PRANK!
“Astaga, Suara!” pekik Puspa, Ibu Suara, yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kalau anak gadis satu-satunya itu menjatuhkan panci alumunium yang berhasil memancing keributan. Catat, panci alumunium itu berasal dari merk yang mahal dan didapatkan dengan arisan!
“Tuh, ini tuh kalau anak Ibu sudah turun ke dapur, ada-ada saja yang dibanting,” omel Puspa.
Suara cemberut untuk tuduhan tanpa bukti yang ibunya tudingkan. “Kebanting, Bu,” ralatnya. Karena awalan ‘di’ itu mengandung kesengajaan dan ‘ke’ mengandung ketidaksengajaan. Jelas beda!
Puspa mendelik, “Iya, jawab terus!” sindirnya. “Kamu tuh, kalau enggak panci dibanting, ya, piring yang pecah. Kalau enggak gelas yang buyar, ya, tempat sendok yang kamu jatuhkan. Heran Ibu, apa enggak bisa anak gadis Ibu ini jadi benar-benar perempuan yang enggak fobia sama dapur?” tanyanya pusing. Ia terduduk di kursi meja makan seraya menatap nanar pada panci yang bagian pantatnya sudah sedikit penyok.
“Bu, enggak segitunya, ih,” rengek Suara. “Ara masih bisa masal gulai santan kesukaan ayah, ya, walaupun ayah harus ngomel-ngomel karena gulainya keasinan,” sambungnya seraya menggaruk tengkuk kepala. Duh, alamat diomel lebih panjang ini.
“Apanya yang enggak segitunya?” tanya Puspa dalam. “Kamu tuh, kalau masak harus ada yang gosong, kalau menggulai harus ada yang keasinan, salah bumbu, ngulek cabe enggak bisa, sekalinya mengupas bawang malah menangis, disuruh merebus air pancinya kamu angusin. Nanti kalau menikah bagaimana?” tanyanya karena sudah amat bingung mencari celah untuk menghadapi anak gadis semata wayangnya ini.
Suara terdiam sesaat demi mencari jawaban terbaik untuk memuaskan ibunya. Lalu, dengan segera dia menjentikkan jari ketika jawaban itu dia dapatkan. “Ara cari suami yang koki.” Ia nyengir lebar tanpa salah dan tidak sadar kalau jawabannya itu memancing emosi Puspa.
“Halah, iya kalau suami yang koki itu mau sama gadis kayak kamu, kalau enggak? Lagi pula, Nak, sepintar apapun suamimu masak, dia bakal tetap ingin mencicipi masakan istrinya, masakan kamu. Memuji kamu karena gulai yang kamu buat sangat memanjakan lidahnya.”
“Ara bisa masak mie dan enak, Bu, Malam saja memuji.” Suara tetap memberikan pembelaan atas penistaan yang diberikan ibunya. Sekarang sudah emansipasi, saatnya perempuan berkreasi! “Lagi pula, sekarang perempuan itu sudah beremansipasi, Bu.”
“Apa menurutmu emansipasi perempuan itu?”
“Saat perempuan dibebaskan untuk bersaing dengan laki-laki, mengembangkan bakatnya, Bu.” Suara menjawab itu dengan semangat yang menggebu-gebu, berharap di perdebatan kali ini dialah yang menjadi pemenangnya.
“Lalu, apa bedanya dengan paham tradisional yang mengharuskan perempuan untuk di rumah dan melayani suami?” tanya Puspa yang membuat Suara berpikir keras.
“Eh?” Suara mengernyit. “Ehm ….” Ia menggigit lidahnya. kenapa dia jadi bingung, ya?
“Emansipasi itu menurut ibu bukanlah sebuah gerakan yang membawa perempuan dibebaskan untuk bersaing dengan laki-laki. Melainkan, sebuah gerakan yang membuat perempuan bebas memilih menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga. Namun, saat dia memilih menjadi wanita karir, dia harus tetap mengingat hakikatnya sebagai seorang perempuan. Mau atau tidak mau, itu memang sudah ada di diri perempuan itu sendiri. Sikap lembut dan welas asih terhadap keluarga.”
Suara termenung, ia mengingat sesuatu. Ibunya ini adalah perempuan lulusan terbaik di kampusnya saat itu. Namun, beliau lebih memilih untuk mengurus rumah tangga. Berbeda dengan Mamanya Nada yang memilih untuk mengabdikan diri di sebuah rumah sakit. Dua wanita hebat itu hadir menjadi contoh bagaimana Suara dan Nada bisa tumbuh menjadi gadis yang seperti ini.
