Dua Belas.

1271 Words
Piiiitttt... Suara periwit milik Pak Bunar, kepala devisi Pramuka itu dengan sempurna tertiup bagaikan magnet yang membawa seluruh murid mendekat membentuk barisan. Gebi dan Pandu yang ada dibarisan paling depan saling melirik kikuk. Mereka berdua merasa malu sendiri karena saat bangun tidur di bus tadi mereka menyadari bahwa mereka tertidur dengan sangat romantis. Lucu sekali. "Perhatian semuanya, sekarang saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas yang akan diberikan nanti sore. Kalian akan selalu bersama hingga menjelang malam dan ketika itu kalian sudah harus kembali ke tenda. Mengerti?" ujar Pak Bunar dengan tegas. "Mengerti, Pak!" sahut seluruh siswa. "Baik, disini sudah ada rekan-rekan saya, yaitu Pak Rito, Pak Jonny, Pak Alex, Pak Rendra, Pak Qori, Bu Manda dan Bu Sarah yang akan menjadi pemandu kalian dalam acara ini. Mereka sudah dengan catatan mereka yang isinya adalah nama-nama kalian. Satu kelompok terdiri dari 10 orang, dan yang namanya tidak disebutkan oleh rekan saya, kalian kebagian tugas untuk menjadi panitia didalam acara ini. Dan setelah kalian bertemu dengan teman sekelompok kalian serta pemandu kalian, kalian langsung membangun tenda untuk kalian tidur nanti malam. Mengerti?" "Mengerti, Pak!" "Baiklah, silakan." Pak Bunar berujar kepada ketujuh rekannya untuk menjalankan tugas mereka. Ketujuh rekannya mulai mengabsen nama-nama yang ada dicatatan mereka. Bu Manda mengambil alih kelompoknya untuk berkumpul disisi kiri. "Aranda Salshabilla," teriak Bu Manda dengan tegas. "Bagas Farhan, Charnel Ziva, Didi Supidi," "Lalu... Gebi Kintan Clarasya, Gibran Bagaskara," Gebi dan Gibran berjalan bersamaan menuju barisannya. "Yang kelas kita cuma kita sama Ziva, Geb?" tanya Gibran. "Mungkin, Gib." jawab Gebi sambil menunggu Bu Manda menyebutkan nama lagi. "Kemudian, Larasabilla, Nadine Pramitha." Gibran memutar bola matanya malas sambil berdecak sebal. "s****n, kenapa harus sekelompok sama Nadine sih?!" "Kenapa, Gib?" tanya Gebi heran. Gibran merespon dengan pandangannya yang langsung menatap Nadine yang sedang berjalan kearah barisan mereka. Gebi melihat kearah Nadine. "Hah?!" Nadine melirik sinis kearah Gebi sambil menggibaskan rambutnya yang ia gerai. "Najis sekelompok sama lo." gumamnya. Gebi berdecih, ia menahan dirinya agar tidak menarik rambut gadis itu. Pasalnya ia sudah geram sekali melihat Nadine yang begitu menyebalkan. "Selanjutnya ada dua nama lagi yang akan tergabung dikelompok tiga, Pandu Longsadapit dan Sabilla Refania." Pandu dan Gebi sama-sama membelalakan matanya. "Kenapa harus sama dia?" batin mereka masing-masing. Sedangkan Nadine tak berhenti-hentinya tersenyum sumringah karena doanya akan sekelompok dengan lelaki idamannya terkabul. "Kalo jodoh emang nggak kemana," Nadine langsung menggandeng tangan Pandu. "Dih, apaan sih lo." Pandu menepis tangan Nadine. "Perhatian!" suara Pak Bunar terdengar lagi. Seluruh pandangan kini beralih kepada beliau yang berdiri dihadapan mereka dengan beberapa guru lainnya. "Setelah kalian sudah terbagi dalam kelompok masing-masing, kalian boleh membangun tenda dengan teman kalian, bebas, maksimal lima orang. Nggak diharuskan dengan teman sekelompok, kalian bisa bebas memilih. Tetapi jika sudah selesai membangun tenda dan beristirahat sejenak, kita akan berkumpul disini lagi untuk memulai tugas." ujar Pak Bunar dengan begitu wibawanya. "Mengerti, anak-anak?" "Mengerti, Pak!" "Baik kalau begitu, silakan bangun tenda kalian dengan teratur dan tidak berebut." Seluruh murid mulai mencari teman sepertendanya. Gebi berlari kearah Citra dan Hanin yang sepertinya mereka satu kelompok. "Han, Cit!" "Geb, lo kelompok berapa?" tanya Hanin. "Tiga. s****n gak gue sekelompok sama Pandu! Ah, apaan coba. Udah gitu gue juga sekelompok sama Nadine." "Serius lo, Geb? Bisa pas gitu." "Udah deh terima aja Geb, lagian kan cuma kelompok buat tugas nanti sore aja. Selebihnya kan lo sama kita." ujar Citra. Gebi mendengus sebal. "Hai," Elsa menghampiri ketiga gadis itu dengan senyuman manisnya. "Hai Sa," Hanin dan Citra menyapa balik gadis cantik itu, tapi tidak dengan Gebi. "Aku boleh setenda sama kalian?" tanya Elsa. "Bo-" "Nggak bisa." ucap Gebi ketus, "Tenda kita cuma muat tiga orang, itu juga gak luas. Lo cari temen setenda lain aja." "Tapi kalo nambah satu orang bisa kok, Geb, masih muat." ujar Citra dengan begitu polosnya. Elsa tersenyum. "Tetep aja gak bisa. Gue kalo tidur harus leluasa, gak mau sempit-sempitan." Gebi tetap bersikeras. "Yaudah nggak apa, aku cari temen