“Kamu tahu, cinta apa yang membuatku merasa paling beruntung di dunia ini, Suara?” tanya Tio seraya menggenggam tangan kekasihnya dengan lembut, dia tersenyum manis.
Suara menarik napasnya sejenak, lalu menarik dirinya untuk sedikit mundur dari tatapan Tio yang begitu dalam. Ia edarkan pandangannya pada sawah di sekitar kedai makan Alfazza. Lupa bahwa makanan pesanannya sudah terhidang di atas meja. Rasa-rasanya bunga-bunga yang saat ini sedang bermekaran di perutnya bisa membuatnya kenyang sedemikian lupa. Apalagi dengan tatapan sendu milik Tio. Sudah pasti dia akan kenyang selama setahun ke depan! Hahaha. Tangannya yang sedang digenggam pun sepertinya akan segera kebas.
Setelah berhasil menetralkan deguban jantungnya, Suara menunduk, mukanya jelas sudah bersemu semerah tomat masak, bahkan mungkin yang hampir busuk. “Apa jawabannya adalah cinta saya, Tio?” tanyanya malu-malu.
Tio menggeleng. Gelengan yang terjadi atas dua alasan, yang pertama karena terlalu gemas dengan sikap Suara yang ada di mode malu-malunya, yang kedua karena memang jawaban kekasihnya itu salah. Bagaimana mungkin dia tidak jatuh cinta dengan gadis yang bentuknya semenggemaskan ini?
Namun, karena keadaannya Suara sedang menunduk, jelas dia tidak melihat gelengan kepala yang barusan dilakukan oleh Tio. Coba, siapa yang tidak malu-malu dicampur deg-degan diperlakukan dengan orang yang paling dicintai seperti ini? Tunjukkan orangnya, biar Suara tampol kepalanya.
Tio menghela napasnya, “Jawabannya bukan kamu, Suara,” jawabnya dalam tarikan napas penuh. Ia melepaskan tangan Suara, lalu mengambil es tehnya yang tinggal separuh, setelah itu menenggaknya hingga tandas.
Suara terkejut, dia menarik tangannya dari atas meja cepat-cepat. Lalu, mendongak menatap Tio dengan tatapan nanar. Jawaban yang baru saja diberikan laki-laki itu sungguh sangat berbeda dengan apa yang ada di pikirannya. Bahkan, berbanding terbalik.
“Lalu, siapa?” jawab Suara sedikit mendengus. “Kalau bukan saya, siapa, Tio?” tanyanya lagi saat melihat Tio hanya diam memandangnya semakin dalam. “Kalau kamu memandang saya seperti itu, saya bisa mencolok matamu kapan pun, ya!” serunya.
Tio tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Suara. Sungguh, kekasihnya itu adalah perempuan yang tangguh, yang tidak akan segan-segan memukul, menjambak, mematahkan tangan orang yang mengganggunya. Perempuan itu juga terbilang sinis jika bertemu dengan orang yang tidak dikenal. Namun, lihatlah sekarang dia terlihat sangat menggemaskan. Disamakan dengan boneka pun si boneka kalah imutnya.
“Apaan ketawa!” sungut Suara. Sekarang, dia sudah memalingkan wajah dan menyilangkan tangannya di depan d**a. “Kalau kamu ketawa terus, ketika minum nanti saya sumpahi kamu tersedak!” sambungnya. “Atau, saya pulang saja, deh!”
“Ih, jangan marah dulu, Sayang,” cegah Tio saat Suara sudah berdiri karena dia tidak menghentikan tawanya segera. Perempuan itu ternyata memiliki hobi merajuk juga. Ya, namanya perempuan. “Ada dua cinta yang membuatku merasa paling beruntung di dunia ini, kamu mau tahu enggak?” tanyanya.
Suara mendengus, “Enggak!”
“Ih, ya udah!” balas Tio seraya menahan tawanya agar tidak berhamburan dan menambah kekesalan pada kekasihnya itu.
“Saya pulang.”
“Iya iya iya, duduk dulu, tarik napas, saya akan menerangkannya kalau hati kamu sudah dipenuhi bunga-bunga kembali.” Tio tersenyum karena tingkah Suara yang selalu saja menghangatkan hatinya ini.
Suara menurut, dia menarik napasnya, lalu mengembuskannya perlahan dan berkala. “Sudah.”
“Sudah ada bunga-bunganya?”
“Sudah mekar dan ditambah seribu kupu-kupu.”
“Saya jawab, ya?” Suara mengangguk. “Cinta yang pertama adalah cinta yang diberikan sama Mamak saya, cinta yang merawat saya sampai sebesar ini. Cinta paling ikhlas yang pernah saya temui. Mamak yang rela bangun subuh untuk memasakkan saya bekal ke sekolah, karena Bapak belum mampu memberikan saya jajan. Cinta yang membiarkan saya pergi merantau jauh, yang pada akhirnya membuat saya tidak bisa melihat beliau untuk terakhir kalinya. Kamu tahu, apa yang Mamak ucapkan pada saat terakhir beliau mengembuskan napas?”
Suara menggeleng, ia mengalihkan pandangannya dari tatapan Tio. Tidak sanggup ikut masuk dalam pembahasan laki-laki itu jika tentang Ibunya. “Saya enggak tahu, Tio. Maaf,” ucapnya.
Tio menggeleng, “Kenapa juga kamu minta maaf?” tanyanya, lalu tersenyum lagi. “Saya beritahu, ya. Mamak bilang, biarkan Pras pergi ke mana pun dia mau, bebaskan dia dan doakan dia. Hanya itu, Sua,” jawab Tio atas gelengan Suara. “Kamu tahu artinya apa?”
Suara masih menggeleng ragu, yang sebenarnya dia belum paham ke mana arah bicara Tio ini.
“Artinya, beliau mencintai saya sebebas samudra, sederas hujan, seluas langit, sesempurna jagat raya. Dan itulah, cinta Mamak yang paling sempurna untuk saya, Sua.”
Suara menitikkan air matanya, dia tahu, Tio sangat mencintai Mamaknya. Artinya, dia sangat salah jika tadi harus merajuk saat mendengar jawaban kekasihnya yang bukan dia cinta yang paling beruntung itu. Memangnya, siapa dirinya harus merasa paling istimewa di hidup seorang laki-laki yang baru jadi kekasihnya selama beberapa bulan ini?
Suara memang tidak tahu diri!
“Cinta yang kedua, kau tahu, Sua?” tanya Tio lagi.
Suara menggeleng dengan dua makna. Makna yang pertama adalah untuk menjawab pertanyaan Tio, dia tidak tahu. Makna yang kedua adalah atas pikirannya yang terlalu egois untuk mengatakan kalau cinta itu adalah dirinya. Dia harus sadar diri!
“Cinta yang diberikan ibumu terhadapmu. Cinta yang membesarkanmu dengan welas asih yang amat tulus dari seorang ibu sehingga menjadikan kamu seperti ini. Cinta yang membawa dan mengikhlaskan kamu untuk menggali ilmu ke Kampung Inggris. Cinta yang akhirnya menemukan kita berdua, Suara,” papar Tio. Ia menggenggam erat tangan Suara dan memberikan sentuhan hangat di pipi gadis itu dengan tangan satunya.
Makin memanaslah wajah Suara sekarang. Duh!
“Cinta Mamakku dan cinta Ibumu adalah cinta yang akhirnya menyatukan cinta kita, “ sambung Tio sebagai akhir dari kalimat romantisnya.
Sial, kenapa laki-laki ini harus diciptakan dengan seromantis ini, sih! runtuk Suara dalam hati.
“Terima kas- …. TIO AWAS!” pekik Suara tiba-tiba. Matanya membelalak lebar. “AWAS, TIO! MINGGIR!” teriaknya kalap.
Saat ini, di depannya entah kenapa keadaan jadi berubah. Tio tiba-tiba saja ada di tengah rel kereta api yang ada kereta sedang melaju ke arahnya, kurang dari satu kilometer lagi. Ia membelalakkan matanya lebih lebar, kenapa kejadiannya harus seperti ini? Bukannya tadi ….
“TIO, JANGAN KE SANA! ADA KERETA!” Suara berteriak nyaring seraya melambaikan tangannya pada Tio, tetapi laki-laki itu seolah tidak memandangnya, padahal sangat jelas arah muka Tio melihat Suara.
Suara memekik kencang hingga pita suaranya terasa tercabut dari tenggorokan. Namun, Tio tetap berdiri di sana. Hanya menghitung mundur hingga kereta api menabrak dan melumat tubuh kekasih yang ia cintai itu. Ia bingung harus melakukan apa. Berlari ke sana dan menarik tubuh Tio? Jelas itu tidak mungkin untuk perhitungan waktu. Salah-salah dia juga akan kena lindas nantinya.
“TIO, APA YANG KAMU LAKUKAN! MINGGIR! TI- ….”
PLAK!
“SUARA, HEH!”
“AAAAA!” pekik Suara. Kepalanya langsung pening seketika. “HANTU!” pekiknya lagi saat melihat ke samping. Kenapa tiba-tiba ada Nada yang sedang nyengir menyeramkan di sana.
“HANTU KEPALAMU PITAK!” umpat Nada kesal. “Kamu mimpi apa? Teriak-teriak, memanggil nama Tio lagi!” sungutnya. Jelas bersungut, tidurnya terganggu!
Suara membelalakkan matanya, makin-makin, ya, kekurang ajaran sahabatnya ini. “KAMU NGAPAIN DI SINI, HAH!?” tanyanya.
“NYARI CICAK YANG EKORNYA CANGKA TIGA!”
“GILA!”
“YA, TIDURLAH!”
“NGAPAIN TIDUR DI SINI?”
“MEMANGNYA ENGGAK BOLEH?”
“YA, ENGGAKLAH!”
“SIAPA KAMU LARANG-LARANG?”
“MEMANGNYA RUMAHMU DIJUAL, HAH!?”
Nada mendengus kencang, lalu memutar bola matanya dengan kecepatan penuh. “Dijual kupingmu panjang!” sungutnya. “Mama masih di rumah sakit dan Papa kamu tahu sendiri beliau jarang pulang, Abangku juga masih di laboratorium kampusnya, penelitan dua empat pertujuh enggak pulang-pulang. Jadi, aku memilih tidur di sini, untung Ibu masih terjaga saat aku mengetuk pintu,” terangnya.
Suara mendelik, “Memangnya siapa yang mengizinkan kamu tidur di sini?”
“Diriku sendiri dan didukung oleh Ibu, itu sudah cukup.”
“HEH! Tolong jangan membungkam hak suara saya, ya!”
“Halah, hak suara manusia patah hati enggak bisa digunakan!”
“MALAM!” pekik Suara.
Nada meraup wajahnya kasar, “Ra, aku serius, kalau kamu teriak-teriak begitu, bisa-bisa pita suaramu merajuk dan melepaskan diri dari kamu. Apa enggak gila kamu kalau nanti jadi bisu?”
“Heh, astaga, doamu, Lam!”
“Kamu tadi mimpi apa?” tanya Nada tidak mengacuhkan pembahasan sebelumnya yang semrawut. “Jawab, enggak!!?”
Ekspresi Suara berubah ketika mengingat apa yang ada di dalam mimpinya tadi. Apakah itu benar-benar mimpi? Kenapa sepertinya sangat nyata? Dia merenung sebentar, sebelum akhirnya cubitan Nada mengembalikan dia ke kesadaran penuh.
“Kamu enggak bisa misalkan menyadarkan saya dari lamunan itu dengan cara yang lebih manusia?” tanyanya seraya mengelus lengannya yang barusan menjadi sasaran keberingasan Nada.
Nada mengejek, “Kamu pikir sapi bisa memberikan cubitan, hah? Keahlian mencubit itu hanya diberikan pada manusia, asal kamu tahu!”
“Lebih lembut, Lam … yang lebih lembut! Sebagai perempuan.”
“Kamu lupa kalau kecil dulu Ibumu dan Mamaku suka mencubit kita kalau pulang saat matahari sudah tenggelam? Mereka berdua perempuan, ‘kan?”
“TERSERAH!” Suara menidurkan dirinya lagi. Berdebat dengan Nada hanya akan membuat hati rapuhnya ini semakin gondok.
“Hei!” seru Nada seraya membuka selimut Suara. “Jangan kamu pikir aku enggak bakal berhenti bertanya tentang apa yang tadi bikin kamu teriak-teriak, ya!” Ia menarik tubuh Suara agar kembali duduk tegap.
“Lam, sudah malam, aku mau tidur!” Suara masih berusaha untuk menidurkan dirinya lagi.
“Enggak!” cegah Nada. “Enggak ada, kamu enggak bakal tidur nyenyak dengan mimpi yang baru saja ada, Ra.”
Nada menarik tangan Suara dengan sama semena-menanya seperti yang sering dia lakukan pada sahabatnya itu. Membuat Suara meringis dan menghentakkan tangannya kencang. Alhasil, tangan Nada harus terlempar dan dengan naasnya menyentuh kepala ranjang Suara yang terbuat dari kayu. Silakan terka sendiri bagaimana ekspresi Nada saat ini.
“Sakit, semena-mena banget kamu!” serunya.
“Kamu pikir kamu itu enggak?” tanya Suara. Nada hanya mendengus sebagai jawaban.
Suara menarik napasnya sebelum memberikan penjelasan, “Saya mimpi buruk, Lam. Kita sedang makan di Alfazza. Enggak tahu, Tio tiba-tiba saja bahas dua cinta yang sempurna, yang pertama cinta Mamaknya, yang kedua cinta Ibu saya. Lalu, setelah selesai menceritakan itu. Dia malah ada di tengah rel kereta api. Saya enggak tahu apakah dia tertabrak atau enggak karena tamparan kamu syukurnya membawa saya ke kesadaran, meski sakit dan pening setelahnya.”
“Astaghfirullah.”
Suara berjengit, “Tumben.”
“HEH!” Nada mendelikkan matanya. “Kata Mamaku, penyebab mimpi buruk yang paling sering adalah adanya keadaan stress dan kondisi yang mengakibatkan kecemasan. Ra, aku mohon, kamu jangan terlalu memikirkan kejadian yang menimpa kamu baru-baru ini. Lihat, bahkan kejadian itu sudah masuk ke alam bawah sadar kamu.”
“Iya, Lam.”
“Sudah, tidur lagi, yuk!”
“Gila kamu ngajak saya tidur, hah!?”
“HEH!” jerit Nada kaget. “Eh, tapi kalau mau enggak apa-apa, sih.”
“HEHHHH!!!!” balas Suara lebih kaget.
***
Terima kasih sudah membaca cerita ini.