Bukan Suara namanya kalau sampai hilang akal dan mati langkah, karena Langit tidak ingin memberitahunya, maka ia memilih untuk meneror laki-laki itu sampai membuka suara. Sampai-sampai, ia dengan mudahnya mengetahui jam-jam berapa laki-laki itu ke perpus, mendatanginya dan menanyakan hal yang sama. Akhirnya, Langit menyerah dan memberikan Suara apa yang dia mau. Giranglah dia karena merasa memenangkan ego dari laki-laki yang jangkung itu. Suara baru menyadari kalau kedai kopi yang dimaksudkan oleh Langit ada di seberang warung tegal di depan gang kostannya. Berarti sangat dekat dia dengan kedai kopi itu selama ini. Oh Tuhan, betapa sialnya Suara selama satu bulan setengah hidup di Yogyakarta tanpa menyesap kopi aceh gayo favoritnya. Selama itu dia hanya bisa meminum kopi sasetan yang dibe

