Pukul 7 malam, Gebi baru saja sampai dirumah. Gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, ia berjalan menuju tangga untuk kekamar tidurnya yang ada dilantai 2. Sebelum ia menaiki tangga, ia harus melintasi ruang makan terlebih dahulu dan ia sangat benci sekali hal itu.
Saat Gebi melintas diruang makan, gadis itu berusaha membuang pandangannya dan berlagak tidak melihat kearah kanannya; ada pemandangan yang sangat membuat matanya menjadi malas untuk terbuka. Bukan, Gebi bukan anak indigo yang bisa melihat dunia gaib dan makhluk halus. Tetapi pemandangan itu adalah pemandangan yang sangat dibenci oleh Gebi, keluarga kecil yang sedang menikmati makan malam dimeja makan sambil bergurau dan berceloteh ria.
Gebi terus berjalan lurus menuju tangga tanpa sedikit pun melirik kearah orang-orang yang nampak sedang berbahagia itu.
"Gebi," tegur seorang wanita sebayanya dengan lembut.
Gebi melirik sebentar, namun ia tidak berniat merespon apa lagi menghampiri.
"Gebi," suara berat itu berhasil membuat langkah Gebi yang hampir saja sampai dianak tangga pertama spontan berhenti.
Gebi berdiri ditempat, tidak menoleh kearah asal suara itu namun ia akan terus berdiri disitu sampai ia dengar apa maksud dan tujuan orang itu memanggil Gebi.
"Sini, Gebi." ujar lelaki paruh baya itu, yakni adalah Firman.
Gebi menghela napasnya berat kemudian terpaksa berjalan menghampiri Firman. "Kenapa, Pa?" tanya Gebi tanpa melirik Firman sedikitpun.
"Kamu kalau disapa orang ya dijawab, itu tata krama." ujar Firman.
Gebi memutar bola matanya malas, "Kirain Papa mau nyuruh Gebi makan."
"Lihat Papa," ujar Firman membentak, kemudian Gebi menatap mata Firman. "Papa sedang bicara sama kamu dan kamu malah gak sopan." ujar Firman meninggi.
Gebi tidak merespon, ia hanya tetap menatap Firman dengan penuh bara api.
"Kamu kenapa jam segini baru pulang?"
"Nunggu ojek online, tadi sempet ada demo dijalan." jawab Gebi seadanya.
"Pacaran lagi seperti kemarin, iya?"
Gebi menaikan satu alisnya, "Kemarin? Gebi udah bilang kemarin Gebi--"
"Alasan kamu benar-benar klasik Gebi, Papa ini nggak bodoh."
"Papa udah, kasian Gebi baru pulang pasti dia butuh istirahat."
Gebi melirik Elsa yang baru saja bersuara, matanya menatap sinis gadis yang duduk dihadapan Firman itu. "Gak usah sok ngebela gue." ujar Gebi ketus.
"Gebi, Elsa berusaha berprilaku baik sama kamu tapi kamu malah begitu. Gak ada timbal baliknya sama sekali!" ujar Erica, wanita paruh baya yang duduk disebelah Firman. Ya benar, ia adalah istri dari Firman.
Gebi menatap sengit kearah Erica. "Karena sumpah demi apapun, gue sama sekali gak butuh simpatik dari lo berdua." ujar Gebi yang sontak membuat Firman berdiri kemudian menampar pipi Gebi dengan cukup keras.
Gebi terkejut bukan main, ia memegang dan mengelus pipinya yang terasa sakit, detik selanjutnya matanya berkaca-kaca. "Papa... Papa nampar Gebi?" tutur Gebi menatap Firman penuh arti.
Firman membalas tatapan Gebi dengan lantang, "Iya, tingkah kamu sudah diluar batas!" ujar Firman meninggi.
"Diluar batas Papa bilang? Pa, harusnya Papa ngaca! Yang bertingkah diluar batas itu Papa atau Gebi? Papa bener-bener kehilangan jati diri Papa semenjak seluruh hidup Papa dikendaliin sama dia!" ujar Gebi menunjuk tepat didepan wajah Erica yang sedang menatap kearahnya.
Erica membelalakan matanya, tangannya gatal sekali ingin menoyor mulut Gebi saat itu juga. Namun untung saja, ia masih bisa mengendalikan emosinya.
Lagi-lagi Firman menampar Gebi, yang membuat hati Gebi benar-benar teriris. Sosok lelaki yang ia anggap selalu menjadi pahlawan untuknya, kini sedang berseteru hebat dengannya, saling beradu argumen hingga terlihat bagaikan kedua musuh yang ingin saling memangsa lawannya.
Setelah beberapa detik menatap Firman dengan tatapan tidak menyangka, Gebi segera berlari menuju kamarnya. Ia melewati anak tangga dengan secepat kilat untuk kemudian sampai dikamarnya dan mengunci kamarnya rapat-rapat.
Gebi melepas tangisnya diruangan itu dengan leluasa, ia menjerit, ia mengacak seluruh barang-barang dikamarnya.
Ia marah, ia kecewa, ia tak menyangka, ia sangat ingin sekali hilang dari muka bumi ini.
Gebi berjalan kearah nakas disamping tempat tidurnya, ia meraih bingkai foto yang sudah terpampang jelas dirinya dan seorang wanita paruh baya tengah saling merangkul seraya tersenyum dengan ceria kearah kamera.
"Gebi kangen Mama." gumamnya lalu memeluk foto itu dengan erat.
***
Pandu, Habib, Gibran, Ciko, dan Jeri. Disinilah mereka, diruangan besar yang berada didekat daerah rumah salah satu anggota Geng Killer.
Pandu tengah duduk dikursi yang sudah disediakan khusus untuk Kapten atau Ketua Geng Killer.
Disisi kanan, kiri, dan depan Pandu sudah diisi dengan seluruh anggota Geng Killer yang jumlahnya lebih dari 50 orang.
Malam ini diadakan kumpulan sebab selain mereka yang memang rutin berkumpul 2 kali dalam seminggu, kini mereka berkumpul hanyalah karena ada anggota baru yang ingin masuk Geng Killer.
"Gue tegasin sekali lagi sama kalian berlima, kalo Geng Killer sama sekali bukan Geng rusuh. Kita semua disini keluarga, bersolidaritas, dan gak ada tujuan sedikitpun untuk buat kacau sekitar." tutur Pandu kepada 5 pemuda yang berada tengah-tengah kerumunan anggota.
5 pemuda itu, yakni Reno, Erlan, Tino, Yusuf, dan Jio dengan segera mengangguk paham.
"Kita seneng gabung di Killer." ujar Erlan.
Pandu tersenyum, "Dan yang perlu kalian tau juga, disini gue cuma memimpin Geng ini, jangan anggap gue atasan kalian atau bos kalian. Karena disini kita semua sama, sederajat dan gak berbeda." jelas Pandu lagi.
"Sedikit tambahan dari gue, sekedar informasi aja, kalo kita rutin kumpul dua kali dalam seminggu." ujar Habib tak lupa dengan senyuman khasnya.
"Siap, Bib."
***
Ku rindu senyum mu, Ibu.
Alunan musik dari Andmesh - Hanya Rindu itu bersemayang ditelinga Gebi. Gadis itu meneteskan air mata, ia memandang lurus kedepan jendela yang dengan sengaja ia buka, angin malam yang masuk dari jendela itu dengan senang hati menemani gadis malang itu malam ini.
Gebi menghapus air matanya dengan tegas, lalu ia beranjak kearah lemari bajunya. Gadis itu berniat untuk salin baju dan akan segera pergi dari rumahnya. Sepertinya ia butuh refreshing malam ini, kini otaknya benar-benar penuh beban.
Kini Gebi tengah mengenakan dress selutut berwarna biru dongker dibalut jaket jeans yang sengaja tak ia kancing, setelah Gebi mempercantik wajahnya dengan polesan make up tipis, Gebi segera mengambil sling bag. Kaki gadis cantik yang dibalut dengan flat shoes itu segera melangkahkan keluar kamar.
"Gebi, kamu mau kemana?"
Ketika Gebi baru saja ingin turun dari tangga, Gebi menghentikan langkahnya saat ada suara yang terdengar dari belakang tubuhnya.
"Kamu mau kemana," Elsa berjalan mendekat kehadapan Gebi, dan kemudian menatap Gebi dari atas hingga bawah. "Geb, apa baju kamu gak kependekan buat pergi malem-malem begini?"
Gebi menatap tajam kearah Gebi, "Urusan lo apa?" ucap Gebi ketus, lalu dengan segera melangkahkan kaki untuk turun tangga.
"Gebi tunggu," Elsa menyusul lagi. "Kamu naik apa?"
"Bukan urusan lo, Elsa. Udah deh gue gak ada waktu buat ngeladenin lo, gue buru-buru."
"Gebi, tunggu." Elsa menahan lengan Gebi yang lagi-lagi hendak meninggalkannya. "Geb, kamu pake mobil aku aja ya?"
Gebi melepaskan tangan Elsa lalu berdecih, "Mobil lo?" ucapnya lalu terkekeh hambar. "Gak sudi!" ucapnya lagi dengan penuh penekanan, kemudian Gebi berjalan dengan cepat untuk keluar dari rumah itu.
Gebi berlari kecil untuk menjauhi rumah besar milik Firman itu, dan tepat sekali ada taxi yang melintas, Gebi memberhentikan taxi itu kemudian naik kedalamnya.
Setelah si supir mendapatkan informasi kemana Gebi akan pergi, taxi pun melaju ketempat tujuan.
Gebi menatap lurus kedepan, sebenarnya ia masih kesal dengan prilaku Firman yang kini telah berubah drastis, maka dari itu kini ia ingin menenangkan pikirannya dahulu untuk sejenak.
Taxi mengerem tiba-tiba membuat tubuh Gebi beserta supir taxi itu terlonjak kedepan. Gebi mendongakkan kepalanya, "Ada apa, Pak?" tanya Gebi sambil membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Si supir menoleh kearah Gebi, "Saya hampir aja nabrak kucing, Mba."
Gebi membelalakan matanya, "Hah? Terus gimana Pak? Ketabrak dong?"
"Kan saya bilang hampir Mba, bukan nabrak." ujar si supir diiringi helaan napas lega dari Gebi.
"Yaudah Pak, lanjut jalan deh."
Si supir segera beranjak mengambil alih untuk menjalankan mobilnya kembali, namun kali ini si supir benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat didepannya.
Segerombolan pemuda bermotor besar berhenti tepat didepan mobil taxinya, hal itu sontak saja membuat Gebi ikut terkejut. "Pak, itu apaan? Rame banget."
Supir menggeleng, "Saya nggak tau, Mba."
Semua pemuda itu terlihat turun dari motornya lalu salah satu dari mereka menghampiri pintu mobil pengemudi, pemuda itu mengetuk jendela mobil yang tertutup. "Buka woi!" teriak pemuda itu.
Kini Gebi mulai gelisah, ia menatap pemandangan yang mengerikan dihadapannya. "Pak, udah terabas aja." ujar Gebi sambil menepuk-nepuk pundak si supir.
"Waduh Mba, didepan rame motor, kalau saya terabas ya gak bakal bisa." ujar si supir yang sudah terlihat gemetar.
"Pak, terus gimana dong?" Gebi semakin panik, lantas beranjak mengeluarkan ponselnya. Detik berikutnya ia menggerutuki dirinya sendiri karena lagi-lagi dirinya ceroboh lupa membawa ponsel, tadi ia lupa memasukan ponselnya kedalam sling bag, memang ceroboh sekali gadis itu.
Jantung Gebi hampir copot saat satu pemuda kini menggedor jendela disamping kanannya, Gebi menatapnya dengan menelan saliva dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran dipelipisnya. "Ya Tuhan, Gebi masih mau hidup." gumamnya, bibirnya kini mulai bergetar hebat.
Duar.
Kaca depan mobil itu dipecahkan menggunakan balok kayu oleh salah satu dari gerombolan orang-orang itu, mau tidak mau si supir harus keluar dari mobil.
"Pak, Pak,"
Gebi berteriak histeris. Pintu belakang dibuka oleh pemuda yang tadi menggedor kaca disamping Gebi, lalu ia mencekal tangan Gebi dengan kasar untuk kemudian membawa Gebi keluar.
"Lepasin gue!" pekik Gebi. Air mata gadis itu kini mulai bercucuran dipipinya yang sudah halus oleh make up.
Disaat sutuasi begini, Gebi hanya bisa memasrahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kejadian kemarin pun masih terus terlintas dipikirann Gebi, dan sekarang Gebi mendapatkan musibah mengerikan lagi. Huh, mungkin memang Gebi tidak diizinkan untuk hidup dengan tenang dan bahagia.
Sementara tubuh Gebi dicekal, si supir sedang dihajar oleh beberapa pemuda biadap itu.
"Lepasin gue!"
"Tolong!"
Saat Gebi berteriak, si pemuda yang mencekal Gebi dengan cepat membekap mulut Gebi. "Diem lo!"
Bug.
Bug.
Bug.
Pukulan bertubi-tubi mendarat diwajah dan ditubuh si supir. Air mata Gebi semakin menderas saat ia menyaksiakan didepan matanya, lelaki paruh baya yang kini terkapar lemah diaspal.
Suara kelima motor sport yang mendekat ketempat kini Gebi berada, berhasil membuat Gebi membelalakan matanya. Kelima pemuda yang baru datang itu segera turun dari motornya lalu menghampiri segerombolan pemuda. "Berhenti woi!"
Gebi menggigit tangan pemuda yang membekap mulutnya, pemuda itu meringis sambil menggibas tangannya yang digigit oleh Gebi. Tetapi satu tangannya tetap mencekal tubuh Gebi dengan cukup kuat.
"Pandu, tolongin gue!" Gebi berteriak.
Pandu menoleh kearah suara itu, ia melihat jelas dimana tubuh mungil Gebi sedang ditahan dengan cekalan. "Gue urus Gebi, kalian urus semuanya."
Pandu berlari mendekat kearah Gebi kemudian menghajar orang yang sedang mencekal Gebi.
Bug.
Gebi berhasil terlepas saat satu terjangan Pandu mendarat dikaki pemuda itu. "Banci!"
Gebi segera menjauh, menyaksikan bagaimana Pandu menghajar orang yang mencekalnya tadi dengan membabi buta.
Pandangan Gebi beralih kearah Habib, Gibran, Ciko, dan Jeri yang sedang melawan kurang lebih 10 orang pemuda. Sangat tidak sebanding, 5 orang melawan lebih dari 10 orang.
Perkelahian dihadapan Gebi semakin sengit, jantung Gebi berdegup kencang hingga membuat dirinya hampir saja hilang kesadaran jika Pandu tidak segera menahan tubuhnya agar tak jatuh.
"Ikut gue!" Pandu menarik tangan Gebi menuju motornya.
Setelah Gebi naik diboncengannya, Pandu segera tancap gas dari sana. Dengan reflek tangan Gebi mulai menyusup kepinggang Pandu. Kepalanya pun mulai menyandar dipundak Pandu. Sungguh ia sangat lelah saat ini.
Motor sport milik Pandu berhenti disalah satu kedai dipinggir jalan. Gebi turun dari boncengan setelah instruksi dari Pandu bahwa mereka telah sampai.
Setelah Pandu melepas helmnya lalu turun dari motor, cowok itu menarik tangan Gebi masuk kedalam kedai itu.
"Nyak," sapa Pandu pada pedagang dikedai itu. Beliau adalah wanita paruh baya, Irin namanya, wanita itu kerap disapa Enyak Irin.
Enyak Irin menghampiri Pandu dan Gebi yang baru saja duduk disalah satu bangku panjang kedai.
"Mau minum ape, Ndu?" tanya Enyak Irin.
"Air putih aja Nyak, satu." jawab Pandu.
"Oke deh." Enyak Irin mengacungkan jempolnya, sebelum ia beranjak pergi ia melirik Gebi sekilas. "Ndu, ini siape? Pacar lu? Ngape kagak dikenalin sama Enyak, Ndu." ujar Enyak Irin lalu mengelus pundak Gebi, "Cantik banget dah."
Gebi hanya mengangguk sopan sambil tersenyum kikuk.
"Yaudah sebentar ye, Enyak ambilin air putih dulu." ujar Enyak Irin lalu beranjak mengambil air putih.
Pandu hanya menatap lurus kedapan, menunggu Enyak Irin kembali membawakan air mineral. Sedangkan Gebi pun tak tahu harus berbuat apa selain mengelus-elus lengannya sendiri sambil memandangi sekitar.
"Ini, Ndu." Enyak Irin memberikan sebotol air mineral kepada Pandu lalu Pandu mengambil botol itu dihadiahi dengan senyuman manisnya. "Makasih, Nyak."
Setelah Enyak Irin berlalu, Pandu memberi botol air mineral itu kepada Gebi. Gebi menunduk, menatap botol itu dengan heran. "Buat gue?"
"Menurut lo?"
Gebi mengambil botol itu, lalu membuka tutupnya untuk kemudian ia meneguk air mineral didalamnya.
"Makasih ya, Pan, lagi-lagi lo nolongin gue." ujar Gebi setelah menutup botol itu kembali.
"Keluar malem-malem mau kemana?" tanya Pandu tanpa merespon ucapan terima kasih Gebi barusan.
Gebi menghela napasnya berat, "Gue cuma mau refreshing aja."
"Refreshing tapi malah nyelakain diri sendiri." tutur Pandu, "Lagian ini tuh udah jam sepuluh, mau refreshing dalam bentuk apa lo?" tanya Pandu sangat intens.
Gebi tidak merespon, ia menaruh botol air mineral itu keatas meja lalu mengelus kembali lengannya, ia merasa sangat kedinginan.
Pandu melirik Gebi sebentar untuk kemudian ia berdiri dari duduknya, "Gue anter lo pulang."
Sebelum keluar dari kedai, Pandu beranjak menghampiri Enyak Irin yang sedang menggoreng bakwan, Pandu memberinya uang lima puluh ribu kepada Enyak Irin.
"Ah gak usah, lagian cuma air putih doang masa lima puluh ribu?"
"Nggak apa Nyak, Pandu bagi-bagi rezeki."
"Ah elu, makasih ye."
Pandu pun berjalan keluar kedai diikuti oleh Gebi dibelakang yang masih mengelus lengannya tak henti-henti.
Pandu menaiki motornya, ia melirik Gebi sekilas yang sedari tadi nampak mengelus lengannya. Cowok itu segera melepaskan jaketnya, "Nih pake." ujar Pandu sambil memberi jaketnya kepada Gebi.
Gebi menatap Pandu dengan penuh pertanyaan.
"Ini, ambil." Pandu menyorkan jaketnya lagi, lalu Gebi segera menangkap jaket itu.
"Besok balikin." ketus Pandu.
Gebi mengerjapkan matanya dan tidak mau ambil pusing, ia memakai jaket itu kemudian segera naik ke boncengan motor sport milik Pandu lagi.