Suara memahami sesuatu.
“Coba kayak Malam, masakannya enak, rajin, sering bantu Ibu,” sindir Puspa lagi saat anaknya hanya terdiam.
Suara mencebik, “Ya sudah, Malam saja yang jadi anak Ibu, biar Suara jadi anak Mama,” balasnya. Mama adalah panggilan untuk Maryam, ibunya Nada.
Puspa menghela napas panjang, seolah-olah beban yang hadir sudah sangat berat. “Kalau bisa juga, sebelum kamu usul begitu, Ibu sudah minta lebih dulu. Sayang, Bu Maryam lebih beruntung, ya?” tanyanya. “Tapi, memangnya Bu Maryam mau punya anak gadis seperti kamu? Yang ada kamu bakal dibuli tiap hari sama si Gio.”
Gio adalah kakaknya Nada. Giovani Cakrawala Sianghari. Sedikit cerita tentang pemberian nama Nada dan Gio adalah karena Mamanya ingin menamai anak-anaknya sesuai dengan waktu mereka lahir. Giovani Cakrawala Sianghari, artinya Gio lahir di siang hari. Sementara Nada Malam Hari, ya, karena Nada lahirnya di malam hari. semudah dan serumit itu sekaligus.
“Ibuuuuu,” rengek Suara. Ibunya itu memang paling top jika soal membanding-bandingkan dia dengan Nada. Herannya, banyak anak tetangga mereka yang lebih berprestasi dari Nada, tetapi hanya sahabatnya itulah yang selalu menjadi objek ibunya tersayang.
***
Setelah drama panjang di dapur pada pagi hari yang menghasilkan sepanci sup ayam dengan banyak sayur –yang untungnya kali ini tidak keasinan. Kenapa tidak keasinan? Karena yang mengolah, memberi bumbu dan memberi jampi-jampi adalah Puspa.
Sementara Suara, setelah insiden pembantingan panci –yang dituduhkan secara sengaja oleh ibunya, dia hanya kebagian untuk memotong sayur mayur yang ada. Terdiri dari wortel, kol, kentang dan buncis. Selain itu, Suara tidak tahu apa saja namanya. Belum kenalan!
Saat ini, sudah ada Nada yang sedang serius duduk di meja belajarnya. Entah melakukan apa, kemungkinan sedang menulis. Sebenarnya, bukan sahabatnya itu yang menyambanginya seperti biasa, tetapi dia yang memilih untuk mengantarkan sup ke rumah Nada. Karena, Ibunya tahu kalau Mama Nada pulang pagi sekali, sehingga kemungkinan tidak sempat membuat sarapan.
Atas dasar itulah, ibunya yang baik hati berniat untuk mengirimkan mereka semangkuk sup yang dihasilkan –pastinya setelah dipastikan sup itu benar-benar sedap untuk ditelan. Mengirim dengan memercayakan Suara sebagai kurirnya. Kurir yang tidak ada tarif ongkos kirimnya. Malang memang.
“Lam, saya bawa laptop juga, nih!” seru Suara karena sudah lima belas menit tidak diacuhkan oleh sahabatnya.
“Hmmm,” gumam Nada lebih ke auman tanda bahaya: JANGAN GANGGU! LAGI SIBUK!
“Ish,” balas Suara. “Ck.” Ia mencebik karena kesal tak ditanggapi oleh Nada.
Sebenarnya dia paham, kalau Nada sudah bermesraan dengan laptopnya, jangan pernah diganggu. Atau, kalau tidak nyawa taruhannya. Minimal seluas dua milimeter persegi rambut harus rela lepas dari kulit kepala. Kenapa Suara bisa tahu? Karena itu pernah terjadi padanya dua tahun lalu. Memang, Nada itu kejam!
Nada adalah seorang penulis yang sudah malang melintang di dunia literasi sekitar lima tahun, dimulai sejak dia tamat SMA. Sebenarnya lebih lama dari itu, cuma seriusnya ada saat sudah tamat SMA. Sudah banyak buku yang gadis itu hasilkan, beberapa juga menjadi best seller. Suara kadang iri pada sahabatnya itu, ingin mencoba menulis juga. Namun, belum separagraf tulisan itu jadi, dia sudah tertidur duluan.
Benar-benar memang si Suara!
Sebuah keajaiban jika kemarin ia sempat menuliskan beberapa paragraph kalimat. Wah wah wah.
Kenapa Nada tidak suka diganggu kalau sedang berjibaku dengan laptop kesayangannya itu? Karena imajinasinya harus rela dibuyarkan dengan intrupsi orang lain yang menyebalkan. Jangankan Suara, Mamanya saja pernah dicemberuti karena tiba-tiba masuk kamarnya, mengajak dia mengobrol. Dan, Maryam harus rela disunguti anaknya dengan alasan ide yang sudah dia susun menghilang tiba-tiba. Setelah itu, Mamanya tidak berani masuk jika Nada sedang menulis lagi.
Memang parah dia, tuh!
Suara membuka laptopnya, gila lama-lama dicueki sama Nada si ganas kalau begini. Laptop ini sudah lama tidak dia sentuh, tetapi semenjak dia dengan impulsifnya menyemplungkan telfon genggamnya ke laut, jadinya sekarang laptopnya menjadi sering disentuhnya. Jika saja laptop ini memiliki perasaan, pasti dia akan tersakiti karena menjadi pilihan terakhir. Duh!
Suara menggerakkan kursornya menuju laman e-mail. Mengecek, siapa tahu ada e-mail yang seru-seru. Namun, Suara bingung kenapa e-mailnya tidak bisa terbuka. Hampir saja ia membanting laptopnya kalau tidak ingat barang dengan lambang apel terbelah ini berharga mahal. Membelinya dengan ngos-ngosan pula.
“Oh, iya! Wi-finya belum konek, hehe,” ujarnya menertawai kebodohan diri sendiri.
Setelah koneksinya sudah terhubung, ia membuka lagi laman e-mailnya. Menelusuri kontak masuk dan membuka pesan yang berada di paling atas. Setelah membuka, membaca dan memastikan, dia membelalakkan matanya dengan heboh, karena …
“NADA MALAM HARI!!!!” pekiknya berderu. “MALAM MALAM MAL- ….”
PRANK! BUGH!
Dan, atas pekikan tersebut dia harus rela menerima konsekuensi dari Nada, yaitu lemparan kalender duduk yang ada di dekat gadis itu. Jangan tanya dari mana suara prank itu muncul, Nada melemparkan kotak pensil berbahan kalengnya ke dinding. Selain itu, di tangan gadis tersebut sudah tersimpan mistar besi yang kapan saja bisa menyiksa Suara.
Dahsyat, ‘kan?
“RAAA, ARGH!!!” teriak Nada seraya menjambak rambutnya. Dia frustasi. Ide-ienya jelas saja sudah bubar jalan dan akan sulit untuk kembali dikumpulkan.
“Lam, saya punya kabar baik!” seru Suara tanpa mempedulikan amukan Nada.
“BODO AMAT, RA! IDEKU BUBAR JALAN, TAHU!” sungut Nada. Tatapan tajam yang dia berikan pada Suara mungkin bisa mengoyak seribu badan gadis itu jika tatapannya berwujud pisau belati yang tajam. “KALAU KAMU TAHU DAN BISA MERASAKAN BAG- ….”
“Ya, nanti saya suruh mereka baris lagi, Lam! Kamu harus lihat ini!” seru Suara, berusaha tegar dengan tatapan dan dengusan Nada.
“Apa?”
“Ya, sini, mendekat.”
“Apa, sih?” tanya Nada geram. Bagaimana tidak? Idenya harus ambyar karena pekikan Suara yang kurang ajar itu.
“Ini ….” Suara menunjukkan laptopnya pada Nada dengan cengiran lebar di wajah.
“Congratulations, you are accepted- …. HAH!? Oh my God, Ra!” pekik Nada tak kalah heboh dengan apa yang dia lakukan tadi. “Ini orangnya enggak salah mengirmkan e-email?” tanyanya saat sadar.
Suara mendengus, “Mata kamu buta? Enggak bisa baca ini, hah?” tanyanya seraya menempelkan jarinya ke layar laptop. “Dear, Ms. Suara Inggisti Rinjani, S.P., nama saya itu, Lam. Masa namanya orang lain?”
“Memangnya kamu pikir yang memiliki nama kayak begitu cuma kamu?”
“NADA MALAM HARI!” pekik Suara, tidak menyangka dengan pemikiran bulus sahabatnya ini.
“CONGRATULATIONS!!!!!!” pekik Nada seraya memeluk Suara. Lebih tepatnya menggencet sehingga Suara harus megap-megap karena kehilangan sumber oksigen seperti ikan malang yang dibiarkan di daratan.
***
Terima kasih sudah membaca cerita ini.