setenda lain aja. Makasih ya." Elsa beranjak pergi meninggalkan mereka. Gebi yang berusaha tak acuh itu rupanya tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau dia tidak tega melihat Elsa seperti tidak ada teman. Ia merasa bersalah. "Sa," Gebi berseru dan berhasil memberhentikan langkah Elsa. "Yaudah lo sama kita." ujar Gebi dengan wajah datar namun sebenarnya ia tidak enak hati. Lalu ia beranjak pergi untuk membangun tenda. Citra dan Hanin tersenyum, "Yuk Sa." ajak mereka pada Elsa. Elsa membuntuti mereka dengan senyuman yang terulas dibibir mungilnya. "Makasih, Geb." Mereka berempat segera membangun tenda di wilayah khusus wanita. Setelah tenda berhasil berdiri, keempat gadis itu segera masuk kedalam tenda untuk berbenah dan beristirahat sejenak. "Btw, aku nggak dapet kelompok. Aku jadi panitia dibagian konsumsi." ujar Elsa. "Bagus deh, jadi lo nggak usah capek-capek nugas keliling cuma buat nyari bendera-bendera." ujar Citra. "Emang gitu tugasnya?" tanya Elsa. "Iya. Setiap tahun ya begitu." "Nanti kalian hati-hati ya, ditengah hutan pasti banyak bahaya." ujar Elsa. "Iya Sa, lo disini siapin makanan yang enak ya." ujar Hanin. Elsa terkekeh, "Geb, nanti kamu pake sweater yang aku kasih semalem kan?" tanya Elsa. Gebi yang sebelumnya tak acuh pada obrolan, kini matanya mengernyit. Kemudian ia segera memeriksa tas ranselnya. Gebi membelalakan matanya untuk kemudian ia ingat kalau ia lupa membawa sweater itu. Elsa, Hanin, dan Citra yang sama-sama bingung dengan apa yang Gebi lakukan. "Kenapa, Geb?" "Gue lupa bawa." ujar Gebi yang sebenarnya lagi-lagi sangat tidak enak hati pada saudara tirinya. Elsa terdiam sambil menatap Gebi kecewa, ia menundukkan kepalanya. "Aku keluar sebentar ya, mau cari angin." Elsa beranjak keluar tenda. Gebi memandang kepergian Elsa. Ia tau gadis itu kecewa, ia tau jelas. "Geb, ada apa sih?" Hanin bertanya dengan kebingungan. "Iya, sweater apa?" Citra menambah pertanyaannya. Gebi menggeleng. "Nggak ada. Gue keluar sebentar ya," Gebi keluar tenda lalu matanya mencari keberadaan Elsa. Setelah ia mendapati Elsa yang sedang bersender dibawah pohon besar yang tak jauh dari tendanya, gadis itu menghampiri Elsa. "Sa," Elsa mendongakkan kepalanya, kemudian ia menatap lurus kedepan lagi. Gebi duduk disamping Elsa. "Gue minta maaf, gue lupa beneran." Elsa tidak menjawab. "Gue beneran udah nyiapin sweater itu, tapi gue lupa masukin kedalem tas." jelas Gebi lagi. Elsa menahan air matanya yang sudah hampir jatuh. "Apa aku salah ya Geb, kalo aku berharap kita bisa sahabatan kaya dulu lagi?" Elsa menatap Gebi dan sedetik kemudian air matanya terjatuh. "Aku nggak minta banyak Geb, aku cuma minta kamu pake sweater itu dimalam api unggun nanti, siapa tau kamu bisa berubah kaya dulu lagi dengan kamu pake sweater kenangan kita dulu." "Iya maaf, gue bener-bener lupa Sa." Gebi menjawab dengan penuh penyesalan. "Apa kamu nggak bisa lagi maafin aku ya Geb? Aku harus apa biar kita bisa kaya dulu lagi?" Sumpah demi apapun Gebi sangat tertusuk dengan pertanyaan Elsa barusan. Air mata Gebi juga mulai berjatuhan dipipinya. "Kalo aja dulu lo nggak jadi penghianat, kita nggak akan disini sekarang." ujar Gebi dengan begitu penuh emosi. "Kalo aja dulu gue gak sepercaya itu sama lo, gue yakin kita nggak akan ada disini Sa." lanjut Gebi lagi. "Geb," "Lo sadar nggak lo udah ngambil apa yang gue punya sekarang?" Gebi menatap tajam Elsa dengan air mata keduanya yang masih mengalir. "Lo rebut Papa gue Sa. Papa udah bukan Papa yang gue kenal semenjak dia nikah sama Ibu lo. Papa lebih sayang lo Sa ketimbang gue, anak kandungnya sendiri." ujar Gebi sambil menggumpalkan jari-jarinya. "Dan lo masih nanya, kita bisa kaya dulu lagi apa nggak?" Gebi berujar masih dengan nada amarahnya. "Mungkin sampai hari ini lo udah merebut sebagian yang gue punya, dan kedepannya nggak ada yang tau kalo lo bakalan ngerebut segala-galanya dari gue. Gue benci sama lo, Sa." ujar Gebi dengan begitu pahit. Gadis itu berdiri dari duduknya. "Gue harap lo nggak akan pernah nanya kaya tadi lagi. Buang aja seluruh harapan lo, gak guna. Kita nggak akan bisa kaya dulu, nggak akan pernah bisa." ujar Gebi dengan lantang sambil menghapus air matanya, kemudian ia berjalan menuju ketendanya. Elsa merasa tertusuk beribu jarum. Hatinya benar-benar tersakiti mendengar seluruh ucapan Gebi barusan. Air matanya menderas, ia menggerutuki dirinya sendiri. Ingin sekali rasanya ia menjerit sekencang-kencangnya jika ia tidak mengingat situasi yang sedang ramai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD