingnya, menatap mata gadis itu dengan begitu lekat. Gadis itu tersenyum manis kearah Pandu, memperlihatkan wajah imutnya. "Makasih." kata Pandu sambil mengayun jaket yang ada ditangannya. "Sama-sama." Elsa menjawab masih dengan senyumannya. "Aku masuk kelas dulu." ujar gadis itu lalu menganggukkan kepala sekali tentu dengan senyuman menawannya, "Duluan." Perlahan, kedua ujung bibir Pandu tertarik dengan reflek. Menciptakan senyuman lebar yang jarang sekali terukir diwajahnya. *** Dua minggu berlalu rupanya cukup bagi Gebi untuk menyesuaikan diri disekolah barunya ini, kini Gebi sudah mulai memahami sedikit demi sedikit lingkungan sekolah ini dan seisinya. Sekarang sedang istirahat dan nanti ada perpanjangan waktu 'jamkos' karena para guru harus rapat mengenai studycamp yang kabarnya akan dilaksanakan 2 hari lagi, tepat dihari sabtu. Gebi sedang menikmati bakso beranaknya bersama kedua teman akrab- yang sekarang sudah dinobatkan sebagai sahabatnya. "Nanti lo harus ikut studycamp, Geb, soalnya kan ini acara wajibnya GIS setiap tahun." ujar Hanin sambil menyeruput pop ice cokelat nya. "Studycamp?" Gebi mengernyitkan dahinya. "Iya, jadi setiap tahun seluruh kelas sebelas tuh wajib banget ikut studycamp, kalo nggak ikut sih katanya bakalan dapet nilai c. Nanti ada beberapa senior OSIS yang akan mandu kita selama camping. " jelas Hanin. "Pokoknya Geb kalo lo ikut, kita bertiga harus setenda!" sahut Citra. "Tapi gue paling males deh sama yang namanya camping, ribet tau gak." Gebi memutar bola matanya malas. "Nggak boleh, lo harus tetep ikut! Ini tuh pasti bakalan seru banget, yakin deh sama gue." Citra berseru kegirangan. "Kalo guru-guru udah selesai rapat tuh bakalan ngasih info tentang keputusan rapatnya, biasanya sih kita diliburin h-1 sebelum berangkat, buat prepare dan izin ke orang tua masing-masing, nanti dikasih kok surat izinnya." jelas Hanin. "Atau kalo lo takut izin ke orang tua lo, tenang aja Geb, gue sama Citra siap kok buat izinin ke orang tua lo. Ya kan, Cit?" lanjut Hanin disertai dengan anggukan dari Citra. "Papa mana peduli sama gue." batin Gebi lalu tersenyum kecut. "Geb?" "Hah? Enggak, santai, gue bisa minta izin sendiri." jawab Gebi. "Gak kebayang deh gue serunya bakalan gimana nanti!" "Nanti pas malam api unggun, gue bisa nggak ya kaya dinovel-novel, romantis sama pasangan gue... Ahhh! Pengen!" "Apaan sih Hanin, geli gue!" "Kan siapa tau aja Cit, pas malam api unggun ada cogan yang tiba-tiba nembak gue." "Habib tuh nembak lo!" "Ih amit-amit! Gue sih maunya ditembak sama Kak Arya ya, yang jelas-jelas udah paket lengkap; ganteng, pinter, soleh. Ah, idaman!" "Kak Arya ketua ekskul tennis kan? Bukannya dia udah jadian ya sama Kak Jessica?" "Demi apa lo? Kok gue gak tau?!" Dan ya, Hanin dan Citra mulai berhalu tentang malam camping lusa nanti. *** Gebi mengeluarkan uang 50 ribu untuk membayar ojek online yang baru saja mengantarnya sampai depan pagar rumahnya. "Makasih Mas, lancar terus rezekinya." ujar Gebi sambil tersenyum manis. "Sama-sama Neng," si Mas Ojol beranjak mengambil uang kembalian dari dalam jas hijaunya. "Kembaliannya ambil aja Mas." ujar Gebi. "Serius Neng?" mata Mas Ojol berbinar terang. "Wah kalo gitu saya bisa beliin anak saya barbie ini mah. Makasih banyak ya Neng." si Mas Ojol tersenyum sumringah lalu melajukan motornya lagi. Gebi tersenyum pahit. Orang tadi terlihat begitu peduli dan sayang kepada puterinya, Gebi menjadi miris sekali melihat dirinya sendiri. Gebi memasuki rumahnya, menghela napas jengah saat baru saja menginjaki ruang tengah ia sudah disuguhi dengan pemandangan yang memuakkan. "Geb, sini!" seru Elsa yang berada ditengah-tengah Firman dan Erica. Gebi memberhentikan langkahnya tanpa menoleh kearah mereka. Elsa menghampiri Gebi lalu menarik tangannya. "Nanti Gebi juga ikut kok Ma, Pa, jadi nanti Elsa bisa tidur setenda sama Gebi. Ya kan Geb?" ujar Elsa begitu percaya diri. Gebi memutar bola matanya jengah. "Yasudah kamu Papa kasih izin ikut camping sekolahmu itu, tapi ingat, harus hati-hati." ujar Firman seraya mengelus puncak kepala Elsa. Jujur hati Gebi sangat teriris mendengar ucapan Firman kepada Elsa barusan. Jelas-jelas dihadapannya ada puteri kandungnya, tapi dia malah tak menganggap Gebi ada. Sekarang katakan, apa yang lebih miris dari ini? Meski tercambik, namun Gebi harus tetap menahan diri untuk tidak menangis dan emosi. "Siap Pa, Papa sama Mama gak perlu khawatir." ujar Elsa tersenyum manis. "Terus apa gunanya lo bawa gue kesini? Mau bikin gue iri karena Papa lebih sayang lo dibanding gue anak kandungnya sendiri? Basi. Gue mah udah kebal." Gebi tersenyum remeh kemudian langkah kakinya beranjak pergi dari hadapan mereka. "Gak gi--" "Mas, anak kamu tuh ya, gak ada sopannya sama sekali didepan orang tua." ujar Erica dengan kepandaiannya bersilat lidah. Elsa mengejar Gebi untuk kemudian menarik tangan saudara tirinya itu menuju kamarnya. "Ikut aku sebentar!" "Elsa apaan sih lo!" "Tunggu ya," Elsa melepaskan tangannya saat sudah sampai didalam kamar Gebi, ia meletakkan ponselnya dinakas dan menyimpan tas ranselnya didalam lemari. Memang begitu gadis itu, selalu bersikap rapi dan taat dalam keadaan apapun. "Apaan sih Sa?" ucap Gebi dengan nada tinggi. "Aku punya sesuatu buat kamu, kamu tunggu, jangan pergi dulu." Elsa mulai mencari sesuatu didalam lemari bajunya. Gebi mulai jengah dengan tingkah saudara tirinya itu. Ia menghela napasnya berat kemudian duduk dikasur Elsa karena merasa lelah jika harus menunggu gadis yang sedang berkutat pada lemarinya itu. "Lo ngapain sih Sa?" teriak Gebi. "Tunggu, Gebi." Elsa berseru. Ponsel Elsa yang ada diatas nakas berdering, menampilkan sebuah nama dilayar benda pipih itu. Pandu is calling... Awalnya Gebi tak acuh dengan bunyi ponsel Elsa, namun lama kelamaan lumayan mengganggu pendengarannya juga. "Sa, lo ngapain sih? Ini ada yang telepon!" teriak Gebi lagi. "Sebentar lagi, Geb." Gebi mendesah geram, "Siapa sih?" Gebi melihat nama yang tertera dilayar ponsel Elsa. "Pandu?" gumamnya. "Elsa kenal sama Pandu?" ia bertanya pada dirinya sendiri. "Nih dia!" Elsa mendekat dan berseru sambil membawa sesuatu ditangannya. Tapi gadis itu memilih untuk menganggat panggilan di ponselnya itu terlebih dahulu, "Sebentar ya Geb, aku angkat telepon dulu." Elsa sedikit menjauh dari Gebi setelah ia izin untuk mengangkat telepon. "Hallo?" Elsa mulai bersuara saat benda pipih ditangannya itu ia tempelkan ditelinga kanannya. "Aku udah dirumah kok," Elsa terkekeh. "Kamu nggak perlu sekhawatir itu kali, gini-gini aku jago loh bawa mobil. Kamu sih terlalu ngeremehin aku..." Meski Elsa sudah menjauh, tetapi Gebi masih mendengar jelas seluruh ucapan Elsa. "Masa sih Pandu selembut itu sama cewek? Boro-boro mau khawatir, dia aja bilang nyesel karena udah nolongin gue." gumam Gebi sambil terus mendengarkan ucapan Elsa kepada lawan bicaranya. "Aku beneran udah dirumah Pandu, nanti deh aku pap. Sekarang aku matiin dulu ya, nanti aku kabarin lagi." ujar Elsa. Gebi mendelik geli. "Masa iya sih itu Pandu kelas gue?" tanya Gebi lagi. "Ah, yang namanya Pandu kan banyak." gumamnya lagi. "Geb," rupanya Elsa sudah kembali. Gadis itu menunjukkan sesuatu yang ada ditangannya. Dua buah sweater tebal berwarna pink dan cokelat s**u dengan motif yang sama. "Inget gak?" tanya Elsa sambil tersenyum penuh harap. Gebi memutar bola matanya malas. "Ini sweater yang kita beli samaan di Jogja, pas jalan mau ke Bromo. Kamu harus tau Geb, saat itu adalah moment paling berarti yang aku lakuin sama kamu sebelum kamu berubah jadi dingin ke aku." jelas Elsa masih dengan senyumnya. "Aku kangen kamu, Geb." mata Elsa mulai berkaca-kaca. Sebenarnya hati Gebi benar-benar tersentuh mendengar ucapan Elsa barusan, namun Gebi segera menepis rasa itu. "Geb, aku cuma mau kamu pake sweater ini saat studycamp nanti." ujar Elsa sambil memberi sweater berwarna cokelat s**u kepada Gebi. Gebi terdiam sejenak, dengan terpaksa ia mengambil sweater itu. "Aku harap kamu mau pake lagi ya, Geb." ujar Elsa. "Hm." Gebi hanya berdehem lalu beranjak pergi dari hadapan Elsa. Elsa tersenyum manis, meskipun ia sadar bahwa respon Gebi barusan sangat cuek dan tidak sesuai ekspetasinya. "Mau sedingin apa kamu ke aku, aku akan tetep sayang dan selalu menganggap kamu sebagai orang paling berharga dihidupku, Geb." gumam Elsa, sedetik kemudian sebulir air mata menetes dipipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD