Tiga Belas.

1550 Words
"Silakan jalankan apa yang diperintahkan. Hati-hati, dan saling menjaga sesama anggota. Yang sampai duluan, merekalah yang menjadi pemenangnya." setelah Pak Bunar menjelaskan apa saja tugas mereka selama mengelilingi hutan, beliau berujar dengan tegas. Sebagian siswa mengangguk paham, dan sebagiannya lagi segera menjalankan tugasnya sebagai panitia acara studycamp. Kelompok 3 segera memulai perjalanan mereka. "Kenapa gue gak jadi panitia aja sih? Bikin ribet aja keliling-keliling hutan." gerutu Gibran dengan jengkel. "Iya Gib, ribet asli." Gebi menambah gerutuannya. Sedangkan Nadine yang sedari tadi berusaha berjalan sejajar dengan Pandu agar bisa merangkul lelaki itu, lagi-lagi mendapat tolakan mentah dari Pandu. "Lo mau diem atau kita tinggalin lo ditengah-tengah hutan?" tegas Pandu dengan wajah datarnya. Setelah berjalan beberapa menit dengan mengikuti alur yang sudah disediakan mungkin dengan tim si Pak Bunar, akhirnya mereka mendapatkan bendera pertama yang dipegang oleh Farhan. "First!" pekik Farhan sambil mencabut bendera itu dari batang pohon yang sudah tumbang. "Sembilan lagi." ujarnya sambil terkekeh. Setelah setengah perjalanan sudah mereka lalui, sudah 5 bendera yang kelompok itu dapat. Dan mereka butuh 5 bendera lagi untuk kemudian dapat kembali ketempat semula. "Kira-kira selesai jam berapa ya?" tanya Ziva. "Sore lah pasti." sahut Didi. "Gib, balik yok." sahut Pandu yang spontan membuat seluruh langkah temannya terhenti dan seluruh tatapan beralih kearahnya. Pandu menaikkan alisnya. "Kenapa?" Nadine langsung mendekat pada Pandu, "Yuk, aku juga udah gak betah disi-" "Diem!" tegas Pandu. "Lo gila apa sinting? Ini udah setengah perjalanan." ujar Gibran sambil menatap jenuh kearah temannya itu. "Lagian lima bendera lagi tuh bisa-bisa sampe malem kita baru balik ke tenda." ujar Nadine seakan membela Pandu. "Lanjutin aja dah dulu, kalo udah kejauhan dan kita nggak dapet bendera lainnya, ya kita balik." ujar Didi mengambil jalan tengahnya. Akhirnya dengan terpaksa Pandu meneruskan perjalanan. Ketika mereka bertemu dengan 3 petunjuk untuk jalan yang berbeda-beda, mereka mulai kebingungan sendiri. "Gue bilang juga apa, balik." sahut Pandu. "Gini deh, kita bagi jadi tiga. Gue, Ziva, Laras kekanan. Aranda, Didi, Refa, Gibran ke kiri. Pandu, Gebi, Nadine kejalur yang tengah." ujar Farhan diangguki oleh seluruh anggota. Sedangakan Gebi dan Pandu yang lagi-lagi harus menggerutu karena harus bersama-sama lagi. "Pandu, aku takut." lagi-lagi Nadine bersuara yang terdengar begitu menyebalkan. "Lo bisa diem gak sih? Berisik tau dari tadi ngomel mulu." bentak Gebi. "Lagian kalo lo takut kenapa lo gak bilang sama Pak Bunar?" sambung Pandu dengan begitu geram. Nadine memasang wajah muramnya. Ia menatap Gebi dengan tatapan penuh kebenciannya. "Liat aja, gue bakalan bikin lo nyasar disini." gumam Nadine. Gebi dan Pandu berjalan mendahului Nadine, sedari tadi mereka saling sibuk mencari dimana letak bendera yang belum mereka temui itu. Menyusahkan sekali memang. Sedangkan Nadine, gadis itu memutar otaknya agar bisa membuat Gebi nyasar ditengah-tengah hutan yang seram ini. Seketika muncul ide yang cukup gila dikepalanya. Nadine segera mengambil sepotong kayu yang cukup tajam dan ia melukai kakinya sendiri. "Aw," Langkah Pandu dan Gebi terhenti saat mendengar rintihan dari Nadine. Dilihatnya Nadine sudah terjatuh lunglai dibelakang sana, mereka berdua segera menghampiri Nadine. "Lo kenapa sih?" Gebi bertanya dengan begitu kesal. Nadine tidak menjawab. Ia hanya memegangi kakinya yang sudah berlumur dengan darah. Ini terjadi diluar dugaannya, ia pikir darahnya tidak akan keluar sebanyak ini. Gebi terbelalak melihat kaki Nadine. "Yaampun! Pan, bawa P3K?" tanya Gebi dengan panik. "Ya nggak lah." Pandu menjawab pun dengan nada yang panik. Gebi segera melepas syal yang ia kenakan dari lehernya. "Pake ini dulu, gue cari obat-obatan dari daun aja." Gebi segera meliliti syal miliknya ke pergelangan kaki Nadine yang berdarah. "Gue aja." ujar Pandu. "Lo tungguin Nadine disini." Nadine menahan tangan Pandu lalu ditatapnya Pandu dengan puppy eyes miliknya. Gebi mengangguk, "Lo jagain Nadine." Gebi segera beranjak untuk mencari dedaunan yang mengandung obat. "Hati-hati, Geb!" pekik Pandu yang tak bisa dibohongi bahwa ia sangat khawatir dengan gadis yang biasanya sangat membuat ia jenuh itu. Nadine tak berhenti meringis, ia terus-terusan memeluk lengan Pandu. Kesempatan pikirnya. "Lagian lo ada-ada aja sih." Pandu menggerutu sebal. "Pandu, sakit..." "Tunggu Gebi sebentar." "Pandu, aku gak kuat." Nadine terus-terusan meringis bahkan kini sampai mengeluarkan air mata. "Sabar," "Bawa aku balik ketenda aja, plis Pan aku gak kuat..." Nadine semakin menambah tangisannya, "Ini sakit banget." Pandu sangat bingung sekarang. "Terus Gebi?" "Pan, sakit." Nadine meringis lagi. "Gebi juga nanti pasti dia nyusul kok, dan siapa tau aja dia ketemu Gibran dan yang lain disana. Pandu, plis..." Jujur Pandu tidak tega melihat Nadine yang terus-terusan meringis. Ia segera menggendong Nadine untuk kemudian membawa gadis itu balik ke tenda. *** "Ini kenapa?" Pak Bunar yang juga terlihat begitu panik langsung menghampiri Pandu yang baru saja terlihat sedang menggendong Nadine. "Bawa ke tenda UKS." ujar Pak Bunar. Pandu segera membawa Nadine ke tenda UKS yang dekat dengan bagian konsumsi. "Pandu," Elsa menghampiri Pandu dengan kedua tangannya yang masih terlihat kotor karena bahan masakan. "Elsa," ujarnya setelah menaruh Nadine diranjang laseham didalam tenda itu. Dan Nadine segera ditangani oleh para Suster GIS yang sengaja ikut untuk kepentingan urgent seperti ini. "Kenapa?" Elsa melihat kedalam tenda dan ia dapati Nadine yang sedang merintih kesakitan karena lukanya yang sedang diobati oleh Suster "Gebi mana?" tanya Elsa pada Pandu. Pandu memasang wajah kebingungan. Ia bingung harus menjawab apa. "Pan, kenapa?" suara itu berasal dari Gibran dan yang lain yang baru saja datang dengan membawa bendera yang sudah utuh. Pandu memandangi mereka satu persatu. "Gebi mana?" tanyanya mulai panik. "Lah kan sama lo sama Nadine, gimana sih?" ujar Laras sambil mengelap keringatnya yang sudah bercucuran. "Gebi..." Pandu bergumam dengan begitu khawatir, ia segera berlari kearah hutan lagi tanpa minta persetujuan dan bantuan siapapun. "Geb!" teriaknya dengan sekuat tenanga sambil pandangannya kesana kemari, "Gebi! Lo dimana?" "Gebi!" "Gebbb!" "Gebi!!" Pandu melirik arloji yang melingkar ditangannya. Sudah pukul 6 sore dan ia masih juga belum menemukan gadis menyebalkan itu. Hari sudah mulai gelap dan asumsinya tentang Gebi yang sudah dimakan binatang buas telah memenuhi isi pikirannya. "Gebi!" "Lo dimana?!" "Geb!" Waktu terus berlalu, langit pun sudah mulai gelap gulita. Ia memanfaatkan senter ponselnya untuk tetap mencari Gebi. "Gebi, lo dimana?!" Tunggu sebentar, Pandu mendengar suara tangisan dari bawah pohon besar diarah kiri. Tak banyak ba-bi-bu, lelaki itu segera menghampiri ke asal suara. Dan benar, ia mendapati sesosok gadis yang sedang menangis dibawah pohon dengan memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan sebab ia hanya memakai baju pendek selengan dan celana joger yang tidak terlalu tebal, sedangkan cuaca malam ditengah hutan ini begitu dingin hingga menusuk kulit. "Gebi," Pandu segera menghampiri gadis itu lalu memeluknya dengan erat. Gebi membalas pelukan itu dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi. "Gue takut..." tangis Gebi dalam pelukan. Pandu yang menyentuh lengan gadis itu dan terasa sekali kalau tubuh gadis itu sedang kedinginan, ia segera melepas jaketnya kemudian memakaikan kepada gadis itu. Gebi menatap Pandu dengan tatapan lemahnya. "Gue gak mau ikut-ikutan acara kaya gini lagi." Gebi memeluk Pandu lagi. Pandu mengelus rambut dan pundak Gebi dengan begitu lembut. "Ada gue disini." tiga kata yang mampu membuat gadis lusuh itu tenang hingga membuat ia terlelap didalam pelukan lelaki itu. Pandu menyadari bahwa tangisan itu sudah usai, ia segera mengintip wajah gadis yang berada didalam pelukannya. Lelaki itu mengulas senyumannya saat ia ketahui bahwa Gebi tertidur didalam pelukannya. Tangan Pandu berangkat untuk mengelus wajah gadis itu yang dipenuhi dengan kotoran. Rambut yang mulanya terkuncir dengan rapi kini sudah tergerai tak karuan hingga kucel seperti tidak mandi 3 hari. Kemudian Pandu mengelus rambut gadis itu dengan gerakan halus. "Ni cewek kalo lagi diem, adem juga diliatnya." gumamnya tanpa sadar sambil tersenyum manis. "Papa, Gebi takut disini..." Suara itu keluar dari mulut Gebi yang sedang tertidur. Ternyata ia mengigau. Lagi-lagi Pandu mengelus rambut gadis itu untuk diciptakannya ketenangan. Ia paham bahwa gadis itu sedang tidak tenang dan ketakutan. "Papa, Papa berubah semenjak kenal mereka. Gebi kehilangan sosok Papa yang dulu Gebi kenal, Gebi kangen Papa tau..." suara itu keluar lagi dari mulut Gebi. Kini Pandu hanya menatapi wajah Gebi yang begitu lusuh dan malah mengeluarkan air mata. "Pa, Gebi mau Papa yang dulu..." Gebi bersuara lagi dengan begitu lirih. Pandu memandangi gadis itu dengan tatapan prihatinnya. Siapa sangka dibalik sifat gadis itu yang sangat menyebalkan, ternyata ia memiliki beban hidup yang Pandu yakin itu sangat berat. Pandu mengusap air mata gadis itu. "Gue juga kangen sama bokap gue.." gumam Pandu sambil matanya menatap lirih gadis yang sedang tertidur itu. Pandu melihat arloji miliknya, sudah pukul 8 lewat. Ia tak mau membuat seluruh yang ada ditenda menjadi cemas, lelaki itu segera membopong tubuh Gebi dan membawanya menuju tenda. Diperjalanan Gebi masih mengigau tentang Ayahnya. Dan Pandu berusaha untuk tidak fokus pada itu, pokoknya secepatnya ia harus sampai ke tenda agar hari ini cepat berlalu. Setelah hampir 1 jam ia melewati hutan yang begitu gelap, akhirnya lelaki itu berhasil membawa Gebi pulang ke tenda. Seluruh yang ada disana langsung menghampiri Pandu yang membopong Gebi. Terutama Elsa, Hanin, Citra, Habib, Ciko, Jeri, dan Gibran yang sedari tadi sangat begitu ingin ikut mencari Gebi dan Pandu tetapi ditahan oleh Pak Bunar karena ia tak mau suasana menjadi semakin keruh. "Bawa ke tenda UKS!" tegas Pak Bunar dan langsung diiyakan oleh Pandu. Pandu segera membawa Gebi ke tenda UKS diikuti oleh ketujuh orang yang sedari tadi sudah khawatir oleh keadaan mereka berdua. Pandu menaruh gadis itu di ranjang UKS dengan begitu hati-hati. Suster segera bertindak untuk sebelumnya berbicara pada Pandu, "Kami akan menangani gadis ini, kamu bisa tunggu diluar ya." ujarnya kepada Pandu yang sepertinya ingin menemani Gebi didalam tenda. Pandu mengangguk kemudian beranjak keluar tenda namun ia merasakan sentuhan hangat ditangannya, sentuhan itu milik tangah Gebi yang kini melingkar dipergelangan tangannya. Pandu beralih menatap wajah Gebi yang ternyata masih tertidur. "Makasih, Pandu. Seharusnya lo gak usah nolongin gue, gue mau liat gimana Papa kalo tau gue kaya gini disini." Ya, Gebi mengingau lagi. Pandu menghela napasnya, kemudian ia mengelus rambut Gebi dan meletakkan tangan Gebi kembali kesemula. "Tolong ya Sus," ujar Pandu kepada Suster.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD