Tujuh.

1387 Words
Pagi ini Gebi bangun lebih awal dibandingkan pagi-pagi biasanya, kini tubuh gadis itu sudah dibungkus sempurna oleh seragam putih abunya. Kaki yang sudah dibalut flat shoes berwarna hitam itu melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju ruang makan. Gadis itu berjalan menuju meja makan lalu duduk disalah satu bangkunya. Ia mengambil roti tawar yang sudah tersedia diatas meja lalu mengoleskan selai cokelat yang juga sudah tersedia. Gebi langsung melahap roti itu sambil melirik sekelilingnya, kemudian pandangannya terkunci pada kursi dihadapannya. Setelah ia menelan suapan roti itu, ia menghela napas dengan reflek. "Mama, Gebi kangen sarapan bareng Mama." gumamnya lalu menyuapkan roti lagi. "Gebi!" Dengan reflek gadis itu mengerjapkan matanya saat indra pendengarannya menangkap suara yang membuat wajahnya menjadi masam seketika. "Gak usah jerit-jerit, kampungan banget sih jadi orang!" ujar Gebi sambil memutar bola matanya jengah. "Papa kamu sedang tugas diluar kota." Erica duduk dihadapan Gebi setelah mengatakan itu, lalu ia meraih roti tawar dan juga selai cokelat dari hadapan Gebi. Gebi memberhentikan aktivitas makannya, "Kapan berangkatnya? Perasaan semalem masih ada dirumah." "Tadi subuh." jawabnya ketus. "Kenapa gak pamit sama gue?" tanya Gebi intens. "Makanya bangun itu jangan siang-siang!" ujar Erica masih dengan mengoleskan selai cokelat pada roti tawar. "Perasaan hari ini gue bangun pagi banget deh." Gebi bergumam sambil merutuki dirinya sendiri. Elsa turun dari tangga, disambut hangat oleh Erica yang kini masih berkutat dengan roti tawarnya yang sudah dioles selai lumayan banyak. "Elsa, sarapan, Nak." ujar Erica kemudian mempersilakan Elsa yang juga sudah berseragam sekolah itu untuk segera duduk. "Makasih, Ma." ujar Elsa tersenyum kearah Erica, lalu ia mengambil roti berselai cokelat itu kemudian segera melahapnya. "Sebentar ya sayang, Mama bikinin s**u dulu." ujar Erica lalu berjalan menuju dapur yang tak jauh dari ruang makan, "Aduh gara-gara ngurusin Papa berangkat subuh tadi nih, jadi lupa bikinin Elsa sarapan." gumam Erica yang masih terdengar jelas oleh Gebi dan Elsa. Gebi hanya memutar bola matanya malas lalu menuangkan air putih yang ada didalam teko kedalam gelas. Setelah minum, Gebi beranjak berdiri sambil membenarkan posisi tas ranselnya yang sudah ia gendong. "Gebi, mau kemana?" Elsa bertanya saat melihat Gebi beranjak pergi. "Clubing." ujar Gebi dengan penuh penekanan. Lagian sudah tahu pakai seragam sekolah, ya mau ke sekolah lah, masa iya mau ke diskotik. Elsa membelalakan matanya untuk kemudian mengejar Gebi yang perlahan menjauh, "Gebi, sama aku aja, ya?" Elsa menahan tangan Gebi untuk berhenti. Gebi menggerutu lalu melepaskan genggaman tangan Elsa, "Apaan sih lo, ih." Erica datang dari arah belakang untuk kemudian merangkul pundak Elsa. "Emang modelan kaya gini mah gak bisa dibaikin, sayang." ujar Erica sambil tersenyum ketus. "Apaan sih, lagian siapa juga yang minta dibaikin sama lo berdua. Gak guna tau gak?!" Gebi berdecih jijik. "Ingat Gebi, Papa kamu lagi gak dirumah, jadi jaga sikap kamu kalau masih mau tinggal dirumah ini." ujar Erica dengan penuh penekanan. Gebi hanya tersenyum lebar kemudian menyilangkan kedua tangannya didada, "Inget juga Nona Erica yang terhormat, kalo lo berdua cuma numpang dirumah ini." balas Gebi dengan penuh penekanan. "Lo berdua itu gak lebih dari sekedar parasit dikeluarga gue. Ngerti?!" ketusnya lalu berlalu dari hadapan Erica dan Elsa yang sedari tadi menatap pertengkaran itu dengan dahi berkerut. "Parasit? Oke, saya ikuti cara main kamu." gumam Erica sambil menatap kepergian Gebi. *** Hari ini GIS mengadakan free day untuk setengah hari. Jadi, semua murid dibebaskan dari pelajaran selama 5 jam kedepan, karena ada rapat khusus guru yang entah membahas apa. Kelas 11 IPA 3 termasuk kelas yang sangat gercep kalau ada jamkos begini, kelas langsung kosong melompong entah berhamburan kemana penghuninya. Gebi- si murid baru ini memilih tetap berada dikelas, sedangkan Hanin dan Citra sedang melakukan latihan rutin Paskibra, ekskul yang digeluti kedua sejoli itu. Gebi yang merasa bosan berada didalam kelas karena melihat situasi kelas yang sudah sepi, hanya tersisa Edo yang sedang tertidur pulas disudut kelas. Akhirnya Gebi memutuskan untuk keluar kelas dan berniat keliling lingkungan sekolah mewah ini. Sebenarnya tadi banyak teman sekelas Gebi yang mengajak Gebi untuk keluar kelas, namun Gebi menolak dengan alasan ia ingin beristirahat dikelas. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya keluar kelas dan langsung disuguhi pemandangan yang membuat senyumnya terulas lebar. Berbagai macam siswa siswi dengan leluasanya berlalu lalang, seakan mereka adalah manusia paling bahagia karena telah diberi kebebasan dari pelajaran yang tak jarang membuat kepala mereka berasap. Gebi berjalan menuju koridor, diperjalanan ia tak henti-henti mendapat ribuan sapa dari orang-orang yang mengaguminya. Bahkan sesekali ada yang mengajaknya foto bersama dan memekik tepat didepan wajah Gebi, seperti ini; "Gebi, follback IG gue dong." Ya, Gebi sih hanya mengangguk sambil membalasnya dengan senyuman manisnya. Kini Gebi berjalan menuju arah lapangan, ia melihat kearah lapangan dan langsung ia dapati lambaian tangan dari Hanin dan Citra yang saat itu sedang berbaris ditengah lapangan bersama anggota Paskibra lainnya. Gebi membalas lambaian temannya dengan girang sambil menggempalkan tangannya seolah memberikan semangat pada kedua teman barunya itu. Kemudian langkah Gebi berlanjut kearah belakang sekolah, langkahnya ia hentikan saat hampir sampai didekat taman belakang. "Gak usah sok cantik deh!" "Lo itu masih anak baru ya, ngerti?!" Suara pekikan itu membuat Gebi melangkah dengan mengendap, ia mengumpat dibalik dinding untuk melihat siapa si pemilik suara. Kedua mata Gebi sontak terbelalak melihat adegan tidak senonoh dihadapannya ini. Dengan lantang, Gebi keluar dari tempat persembunyian lalu menghampiri ketiga cewek yang terlihat sedang menerkam mangsanya. "Apaan nih, lepasin!" Gebi menepis tangan cewek yang memelintir tangan Elsa. "Gebi," gumam Elsa sambil mengelus tangannya yang masih terasa sakit. Cewek itu langsung melotot kearah Gebi. Ia adalah Nadine, bersama ketiga temannya yang sudah seperti dayang-dayangnya yang kini dan seterusnya berada dikedua sisi Nadine. "Terus terang ya, gue gak suka ada anak baru yang dengan seenak jidatnya menggeser posisi gue sebagai the most wanted girl disini!" tutur Nadine menatap tajam kearah Gebi dan Elsa. Gebi berdecih, sedangkan Elsa hanya menunduk ketakutan. "Sori ya, nenek lampir, gue sama sekali gak mau kok jadi most wanted most wanted-an segala. Apa lagi geser posisi lo? Plis ya, gue pun gak tau asal-usulnya kenapa gue dan Elsa tiba-tiba bagaikan jadi ratu disekolah ini." ujar Gebi sambil menggeser tubuh Elsa kebelakang tubuhnya, ia tak mau jika Elsa yang tidak berkutik sama sekali itu tiba-tiba mendapat serangan dari Nadine beserta dayang-dayangnya. "Wow, jadi lo berdua berasa paling cantik gitu?" ujar Nadine mendorong tubuh Gebi, Elsa pun hampir tersungkur kebelakang jika Gebi tidak segera menahannya. "Sumpah ya, gue capek deh ngomong sama orang yang otaknya ditaruh didengkul." ujar Gebi dengan penuh penekanan. "Kurang ajar!" tangan Nadine bersiap untuk menampar wajah Gebi namun cekalan Pandu ternyata lebih cepat bermain. "Mau gue laporin kepsek apa gimana, nih?" Pandu bersuara sambil tetap mencengkram pergelangan tangan Nadine. "Jadi cewek kok kasar banget." Nadine membulatnya matanya sambil terus berusaha melepaskan cekalan Pandu. "Pandu, lepasin, aw, Pandu sakit." "Sakitan mana sama tangan lo ini kalo sampe berhasil nampar dia?" tanya Pandu lalu melepaskan tangan Nadine dengan lemparan kasar. "Aw," Nadine masih mengaduh untuk kemudian melirik kedua temannya, "Girls, cabut." Nadine dan kedua dayangnya yang diketahui bernama Fiola dan Risa itu kemudian berlalu dari hadapan Pandu dan Gebi. "Gak usah takut, udah aman." ujar Gebi pada Elsa. Kemudian Elsa segera keluar dari balik tubuh Gebi, gadis itu menatap kepergian Nadine dan kedua temannya dengan tatapan takutnya dan masih reflek meremasi rok abu Gebi. Sudah menjadi kebiasaan Elsa jika ia dalam keadaan ketakutan ia pasti meremas pakaian orang yang ada didekatnya. Tatapan Gebi beralih kearah Pandu, sedangkan tatapan Pandu justru beralih kearah gadis yang baru ia sadari keberadaannya. "Thanks ya Pan, lagi-lagi lo nolongin gue." ujar Gebi. Pandu memalingkan pandangannya, "Eh- iya. Btw, Nadine emang suka gitu, hati-hati aja." ujar Pandu. Gebi mengangguk sambil terkekeh. "Eh, lo kok ada disini? Diskors bukannya diem dirumah." "Bukan urusan lo." ucap Pandu kemudian berlalu dari hadapan kedua gadis itu. "Eh, Pan-" Pandu memberhentikan langkahnya. Gebi hendak menghampiri Pandu namun langkahnya tertunda oleh tangan Elsa yang masih meremas rok abunya. "Jaket lo masih di gue." ujar Gebi memekik. "Iya." ujar Pandu lalu ia meneruskan langkahnya. "Demi apapun kalo gak karena dia nolongin gue, males banget gue ngomong sama dia!" gerutu Gebi kesal saat lagi-lagi mendapatkan respon menyebalkan dari Pandu si irit kata. Kemudian tatapan Gebi beralih kesamping kanannya, dimana Elsa yang masih bengong sambil meremas rok abunya. Gebi langsung menepis tangan Elsa dari roknya kemudian menghadap kearah Elsa, "Lain kali kalo dilabrak kaya tadi, lawan! Jangan diem aja." ujar Gebi, hampir seperti membentak. Elsa masih berada dibawah alam sadar. "Diapain aja tadi sama Nadine?" Elsa masih belum kuat untuk merespon pertanyaan Gebi. "Ih!" Gebi yang kesal melihat Elsa yang masih belum kembali kealam sadar, langsung beranjak pergi meninggalkan Elsa. Baru beberapa langkah menjauh dari Elsa, Gebi memberhentikan langkahnya lalu menoleh kearah Elsa. Dilihatnya Elsa yang sepertinya masih shock, ia memutar langkahnya kembali menghampiri Elsa. Kemudian ditariknya Elsa kedalam pelukannya untuk diberikan ketenangan lewat pelukan hangatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD